Koordinasi Kerjasama Fakultas Biologi Dan Pertanian, UNAS dan YP

Saat YP menyampaikan presentasi tentang Program Konservasi kepada UNAS. (Foto : Ranti Naruri/Yayasan Palung).

Rapat Koordinasi kerjasama Fakultas Biologi dan Pertanian, Universitas Nasional (UNAS) dan Yayasan Palung (YP) yang dilaksanakan di Ketapang, Kalimantan Barat, Selasa (12/12/2023).

Adapun Agenda dalam rapat tersebut antara lain adalah membahasa tentang Perkembangan kegiatan kerjasama yang telah dilakukan oleh UNAS dan YP.

Pada kesempatan tersebut, YP menyampaikan presentasi tentang Program Konservasi kepada UNAS. Dalam kesempatan itu, masing-masing manager Program Konservasi YP berkesempatan menyampaikan presentasi yang disampaikan terkait kegiatan-kegiatan konservasi yang telah dilakukan oleh YP.

Foto bersama setelah rapat selesai dilakukan. (Foto dok. Wahyu Susanto/YP).

Manager Program Hutan Desa, Manager Program Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan), Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi, dan dari Program Penyelamatan Satwa (PPS-Hukum) YP pada kesempatan tersebut berkesempatan menyampaikan presentasi.

Pada rapat tersebut, turut hadir Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung. Hadir pula Edi Rahman, selaku Field Direktur Yayasan Palung.

Dari Pihak UNAS yang hadir dalam rapat tersebut adalah Dr. Tatang Mitra Setia, M.Si., dan Astri Zulfa, M.Si.
Sebelumnya perwakilan UNAS melakukan monitoring kegiatan penelitian orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti dan Sungai Rangkong Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA).

Saat perwakilan UNAS melakukan monitoring kegiatan penelitian orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti dan Sungai Rangkong Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA). (Foto dok. Wahyu Susanto/YP).

Berharap kerjasama ini bisa terus terjalin dengan baik hingga selamanya. (Pit/YP).

Foto dok : Ranti dan Wahyu Susanto/Yayasan Palung.

(Yayasan Palung)

(Cerpen) Napas-napas di Penghujung Tahun dan Harapan di Tahun Mendatang

Menanam Pohon. (Foto: Yayasan Palung).

Napas kehidupan semua makhluk hidup yang masih berkelana dan bernyawa di penghujung tahun, yang tidak lama lagi akan segera berganti tahun. Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga bulan terakhir di penghujung tahun akan segera berganti tahun. Tentu semua berharap di tahun mendatang lebih baik dari hari ini (di penghujung tahun) untuk lebih baik lagi atau berbenah diri.

Semua napas kehidupan semua makhluk hidup memiliki cerita yang berbeda-beda alias tidak sama. Penghujung tahun dari hari-hari yang telah lalu bercerita tentang; tarikan nafas berjuang demi anak hingga cucu, bertahan demi sesuap nasi, tergerus dan tergusur di habitat yang semakin asing di tanah sendiri (manusia, lingkungan dan satwa yang semakin merindu untuk disapa). Ada pula napas yang sekarat bertahan dalam lingkup yang semakin sulit karena pakan dan makan semakin langka (orangutan dan satwa lainnya) semakin terkepung oleh degradasi lingkungan dan keibaan kita kepada lingkungan dan sesama pula.

Napas di penghujung, ibarat menunggu tetapi entah kapan waktu akan tiba kepada Sang Pencipta. Saban waktu terus berlalu dan berganti. Tetapi, kita, sesama dan lingkungan sama-sama berbeda menjalani dan menghadapi cerita-cerita dalam tatanan kehidupan.

Lihatlah lingkungan, hutan, alam ini selalu memberi walau selalu (di/ter)sakiti oleh siapa saja yang merasa menyakiti.

Alam memberi, kita menyakiti. Seperti itu irama nada dan fakta yang tidak kunjung usai hingga menuai cerita pilu ketika alam bicara dalam bahasanya.

