
Yayasan Palung (YP) melakukan kegiatan pelatihan pemetaan dasar berbasis bartisipatif di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Kegiatan yang dilakukan pada Rabu (19/7/ 2023) tersebut melibatkan kelompok binaan YP yang tinggal dan berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Palung.
Kelompok yang dilatih terdiri dari kelompok masyarakat yang menjalankan usaha dibidang perikanan dan pertanian.
Adapun ujuan dari pelatihan ini adalah untuk melakukan pemetaan dasar secara partisipatif yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam memberikan informasi. Pelatihan ini juga diharapkan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengambilan data di lapangan menggunakan aplikasi Avenza Maps.
Kegiatan yang diikuti oleh 12 orang ini terbagi menjadi beberapa sesi. Pada sesi pertama fasilitator menginformasikan gambaran umum wilayah masyarakat, diantaranya; Peta luas wilayah desa, batas wilayah desa, peta tutupan lahan, dan analisis resiko bencana.
Selain itu, masyarakat juga perlu mendapatkan informasi mengenai batas kawasan konservasi (TNGP) dan kawasan yang boleh dikelola oleh masyarakat sebagai ruang hidup dan penghidupan.
Pada sesi kedua kegiatan, Ilham Pratama, selaku fasilitator memberikan pemahaman awal tentang dasar-dasar pemetaan dan teknik pengambilan data spasial. Pada sesi ini peserta pelatihan dibentuk kelompok diskusi kecil untuk membahas situasi lahan garapannya pada media peta dasar citra satelit yang sudah disiapkan oleh fasilitator. Sebuah peta dasar dari citra satelit digunakan untuk mendukung diskusi dengan masyarakat yang diharapkan mempuanyai gambaran sebelum melakukan simulasi survey langsung ke lapangan dan penggunaan aplikasi.
Foto-foto kegiatan :





Pada sesi ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan aplikasi Avenza Maps. Aplikasi yang bisa dijalankan pada smartphone tersebut digunakan untuk mendapatkan data di lapangan sebagai pengganti Global Positioning System (GPS). Materi yang diberikan kepada masyarakat ini sebagai pengenalan awal penggunaan avenza maps yaitu bagaimana cara mengambil titik koordinat (point) dan merekam perjalanan (tracking). Selain pengambilan data dilapangan masyarakat juga diberikan cara bagaimana mengirim data untuk diproses lebih lanjut. Kemudian, masyarakat mempraktikan pemahaman yang dipelajari.
Dalam praktik tersebut, perwakilan 3 orang setiap kelompok menjalankannya langsung ke lapangan diikuti peserta yang lain. Praktik ke lapangan dilakukan pada lokasi rencana menanaman dan kebun salah satu kelompok. Para peserta ditugaskan untuk mengambil titik koordinat dan merekam perjalanan untuk mengukur luas kebun. Selanjutnya, mengirimkan data tersebut ke fasilitator. (Ilham)
Baca juga di :

Yayasan Palung (YP) berkesempatan mengajak siswa-siwi dari SMPN 01 Matan Hilir Utara, Ketapang dan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Penjaga Alam (RK-TAJAM) melakukan fieldtrip (kunjungan lapangan) ke hutan Riam Jerunjung Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Sabtu-Minggu (15-16/7/ 2023).
Setidaknya diperlukan waktu kurang lebih satu jam dari jalan besar untuk bisa sampai ke lokasi Riam Jerunjung.
Dalam kesempatan Fieldtrip tersebut, Siswa-siswi SMPN 01 Matan Hilir Utara (MHU) dan RK-TAJAM diajak untuk belajar secara langsung di alam, lebih tepatnya di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung.
Selama dua hari berkegiatan, siswa-siswi SMPN 01 MHU dan RK-TAJAM yang baru dibekali dengan beberapa materi lingkungan sekaligus melakukan praktek langsung di lapangan.
