
Mengapa Kita Penting Merayakan Pekan Peduli Orangutan (PPO)? Setiap tahun di bulan November, penduduk dunia selalu merayakan Pekan Peduli Orangutan (Orangutan Caring Week). Lalu, apa pentingnya kita merayakan Pekan Peduli Orangutan?
Pekan Peduli Orangutan (PPO) merupakan salah satu kegiatan rutin yang disebut juga dengan spesial event (kegiatan khusus) setiap tahunnya. Kegiatan Pekan Peduli Orangutan sebagai salah satu bentuk kepedulian kepada nasib satwa (primata) yang sangat dilindungi dan terancam punah yaitu orangutan. Setiap tahunnya kegiatan PPO dilaksanakan pada awal atau medio November selama sepekan.
Sebagai lembaga konservasi yang memiliki kepedulian kepada nasib orangutan dan habitatnya, Yayasan Palung (YP) secara rutin menggelar (merayakan) kegiatan PPO setiap tahunnya.
Tahun ini, YP rencananya akan menggelar serangkaian kegiatan PPO selama sepekan (12-18 November 2023) yang dipusatkan di Desa Pulau Kumbang dan beberapa desa lainnya seperti di Pemangkat dan Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Tema PPO tahun ini adalah; “Leveraging AI to Protect Orangutans and Global Diversity” (Memanfaatkan AI (Artificial Intelligence) untuk melindungi Orangutan dan Keanekaragaman Hayati Global).
Dalam merayakan PPO 2023, rencananya YP akan melakukan serangkaian kegiatan di Wilayah Hutan Desa di Desa Pulau Kumbang dan beberapa desa lainnya, seperti di Pemangkat dan Padu Banjar.
Serangkaian kegiatan yang rencananya akan dilakukan oleh Yayasan Palung dalam rangka merayakan PPO diantaranya seperti:
Berharap semua rangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2023 ini berjalan sesuai dengan rencana.
Baca juga :
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung (YP) melalui Program Sustainable Livelihood (Mata Pencaharian Berkelanjutan), Yayasan ASRI bersama Perkim LH Kayong Utara mengajak para pihak melakukan penanaman pohon untuk mendukung kampung iklim di Bukit Merindu kilometer 8, Dusun Pematang Baros, Desa Riam Berasap Jaya, Kabupaten Kayong Utara, pada Rabu (25/10/2023).
Dalam penanaman pohon tersebut diikuti oleh 60 orang yang merupakan perwakilan dari beberapa pihak.
Saat melakukan penanaman pohon, setidaknya ada 400 bibit pohon yang ditanam. Beberapa bibit pohon yang ditanam adalah mangga, petai, langsat, jengkol, matoa, dan tanaman bibit kopi liberika.
Selain Yayasan Palung, Yayasan ASRI dan Perkim LH Kayong Utara, beberapa pihak yang ikut ambil bagian dalam kegiatan penaman pohon tersebut adalah Kelompok Tani Rintis Betunas (kelompok tani binaan YP), Pemerintah Desa Riam Berasap Jaya, Fauna & Flora saving Nature Together, Yayasan IAR Indonesia, UPT KPH Wilayah Kayong, dan Balai Taman Nasional Gunung Palung.
Ranti Naruri, selaku Manager Program Sustainable Livelihood, mengatakan, kegiatan penanaman pohon ini dilakukan sebagai upaya untuk mendukung peran serta masyarakat di kampung iklim melalui Gerakan penamaman pohon di Bukit Merindu kilometer 8, Dusun Pematang Baros, Desa Riam Berasap Jaya.
Kelompok Tani Rintis Betunas merupakan kelompok binaan Program Sustainable Livelihood (Mata Pencaharian Berkelanjutan) Yayasan Palung. Seperti diketahui, Kelompok Tani Rintis Betunas beberapa waktu lalu meraih penghargaan sebagai Kampung Iklim Tingkat Desa, Kategori Madiya, dari Dinas Perkim LH Kayong Utara, kata Ranti.
Semua rangkaian kegiatan penanaman pohon tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta.
Penulis : Petrus Kanisius
Yayasan Palung
Apabila kalian mendengar suara ini di hutan, jangan kaget, itu bukan kucing melainkan burung. Sekilas suara burung ini mirip suara kucing.
Nama burung ini Sempur Hujan Rimba. Sempur hujan rimba (Eurylaimus javanicus) adalah spesies burung dalam keluarga burung paruh khas Eurylaimidae yang ditemukan di Daratan Asia Tenggara dan Kepulauan Sunda Besar. Kadang-kadang ia dipecah menjadi dua spesies, satu hanya mencakup subspesies yang dicalonkan, E. j. javanicus, dan satu termasuk semua subspesies yang tersisa. Ia mendiami berbagai hutan, bersama dengan tepi hutan, perkebunan karet dan kebun sengon sabrang, terutama di daerah dataran rendah.
Burung ini memiliki ukuran tubuh yang tidak begitu besar dengan panjang kurang lebih sekitar 21 cm.
