Ajak Kelompok Binaan Mengenal Ecoprint sebagai Sebuah Pelung Berkelanjutan

Yayasan Palung (YP) melalui Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) mengajak kelompok binaan mengenal ecoprint dengan mengadakan pelatihan  selama  dua hari Rabu hingga Kamis (12-13/10/2022), di Kantor Yayasan Palung Bentangor Education Center, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Dalam pelatihan tersebut, peserta terlihat sangat bersemangat mengikuti arahan Ibu Chatarina Kusumawardhani dari Deaara Ecoprint selaku mentor (pelatih) dalam kegiatan ecoprint.

Mengenalkan ecoprint sebagai sebuah peluang yang berkelanjutan yang bisa saja menjadi peluang usaha jika ditekuni.

Lihat juga :

Peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain adalah Perajin kelompok binaan SL dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial binaan dari di Program Hutan Desa. Peserta yang ikut hadir dalam pelatihan tersebut adalah sebanyak 16 orang peserta.

Foto Dokumen : Abdul Samad, Iis & Asbandi

Ranti Naruri, Manager Program Sustainable Livelihood Yayasan Palung, mengatakan, Kegiatan ini merupakan salah satu langkah untuk mengenalkan ecoprint kepada perajin binaan. Berharap mereka bisa melirik ini sebagai sebuah peluang  ramah lingkungan yang berkelanjutan.

Saat praktek pembuatan ecoprint. (Video dokumen : Asbandi/YP).

Seperti diketahui, ecoprint merupakan sebuah teknik cetak dengan pewarnaan kain alami yang cukup sederhana namun dapat menghasilkan motif yang unik dan otentik. Prinsip pembuatannya adalah, melalui kontak langsung antara daun, bunga, batang atau bagian tubuh lain yang mengandung pigmen warna dengan media kain tertentu.

Dari pelatihan yang diadakan  tersebut, peserta  berhasil membuat motif  dengan corak yang indah dari hasil ecoprint.

Pit

(Yayasan Palung)

Sampaikan Cerita tentang Satwa Dilindungi dengan Media Boneka

Saat menyampaikan cerita tentang satwa dilindungi dengan media boneka. Foto : Yayasan Palung

Bertutur (bercerita) dengan Media Boneka itu salah satu cara kami menyampaikan informasi kepada Siswa-siswi di Sekolah Dasar Negeri 20 Delta Pawan, Ketapang Kalbar, pada  Kamis (13/10/2022) pagi.

Haning dan Pit dari Yayasan Palung (YP)  bersama dengan  tiga orang siswa/i magang (Rido Derianto, Randi dan Marsya)  dari SMKN 1 Ketapang berkesempatan hadir untuk berbagi cerita dengan cara bertutur menggunakan media boneka tentang satwa dilindungi.

bertutur melalui media boneka (puppet show) dan semi lecture (ceramah) tentang satwa dilindungi seperti orangutan, kelasi dan bekantan yang hidupnya di hutan disampaikan dihadapan siswa-siswi SDN 20 Delta Pawan Ketapang, yang hadir pada kesempatan itu adalah 49 orang siswa-siswi, kelas 5A dan 5B.

Tidak hanya bercerita tentang satwa dilindungi, tetapi disampaikan pula bahwa satwa-satwa tersebut memiliki peranan yang baik bagi keberlanjutan nasib hutan, karena mereka (satwa-satwa tersebut diantaranya seperti; orangutan dan kelasi merupakan si Petani hutan).

Mengapa mereka disebut sebagai petani hutan? Karena mereka (orangutandan kelasi) atau juga kelempiau tanpa lelah dan tidak pamrih, setiap hari ia selalu menyemai biji-bijian dari buah sisa yang mereka makan, nanti biji-bijian itu akan tumbuh dan  disebut tajuk-tajuk pohon (pohon-pohon baru).

Dalam cerita tersebut, disampaikan pula, bahwa satwa-satwa itu selain dilindungi juga tidak boleh dipelihara karena keadaannya sudah sangat terancam punah di habitatnya berupa hutan.

Lihat juga :

Terlihat sangat antusias dari raut wajah siswa-siswi saat menyimak cerita tentang satwa dilindungi yang kami sampaikan.

Kami juga berkesempatan memberikan quis berhadiah kepada siswa-siswi yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan.

Berharap dengan apa yang kami sampaikan ini ada tumbuh kecintaan dari siswa-siswi untuk semakin peduli dengan satwa yang dilindungi dan lingkungan di sekitar mereka.  

Pit

(Yayasan Palung)

Ayo Bergabung dalam Pelatihan Gelang Resam

Banner Pelatihan Gelang Resam. (Foto dok : Panitia).