Adapun beberapa materi lingkungan yang disampaikan diantaranya adalah; materi konservasi hutan dan orangutan yang disampaikan oleh Petrus Kanisius dari Yayasan Palung. Pada materi ini, siswa-siswi diajak untuk mengenalkan tentang manfaat hutan bagi ragam makhluk hidup dan orangutan sebagai petani hutan yang berperan besar bagi regenerasi hutan di hutan.
Disampaikan pula materi dan praktek pengamatan satwa air yang disampaikan oleh Haning Pertiwi dari Yayasan Palung. Praktek dilakukan dengan melakukan praktek pengamatan secara langsung di air.
Foto-foto kegiatan :






Selain itu, pada kesempatan lainnya disampaikan pula materi, praktek dan presentasi keanekaragaman hayati yang dipandu oleh Simon Tampubolon dari Yayasan Palung. Siswa-siswi diajak untuk mengenal ragam flora dan fauna yang ada di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung. Ragam fauna seperti serangga, ampibi, reptil, primata, burung dan ikan. Pengenalan tumbuhan (flora) seperti pohon, perdu, palem, liana, anggrek, keladi, kantong semar, paku-pakuan dan jahe-jahean. Simon juga menjelaskan tentang salah satu tumbuhan invasif asing (Invasive Alien Species) yang ditemukan di lokasi field trip yaitu jambu monyet (Bellucia pentamera).
Pada materi lainnya, Simon juga menyampaikan materi pengamatan satwa malam. Siswa-siswi dan RK-TAJAM yang baru diajak untuk melakukan pengamatan satwa yang aktif di malam hari (nokturnal). Saat melakukan pengamatan, peserta menemukan berapa satwa malam seperti serangga dan katak.
Pada pagi (16/7), peserta diajak untuk mendengarkan suara alam yang dipandu oleh Syainullah dari Yayasan Palung. Selanjutnya peserta melakukan senam pagi yang dipandu oleh Vinka, Okta, Fahmi, Riko,Taca dan Rafina dari RK-TAJAM selaku panitia kegitan.
Pada siangnya atau hari terakhir kegiatan, peserta fieldtrip untuk melakukan pengamatan satwa siang hari (Diurnal). Pada saat pengamatan satwa siang, peserta menemukan kupu-kupu, menemukan semut yang terinfeksi jamur cordyceps.
Kegiatan selanjutnya yang kami lakukan adalah melakukan operasi semut (membersihkan sampah-sampah yang ada di sekitar tempat kami berkegiatan).
Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta yang berjumlah 32 orang.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Balai Taman Nasional Gunung Palung yang telah memberikan kami ijin SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Pada kesempatan tersebut kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah dan POKDARWIS Riam Jerunjung yang mendampingi kami dalam berkegiatan.
Tulisan ini juga dimuat di : kompasiana
Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Si Manis atau dalam bahasa latinnya Manis javanica dan dalam Bahasa Inggrisnya disebut dengan nama Sunda Pangolin atau Malayan Pangolin, yang dalam bahasa Indonesia disebut trenggiling, saat ini (kini) nasibnya tak lagi manis.
Trenggiling adalah satwa yang paling banyak diselundupkan di dunia. Trenggiling diburu dan diperdagangkan secara ilegal untuk diambil sisiknya.
CITES memasukkan seluruh jenis trenggiling dalam Appendix I. Artinya, perdagangan antar negara secara langsung dari alam dilarang.
Dikutip dari Guardian, diperkirakan ada 200.000 trenggiling dikonsumsi setiap tahun di Asia, yang mana faktor pendorongnya adalah klaim atas pengobatan China yang diyakini sisik trenggiling berkhasiat untuk kesehatan.
The conversation menyebut, Khusus trenggiling sunda, statusnya adalah Critically Endangered (terancam punah), alias satu langkah lagi menuju kategori Extinct in the Wild (punah di alam). Selama 1998-2019, populasi trenggiling sunda diperkirakan anjlok hingga 80%.
Pemerintah Indonesia juga menetapkan si manis (trenggiling) sebagai hewan yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Dalam UU tersebut secara jelas melarang siapa untuk memelihara dan memperjualbelikan satwa dilindungi. Bagi yang melanggar ketentuan akan dipidana penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.