Paruh lebar sebagian besar berwarna merah keunguan, dengan sayap hitam bergaris kuning, paruh biru cerah, wajah kehitaman, serta dagu dan dada bagian atas keabu-abuan. Betina dapat dibedakan dari jantan karena tidak adanya ikat pinggang berwarna hitam, meskipun hal ini tidak dapat dibedakan pada jantan Kalimantan dan Jawa. Meskipun penampilannya mencolok, burung ini biasanya sulit dilihat karena kelesuannya dan biasanya hanya diketahui saat ia bersuara.
Spesies ini terutama memakan artropoda seperti ortoptera (belalang, tonggeret, dan jangkrik), serangga dan kumbang sejati, namun juga tercatat memakan siput, kadal, katak, dan buah ara.
IUCN Red List memasukan burung Sempur Hujan Rimba (Eurylaimus javanicus) kedalam daftar Hampir Terancam Punah (Near threatened).
Sumber : Dari berbagai sumber
Video : Erik Sulidra
Lokasi : Hutan Desa Penjalaan, Simpang Hilir, KKU.
(Yayasan Palung)





Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye melakukan kegiatan edukasi pendidikan lingkungan (Tim PL YP) di Dusun Pangkalan Jihing dan Bayangan, Nanga Tayap, Pada Rabu-Jumat (11-13 Oktober 2023) pekan lalu.
Serangkaian kegiatan yang kami lakukan antara lain adalah melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah di SDN 20 Nanga Tayap, pada hari Kamis (12/10) dan di SDN 28 dan SMPN 7 SATAP, pada Jumat (13/10).
Saat berkunjung ke SDN 20 Nanga Tayap, Tim PL YP mengajak adik-adik kelas 4-6 membuat kerajinan dengan memanfaatkan kardus, kertas dan koran bekas menjadi barang bermanfaat seperti bingkai foto yang cantik.
Adik-adik pun mulai kami arahkan, pada kesempatan itu, Simon Tampubolon dari Yayasan Palung berkesempatan menjadi mentor dan menjelaskan cara-cara membuat kreasi bingkai foto dari bahan koran bekas. Mereka pun dibagi menjadi lima kelompok.
Foto-foto kegiatan kami di Jihing dan Bayangan :












Dokumen Foto kegiatan : Simon Tampubolon/Yayasan Palung.
Seperti terlihat, satu persatu adik-adik yang ikut ambil bagian dalam kesempatan tersebut mulai menggulung-gulung kertas dan beberapa diantaranya membentuknya menjadi bulatan kecil. Selanjutnya bulatan koran tersebut mereka bentuk menjadi hiasan sebuah bingkai foto. Tentunya mereka membuatnya dengan bentuk dan kreasi masing-masing.
Tidak hanya membuat praktek membuat bingkai foto yang cantik, adik-adik juga diajak oleh Widiya Octa Selfiany untuk membuat pupuk bio lahang.
Pupuk Bio Lahang merupakan pupuk organik yang berbahan dasar air kelapa dan campuran ikan. Kata “lahan” sendiri berasal dari Bahasa Sunda yang artinya air kelapa atau nira. Kelapa merupakan komoditas perkebunan yang tumbuh subur di Kawasan pesisir seluruh Indonesia.
Adik-adik SDN 20 Nanga Tayap terlihat sangat antusias memlakukan praktek pembuatan bio lahang. Nantinya bio lahang tersebut mereka gunakan untuk menyiram tanaman Toga yang sebelumnya telah mereka tanam.
pada Kamis (12/10) malam, Tim PL YP berkesempatan melakukan pemutaran film lingkungan (mobile cinema) bertempat di Halaman SDN 28 Nanga Tayap. Seperti terlihat, cukup banyak masyarakat yang menyaksikan film lingkungan yang kami suguhkan. Pada kesempatan tersebut, beberapa film lingkungan yang kami putar antara lain adalah: 10 Satwa yang Dilindungi, Keanekaragaman Hayati Indonesia dan Film LONGGOK (C)EMAS- MENGERUK EMAS MENIMBUN CEMAS.
pada Jumat (13/10) pagi, kegiatan kami lanjutkan dengan melakukan praktek membuat Bio Lahang di SDN 28 dan SMPN 7 SATAP. Semua murid di sekolah Satu Atap (SATAP) ini diikutkan oleh guru mereka saat melakukan praktek membuat Bio Lahang.
Adik-adik pun tampak asyik dan antusias serta berhasil membuat kreasi memanfaatkan koran bekas menjadi bingkai foto yang cantik dan menarik. Demikian juga saat mereka melakukan praktek pembuatan pupuk bio lahang.
Pada Edukasi Pendidikan Lingkungan (kesling) terakhir kami di tahun 2023 ini, terlihat sedih di raut wajah guru-guru di SDN 20 Nanga Tayap, SDN 28 dan SMPN 7 SATAP saat kami berpamitan, setelah semua rangkaian kegiatan yang kami lakukan selesai dilakukan di 3 sekolah tersebut.
Kepala sekolah dari 3 sekolah tersebut masih berharap di tahun-tahun mendatang Yayasan Palung (YP) berkunjung atau mendampingi sekolah mereka lagi. Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Yayasan Palung karena telah mendampingi mereka sejak tahun 2017 hingga 2023.
Widiya Octa Selfiany, Manager Tim PL pada kesempatan tersebut mewakili lembaga menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah karena sudah berkenan berkerjasama dengan baik dan selalu mendukung program-program edukasi dari Yayasan Palung.
Yayasan Palung juga pada kesempatan tersebut memberikan kenang-kenangan berupa sertifikat ucapan terima kasih kepada pihak sekolah dan SPTN Wil. II Teluk Melano, Risort Pangkalan Jihing. Kami juga menyerahkan foto Bersama saat berkegiatan dan foto orangutan karya Tim Laman kepada pihak sekolah.
Kami juga berpamitan dengan Bapak Sukri dan Ibu, di tempat merekalah kami menginap saat berkegiatan. Kami pun berdoa dan berharap semoga bisa kembali berkunjung ke Pangkalan Jihing dan Bayangan.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hallo! Perkenalkan nama saya Yana Eka Saputra, saya adalah mahasiswa dari Universitas Tanjungpura yang sedang melaksanakan kegiatan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) magang di Yayasan Palung (YP). Dalam tulisan ini, saya ingin bercerita tentang pegalaman saya mengenai kegiatan yang saya lakukan di Yayasan Palung yaitu kegiatan survei biodiversitas dan survei sarang orangutan. Kegiatan ini dilakukan di Kawasan Hutan Desa, Kecamatan Simpang Hilir. Kegiatan survei ini dilakukan selama empat hari berturut-turut. Dalam melakukan kegiatan ini saya dan teman-teman dari YP Tidak sendirin, kami juga didampingi oleh empat orang masyarakat di sana dan dua mahasiswa magang dari Fauna & Flora saving Nature Together.
Adapun kami yang melakukan survei tersebut adalah; Erik Sulidra dan Gunawan Wibisono (Yayasan Palung), Yana Eka Saputra dan Egi Iskandar (Mahasiswa dari Fakultas Kehutanan yang sedang Magang Yayasan Palung), Piar Janu bara, Aprillia Agatha (Mahasiswa dari Fakultas Kehutanan yang sedang magang Fauna & Flora saving Nature Together).
Jujur sebelumnya saya belum pernah melakukan kegiatan ini dalam hidup saya, apalagi untuk tinggal di hutan selama empat hari (6-9/10/2023).
Pada hari keberangkatan, kami semua berangkat di pagi hari menggunakan mobil. Sebelum berangkat ke lokasi kami singgah terlebih dahulu di salah satu rumah masyarakat di Desa Penjalaan untuk mempersiapkan bekal yang akan dibawa. Selain itu, kami juga melihat cara penggunaan drone thermal yang dilakukan oleh 3 orang Asisten (Dang, Sahril, dan Yogi) dari Stasiun Riset Cabang Panti. Kami semua diantar sampai di ujung desa Penjalaan. Setelah sampai di ujung desa kami semua berjalan kaki untuk masuk ke hutan desa yang menjadi lokasi survei kami. Jarak yang kami tempuh dengan berjalan kaki untuk sampai ke lokasi sekitar 2 kilometer.
Setelah sampai di lokasi, kami segera membuat tenda, tempat masak dan tempat mandi. Saat sampai di lokasi saya juga terkejut karena banyak sekali kupu-kupu disana yang seperti menyambut kedatangan kami. Di hari pertama kami sampai kami tidak langsung turun untuk survei, semua mahasiswa magang termasuk saya diberi arahan dan perbekalan mengenai kegiatan yang nantinya dilakukan.
Hari kedua kami mulai bersiap untuk melakukan survei, kami dibagi menjadi 2 tim masing-masing 3 orang, yaitu tim pengamatan vegetasi dan tim pengamatan sarang orangutan. Nantinya kedua tim tersebut bergantian di hari selanjutnya. Di hari pertama kegiatan saya mengamati vegetasi di hutan desa. Saat pengamatan saya dan tim menempuh jarak 1 kilometer yang didalamnya terdapat 4 plot pengamatan.
Selanjutnya saya bersama tim survei melakukan pengamatan sarang orangutan, kami mengamati keberadaan sarang orangutan yang ada di hutan desa itu. Saya bersama tim survei menempuh jarak 1 kilometer, dengan 4 plot pengamatan. Saat melakukan pengamatan, saya dan tim survei sangat beruntung karena bisa berjumpa beberapa sarang orangutan. Keberadaan sarang orangutan banyak dijumpai pada pohon kempas. Untuk ketinggian sarang orangutan juga bervariasi ada yang berada di puncak pohon dan ada juga yang berada di cabang pertama pohon. Selain itu, kami beruntung karena bisa berjumpa langsung dengan orangutan. Tidak hanya itu, kami melihat banyak satwa liar di sana seperti burung-burung dan bajing.
Setelah kegiatan selesai kami semua kembali ke camp untuk beristirahat dan makan bersama. Kami juga saling bercerita dan berbagi pengalaman bersama di camp sembari menunggu mata mengantuk.
Kegiatan survei ini menurut saya adalah kegiatan yang sangat berkesan karena pertama kali melakukannya. Saya sangat senang bisa ambil bagian dalam kegiatan survei ini, saya mendapatkan teman baru, ilmu baru dan pengalaman baru yang sama sekali belum saya rasakan sebelumnya.