Tengoklah tajuk-tajuk yang semakin banyak rebah tak berdaya dibanding berdiri kokoh dan berakar. Ini nyata, tanda-tanda tentang luluh layu seolah tersipu disapu bersama angin, hujan dan badai yang tak mampu dibendung oleh apa-apa lagi. Akar-akar tak kuat lagi berdiri kokoh akibat tercerabut oleh tangan-tangan pongah tak terlihat namun terasa adanya.

Akar rumput semakin sulit untuk tumbuh dan berakar, semak belukar sering menjadi arang dan abu ketika kemarau tiba.

Demikian pula ketika musim penghujan datang, tamu bernama banjir bandang sering menghampiri secara tiba-tiba (tidak mengenal waktu).

Kita terlena? Entahlah, tetapi ketika alam bicara dengan bahasanya seringkali kita menyalahkannya. Alam tak bersahabat, itu kata-kata yang sering terdengar ketika bencana datang. Hutan, alam ini menjadi tertuduh dari sebab akibat. 

Satwa, alam, lingkungan dan kita. Bukankah itu satu kesatuan yang tak terpisahkan dan jangan sampai dipisahkan. Itu sejatinya, tetapi faktanya ya, alam sering menangis karena ulah pongah kita ini. Tanpa disadari terkadang alam ini menanti disapa oleh siapa saja.

Tetapi adakah? Acap kali kita acuh tak acuh kepada nasib alam, lingkungan ini. Benarkah terkadang kita pun lupa dengan asa tentang harmoni yang kiranya harus berlanjut.

Apakah kita sudah lupa dengan titah hati nurani untuk selalu bersama akan lingkungan alam yang saling menghargai, memberi, merawat dan menjaga bukan melukai atau menyakiti. Sebagai pengingat, hutan alam ini merupakan titipan untuk anak cucu.

Sengkarut tentang alam ini entah sampai kapan akan berakhirnya bila semua terus begini (tidak harmoni) dan ego diri.  Hutan alam ini hanya butuh dijaga, dipelihara dan dirawat oleh siapa pun dari kita semua.

Alam memberi untuk kita, sejatinya kita pun memberi untuk alam. Bisakah kiranya kita bersama-bersama menjaga, memilihara dan saling harmoni dengan cara-cara sederhana yang kita miliki.

Tunas-tunas baru perlu disemai, ditanam agar kiranya tajuk-tajuk yang menjulang tinggi boleh berdiri kokoh kembali dan melindungi kita dari semua yang mendera. Semoga ada secerca harapan agar kita saling harmoni dan tak ego diri pada alam lingkungan dan sesama di tahun-tahun mendatang.

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Siswa-siswi SMAN 3 Simpang Hilir Berjumpa Orangutan Saat Fieldtrip Bersama Yayasan Palung di Lubuk Baji

Sebanyak 15 orang siswa-siswi dan satu guru pendamping dari SMAN 3 Simpang Hilir mendapatkan kesempatan yang langka karena bisa berjumpa dengan Orangutan saat melakukan Fieldtrip (kunjungan lapangan) di Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Lubuk Baji, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar, Rabu-Jumat (6-8 Desember 2023).

Pada kesempatan tersebut, Yayasan Palung (YP) dipercaya menjadi pendamping siswa-siswi dari sekolah SMAN 3 Simpang Hilir yang mengikuti kegiatan fieldtrip.

Selama tiga hari berkegiatan, siswa-siswi mendapatkan beragam materi seperti; Pengamatan satwa malam, Inventarisasi pohon dan morfologi tumbuhan, keanekaragaman hayati dan eksplorasi ke Batu Bulan.

Materi pengamatan satwa disampaikan oleh Wawan dan kawan-kawan (Relawan Bentangor untuk Konservasi/REBONK). Materi Inventarisasi pohon dan morfologi tumbuhan disampaikan oleh Riduwan (Staf Pendidikan Lingkungan YP) Selanjutnya materi Keanekaragaman Hayati disampaikan oleh Simon Tampubolon (Staf Pendidikan Lingkungan YP).

Menurut Simon Tampubolon selaku Koordinator Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung di Kayong Utara, mengatakan, ada siswi dari SMAN 3 Simpang Hilir, bernama Chelsea, siswi tersebut sangat berharap sekali agar bisa berjumpa dengan orangutan ketika fieldtrip.