Lihat juga :
Mengapa peran trenggiling sangat penting di alam? trenggiling memiliki peranan ekologis sebagai satwa yang suka menggali tanah di hutan untuk mencari semut atau serangga lainnya. Bagi ekosistem alam, keberadaan trenggiling dapat membantu menggemburkan tanah dan melancarkan siklus biogeokimia hutan. Dampak trenggiling punah dapat menyebabkan keseimbangan ekosistem terganggu. Sebab, semut dan serangga kayu berperan penting dalam menjaga regenerasi pohon secara tidak langsung menjadi penyedia oksigen bagi manusia.
Tulisan ditulis dan diolah dari berbagai sumber
Yayasan Palung

Setidaknya ada 70 orang siswa-siswi baru dari SMPN 1 Matan Hilir Utara, Ketapang, yang ikut ambil bagian mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (11/7/2023) pagi.
Pada kesempatan tersebut, Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan mendapat kesempatan mengisi kegiatan MPLS tersebut dan dipercaya oleh pihak sekolah untuk menyampaikan materi tentang lingkungan hidup dan konservasi.
Dalam kegiatan tersebut, adapun materi lingkungan hidup disampaikan oleh Simon Tampubolon, selaku Koordinator Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, dengan mengetengahkan materi tentang; “Cinta Lingkungan Selamatkan Kehidupan”.
Simon sapaan akrabnya, mengajak siswa-siswi baru dari SMPN 1 Matan Hilir Utara untuk mengenal lingkungan hidup yang ada di sekitar kita, mengenalkan manfaat hutan bagi semua makhluk dan mengenalkan tumbuhan dan satwa yang dilindungi.
Adapun satwa yang dilindungi seperti Orangutan, Bekantan dan Burung enggang. Sedangkan tumbuhan yang dilindungi seperti rafflesia, anggrek dan kantong semar.
Baca juga :
Selain itu juga, Simon menyampaikan tentang tentang pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) bagi masyarakat yang hidup bersentuhan langsung dengan alam tanpa harus mengorbankan hutan.
Serangkaian kegiatan tersebut mendapat sambutan baik dari siswa-siswi baru yang mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan yang disampaikan pun berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah.
Tulisan ini dimuat di : https://kumparan.com/petrus-kanisius/yp-berkesempatan-mengisi-kegiatan-mpls-di-smpn-1-matan-hilir-utara-20ls9K9i40u
Yayasan Palung

Kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati Indonesia sudah sepatutnya dijaga dan dilestarikan.
Salah satu upaya menjaga eksistensi keanekaragaman hayati Indonesia adalah dengan memberikan perlindungan terhadap tumbuhan dan satwa. Satwa dan tumbuhan yang masuk daftar dilindungi mencakup semua ekosistem, mulai dari burung di udara hingga ikan di laut.
Dari jutaan tumbuhan dan satwa yang ada, beberapa di antaranya termasuk dalam kategori dilindungi. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, ada dua alasan mengapa tumbuhan dan satwa ditetapkan masuk dalam kategori yang dilindungi.
Pertama, tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan. Kedua, tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang. UU tersebut menjadi landasan utama perlindungan tumbuhan dan satwa yang ada di Indonesia. Sedangkan daftar tumbuhan dan satwa yang dilindungi diatur oleh peraturan di bawahnya.
Jumlah tersebut dirinci menjadi 562 jenis burung, 137 jenis mamalia, 37 jenis reptil, 26 jenis insekta, 20 jenis ikan, 127 jenis tumbuhan, 9 jenis krustasea, muluska, dan xiphosura, serta satu jenis amphibi.
Baca selengkapnya di link berikut:
https://lestari.kompas.com/read/2023/06/23/100000586/20-jenis-ikan-yang-dilindungi-di-indonesia
Sumber informasi dari : kompas.com

Program Sustainable Livelihood (SL) bersama dua orang kelompok tani dan satu orang pengrajin HHBK binaan berkesempatan melakukan studi banding pengelolahan keripik ubi di desa Podorukun Paket 3 Kecamatan Seponti, Kabupaten Kayong Utara, pada Kamis (15/6/2023).