Penulis : Yana Eka Saputra (MBKM Magang Yayasan Palung)
Editor: Robi Kasianus
(Yayasan Palung)

Yayasan Palung (YP) mengadakan pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) bagi Masyarakat di Sekitar Hutan Desa dan Taman Nasional Gunung Palung sebagai salah satu solusi mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), kegiatan dilaksanakan pada Rabu hingga Kamis (11-12/10/2023).
Kegiatan tersebut diadakaan di Gedung Serba Guna Desa Penjalaan, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Dalam kegiatan itu, tampak antusias peserta yang hadir, dari semula 60 orang undangan, menjadi 80 orang peserta yang hadir.
Adapun peserta yang hadir dalam pelatihan tersebut adalah UPT KPH Wilayah Kayong, Balai Taman Nasional Gunung Palung, Fauna & Flora saving Nature Together, Yayasan Palung, Bhabinkamtibmas, Babinsa, perwakilan dari Desa Riam Berasap, Desa Rantau Panjang, Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang, dan Desa Padu Banjar.
Kegiatan pelatihan dibuka langsung oleh Direktur Lapangan Yayasan Palung, Edi Rahman. Selanjutnya juga Kepala UPT KPH Wilayah Kayong, Euis Herawati, S.Hut, M.Hut berkesempatan memberikan sambutan pembukaan kegiatan Pelatihan.
Dalam kata sambutnya pada pembukaan kegiatan, Edi Rahman, mengatakan, “mengucapkan terima kasih kepada peserta yang meluangkan waktu untuk hadir dalam kegiatan pelatihan pembukaan lahan tanpa bakar ini (PLTB).
Bulan Agustus hingga September tahun 2023 merupakan bulan yang cukup berat bagi kita semua karena banyaknya kebakaran yang terjadi di Kecamatan Simpang Hilir. Hal tersebut membuat kawan-kawan LPHD harus ikut serta memonitoring dan memadamkan api dengan alat pemadam yang telah mereka terima dari Lembaga. “
Lebih lanjut Edi, sapaan akrabnya mengatakan, “Ada beberapa Desa yang telah di support dengan alat pemadam seperti Desa Penjalaan, Pemangkat, Pulau Kumbang, Nipah Kuning, Padu Banjar, dan Tanjung Gunung. Nah, alat pemadam tersebut juga bisa dipinjam atau digunakan oleh KPH untuk memadamkan api apabila kebakaran terjadi di 6 Desa tersebut.
Pelatihan ini merupakan respon dari kebakaran yang telah terjadi selama 2 bulan terakhir. Saya berharap, peserta belajar dengan sungguh-sungguh sehingga nantinya dapat dipraktekkan dilahan masing-masing.”
Bapak/ibu yang dilibatkan dalam pelatihan ini termasuk orang yang beruntung karena tidak semua warga yang punya kesempatan untuk mengikuti pelatuhan. Harapan saya ketika pulang dari pelatihan PLTB ini, Bapak/Ibu bisa mempraktekan hasilnya. Saya berharap apabila kedepannya pelatihan PLTB Kembali diadakan, Bapak/Ibu yang terlibat dalam pelatihan ini akan dapat jadi pemateri, sehingga kita tidak perlu mengundang pemateri dari luar kecamatan Simpang Hilir lagi, kata Edi.
Dalam sambutan berikutnya, Kepala UPT KPH Wilayah Kayong, Euis Herawati, S.Hut, M.Hut mengatakan,
Mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara kegiatan Pelatihan Peembukaan Lahan Tanpa Bakar. Saat ini isu terkait kebakaran sedang hangat.
Selanjutnya ibu Euis Herawati, menambahkan; “Kami dari KPH juga sempat berjibaku untuk menghadapi kebakaran yang terjadi di beberapa Kecamatan di Kayong Utara ini. Jumlah hotspot yang muncul atau terpantau dalam aplikasi Sipongi adalah 1.128 titik. Kayong Utara ini didominasi oleh lahan gambut dan pakis, tentunya mengandung bahan yang sangat mudah terbakar. Saya berharap, LPHD dan KPH bisa terus bersama berupaya memantau, melakukan pencegahan, dan memadamkan api yang sudah terlanjur menyebar.
LPHD juga memiliki alat pemadam kebakaran (Mesin pompa air) yang ringan, sehingga mudah dibawa dalam aktivitas pemadaman. Jadi alat pemadam kebakaran LPHD ini sangat membantu kegiatan pemadaman.”
Presiden juga telah menyampaikan arahan seperti ini “cari solusi yang permanen agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar”. Jadi, pelatihan PLTB ini merupakan salah satu solusi atas arahan presiden tersebut, kata Euis Herawati.
Pada kesempatan tersebut, sebagai pemateri dalam pelatihan adalah Joko Wiryanto seorang Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) berkesempatan berbagi ilmu terkait Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dan Pertanian organik.
Sebagai pemteri dalam pelatihan tersebut, Joko Wiryanto mengajak para peserta yang hadir untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar kesulitan ekonomi kita dapat terpecahkan sehingga kita bisa Sejahtera. Bagi saya, apabila masyarakat Sejahtera maka hutan menjadi Lestari.

