Ibarat Ibu Hutan Sangat Penting Bagi Nafas Kehidupan

Tipe habitat hutan dataran rendah Aluvial, dimana terdapat banyak ditumbuhi tumbuhan Dipterocarpaceae di Taman Nasional Gunung Palung. (Foto : Wahyu Susanto, Yayasan Palung/GPOCP)

Bagaimana kiranya bila manusia hidup tanpa hutan? Besar kemungkinan manusia akan menghadapi banyak soal. Sebaliknya hutan tanpa manusia tak jadi soal.

Tidak salah kiranya bila dikatakan kala hutan dirasa penting saat ini dan boleh dikata hutan sebagai ibu bagi hampir semua makhluk yang hidup berdampingan dengannya. 

Dikatakan sebagai ibu karena hutan sebagai sumber hidup yang bisa memilihara, bisa menjaga dan memberi sumber hidup kepada sesamanya.

Tak hanya sebagai ibu, tetapi hutan juga menjadi rumah bagi ragam satwa dan beberapa jenis burung. Bayangkan saja, apa jadinya bila ragam satwa dan burung tak memiliki rumah berupa hutan.

Satu harapan yang masih menggema tak lain adalah tentang gaung hamoni oleh kita semua manusia kepada Ibu. Harmoni berarti tak ada lagi yang tersakiti melainkan saling harmonis untuk sama-sama menanam, memilihara dan menjaga.

Kesinambungan nafas hidup hutan bagi semua begitu penting hingga hari ini. Bagaimana hutan memberikan peranan yang tidak terpisahkan dari elemen-elemen yang ada. Seperti misalnya, tatanan kehidupan masyarakat di sekitar hutan pun sangat paham akan arti penting apa itu harmoni dengan Sang Ibu.

Dari hutan beroleh makan, dari hutan tatanan kehidupan boleh berirama sama tentang kolektivitas kearifan lokal akan pentingnya asa kehidupan bersama yang sama-sama menghargai nilai luhur moyang. Menyakiti ibu bumi berarti akan bersiap menerima konsekuensi dari apa yang diperbuat. Tak ingin hukum rimba yang tercipta. Semua semula hanya ada tentang kebijaksanaan bukan keserakahan. Ada hukum adat masyarakat yang mengikat. Awalnya mulanya seperti itu, hingga hutan yang disebut ibu masih bisa aman.

Tetapi bagaimana hari ini dengan hutan yang disebut sebagai ibu itu? Tangis dan jerit tak jarang menghiasi cerita ibu kini. lihatlah panas bumi, lihatlah lapang lindangnya hingga terkikis menjelang habis atau ketika banjir yang sering menghampiri.

Itu cerita yang belum kunjung usai. Hutan sebagai ibu kini sudah semakin sering didera dengan luka derita yang dicipta oleh manusia. Ibu yang bisa melindungi, bisa menjaga dan memilihara berubah tak ubah seperti cerita malin kundang. Semua harap jangan sampai kita dirundung kutukan.

Ibu bumi dan hutan kini sangat penting agar kiranya ia boleh lestari hingga nanti. Dirasa penting karena hutan harus dituntut agar boleh selamanya berdiri kokoh jangan terjerembab dan jangan rebah tak berdaya tanpa ada dari usaha setiap insan manusia untuk terus menggaungkan hutan sebagi ibu begitu berharga sebagai penghapus dahaga, pemberi rasa aman dan nyaman, memberi arti tanpa pamrih tanpa perih merintih.

Hutan alam ini salah kiranya bila tak dianggap ibu. Hutan pun bila ia terus ada maka ia akan memberi asa bagi semua agar tak takut atau gaduh apabila ada yang menyebutnya bencana tanpa rasa ampun. Hutan sebagai ibu senantiasa dijaga dengan tanda-tanda rasa yang masih tersisa hingga terus membara sampai alam raya menyapa IBU HUTAN ALAM INI BOLEH TERUS ADA AGAR SEMUA MAKHLUK TETAP MEMBERI RASA HARMONI SELAMANYA. Semoga saja…

Tulisan ini dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/61430be301019061ab3c6fd2/kala-hutan-dirasa-penting-sebagai-ibu

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: