Kisah Kerhutla dan Asap yang Selalu Berulang dan Tak Kunjung Usai

Karhutla yang terjadi di Pelang, Matan Hilir Selatan beberapa waktu lalu. Foto dok : Rsl/Yayasan Palung

Ada Asap Pasti Ada Api, “Kita dan Masalah Asap yang Selalu Berulang dan Tak Kunjung Usai”

Kita dan masalah asap yang selalu berulang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan saat ini. Akan tetapi, kita dan persoalan asap pun  menjadi bagian dari obyek dan tak kunjung usai. Ada asap pasti ada yang membakar.

Beberapa hari lalu hingga kemarin, helikopter hilir mudik mengitari langit yang sedikit mendung. Tujuan mereka tak lain untuk memadamkan beberapa titik api yang ada di beberapa titik karhutla yang ada di Ketapang.

Sebelumnya, tititk api terpantau di beberapa wilayah. seperti di Matan Hilir Selatan, Sungai Melayu Rayak, Kendawangan dan Tumbang Titi terpantau 44 titik api, berdasarkan data BMKG, dua hari lalu. Titik api ini jauh berkurang dibandingkan beberapa hari lalu, tepatnya seminggu lalu yang menyebutkan titik api di Ketapang sebanyak 60 titik api. Berkurangnya jumlah titik api dikarenakan oleh terjadinya hujan beberapa hari ini.

Kita selalu menghisap asap setiap musim kemarau tiba, ini karena sering kali terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kita dan asap seolah sesuatu yang tak terpisahkan bahkan cenderung berulang dan tak kunjung usai sebagai tanda nyata bahwa kita sebagai penerima dampak langsung dan tak langsung.

“Kalimantan terbakar. Kami terbangun setiap pagi oleh helikopter membawa air, hujan abu, dan ada asap di udara menyebabkan banyak staf saya harus pulang karena sakit karena asap”, ujar Victoria Gehrke selaku Direktur Yayasan Palung.

Ia pun prihatin dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Ketapang dan Kayong Utara. Lebih khusus di wilayah hutan desa, beberapa titik api membakar lahan dan mengeringkan lahan pertanian masyarakat dan mengeringnya lahan gambut semakin memperparah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.  Semoga kabut asap segera berakhir dan berharap hujan segera turun, ujar Victoria lagi.

Terjadinya kebakaran hutan dan lahan menjadi tanda-tanda nyata bahwa kita dan persoalan asap seolah berpadu menjadi satu namun memberi dampak yang tidak baik bagi lingkungan sekitar atau diri kita (dampak buruk dari setiap terjadinya kebakaran hutan dan lahan). Dampak dari terjadinya kebakaran itulah yang sering kali berpengaruh kepada kita. Dari (di/ter)bakarnya hutan itulah timbul asap.

Sakit penyakit yang diderita semisalnya ispa dan batuk flu itu sudah pasti. Selain itu, juga asap mengganggu aktivitas sehari-hari dan aktivitas lainnya, tak terkecuali penerbangan dan aktivitas anak sekolah yang acap kali diliburkan ketika musim kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi.

Tak hanya asap dan sakit penyakit yang dimbulkan dari adanya kebakaran hutan dan lahan. ragam tumbuhan dan satwa bisa saja menjadi korban dari ganasnya api (karhutla). Seperti misalnya beberapa hari lalu, petugas pemadam kebakaran menemukan seekor trenggiling  (Manis javanica) yang terpanggang di lahan yang terbakar di Matan Hilir Selatan, Ketapang.

Kita dan asap dua hal yang tidak bisa disangkal sekaligus menakutkan. Hutan hujan yang kaya akan keanekaragaman hayati menjadi sulit untuk dipertahankan sekaligus menjadi dasar kuat bagaimana mempertahannnya sebagai keberlanjutan nafas semua makhluk hidup. Dua hal yang saling bertentangan tetapi terjadi. Ini fenomena, pada satu sisi, hutan perlu diselamatkan, tetapi disisi lain hutan selalu menjadi korban karena (di/ter)bakar secara berulang dan tak kunjung usai.

Apa penyebab hutan terbakar, kita dan masalah asap yang selalu berulang?. Ada asap pasti ada api. Lalu siapa yang membakar?. Ada penyebab terjadinya kebakaran, mustahil kiranya jika tidak ada penyebab. Perluasan area untuk pembukaan lahan yang selanjutnya (di/ter)bakar menjadi biang timbulnya asap yang sulit pergi hingga berimbas pada sulitnya beraktivitas akibat asap yang terjadi. Selain juga, perilaku manusia yang secara sengaja membuang puntung rokok di sekitaran hutan ketita melintas akan berdampak kepada kebakaran hutan dan lahan.