Tahun ini, Parara (Panen Raya Nusantara) kembali mengadakan kegitan yang bertajuk; Meet The Makers 15 “Resilience” Plaited Art and Textile from Borneo . Kegiatan ini akan diselenggarakan di Parara Indonesian Ethical Store, Kemang Jakarta Selatan, pada 21-23 Oktober 2022.

Sebagai penyelenggara kegiatan kali ini adalah Meet the Makers. Meet the Makers  merupakan sebuah pameran seni kerajinan yang diadakan satu kali dalam setahun di Jakarta oleh komunitas seniman, pengrajin dan desainer dari seluruh Indonesia. Meet the Makers menghadirkan seniman atau pengrajin penting yang sangat dinamis di sektor tenun tangan, keranjang anyam, batik, fashion, berbagai item interior, bentuk-bentuk kontemporer dari tekstil tradisional, aksesoris, tas dari bahan tenun, tikar, wayang dan banyak lagi.

Selama tiga hari, seniman dan pengrajin berkumpul untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat hasil kerajinan mereka langsung. Meet the Makers meghadirkan suasana yang intim bagi para seniman dan pengrajin untuk berinteraksi secara tatap muka serta menjelaskan dan menunjukkan proses dalam menciptakan hasil seni kerajinan mereka. Meet the Makers juga menyajikan sejumlah demonstrasi dari pengrajin yang berbeda setiap hari.

Dari sebuah gerakan para seniman dan pecinta seni, Meet the Makers telah berkembang menjadi lembaga nirlaba untuk mendukung dan mempromosikan kerajinan seni pada skala nasional. Melalui lembaga ini, Meet the Makers mendukung promosi karya-karya yang dibuat dengan bahan-bahan lokal dalam konteks budaya yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Adapun peserta artisan dan Seniman Meet the Makers 15 antara lain adalah ;

  • Tujuh Dara, Anyaman Bemban, Kanca
  • Jasa Menenun Mandiri, Tenun Ikat (tbc)
  • Yayasan Palung, Penganyam Resam
  • ASEPHI Kalbar (tbc)

Pada kegiatan kali ini, Yayasan Palung melalui Program Sustainable Livelihood ikut ambil bagian bersama perajin resam binaan dalam kegiatan itu, dengan mengadakan pelatihan gelang resam.

Pakis resam liar bisa ditemukan di wilayah sekitar zona penyangga Taman Nasional Gunung Palung, Area yang dilindungi mencakup 108,043.90 ha di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Biasanya resam digunakan secara tradisional sebagai tali untuk keperluan perlengkapan berburu atau bisa juga dibuat sebagai wadah/tempat untuk keperluan dapur. Baru-baru ini Pakis “Resam” juga dimanfaatkan lebih luas sebagai aksesoris dan perlengkapan rumah tangga. Lidya seorang wanita berdarah Melayu setempat memanfaatkan “Resam” secara berkelanjutan  dengan memproduksi produk  kemudian dijual inilah yang membantunya untuk melanjutkan sekolah di Pontianak dan Jakarta, Ayo bergabung dalam pelatihan ini untuk bertemu dengan Lydia dan karya-karyanya.

Lydia, perajin anyaman resam dari Kelompok RESAMKU (kelompok perajin binaan SLYP). Foto : Istimewa/Ranti.

Batas minimal usia untuk mengikuti pelatihan ini yaitu berusia 10 tahun dan akan dilaksanakan dalam dua sesi:

Sesi Pertama, Sabtu, 22 Oktober 2022 pukul  15.00 WIB-17.00 WIB

Sesi Kedua, Minggu, 23 oktober pukul 10.00 WIB -12.00 WIB

Biaya registrasi pada pelatihan ini adalah  RP. 80.000 untuk dua orang dan Rp. 150.000 untuk emoat orang, dimana sudah termasuk 1 gelang resam, dua cincin resam, minuman, dan makanan ringan.

Jika anda tertarik untuk bergabung silahkan melakukan registrasi melalui link yang tertera berikut ini:

https://bit.ly/ResamBraceletworkshop

Silahkan lakukan pembayaran melalui nomor rekening dibawah ini :

1056-01000467-563 (Bank BRI)

Atas nama MTMI

Lalu kirimkan bukti pembayaran ke nomor atas nama Regina (+62 813 1470 4738)

Tulisan ini sebelumnya dimuat di MONGA.ID

Pit

(Yayasan Palung)

Cerpen| Banjir dan Kita Sudah Semakin Akrab

Banjir yang melanda Kec. Sandai, Senin (10/10/2022) kemarin, Foto Dokumen : Musbandi.

Banjir dan kita itu yang nyata di pelupuk mata dan ia pun semakin akrab dengan kita saat ini. Mendera dan selalu datang tak ubah seperti jelangkung, datang tak diundang.  

Resah kini terjadi di beberapa tempat, lebih khusus di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dari banjir yang terjadi dari hari Minggu kemarin hingga hari ini di beberapa kecamatan cukup menyita perhatian karenamu banjir.