Menariknya, pada fieldtrip kali ini, siswa-siswi sangat beruntung karena bisa berjumpa secara langsung dengan orangutan di alam liar.

Lebih lanjut, Simon, mengatakan, orangutan yang mereka jumpai tersebut berjenis kelamin jantan dewasa yang saat itu sedang memakan buah durian.

Tidak hanya itu, saat pengamatan satwa, siswa-siswi menemukan kelempiau, labi-labi beberapa jenis katak, kadal terbang, bunglon dan serangga. Selain itu, mereka juga berjumpa dengan sarang orangutan tipe D.

Pada kesempatan tersebut pula, siswa-siswi diajak untuk Begalor (Berbicara seputar gagasan lingkungan dan orangutan).

Sebagai informasi tambahan, Orangutan masuk dalam daftar satwa yang sangat dilindungi (Critically Endangered/CR) menurut UU no. 5 tahun 1990 dan menurut daftar International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List.

Selanjutnya, siswa-siswa diajak eksplorasi ke Batu Bulan untuk melihat keindahan matahari terbit.  Siswa-siswi pun terlihat sangat asyik berswafoto dan diakhir berfoto Bersama.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : pontianak.tribunnews.com

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Pelepasan Mahasiswa MBKM Magang Universitas Tanjungpura 2023 di Yayasan Palung

Terima Kasih kepada Egi Iskandar dan Yana Eka Saputra, mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura yang telah selesai melaksanakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Magang di Yayasan Palung tahun 2023.

Terima kasih kepada Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura atas kepercayaan kepada Yayasan Palung untuk menjadi mitra MBKM.

Kepada Egi dan Yana, semoga sukses menyelesaikan studi S1 di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.

Berikut cerita singkat mereka (Egi dan Yana) selama MBKM Magang di Yayasan Palung;

Menurut Egi, selama saya MBKM Magang di Yayasan Palung banyak mendapatkan pengalaman dan ilmu baru yang belum didapatkan sebelumnya seperti; survei sarang orangutan, survei vegetasi tumbuhan, fenologi, mengikuti aktivitas orangutan, pengecekan suhu, curah hujan, pengecekan alat camera trap, alat bioakustik, dan lainnya. Tentu, ini merupakan pengalaman yang tidak bisa saya lupakan, dan ini bisa meningkatkan keahlian saya di dunia kerja.

Saya berterima kasih kepada pihak Yayasan Palung dan pihak terkait atas ilmu dan bimbingan yang ditelah saya dapatkan selama melaksanakan MBKM Magang selama kurang lebih tiga bulan, kata Egi.

Selanjutnya, menurut Yana, selama magang di Yayasan Palung banyak sekali mendapatkan ilmu baru yang belum saya dapat sebelumnya. Saya juga banyak mendapatkan teman baru dan pengalamana baru misalnya melakukan survei di hutan desa dan bermalam di dalam hutan. Saya juga berterima kasih kepada Yayasan Palung telah memberikan ilmu pengetahuan baru yang belum saya dapatkan di kampus kepada saya selama kami magang.

(Pit/Yayasan Palung).

Berjumpa dengan orangutan Saat Tim Smart Patrol Lakukan Patroli di Kawasan Hutan Desa

Orangutan jantan yang berhasil dijumpai saat melakukan patroli di kawasan hutan desa Rantau Panjang. (Foto :Tim Smart Patrol LPHD Rantau Panjang).

Berjumpa dengan orangutan, sarang orangutan dan temuan lainnya ketika Tim Smart Patrol melakukan kegiatan patroli di beberapa Kawasan Hutan Desa, diantaranya di Penjalaan dan Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Pada bulan November hingga Desember 2023.

Robi Kasianus, selaku Field Officer Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, Kegiatan Patroli di Kawasan hutan desa Penjalaan dan Rantau Panjang dengan melakukan monitoring Kawasan dari gangguan aktivitas illegal.

Selain itu, kegiatan patroli seperti ini dilakukan untuk mencatat potensi bidiversitas yang ada di dalam hutan desa, kata Robi.