Sayangnya dan celakanya lagi, setiap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi yang menjadi kambing hitam adalah masyarakat akar rumput/petani kecil. Sedangkan di lahan-lahan berskala besar yang terbakar tak tersentuh. Itu nyata terjadi dan memberi gambaran pasti kenapa kebakaran selalu berulang.

Kenapa persoalan ini terjadi dan selalu berulang. Ini yang menjadi soal, persoalannya adalah ketika asap yang mendera berdampak kepada manusia (kita) secara keseluruhan makhluk hidup tidak terkecuali tumbuhan dan hewan (dampak ekologis).

Jika persoalan ini terjadi dan terus berulang, maka tidak sedikit yang dikorbankan. Semua nafas makhluk hidup menjadi satu kesatuan yang utama dan harus harmoni hingga selamanya. Mengingat, sesungguhnya manusialah yang perlu alam/hutan. 

Berharap, karhutla bisa diatasi dan asap tidak terjadi lagi, sehingga kita semua bisa beraktivitas dengan baik tanpa gangguan. Semoga saja…

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5d64c2eb097f3663db149082/ada-asap-pasti-ada-api-selalu-berulang-dan-tak-kunjung-usai

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengalami Nasib Tragis, Si Manis Ditemukan Mati di Lokasi Karhutla

Trenggiling yang ditemukan mati di lokasi Krhutla di Pelang, hari Selasa (20/8/2019) kemarin. Foto dok : Brigadir Suhanadi

Nasib tragis harus diterima si manis atau Trenggiling yang dalam bahasa latinnya disebut Manis Javanica ini ditemukan dalam keadaan mati terpanggang oleh ganasnya api akibat Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang di Pelang, hari Selasa (20/8/2019) kemarin.

Saat itu, bermula tim pemadam kebakaran dari tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Daops Ketapang, TNI dan Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) Pelang, Matan Hilir Selatan (MHS) menemukan secara tidak sengaja si manis/Trenggiling di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada pukul 10.00 WIB.

Adapun lokasi ditemukannya trenggiling di lahan perkebunan masyarakat, di jalan Pelang Tumbang Titi, Dusun 4 Kanalisasi Desa Sungai Pelang, Kecamatan, Matan Hilir Selatan.

 Satu ekor trenggiling yang ditemukan terpanggang itu dinyatakan sudah tak bernyawa (mati) tersebut diperkirakan berasal dari hutan sekitar yang terbakar dan terkepung oleh api. Diperkirakan trenggiling tersebut mati karena terjebak api yang melahap wilayah perkebunan milik masyarakat Pelang.

Trenggiling yang ditemukan mati di lokasi Krhutla di Pelang, hari Selasa (20/8/2019) kemarin. Foto 2, dok : Brigadir Suhanadi

Tim gabungan pun selanjutnya langsung menghubungi pihak BKSDA Seksi Wilayah 1 Ketapang. Menurut informasi dari Brigadir Suhanadi, selaku Bhabinkamtibmas Pelang, Matan Hilir Selatan mengatakan; Dari pihak BKSDA meminta agar trenggiling tersebut agar dikubur saja.

Sekedar informasi tentang trenggiling :

Dalam Bahasa Inggris, trenggiling disebut dengan nama Sunda Pangolin atau Malayan Pangolin.

Trenggiling atau disebut juga sebagai trenggiling biasa, merupakan hewan yang hidupnya mendiami wilayah-wilayah sekitar hutan hujan di Asia, termasuk di hutan hujan Indonesia. Di Indonesia, sebaran trenggiling adalah di Kalimantan, Sumatera dan Jawa.

Di dunia, hewan yang tergolong mamalia nokturnal ini memiliki delapan spesies, empat spesies diantaranya terdapat di Asia dan empat spesies lainnya di Afrika.

Untuk menandai wilayah keberadaannya, biasanya trenggiling dengan memberikan tanda berupa kotoran dan air seninya.

Saat ini, keberadaan atau nasib Si Manis semakin laris manis sesuai namanya, karena beberapa hal salah satunya karena masih maraknya perburuan dan hilangnya habitat hidup mereka berupa hutan. Perburuan terhadap daging dan sisik trenggiling untuk diperdagangkan menjadikan hewan ini keberadaannya dari hari ke hari semakin langka hingga terancam punah.