“Kali ini kita akan belajar tentang bangaimana Pembukaan Lahan Tanpa Bakar atau yang biasa disebut dengan PLTB. Tujuannya agar tidak terjadi lagi kebakaran seperti kebakaran yang terjadi pada tahun telah berlalu. Pertama kali PLTB saya buat pada tahun 2013. Selanjutnya pada tahun 2015 pernah terjadi kebakaran hebat termasuk di Kalimantan Barat, kami kebingungan mencari solusi untuk membuka lahan dengan cara tidak dibakar. Pada akhirnya metode PLTB inilah yang dipakai sebagai solusi,” kata Joko Wiryanto.
Lebih lanjut dalam pelatihan tersebut Joko menegaskan “berdasarkan data, 63 persen Raskin (Beras Miskin) ditujukan kepada petani. Artinya dapat disimpulkan bahwa sebagaian besar petani kita miskin. Pertanyaan saya “Kenapa petani Miskin”? Petani miskin disebabkan oleh 7 (tujuh) factor yaitu: SDM kurang, Modal, Pendidikan, Kemauan, Infrastruktur belum memadai, Sarana teknologi Kurang dan Malas.
Dari 7 faktor tersebut, harus kita bahas dan harus kita atasi satu persatu. Hal yang harus kita lakukan saat ini adalah belajar dan menurunkan biaya produksi. Biaya produksi terdiri dari: Pengolahan lahan, Racun hama, Perawatan, Bibit dan Pupuk.”
Salah satu hal yang paling krusial adalah gaji diri sendiri. Terkadang petani lupa menghitung gaji diri sendiri. Gaji itu seharusnya dihitung. Setelah menghitung biaya gaji senidiri, selanjutnya yang perlu dihitung adalah biaya sewa lahan. Setelah dua biaya tersebut sudah dihitung, maka keuntungan sudah bisa kita hitung.
Kenapa lahan semakin lama, kesuburannya semakin kurang. Hal itu karena pada umumnya petani tidak pernah berfikir mengembalikan unsur hara ke dalam tanah. Itulah kenapa tanaman sawit biasanya semakin tinggi, buahnya semakin sedikit karena unsur hara makro dan mikro tidak terpenuhi sehingga semakin lama tanahnya semakin keras.

Apa saja yang perlu diperbaiki pada lahan atau tanah yang sudah punya tekstur keras? memberikan kompos dan memberikan pupuk organik
Sebenarnya modal untuk menjadi seorang petani bukanlah hanya sekedar modal tenaga dan kemauan. Hal yang paling penting untuk diminimalkan adalah biaya produksi, yang mana didalamnya terdiri dari; Bibit, Pupuk, Insectisida dan lain sebagainya.
Untuk mengahadpi biaya pupuk seharusnya kita tidak perlu khawatir dengan biaya yang tinggi apalagi bagi petani yang tinggal di lahan gambut. Gambut terdiri dari bahan-bahan organik. Bahan organik dapat dijadikan kompos. Namun masalah yang kita hadapi adalah cara pengolahan gambut.
Joko juga mengatakan alasan Apa saja kesulitan mengelola gambut diantaranya adalah menurunkan pH asam, iklim, hama dan penyakit serta gambut pada umumnya tergenang air.

“Pada dasarnya ketika petani menggunakan pupuk kimia, artinya petani telah merusak alam. Sebagai contoh pupuk urea. Satu karung Urea mengandung 46% urea dan 54% amoniak. Amoniak merupakan gas Rumah Kaca. Ketika menggunakan pupuk urea 46%, tidak semua urea terserap oleh tanaman, Sebagian urea akan mengalir ke parit akibat terbawa oleh air hujan. Selain itu, nitrogen yang diserap oleh tanaman juga menghasilkan residu yang berbahaya. Selanjutnya kita makan dari tanaman yang mengandung residu yang mengandung bahan kimia tersebut,” ujar Joko.
Peserta pelatihan juga diajak untuk melakukan praktik PLTB. Peserta pelatihan juga diajak untuk membuat pupuk (pembuatan cuka pisang, pembuatan F1 embio, pembuatan KCL dan pembuatan bakteri fotosintesa)
Pada hari kedua pelatihan, Kamis (12/10/2023), dan selanjutnya peserta melakukan praktik membuka lahan dengan membuat bedeng tanaman.
Petrus Kanisius dan Robi Kasianus-Yayasan Palung

Melalui proses yang panjang serta membutuhkan waktu hampir ± 2 (dua) tahun dalam proses pengajuan berkas usulan calon Hutan Desa Lubuk Batu sampai akhirnya disetujui oleh Kementrian Lingkungn Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Surat Keputusan (SK) Persetujuan Perhutanan Sosial ini langsung diserahkan oleh Yang Terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia di Indonesia Arena Komplek Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, Senin, (18/9/2023).