Kegiatan studi banding tersebut dilaksanakan di rumah anggota kelompok dampingan Gemawan yaitu kelompok SETARA (Serikat Perempuan Kabupaten Kayong Utara).
Kegiatan tersebut dilakukan selama satu hari, peserta yang mengikuti studi banding diajarkan bagaimana cara membuat keripik agar hasilnya bagus dan tetap krispi setelah diaduk dengan varian rasa yang diinginkan.
Dalam kegiatan itu, beberapa hal yang kami dilakukan adalah mengupas ubi dari kulitnya kemudian dicuci bersih dan dipotong bulat dengan alat yang kami bawa dan alat dari Bude Asih (anggota kelompok SETARA) ini dilakukan sebagai perbandingan alat dan hasil potongan ubi yang diperoleh.
Setelah perbandingan hasil potongan dari 3 buah alat, berikutnya proses pemisahan ubi yang menempel dengan ubi yang lainnya. Hal itu dilakukan agar pada saat penggorengan, ubi tersebut sama matangnya. Pada kesempatan studi banding tersebut kelompok SETARA menyiapkan ubi yang sudah dipotong totalnya ada 6 kilogram.
Pada saat kegiatan berlangsung anggota kelompok SETARA yang lainnya juga ikut hadir sehingga pada saat kegiatan praktek banyak juga yang ikut terlibat dan membantu proses pemisahan ubi yang sudah dipotong. Selagi proses pemisahan ubi, minyak juga sambil dipanaskan dengan tungku kayu. Dan untuk rasa original, pada praktek dikegiatan studi banding ini dilakukan pada saat penggorengan, yaitu siapkan garam dan micin yang diberi air secukupnya. Kenapa tidak menggunakan penyedap yang lainnya tapi menggunakan micin, itu karena apabila menggunakan penyedap rasa yang lain akan membuat minyak goreng menjadi keruh.
Adapun cara pemberian rasa original yaitu, apabila minyak sudah benar panas baru kemudian masukan ubi, dan apabila ubi sudah terpisah dan sudah mulai sedikit matang baru masukan air garam micin yang disiapkan tadi kedalam minyak panas yang ada ubi tersebut. Dan apabila sudah dirasa ubi yang didalam minyak panas tersebut sudah ringan angkat dan kemudian ditiriskan, dan ada lagi satu teknik penggorengan yang diperoleh anggota kelompok dampingan SL yaitu yang biasanya apabila ubi yang sebelumnya sudah diangkat kemudian masukan ubi yang lain, tapi pada saat kegiatan studi banding ini tidak seperti itu. Setelah ubi sudah diangkat dan ditiriskan, jangan langsung masukan ubi lagi akan tetapi tunggu dulu minyak itu panas kembali dan sampai ada letupan kecil dari minyak tersebut baru masukan ubi lagi begitu sampai seterusnya.
Adapun untuk varian rasa yang lain, selain original, pada saat penggorengan tidak perlu diberi air garam dan micin, karena akan diberikan varian rasa sesuai keinginan. Dan pada kegiatan studi banding ini, varian rasa keripik yang dibuat adalah varian rasa original dan varian rasa kerpik pedas manis. Dari keripik mentah yang sebanyak 6 kg setelah digoreng memperoleh 2,5kg keripik dengan dua varian rasa yaitu varian rasa original dan varian rasa pedas manis.
Salmah-Yayasan Palung

Telah dilakukan Audiensi terkait Kerjasama Pengembangan Pertanian Tanaman Holtikultura, bertempat di Kantor Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kayong Utara (KKU), pada Selasa (20/6/2023).
Kegiatan audiensi dilakukan oleh Yayasan Palung (YP) melalui Program Sustainable Livelihood dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) bidang pertanian tanaman holtikultura di Kecamatan Simpang Hilir. Dalam kegiatan audiensi ini juga melibatkan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kayong Utara dan kelompok dampingan.