Dari tahun ke tahun, data menyebutkan masih maraknya perdagangan dari sejak dulu hingga saat ini sangat memprihatinkan. Tidak bisa disangkal nasib dari hewan ini kian sulit bertahan dan berkembang biak di habitat hidupnya.

Sebagai contoh, misalnya, hewan atau satwa yang terancam punah ini semenjak 10 tahun terakhir telah diambil kurang lebih satu juta ton dari habitatnya. Hal ini tentunya yang membuat kekhawatiran nantinya apakah trenggiling bisa bertahan hingga nanti.

Sebagian orang mempercayai, sisik trenggiling digunakan sebagai obat yang dipercayai pula berkhasiat menyembuhkan penyakit seperti kelumpuhan. Sedangkan dagingnya diperjualbelikan untuk dikonsumsi.

Beberapa fakta tentang perburuan terhadap hewan berlidah panjang ini juga menjadi kekhawatiran bersama terkait penegakan hukum yang boleh dikata masih lemah dan cenderung diabaikan oleh para pemburu sehingga yang terjadi adalah perburuan dan perdagangan masih saja terjadi.

Dari data IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkan trenggiling dalam daftar sangat terancam punah/kritis di habitatnya (Critically Endangered– CR).

Tulisan ini juga dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/23/seekor-trenggiling-ditemukan-mati-di-lokasi-karhutla-desa-sungai-pelang-ketapang

Pontianak Post : https://pontianakpost.co.id/trenggiling-terpanggang

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Merayakan IOD 2019: Yayasan Palung Bersama Para Relawan Lakukan Ragam Kegiatan, Ajakan untuk Peduli Terhadap Nasib Orangutan

Salah seorang yang tampil dalam acara IOD 2019 berperan sebagai Orangutan. Foto dok : Yayasan Palung

Ragam kegiatan telah Yayasan Palung (@yayasan_palung @savegporangutans ) bersama relawan Tajam dan relawan RebonK ( @rk_tajam dan @rebonk_yp ) suguhkan dalam rangka merayakan Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day  2019, dengan berbagai kegiatan dengan dan mereka pun melaksanakannya dengan penuh sukacita dan kebersamaan, di Tugu Durian dan Pantai Pulau Datok, KKU, Minggu (18/8) kemarin.

Kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian bersama akan nasib hutan dan orangutan. Sesuai tema Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD) yang diambil tahun ini : “ Melestarikan Orangutan dan Hutan untuk Generasi yang Akan Datang” dengan cara kampanye penyadartahuan kepada semua pihak agar ada kepedulian bersama nasib orangutan dan hutan bisa berlanjut untuk generasi.

Ragam kegiatan dalam rangka IOD 2019 antara lain seperti orasi, teatrikal dan puppet show (panggung boneka) yang bercerita tentang nasib orangutan dan hutan saat ini. Nafas semua makhluk hidup harus berlanjut untuk masa depan. Selain itu rangkaian live music juga suguhkan dengan menyanyikan lagu-lagu lingkungan. Semua itu dilakukan untuk mengingatkan kepada kita semua tentang arti penting hutan dan orangutan bagi masa depan kita. Orangutan perlu hutan. Semua Harus Bisa Lestari untuk Anak Cucu (#orangutans #orangutan #parluhutan. #semuaharusbisalestariuntukanakcucu ).

View this post on Instagram

#internationalorangutanday Saat Kami Merayakan Hari Orangutan Internasional 2019 Ragam kegiatan telah teman-teman @yayasan_palung @savegporangutans bersama relawan @rk_tajam dan @rebonk_yp suguhkan dengan penuh sukacita dan kebersamaan, di Tugu Durian dan Pantai Pulau Datok, KKU, (18/8) kemarin. Adapun ragam kegiatan yang dilakukan adalah orasi, teatrikal dan puppet show (panggung boneka) yang bercerita tentang nasib orangutan dan hutan saat ini. Nafas semua makhluk hidup harus berlanjut untuk masa depan. Selain itu rangkaian live music kami suguhkan. Semua itu dilakukan untuk mengingatkan kepada kita semua tentang arti penting hutan dan orangutan bagi masa depan kita. #orangutans #orangutan #parluhutan . #semuaharusbisalestariuntukanakcucu . Partisipasi dari semua sispala yang ada di KKU dan beberapa Komunitas juga menjadi Pelengkap dan meriahnya kegiatan. Saat-saat yang paling ditunggu dan disukai pada kegiatan tersebut adalah teater dan puppet show yang bercerita tentang nasib orangutan dan hutan yang berada dalam ancaman nyata, tetapi ia (orangutan dan hutan) harus berlanjut demi nafas semua makhluk hidup. 🚶🐈🦁🙉🙀🌵🌱🌾🌷💐 di 🌍 ini. #hutan #perlu #orangutan #manusia #perlu #hutan #semua #all #harus #harmoni #hutanuntukmasadepan #iod2019 #wod2019 #tribunpontianak #pontianakpost #kompasiana #kompas #natgeo #mongabayindonesia #yayasanpalung #orangutans @yayasan_palung @savegporangutans #gpocp @rk_tajam @rebonk_yp Narasi: @petruskanisiuspit 📸 : Pit dan panitia IOD 2019