Di Kawasan Hutan Desa Penjalaan, misalnya, tim smart patrol menemukan aktivitas illegal berupa jerat satwa. Setidaknya ada 3 jerat satwa yang berhasil dijumpai saat melakukan patroli di Kawasan hutan desa tersebut.  Selanjutnya, tim smart patrol langsung memusnahkan jerat-jerat satwa yang mereka jumpai di kawasan hutan desa tersebut. Diduga, jerat tersebut adalah jerat babi dan jerat rusa.

Saat melakukan patroli, tim smart patrol sangat beruntung, beruntungnya mereka karena bisa berjumpa dengan sarang orangutan. Setidaknya ada 13 sarang orangutan yang mereka jumpai di kawasan hutan desa tersebut.

Selanjutnya, ketika melakukan patroli di Kawasan Hutan Desa Rantau Panjang, tim smart patrol berhasil berjumpa dengan satu individu orangutan jantan sedang makan buah-buahan hutan. Selain itu, tim smart patrol berjumpa dengan  sarang orangutan 24 sarang, monyet ekor panjang dan cakar beruang. 

Kegiatan SMART Patrol seperti ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap bulan oleh tim patroli binaan Yayasan Palung di beberapa wilayah hutan desa.

Yayasan Palung dan F&F Nature Together bekerjasama mendampingi tim smart patroli ketika melakukan patroli di Kawasan Hutan Desa Penjalaan dan Rantau Panjang.

Foto dan Video: Tim Smart Patrol LPHD Rantau Panjang

Penulis: Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Koleksi Buah Pakan Orangutan 🦧 Bulan November 2023

Koleksi buah pakan orangutan pada bulan November 2023. (Foto : Sumihadi/Yayasan Palung).

Berikut Koleksi buah pakan orangutan pada bulan November 2023;

Mangifera, Lithocarpus, Neesia, Mezzetia, Archidendron, Magnolia, Bunga Gluta, Pternandra, Kulit Pohon Koompassia, Ficus, Maasia, Sindora, Melanochyla, Xylopia, Artabotrys, Indoroucherra, Daun muda durio, Daun muda Artocarpus, Aglaia dan Garcinia.

Orangutan juga makan Umbut Rotan, Umbut Salacca dan Insects.

Repost Sumihadi (@sumihadi_ )
Foto : Sumihadi
Lokasi koleksi: Taman Nasional Gunung Palung #tamannasionalgunungpalung

————————————-
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Universitas Nasional dan Boston University.

#stasiunrisetcabangpanti
#gunungpalung
#gunungpalungnationalpark
#universitasnasional
#bostonuniversity

YP Bersama KPH Kayong Fasilitasi Penyusunan RKPS dan RKT LDPHD Lubuk Batu Betuah

Hendri Gunawan ketika menyampaikan presentasi bagaimana Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) dan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) untuk Pengelolaan Hutan Desa oleh Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Lubuk Batu Betuah. (Foto : Mahendra/Yayasan Palung).

YP Bersama KPH Kayong berkesempatan melakukan Fasilitasi Penyusunan Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) dan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) kepada Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Lubuk Batu Betuah, Desa Lubuk Batu, Kecamatan Simpang Hilir, KKU, pada Selasa (28/11/2023).

Kegiatan Penyusunan RKPS dan RKT LDPHD dibuka oleh Bapak Ibnu, selaku Ketua LDPHD. Dalam kata sambutannya, Ketua LDPH menyerahkan sepenuhnya kepada pendamping (Yayasan Palung dan KPH Kayong) untuk menjelaskan dan menyusun terkait bagaimana Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) dan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) untuk Pengelolaan Hutan Desa oleh Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Lubuk Batu Betuah.

Sebagai Narasumber dalam Penyusunan RKPS dan RKT LDPHD Lubuk Batu Betuah adalah Hendri Gunawan, selaku Koordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung (YP) dan Agil Ayu Lestari, S.Hut selaku Penyuluh Kehutanan dari UPT KPH Wilayah Kayong.

Hendri Gunawan dari YP mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah hadir dalam kegiatan ini lebih khusus kepada ketua dan anggota LDPHD Lubuk Batu Betuah, masyarakat Desa, pihak Perusahaan (CUS dan Jalin Vaneo).

Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk menyusun rencana kerja. YP berkoordinasi dengan KPH Kayong untuk bersama-sama membantu Fasilitasi Penyusunan Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) untuk jangka waktu 1-10 tahun dan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) dalam jangka waktu 1 tahun bagi LDPHD Lubuk Batu Betuah.

Hendri juga dalam kesempatan tersebut menyampaikan presentasi kilas balik dua (2) tahun Vertek (verifikasi teknis) proses pengajuan Hutan Desa Lubuk Batu Betuah.

Cerita sekilas, Bapak Ibnu didampingi oleh Yayasan Palung mengajukan permohonan Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa seluas ± 1.800 (seribu delapan ratus) hektare yang berada pada Kawasan Hutan Produksi Tetap (HPT) di Desa Lubuk Batu, Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Dikarenakan pada waktu pengajuan masih dalam situsasi Covid 19 maka pengusulan belum dapat tidak lanjuti oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia terutama kegiatan Verifikasi Teknis. Sedangkan Verifikasi Tehnis di lapangan baru bisa dilaksanakan oleh Balai Perhutanan Sosial Wilayah Kalimantan, pada tanggal 11 Februari 2023 dan hasilnya yang disetujui sebagai hutan desa seluas ± 941 (Sembilan Ratus Empat Puluh Satu) hektare.

Dalam kesempatan itu disampaikan pula terkait poin-poin terkait hak kelola Hutan Desa seperti; Hak kelola hutan desa oleh LDPHD ataupun juga masyarakat desa di Kawasan hutan desa, Perlindungan habitat dan pohon Langka, Jika ada lahan gambut, perlu adanya perlindungan gambut, Selain itu juga pengelolaan HD dengan hak-hak adat dan, Dalam rencana kelola hutan desa harus berlaku adil/Gender; misalnya dalam pengelolaan HD, perempuan juga harus dilibatkan, Dalam melakukan pengelolaan HD, LDPHD mendapatkan hak pendampingan dari YP, KPH Kayong dan Perusahaan, Studi banding, penyusunanAD/ART, Melakukan penanaman pohon di lokasi Hutan Desa, Melaksanakan pemetaan Kawasan Hutan Desa, Melakukann pengamanan Kawasan, misalnya jika ada terjadi kebakaran dll, Melakukan monitoring Kawasan, Larangan persetujuan pengelolaan Kawasan Hutan Desa oleh desa lain/diganti oleh desa lain dalam pengelolaan.

Foto-foto kegiatan :

Dalam diskusi ada usulan dari Lorenso, perwakilan dari PT CUS (Konservasi PT CUS): Sebaiknya tanaman pohon yang akan ditanam di Hutan Desa harus disesuikan dengan tanaman yang cocok di Kawasan tersebut (tanamlah tanaman yang cocok untuk ditanam sesuai dengan habitat di Kawasan tersebut), selain itu, misalnya ada satwa seperti orangutan, tanamlah tanaman pakan orangutan. Tanamlah tanaman seperti kayu malam dan bentangor, misalnya.

Selanjutnya ada masukan dari perwakilan PT. Jalin Vaneo, Hutan Desa sangat penting adanyanya Penanda batas, patroli, pembagian zonasi dan melibatkan tenaga ahli (konsultan) ketika melakukan survei di Kawasan.

Terkait bibit, pengajuan bibit tanaman, nantinya LDPHD akan mengajukan permohonan bibit kepada KPH Kayong.

Pada kesempatan kegiatan fasilitasi tersebut dilakukan penyusunan Rencana Kerja Perhutanan Sosial (RKPS) dan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) LDPHD Lubuk Batu Betuah.

Adapun RKPS disusun untuk Rencana 1-10 tahun dan RKT. RKPS yang difokuskan adalah Pemasangan patok dan tagging seng. Selanjutnya rencana pembibitan tanaman langka dan tanaman yang bisa tumbuh di sekitar Kawasan hutan desa. Berkomitmen untuk tahun pertama LDPHD akan melakukan pembibitan budidaya kopi sebanyak 25.000 dan lidah buaya.

Sedangkan RKT dilakukan paling utama karena menyangkut rencana satu (1) tahun, misalnya tentang; sosialisasi dan penanda terkait Batas, Zona Lindung dan zona manfaat.