Kegiatan ini dilakukan untuk mengembangkan pertanian tanaman holtikultura pada beberapa kelompok tersebut maka sangat diperlukan sinergisitas program dari semua pihak.
Adapun maksud dan tujuan dari kegiatan audiensi antara lain; pertama, adanya kerjasama yang sinergitas antara Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara, Yayasan Palung dan Kelompok dalam pengembangan tanaman holtikultura. Kedua, Adanya dukungan peningkatan kapasitas kelompokn dalam pemgembangan pertanian tanaman holtikultura. Ketiga, Adanya dukungan sarana dan prasarana dan lain-lain dalam pengembangan tanaman holtikulutra serta bantuan pemasaran tanaman holtikulutra.
Seperti misalnya di Kecamatan Sukadana khusus pendampingan kepada kelompok pertanian tanaman holtikultura dilakukan oleh Yayasan Palung melalui program Sustanaible livelihood yang berada di Desa Pampangan Harapan, Desa Sejahtera dan Desa Riam Berasap Jaya. Sedangkan di Kecamatan Simpang Hilir pendampingan kelompok pertanian tanaman holtikultura dilakukan melakukan melalalui program Hutan Desa yang berada di 6 Desa (Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Rantau Panjang, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar).
Kelompok pertanian tanaman holtikultura di wilayah hutan desa (Kecamatan Simpang Hilir) dilakukan oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dan tim patrol hutan desa yang anggotanya terdiri dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), tim patrol hutan desa dan masyarakat. Pendampingan kelompok khususnya KUPS, tim patroli dibawah pengawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) kayong. Keterlibatan tim patrol hutan desa dalam pengembangan tanaman holtikultura adalah selain anggota bisa melakukan pengamanan dan perlindungan Kawasan hutan desa juga bisa menambah penghasilan dengan melakukan pertanian tanaman holtikultura.
Pentingnya pengembangan tanaman holtikultura ini dikarenakan besarnya potensi, hasil tanaman holtikultura mudah dipasarkan sehingga hal tersebut bisa menambah pendapatan alternatif masyarakat. Ada beberapa jenis tanaman holtikulutra yang dikembangkan diantaranya Cabe, Terong, Mentimun, Kacang Panjang, dan lain sebagainya.
Dalam Audiensi tersebut, kelompok dampingan mendapat bantuan 25.000 bibit pisang dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Kayong Utara. Nantinya, 10.000 bibit pisang akan dibagikan kepada kelompok dampingan di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera dan 15.000 bibit pisang untuk kelompok dampingan di Desa Riam Berasap.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Komponen pembentuk ekosistem adalah interaksi komponen biotik dan abiotik. Predator dan prey merupakan istilah yang dapat ditemuakan dalam interaksi biotik. Predator atau pemangsa bergantung pada keberadaan prey, proses mangsa dan dimangsa ini terjadi dalam rantai makanan atau jaringan makanan di dalam ekosistem. Istilah rantai makanan berkaitan dengan hubungan linier perpindahan energi dari tingkat paling dasar misalnya plantae (tumbuhan) sebagai produsen dan berakhir pada predator tertinggi pada tingkatan trofik rantai makanan, bentuk yang lebih kompleks terjadi dalam jaring-jaring makanan. Jaring-jaring sukar dibedakan spesies yang menjadi produsen, peralihan atau predator, karena susunan yang tumpang tindih.