A post shared by Petrus Kanisius (Pit) (@petruskanisiuspit) on

Saat orasi, mereka (peserta orasi) menyerukan perlunya hutan dan orangutan untuk generasi yang datang. Lebih lanjut mereka juga menyebutkan nasib orangutan saat ini perlu peran dari semua pihak karena berbagai ancaman yang terjadi pada orangutan dan hutan. Luasan hutan semakin berkurang/hilang, sementara orangutan perlu hutan sebagai habitat hidup mereka berupa hutan. Demikian juga dengan manusia yang memerlukan hutan dan orangutan sebagai satu kesatuan makhluk ciptaan yang harus selalu harmoni hingga nanti. Mereka juga tampak membawa pesan yang ditulis saat orasi. Beberapa pesan yang mereka bawa serta dalam orasi diantaranya : “ Lindungi Hutan & Orangutan untuk Masa Depan”,  “Lestarikan Hutan untuk Orangutan & Masa Depan” dan “ Generasi Sekarang Lindungi Hutan dan Orangutan”.

Sedangkan dalam cerita puppet show, mereka bercerita tentang nasib orangutan yang selalu diburu, diperjualbelikan dan dipelihara. Hal yang sama juga terjadi pada hutan yang selalu ditebang sehingga nasib hidup orangutan semakin sulit untuk berkembang biak. Pada akhir cerita, mereka berpesan menyampaikan perlunya mejaga lingkungan dan orangutan.

Selaku ketua panitia kegiatan, Anggi Sapura, dari Relawan RebonK mengatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian kita semua akan nasib orangutan dan hutan. Anggi menambahkan, semua rangkaian kegiatan ini kami lakukan sebagai bentuk kepedulian agar ada tumbuh kecintaan dari semua kepada nasib mereka (hutan dan orangutan) sebelum terlambat.

Sedangkan Riduwan selaku pembina Relawan RebonK mengatakan, semua yang mereka (relawan Tajam dan RebonK) lakukan ini sangat baik, sama halnya dengan apa yang mereka suguhkan. Kepedulian dari semua pihak menjadi sangat penting saat ini akan nasib satwa endemik ini. Jika bukan kita siapa lagi, ujarnya lagi.

Sementara itu, Rayendra perwakilan dari Dinas PerKim LH KKU mengatakan, Merupakan ide yang bagus untuk merayakan hari orangutan internasional atau hari lingkungan lainnya melalui pertunjukan teater dan pertunjukan hiburan lainnya, sehingga publik dapat menerima pesan dengan mudah. Dua jempol untuk tim Yayasan Palung, ujarnya lagi.

Partisipasi dari semua Sispala yang ada di KKU seperti Sispala Grepala (SMAN 3 Simpang Hilir), Sispala Land (SMKN 1 Sukadana), Sispala Tapal ( SMKN 1Simpang Hilir) dan Sispala Peramas Sakti (SMAN 1 Sukadana). Selain itu ikut serta pula beberapa Komunitas dalam kegiatan tersebut sehingga menjadi Pelengkap dan meriahnya kegiatan. Adapun komunitas yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain seperti; Pandara, Friends Journey, Kamipala Kalbar, Komusa, Explore Alam Kalimantan, Penikmat Senja, ASRI Teens, Kebersamaan Community, Petani Muda Mandiri, dan Amfibi Reptile Indonesia.

Direktur Program Yayasan Palung, Victoria Gehrke, mengucapkan terima kasih banyak kepada para relawan (Relawan Tajam dan Relawan RebonK), para komunitas dan para sispala.Selain itu juga terima kasih kepada Dinas Pariwisata yang telah memberikan tempat untuk kami berkegiatan. Terima kasih pula kepada pihak kepolisian yang telah membantu mengamankan jalannya kegiatan ini.