Pada kesempatan itu pula KPH Kayong menyerahkan bibit tanaman kehidupan kepada Desa Lubuk Batu sebanyak 10 batang; bibit mangga, alpukat dan jambu kristal.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari semua yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Foto dokumen: Mahendra/Yayasan Palung

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Tulisan ini juga dimuat di : https://kumparan.com/petrus-kanisius/yp-bersama-kph-kayong-fasilitasi-penyusunan-rkps-dan-rkt-ldphd-lubuk-batu-betuah-21g5xlu0GLU

Menerabas Hujan Saat Survei Biodiversitas di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning

Menerabas hujan merupakan satu dari sekian banyak cerita teman-teman dari tim survei Yayasan Palung (YP) saat melakukan survei biodiversitas di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning, Kayong Utara.

Sebagai informasi, tahun ini tim Survei telah melakukan lima kali survei di enam Kawasan Hutan Desa, diantaranya Hutan Desa Padu Banjar, Pulau Kumbang, Pemangkat, Nipah Kuning, Penjalaan dan Rantau Panjang.

Suka duka saat melakukan survei di Kawasan Hutan Desa bisa dilihat di Video. Mengarungi sungai dengan menggunakan perahu dengan menerabas hujan pun dilakukan. Apabaila beruntung bisa berjumpa dengan buaya karena merupakan habitat dari buaya muara (Crocodylus porosus).

Raut ceria di wajah dan tingkah kocak berjoged dari teman-teman terlihat sebagai penghibur lara dan penguat fisik untuk hari esok, dengan demikian teman-teman bisa tetap fokus saat melakukan observasi flora dan fauna.  

Sebagai informasi tambahan, indikasi keberadaan satwa bisa terlihat dari beberapa jejak-jejak satwa, sarang, kotoran, apabila aves (burung) bisa terlihat dari bulu yang tertinggal dan jejak tungkai di permukaan tanah (misalnya mamalia).

Selain itu, ragam jenis tumbuhan bisa terlihat dari serasah dan buah yang jatuh di permukaan tanah sebagai indikasi keberadaan flora (tumbuhan berbunga: Angiosperm).

Dibalik menariknya keberadaan biodiversitas yang ada di Kawasan Hutan, ada ancaman nyata, beberapa diantaranya seperti; kekhawatiran akan hilangnya flora berpengaruh besar pada ketersediaan pakan orangutan khususnya untuk kelompok tumbuhan berbunga.

Berharap keanekaragaman hayati di Kawasan hutan bisa terjaga dan bisa dilihat dan dinikamati oleh generasi mendatang (anak cucu).

    “Just live your live, step by step, and enjoy the process”

Penulis: Pit & Gunawan

Video: Erik Sulidra

Yayasan Palung

Melalui Talkshow Radio, Mengenal Lebih Dekat Taman Nasional Gunung Palung

Saat Yayasan Palung bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung melakukan talkshow siaran radio, di Radio Kayong Utara, pada Kamis (23/11/2023).(Foto : Riduwan/YP).

Yayasan Palung (YP) bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai TANAGUPA) berkesempatan melakukan talkshow siaran radio, di Radio Kayong Utara, pada Kamis (23/11/2023).

Pada kesempatan talkshow yang dimulai pada pukul 10.00-11.00 Wib tersebut, sebagai narasumber dalam siaran radio adalah Riduwan dari Yayasan Palung (YP) dan dari Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai TANAGUPA) yaitu bapak Khairi Ramadhan, S Hut.T., M Sc. selaku Kepala SPTN Wilayah 1 Sukadana, yang di pandu oleh Hage, penyiar Radio RKU.

Selama satu jam mengudara, adapun tema siaran yang dibahas dalam talkshow adalah tentang “Mengenal Taman Nasional Gunung Palung.”

Dalam talkshow tersebut Bapak Khairi Ramadhan berkesempatan menjelaskan tentang apa itu Taman Nasional Gunung Palung dan Keunikan Taman Nasional Gunung Palung. Selain itu, dijelaskan pula bahwa Gunung Palung memiliki delapan (8) tipe habitat yang berbeda dan ini berbeda dengan Taman Nasional lainnya yang ada di Indonesia. Selanjutnya juga disampaikan pula, di Gunung Palung ada dijumpai Katak terbang Wallace (Rhacophorus nigropalmatus).  