Dalam kesempatan itu, Presiden Joko Widodo secara langsung menyerahkan Surat Keputusan Perhutanan Sosial sebanyak 1.541 Unit SK dengan luas areal 1,048 juta Hektare yang terdiri dari skema Hutan Desa, Kemitraan Konservasi, Hutan Adat, Hutan Tanaman Rakyat dan Hutan Kemasyarakatan. Salah satunya adalah Hutan Desa Lubuk Batu.
Pada tanggal 3 Juli 2021 Ketua Lembaga Pengelola hutan Desa (LPHD) Lubuk Batu Betuah , Bapak Ibnu didampingi oleh Yayasan Palung mengajukan permohonan Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa seluas ± 1.800 (seribu delapan ratus) hektare yang berada pada Kawasan Hutan Produksi Tetap (HPT) di Desa Lubuk Batu Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara Provinsi Kalimantan Barat. Dikarenakan pada waktu pengajuan masih dalam situsasi Covid 19 maka pengusulan belum dapat tidak lanjuti oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia terutama kegiatan Verifikasi Teknis. Sedangkan Verifikasi Tehnis dilapangan baru bisa dilaksanakan oleh Balai Perhutanan Sosial Wilayah Kalimantan pada tanggal 11 Februari 2023 dan hasilnya yang disetujui sebagai hutan desa seluas ± 941 (Sembilan Ratus Empat Puluh Satu) hektare dan mendapat pengurangan areal kerja sekitar ± 899 (delapan ratus Sembilan puluh Sembilan) hektare. Pengurangan ini dikarenakan beberapa hal yaitu dimana luasan yang diusulkan terdapat areal yang telah di garap Masyarakat desa lain seluas ± 868 (Delapan Ratus Enam Puluh Delapan) hectare, Berada didalam perizinan berusaha Pemanfaatan Hutan PT Mayawana ± 1 (satu) hectare, Berada di Kawasan Hutan Desa batu Barat ± 11 (sebelas) Hektare, berada di dalam Area Penggunaan Lain ± 19 (Sembilan belas) Hektare. Namun terdapat penambahan calon areal kerja seluas ± 40 (empat puluh) hektar karena perhitungan ulang secara digital. Sehingga total luasan Hutan Desa Lubuk Batu yang disetujui adalah ± 941 (Sembilan Ratus Empat Puluh Satu) hektare.

Bapak Ibnu (Ketua LPHD Lubuk Batu Betuah) yang mewakili anggotanya secara langsung menerima Surat Keputusan Hak Pengelolaan Hutan Desa (SK. HPHD) di Jakarta yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Tentang Pemberian Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa Kepada Lembaga Pengelola Hutan Desa Lubuk Batu Betuah seluas ± 941 Ha (Sembilan Ratus Empat Puluh Satu) Hektare yang Berada Pada Kawasan Hutan Produksi tetap di Desa Lubuk Batu Dengan Nomor : SK.7416/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/7/2023 : sk-hphd-lubuk-batu.pdf

Bapak Presiden Indonesia berpesan dalam penyerahan SK. HPHD tersebut agar masyarakat desa untuk dapat memanfaatkan dan mengelola Kawasan hutan desa dengan arif dan bijaksana sesuai dengan fungsi Kawasan dengan harapan dapat memberikan kesejahteraan kepada Masyarakat desa dengan tetap mempertimbangkan kelestarian hutan.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menambahkan bahwa sesuai arahan Presiden Joko Widodo, bahwa Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) harus selalu didampingi untuk peningkatan kapasitas kelembagaan, tata kelola hutan, kesempatan berusaha dan fasilitasi manajemen usaha kelompok yang efektif. Hal tersebut dimaksudkan agar dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang produktif.
Hendri Gunawan, selaku Koordinator Hutan Desa Yayasan Palung, menambahkan, pengajuan Hutan Desa Lubuk Batu bersamaan dengan pengajuan Hutan Desa Matan Jaya. Namun ketika dilakukan verifikasi hutan desa Matan Jaya oleh BPSKL Kalimantan terdapat kekurangan berkas usulan. Hal ini dikarenakan di Desa Matan Jaya baru dilakukan pemilihan Kepala Desa baru dan harus ada ada Surat Persetujuan Kepala Desa yang baru. Sedangkan Kepala Desa yang terpilih belum defenitif atau belum dilantik sebagai Kepala Desa Matan Jaya. Sehingga perbaikan berkas usulan harus menunggu beberapa bulan setelah Kepala Desa terpilih terpilih dan berdampak terhadap keterlambatan perbaikan berkas usulan untuk disampaikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Dengan keluarnya SK, Hak Pengelolaan Hutan Desa (SK. HPHD) Lubuk Batu, maka sejak tahun 2014 – 2023 Yayasan Palung telah mendampingi 8 Desa dalam proses pengajuan Hutan Desa dengan total luas 8.903 (Delapan Ribu Sembilan Ratus Tiga) Hektare dan masih menunggu SK. HPHD Desa Matan Jaya dengan jumlah yang diusulkan seluas 1.900 Hektare.
Penulis : Hendri Gunawan (Koordinator Hutan Desa-Yayasan Palung)

Sama halnya seperti manusia, orangutan juga memiliki rumah. Akan tetapi, rumah orangutan disebut sebagai sarang.