Lebih lanjut Victoria mengatakan, Teater yang dinamis dan interaktif menyampaikan pesan konservasi kami dengan cepat kepada masyarakat setempat, dan saya sangat terkesan dengan komitmen dan kerja keras para Relawan dan sukarelawan untuk acara ini. Terima kasih juga Laura Brubaker-Wittman untuk ” Workshop teater interaktif untuk perubahan” minggu lalu, ini sudah terbukti efektif.

Saat-saat yang paling ditunggu dan disukai pada kegiatan tersebut adalah teater dan puppet show (panggung boneka) yang bercerita tentang nasib orangutan dan hutan yang berada dalam ancaman nyata, tetapi ia (orangutan dan hutan) harus berlanjut demi nafas semua makhluk hidup.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ada Wisata Baru Lho di Kawasan TNGP, Ini Namanya

Peserta yang ikut fieldtrip di Riam Jerunjung. Foto dok : Yayasan Palung

Angin sejuk dan air yang jernih terasa saat berada di wilayah ini. ke khasan lainnya terasa ketika ragam tumbuhan rimbun terlihat mendominasi. Tidak hanya itu, di kawasan ini pun ternyata adalah rumah satwa dilindungi karena dijumpai tanda-tanda keberadaan berupa sarang baru orangutan. Ini kami jumpai saat mengadakan fieldtrip bersama siswa-siswi kelas 9 SMPN 3 Matan Hilir Utara  selama 3 hari di kawasan TNGP dan ternyata wilayah ini wisata baru lho  di Kawasan TNGP.

“Kami beduak dengan Riduwan te, betemu/ meliat sarang baru bah. Itu kayaknye sarang orangutan, tipe sarang kelas A, lah sepertinya” (Kami berdua dengan Riduwan betemu/melihat sarang baru. Itu sepertinya sarang orangutan, tipe sarang kelas A),kata Sidiq,salah seorang Relawan RebonK saat mendampingi peserta Fieldtrip tersebut.

Air sejuk dan ragam tumbuhan yang ada di wilayah ini ternyata tak sekedar sejuk dan rimbunnya tetapi ternyata menjadi media yang sangat berharga bagi peserta fieldtrip. Ragam tumbuhan dan air yang ada di tempat tersebut tak ubah sebagai perpustakaan alam sebagai tempat untuk belajar (ilmu pengetahuan/perpustakaan alam) secara langsung  di alam.

O ya, sampai lupa menyebut nama tempat atau lokasi saat kami fieldtrip, pada tanggal 2-4 Agustus 2019 kemarin itu, Namanya Riam Jerunjung.

“Riam Jerunjung adalah kawasan yang berada dalam kawasan TNGP, secara administratif masuk dalam kawasan Desa Laman Satong. Riam Jerunjung berada di Zona Pemanfaatan TNGP. Oleh pihak desa, kawasan ini dijadikan daerah tujuan baru (tempat wisata baru) berbasis alam. Selain yang sudah ada yaitu Riam Laman Bersolek yang sudah terlebih dahulu di kelola”, ujar Mariamah Achmad, selaku manager pendidikan lingkungan Yayasan Palung yang saat itu mengikuti kegiatan fieldtrip.

Untuk menjangkau Riam Jerunjung, apabila dari Ketapang membutuhkan waktu 1 jam 20 menit  menuju titik pal 12 atau simpang PDAM. Selanjutnya dari simpang PDAM menuju Riam Jerunjung diperlukan waktu 1 jam perjalanan dengan berjalan kaki untuk sampai ke lokasi (Riam Jerunjung).

Saat fieldtrip, siswa-siswi pun diajak belajar tentang survei satwa, pengamatan satwa malam, sound scape forest (mendengar suara alam), analisis vegetasi dan pengamatan satwa pagi dan pengamatan indikator air bersih.

Beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh peserta saat mengikuti fieldtrip di Riam Jerunjung. Foto dok : Yayasan Palung

Para peserta menggambarkan ketika melakukan presentasi saat melakukan pengamatan satwa. Mereka menemukan kelasi, burung pelatuk dan burung kucicaK hijau atau kucicak daun. Selain itu juga mereka menemukan sarang orangutan. Sedangkan saat melakukan pengamatan indikator air, mereka menemukan jenis udang, kepiting dan ikan. Kualitas air di wilayah tersebut dipastikan sangat baik karena sumber airnya langsung hutan yang masih baik.