Lebih lanjut dalam talkshow tersebut, menjelaskan beberapa objek wisata menarik yang ada di Taman Nasional Gunung Palung seperti Lubuk Baji, Riam Berasap dan beberapa objek wisata lainnya yang bisa dikunjungi oleh masyarakat baik didalam maupun luar negeri.

Pada kesempatan itu pula dijelaskan beberapa ancaman terhadap Taman Nasional Gunung Palung seperti kebakaran, penebangan, perburuan dan adanya alih fungsi lahan. “Pada dasarnya masyarakat boleh mengambil hasil hutan yang ada di kawasan taman nasional seperti buah durian, rotan dan beberapa hasil hutan bukan kayu lainnya. Yang tidak boleh dilakukan didalam kawasan taman nasional adalah menebang pohon dan juga sangat dilarang untuk ditanami sawit,” kata Khairi Ramadhan.

Sedangkan Riduwan dari Yayasan Palung dalam talkshow tersebut menjelaskan bahwa YP dan Balai TANAGUPA merupakan mitra dalam berkegiatan seperti kegiatan fieldtrip dan juga training guru atau pun kegiatan lainnya seperti penelitian.

Ayo sama-sama kita jaga dan lestarikan Taman Nasional Gunung Palung ini untuk generasi kita dimasa yang akan datang.

Penulis : Riduwan-Yayasan Palung

Lakukan Monitoring Kelompok Usaha Perhutanan Sosial

Saat melakukan monitoring kepada KUPS Asoka. (Foto : Robi/Yayasan Palung).

Melakukan monitoring kepada Kelompok Usaha Perhutanan (KUPS) binaan menjadi salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh Yayasan Palung (YP), seperti misalnya, pada Selasa-Rabu (21-22/11/2023).

Melalui program Hutan Desa (HD) YP bersama F&F Nature Together melakukan kegiatan monitoring ke beberapa KUPS di Dua Kawasan Hutan Desa (Penjalaan dan Rantau Panjang), Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Setidaknya ada ada delapan KUPS yang dikunjungi untuk dilakukan monitoring dalam kesempatan tersebut, lima KUPS yang ada di Desa Penjalaan dan tiga KUPS yang ada di Rantau Panjang.

Lima KUPS yang ada di Kawasan Hutan Desa, Desa Penjalaan adalah KUPS Asoka (usaha anyaman tikar), KUPS Kripik Simpang Keramat (usaha Kripik pisang), KUPS Kopi Sinar Selatan (usaha kopi), KUPS Tani Makmur Simpang Keramat (usaha Pertanian organik) dan KUPS Mutiara Agro Lestari (usaha Pertanian organik).

Sedangkan KUPS yang ada di Kawasan Hutan Desa, Desa Rantau Panjang ada tiga; yaitu KUPS Rapa Mina (usaha ikan nila), Rapa Karya Mandiri (usaha madu kelulut) dan Rapa Karya Sejahtera (usaha kebun kopi).

Baca juga :

Hendri Gunawan, selaku Kordinator Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, adapun tujuan dari monitoring ini adalah untuk melihat Perkembangan usaha yang KUPS lakukan, apakah perkembangannya kelompok berjalan sesuai rencana.

Lebih lanjut Hendri mengatakan, mengapa monitoring tersebut penting dilakukan, salah satinya untuk mengumpulkan data dan informasi sebagai bahan penilaian dan analisis sebagai bahan evaluasi berhasil atau tidaknya.

Selanjutnya juga, kita sangat mendukung sepenuhnya pemberdayakan masyarakat di sekitar hutan dengan harapan masyarakat bisa berpengahasilan tanpa harus merusak hutan (pekerjaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan), kata Hendri.

Dari usaha kelompok KUPS ini ada yang sudah berhasil dijual diantaranya keripik, madu dan hasil pertanian organik. Selain dijual, juga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Foto dok: Robi Kasianus & Hendri Gunawan

Tulisan: Petrus Kanisius

Yayasan Palung