Manusia juga memiliki model dan tipe rumah, orangutan juga memiliki tipe-tipe (jenis posisi) yang disebut sarang sebagai tempat hidup, berlindung, makan, minum dan beristirahat mereka di hutan.
Satwa endemik ini dikenal sebagai makhluk hidup Aboreal (satwa yang menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya di atas pohon untuk makan, minum, istirahat dan tidur di sarang) dan orangutan membuat sarang setiap harinya pada saat sore ataupun malam ketika mereka tidur.
Adapun sarang dari orangutan yang wilayah hidupnya di Indonesia, hanya ada di hutan hujan Kalimantan dan Sumatera. Sarang dari orangutan memiliki model (posisi) dan kelas berdasarkan umurnya sarang.
Tipe-tipe tidak lain adalah model (jenis atau posisi sarang). Untuk pembuatan sarang, biasanya orangutan memiliki jenis dan posisi masing-masing berdasarkan kebiasaan dan kesukaan mereka (orangutan).
Klasifikasi yang diberikan oleh Schaik dan Idrusman, tahun 1996, mengenai tipe/posisi sarang:
Posisi I: Posisi sarang terletak di dekat batang pohon utama,
Posisi II: Sarang berada di pertengahan atau di pinggir percabangan tanpa menggunakan pohon atau percabangan pohon lainnya,
Posisi III: Pohon terletak di puncak pohon,
Posisi IV: Sarang terletak diantara dua cabang atau lebih dari tepi pohon yang berlainan. Bahkan orangutan dapat membuat dua hingga tiga sarang setiap harinya.
Tetapi ada juga orangutan yang bersarang di tanah. Biasanya orangutan yang bersarang di tanah adalah orangutan sudah tua. Dengan kata lain, orangutan yang bersarang di tanah karena mereka tidak bisa lagi memanjat karena faktor usia.

Orangutan biasanya mematahkan ranting-ranting dan daun menyusunnya untuk dijadikan sarang. Adapun pohon tempat bersarangnya orangutan antara lain adalah pohon medang, meranti, ubah, kayu malam (kayu arang), jambu-jambuan, durian hutan, kayu kempas (kompas), kayu punak, ficus (kayu ara), kayu rengas dan terkadang pula orangutan membuat sarang di pohon kayu belian (kayu besi). Biasanya, ketebalan dari sarang orangutan, kurang lebih 40-50 cm.
Adapun kelas sarang orangutan adalah Tipe sarang A, tipe sarang B, tipe sarang C, tipe sarang D dan tipe sarang E.
Bagaimanakah Tipe Sarang Orangutan yang Dimaksud?
Tipe Sarang A: Sarang orangutan A adalah tipe sarang orangutan yang masih baru. Daun-daunnya baru dibangun atau sarang masih baru dan daun-daunnya masih hijau. Biasanya sarang tipe A ranting kayu yang dijadikan sarang masih baru, belum layu. Sarang biasanya masih baru, usianya dibangun kurang dari satu hari hingga 3 hari,
Sarang Orangutan tipe A (sarang masih baru ditinggal satu malam).
Tipe Sarang B: Sarang orangutan tipe sarang B, biasanya sebagian daun hijau di dalam sarang sudah mulai mengering. Otomatis ketebatalan sarang berkurang. Usia sarang biasanya berusia ± 1 minggu.
Tipe Sarang C: Walaupun sarang masih hijau, tetapi daun dari sarang sudah mulai gugur. Usia sarang ± 2 minggu.
Tipe Sarang D: Hampir seluruh ranting dan daun dari sarang sudah mulai mengering. Sarang sudah mulai berlobang. Usia sarang biasanya sudah berumur ± 3 minggu.
Tipe Sarang E: Semua daun dan ranting sudah mengering, sebagian besar dari sarang sudah berlubang (biasanya tersisa ranting-ranting dari sisa-sisa sarang. Sarang tipe E biasanya sarang lama dari orangutan. Biasanya berumur 1 bulan hingga lebih.
Seperti diketahui pula, orangutan selalu membuat sarang baru dan meninggalkan sarang yang lama. Untuk sarang lama, khususnya sarang tipe A yang pernah didiami orangutan dan sarang tipe B pernah sesekali orangutan mendiami sarang lama tetapi kebanyakan orangutan selalu membuat sarang baru.
Adapun ketinggian rata-rata sarang orangutan di atas pohon adalah ada pada ketinggian antara 5-7 meter, ada pula yang di ketinggian 11-20 meter di hutan dataran rendah. Orangutan yang memiliki bayi, biasanya membuat sarang tidak terlalu tinggi (5-7 meter). Sedangkan orangutan yang dewasa, jantan dan betina yang memiliki anak menjelang dewasa berusia 7-8 tahun (anak orangutan yang akan segera pisah dengan ibunya) lebih suka membuat sarang di ketinggian 11-20 meter.
Orangutan merupakan satwa langka hidupnya di alam liar saat ini semakin sulit membuat sarang karena habitatnya dari tahun ke tahun semakin berkurang dan terancam. Perlu kepedulian bersama untuk menjaga, melindungi dan melestarikan orangutan agar orangutan masih boleh membuat sarang dan berkembang biak.