Setelah dilakukan pengamatan, selanjutnya peserta fieldtrip melakukan presentasi. Mereka terbagi menjadi 4 kelompok yaitu; orangutan, bekantan, berunang madu dan trenggiling. Mereka pun diminta untuk menyajikan data hasil pengamatan dan mempresentasikannya. Mereka (peserta) juga diajak untuk menampilkan kemampuan mereka dalam malam pentas seni.

Selain itu, peserta fieldtrip juga diajak untuk bermain tubing (arung jeram).  Peserta pun satu persatu mencoba arung jeram dengan mengarungi sungai menggunakan ban bekas. Sebelumnya (di pagi hari) peserta dan panitia fieldtrip melakukan senam pagi bersama.

Pada saat melakukan kegiatan selalu diselingi dengan permainan/ice breaking. Semua peserta tampak antusias mengikuti semua rangkaian kegiatan.

Adapun peserta yang ikut dalam acara fieldtrip berjumlah 47 orang siswa/siswi SMPN 3 MHU, dua guru pendamping (Didit, Bapak Markus dan Tia) dari BTNGP ( Doni dan Supiandi) dan dari BOCS ( Ifri, Mega, Reni, Sony, Ari dan Fitri) sedangkan dari Yayasan Palung (Mariamah Achmad, Haning dan Riduwan) serta Sidiq dari Relawan RebonK.

Semua Rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/14/tribunwiki-yuk-kenali-riam-jerunjung-wisata-baru-di-kawasan-taman-nasional-gunung-palung

Berkolaborasi Adakan Training of Trainer Awali Potensi HHBK di 12 Desa

Semua berfoto bersama setelah rangkaian kegiatan selesai. Foto dok : Simon Tampubolon/ Yayasan Palung

Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara melalui Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup, berkolaborasi dengan Yayasan Palung dan Yayasan Pengembangan Sumber Daya Hutan Indonesia (NTFP-EP Indonesia) mengadakan kegiatan Training of Trainer (ToT) untuk menggali potensi HHBK di 12 desa di kecamatan Sukadana dengan memakai pendekatan CLAPS (Community Livelihood Appraisal and Product Scanning), kegiatan tersebut dilaksanakan di kantor Yayasan Palung di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, pekan lalu, tepatnya tanggal 5-8 Agustus 2019.

Selama empat hari pelatihan, beberapa kegiatan dilakukan diantaranya seperti kunjungan ke salah satu pengrajin bambu di desa Pampang harapan, praktek cara validasi sebaran bambu di desa Pampang Harapan. Selain itu, peserta diajak untuk melihat validasi sebaran pandan di Desa Pampang Harapan.

Peserta ToT diajak untuk melihat validasi sebaran pandan di Desa Pampang Harapan. Foto dok : Simon Tampubolon/Yayasan Palung

Setidaknya ada 26 orang peserta yang mengikuti pelatihan, peserta berasal dari Petani Meteor Garden, dari Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup para perajin yang tergabung dalam Ida Craft. Sedangkan sebagai narasumber adalah dari NTFP-EP Indonesia.

Direktur Program Yayasan Palung, Victoria Gehrke, mengatakan;  “Kami sangat berterima kasih dengan terselenggaranya pelatihan CLAPS yang diselenggarakan oleh NTFP-EP Indonesia, dengan bantuan dari Whitley Fund for Nature. Teknik survei ini akan memberikan kami pemahaman, memetakan sumber daya alam untuk perencanaan manajemen pengelolaan lahan yang lebih baik, pembangunan berkelanjutan untuk masyarakat dan satwa liar di sekitarnya. Melalui pembinaan masyarakat dalam segala bagian dari proses, melakukan peninjauan untuk mengambil keputusan, dimana kita akan memperoleh kesuksesan jangka panjang untuk konservasi satwa liar”.

Berharap, dengan diadannya kegiatan ToT CLAPS ini  sebagai salah satu cara untuk menciptakan fasilitator handal yang dapat menggali informasi mengenai potensi HHBK di wilayah Kayong Utara dengan menerapkan metode CLAPS. Selain itu juga dengan adanya pelatihan untuk pelatih ini, kegiatan penggalian potensi hasil Hutan Bukan Kayu yang ada diwilayah Kabupaten Kayong Utara bisa dilakukan oleh Pemerintah Daerah sendiri, berkolaborasi dengan Yayasan Palung dan NTFP-EP Indonesia.

Petrus Kanisius-Yayasan PalungTulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/14/berkolaborasi-adakan-training-of-trainer-awali-potensi-hhbk-di-12-desa