Makhluk hidup atau organisme mencangkup setiap sistem kehidupan biologis yang berfungsi sebagai bentuk kehidupan individu. Tingkatan (hierarki) kehidupan tersusun oleh tiga (3) tingkatan terkecil yang disebut atom, molekul dan sel. Sel berperan sebagai unit penyusun struktural dan fungsional makhluk hidup terkecil. Analogi yang lebih sederhana contohnya manusia makan setiap hari sebelum atau setelah beraktivitas, umumnya ketika kita memperoleh signal kelaparan dari hormon yang di koordinasi oleh hypothalamus. Jika kita tidak memperoleh asupan makanan dalam rentang yang sangat lama akan menyebabkan perubahan fisik bahkan kematian. Kita mengenal istilah regenerasi yang merupakan proses perbaikan sel, jaringan dan organ tubuh organisme, pada organisme mati sel berhenti beregerasi. Proses regenerasi sel melibatkan regulasi genetic yang kompleks. Berbagai reaksi kimiawi metobolisme terjadi di dalam sel utamanya pada 3 makromolekul yaitu protein (contoh; proteolisis dan proteogenesis), karbohidrat (contoh; glikolisis dan gluconeogenesis) dan lipid (contoh; lipolysis dan lipogenesis).


Pada tingkat sel proses pemecahan markomolekul menjadi senyawa sederhana atau sebaliknya terjadi pada organel sel. Energi dapat diperoleh dari berbagai proses kompleks yang disebut metabolisme. Metabolisme bertujuan agar kelansungan hidup organisme dapat berlanjut. Terdapat dua kelompok reaksi yang terjadi yaitu katabolisme dan anabolisme. Katabolisme adalah reaksi mengurangi, memecah senyawa organik menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan produk utama berupa energi yang tersimpan dalam Adenosine triphosphate (ATP), kasus proses ini terjadi pada respirasi aerob dan anaerob. Tidak heran terminologi rantai makanan ini dalam sejarahnya terhubung dan bersinggungan dengan fisiologis.
Jika proses fisiologis tubuh organisme tersebut terhambat atau terganggu maka dapat berdampak pada keberlansungan hidupnya, misalnya kematian. Pada gambar kita dapat melihat semut merupakan predator bagi belalang juvenile. Dalam siklus rantai makanan hilangnya populasi belalang atau semut dapat berdampak pada keduanya atau populasi jenis lain di dalam ekosistem. Namun interaksi yang berbeda juga sangat kompleks di alam, misalnya pada kasus tumbuhan karnivora seperti Nepenthes spp.
Penulis: Gunawan Wibisono-Ahli Botani dan Koordinator Survei Yayasan Palung

Pada bulan Juni 2023 ini, ada dua moment penting spesial even yang dilakukan oleh Yayasan Palung (YP), even tersebut adalah hari lingkungan yaitu Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 05 Juni dan Hari Hutan Hujan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Juni. Kedua moment penting ini diperingati secara bersamaan dengan melakukan penanaman pohon di sepanjang Jalan Celincing Desa Suka Baru Kecamatan Benua Kayong Kabupaten Ketapang, pada Minggu (18/6/2023).
Kegiatan aksi penanaman ini langsung dikoordinir oleh Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung Bersama Pokdarwis Celincing Bersatu.
Kegitatan ini dilakukan dalam rangka mendukung kegiatan penanaman pohon, Yayasan Palung bekerjasama dengan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Relawan Bentangor Untuk Konservasi (REBONK) bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Ketapang, KODIM 1203 Ketapang, Polsek Benua Kayong, LANAL Ketapang, IKAHUT UNTAN Ketapang, POKDARWIS Celincing Bersatu, instansi pemerintah lainnya, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Masyarakat (Ormas), Mahasiswa WBOCS serta pelajar dari beberapa sekolah di Kabupaten Ketapang.
Edi Rahman, selaku field Direktur Yayasan Palung, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan aksi penanaman ini dalam rangka memperingati kedua moment tersebut merupakan salah satu dukungan kita semua terhadap rehabilitasi lahan, dukungan terhadap Surat Edaran Bupati Kabupaten Ketapang Nomor 8 Tahun 2023 Tentang Aksi Kebelanjutan Penanaman Sejuta Pohon serta dukungan terhadap Desa Suka Baru yang ditetapkan sebagai desa wisata mangrove yang ada di Kabupaten Ketapang. Dalam kegiatan ini, Yayasan Palung mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan aksi penanaman sehingga kegiatan ini bisa terlaksana sesuai dengan rencana. Selain itu moment kebersamaan dalam kegiatan seperti ini tidak hanya terhenti disini saja namun terus berlanjut di moment lainnya.