Petrus Kanisius- Yayasan Palung

ibu-ibu dari beberapa kelompok binaan (dampingan) Yayasan Palung melakukan kegiatan praktek pembuatan keripik singkong, di rumah ketua Kelompok Rintis Betunas di Desa Riam Berasap Jaya, KKU Pada Jumat (22/9/2023) pekan lalu.
Ibu-ibu mulai melakukan praktek pembuatan keripik singkong sekitar pukul 13.30 WIB, Ibu-ibu yang melakukan kegiatan praktek pembuatan kripik tersebut terdiri dari 3 orang dari kelompok Rintis Betunas, 1 orang dari Pengrajin Peramas Indah, 1 orang dari KUPS Asoka LPHD Simpang Keramat dan 2 orang dari masyarakat sekitar rumah ketua kelompok.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kripik singkong antara lain adalah Ubi (singkong) 8 kilogram (kg). Setelah ubi tersebut dikupas dan dicuci bersih kemudian diserut menggunakan alat khusus pembuatan keripik yang masih manual. Setelah semuanya sudah selesai diserut, ubi tersebut dibagi menjadi dua bagian dimana yang bentuknya lebih kecil dibuat menjadi varian rasa pedas manis dan untuk ubi yang lebih lebar dibuat menjadi varian rasa original.
Setelah semua produk tersebut selesai digoreng dan sudah dengan varian rasanya masing -masing selanjutnya produk tersebut ditimbang. Adapun hasil dari timbangan yaitu 1.2kg untuk varian rasa pedas manis dan 2kg untuk varian rasa original.Jadi total keseluruhan dari ubi 8kg setelah digoreng memperoleh hasil 3.2kg telah menjadi keripik ubi yang siap packing. Dan setelah semuanya selesai, para Ibu – ibu bisa mencicipi dan dirasa untuk rasa sudah pas maka mereka bisa mempraktekan ulang ilmu tersebut dirumah masing – masing.
Selanjutnya bahan-bahan tersebut dicampur dan digoreng. Setelah digoreng, diperoleh keripik sebanyak 3,2 kg. Dimana 1,2kg dibuat menjadi keripik pedas manis, dan 2 kg keripik original.
Field Officer Program Sustainable Livelihood (SL) Yayasan Palung (YP), Salmah, mengatakan, Kegiatan praktek pembuatan keripik ini dilakukan sebagai upaya pengulangan ilmu yang didapat dikelompok dampingan Gemawan pada saat studi banding pada beberapa bulan yang lalu.
Lebih lanjut Salmah mengatakan, Pada hari kegiatan praktek pembuatan keripik dilakukan bersama Ibu – ibu dari istri para kelompok tani Rintis Betunas dan yang menjadi leader adalah Ibu – ibu yang ikut berangkat ke Seponti saat kegiatan studi banding, adapun alasan dilakukannya studi banding serta praktek pembuatan keripik adalah sebagai bentuk upaya pemanfaatan ubi yang ada dikelompok tani, karena pada kelompok Rintis Betunas sangat banyak menghasilkan ubi dilahan perkebunan mereka masing-masing sehingga dari Tim Sustainable Livelihood (SL) Yayasan Palung memfasilitasi ibu-bu yang juga merupakan istri dari para petani dari kelompok Rintis Betunas tersebut agar bisa memanfaatkan ubi menjadi suatu produk yang mempunyai harga jual yang lebih tinggi dari pada hanya menjual ubi utuh saja. Adapun serangkaian kegiatan tersebut selesai dilaksanakan pada Jumat (22/9), pukul 16.30 WIB.
Di sesi akhir kegiatan, kami berkesempatan berfoto bersama, akan tetapi tidak semua orang ikut berfoto dikarenakan sudah ada yang pulang terlebih dahulu.
Pit & Salmah
Yayasan Palung

Hari ini (4/10/2023) penduduk dunia memperingati HARI HEWAN SEDUNIA (WORLD ANIMAL DAY) 2023.
Indonesia memiliki keanekaragaman Hewan (satwa) yang dilindungi dan diantaranya ada di sekitar kita.
Beberapa hewan yang di sekitar kita ternyata dilindungi oleh peraturan dan undang-undang diantaranya seperti orangutan, burung enggang serta satwa liar lainnya.
Mengapa kita harus melindungi satwa liar yang ada di sekitar kita?
Satwa liar menjadi bagian dari ekosistem di alam atau pada suatu habitat. Di dalam habitat tercakup kebutuhan dasar untuk mahluk hidup – air, makanan, ruang, dan tempat berlindung. Bila salah satu kebutuhan dasar itu tidak ada atau terbatas, akan memengaruhi satwa liar di dalamnya.
Apa manfaat kita harus melindungi hewan dari kepunahan?
Melestarikan hewan yang sangat dilindungi sangat bermanfaaat untuk melestarikan keragaman hayati. Melestarikan hewan langka memiliki manfaat untuk ilmu pengetahuan.
Mencegah terjadinya kepunahan pada suatu hewan. Membantu memperbaiki kerusakan lingkungan.
SELAMAT HARI HEWAN SEDUNIA (WORLD ANIMAL DAY) 2023
Sumber :
PERMEN LHK Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018
Pit
(Yayasan Palung)