Dalam kegiatan aksi menanam pohon ini terdapat 64 lembaga (instansi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, Organisasi masyarakat, Universitas dan Sekolah) yang diundang dengan jumlah peserta yang hadir pada kesempatan tersebut adalah 175 orang. Dalam kegiatan ini terdapat sebanyak 500 bibit yang ditanam dengan jenis Mahoni dan Pinang.
Galeri foto kegiatan :











Foto dokumen kegiatan dari : (Okta, Vinka, Pit, Widiya, Haning dan Sola/Yayasan Palung)
Penanaman secara simbolis dilakukan oleh Direktur Lapangan Yayasan Palung, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP), Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Ketapang, KODIM 1203 Ketapang, LANAL Ketapang, Kepala Kepolisian Sektor Kecamatan Benua Kayong, Ketua IKAHUT, Ketua Pokdarwis “Celincing Bersatu” Desa Suka Baru.
Penanaman pohon selanjutnya dilakukan para peserta yang diundang. Dalam kegiatan ini juga Yayasan Palung menghimbau dan mengajak semua peserta yang hadir untuk membawa minuman dari rumah masing-masing dengan menggunakan botol yang tidak terbuat dari plastik. Ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik. Setelah kegiatan penanaman pohon dilakukan selanjutnya kegiatan ramah tamah di lokasi objek wisata mangrove Pantai Celincing sambil menikmati keindahan dan kesejukan hutan mangrove. (Pit, Edi/Yayasan Palung).

Bulan lalu, tepatnya Rabu (24/5/2023), kami dari Yayasan Palung (YP) berkesempatan untuk berkunjung ke sekolah-sekolah, kami berkunjung ke SDN 28 dan SMPN 7 SATAP Nanga Tayap, Ketapang, Kalimatan Barat.
Pada kesempatan itu, kami mengajak adik-adik perwakilan dari SDN 28 dan SMPN 7 SATAP Nanga Tayap untuk mengkreasikan barang-barang bekas menjadi sesuatu barang yang berguna (barang yang bermaanfat). Memanfaatkan koran bekas menjadi bingkai foto, itu yang kami kreasikan pada kesempatan tersebut.
Sebelum mengajak adik-adik membuat kreasi memanfaatkan barang bekas menjadi barang yang bermanfaat terlebih dahulu kami mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kreasi koran bekas menjadi bingkai foto. Beberapa bahan yang sudah disiapkan seperti; koran bekas, cover buku yang tidak terpakai, lem kertas, gunting dan lain-lainnya.
Adik-adik pun mulai kami arahkan, pada kesempatan itu, Simon Tampubolon dari Yayasan Palung berkesempatan menjadi mentor dan menjelaskan cara-cara membuat kreasi bingkai foto dari bahan koran bekas. Mereka pun dibagi menjadi lima kelompok.
Seperti terlihat, satu persatu adik-adik yang ikut ambil bagian dalam kesempatan tersebut mulai menggulung-gulung kertas dan beberapa diantaranya membentuknya menjadi bulatan kecil. Selanjutnya bulatan koran tersebut mereka bentuk menjadi hiasan sebuah bingkai foto. Tentunya mereka membuatnya dengan bentuk dan kreasi masing-masing.






Lihat juga :
Adik-adik pun tampak asyik dan antusias serta berhasil membuat kreasi memanfaatkan koran bekas menjadi bingkai foto yang cantik dan menarik.
Berharap, dengan cara-cara sederhana seperti ini ada tumbuh kreativitas/keterampilan dan kepedulian dari mereka untuk memanfaatkan barang-barang bekas menjadi barang yang bermanfaat dan tepat guna. Selain juga mereka diajak untuk peduli pada lingkungan sekitar seperti misalnya peduli sampah. Yuk teman-teman boleh juga coba bikin di rumah.
(Pit-YP)