Tak terelak, tersebutlah seperti beberapa kecamatan kini terkena banjir, diantaranya di  Simpang Hulu, Jelai Hulu, Tayap, Sandai dan Tumbang Titi, atau mungkin juga terjadi di tempat lainnya.

Sudah semakin akrab

Sudah semakin akrabnya kita dengan banjir hingga kita lupa mengapa banjir kerap datang tiba-tiba mendera kita kapan saja.

Kini dongeng banjir itu ada dan semakin nyata, tak perlu saling menyalahkan. Fakta nyata membukakan mata kepada kita semua. Banjir yang menggenang tentu saja menjadi penghambat, membuat semua kita semakin was-was. Tak nyenyak tidur ketika hujan berhari-hari tak kunjung berhenti.

Tidak bisa disangkal, bila hujan dua hingga tiga hari bersiaplah air banjir segera datang menyerang semua kita kapan saja.

Saat ini  kondisi kita diperparah karena di beberapa daerah di kabupaten Ketapang merupakan dataran rendah. Tentu, kondisi ini yang semakin kita hindari dengan akrabnya kita dengan banjir.

Pertanyaan yang mungkin cocok dilontarkan, apa ini karena alam sudah semakin sakit? Atau karena alam sudah semakin tak mampu bersama secara harmoni?

Banjir mendera siapa saja, tanpa pilih kasih. Itu yang sudah nyata terjadi di pelupuk mata. Apakah kini kita sudah semakin berjarak dan tak bersahabat?  

Entahlah, yang pasti, dari banjir yang terjadi menanti rasa dan asa agar kita dan alam lingkungan ini boleh bersama-sama menjaga agar boleh kiranya tak saling menyalahkan.

Bila banjir terjadi, tak sedikit yang mencibir bahwa alam tak bersahabat dengan kita? Apakah demikian adanya sesuai fakta?

Apakah kita atau alam yang tersakiti sejak semula?

Alam raya yang diciptakan ini tentunya oleh Sang Pencipta memiliki tujuan mulia bagi kita dan semua makhluk lainnya. 

Alam atau lingkungan ini tidak mungkin membinasakan atau merugikan sekelilingnya. Mengingat, alam (lingkungan) justru menjaga dan memilihara serta memberi manfaat.

Akan tetapi, lihatlah, resapan air berupa hutan semakin tercerabut, terkikis menjelang habis. Tangan-tangan serakah pun semakin berlomba menggores luka pada alam ini.

Tangan-tangan penolong kalah telak menolong. Tajuk-tajuk penyangga itu kini menanti arti akan refleksi bersama dengan tindakan nyata agar tak lagi terus terdera akibat ulah kita manusia yang cenderung menuai ingkar janji dari kata harmoni dengan alam ini.

Lihatlah, tengoklah, bila banjir tiba siapa yang menerima dampak nyata? Semua terkena dimana wilayah yang dilanda banjir itu. Semua juga terkena repot, bahkan berdampak korban harta benda.

Masih menyalahkan alam atau justru kasihan kepada alam? Berharap cerita banjir tak sekedar cerita yang seketika lewat belaka. Ada sebab, maka ada akibat. Alam ini perlu dirawat, memang tak mudah mengembalikan alam yang sudah sekian banyak hilang ini.

Satu kata, RAWAT alam ini. Bila kita bisa merawat alam ini, tentu harmoni itu ada dan kita tak dilanda dan didera banjir yang datang tiba-tiba itu.

Bila boleh berharap sembari mengingatkan kepada semua kita, alam ini menjadi payung atau pun rumah bersama di bumi ini.

Akar yang kokoh sebagai penopang, penyerap dan tajuk-tajuk yang menjulang tinggi sebagai peneduh hingga penyejuk jiwa semua makhluk yang bernafas.

Alam (lingkungan) sejatinya telah ditakdirkan sebagai titipan bukan warisan, dengan demikian pula sudah menjadi kewajiban dari generasi ke generasi siapapun itu untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai titipan hingga nanti.

Tulisan ini dimuat juga di : kompasiana.com dan MONGA.ID

Pit

(Yayasan Palung)

YP dan Kelompok Binaan Tanam 2500 Pohon di Lahan Eks Kebakaran

Tanam bibit pohon di lahan eks kebakaran. (Foto : Asbandi/Yayasan Palung).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan)  bersama dengan Kelompok Mina Sehati melakukan penanaman 2500 pohon di Dusun Tanjung Gunung, Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, pada Kamis (29/9/2022) pekan lalu.

Adapun bibit pohon yang ditanam tersebut adalah bibit tanaman pohon jengkol.  Bibit tanaman pohon tersebut di tanam di eks lahan kebakaran dan kebun masyarakat, dan 50 diantaranya ditanam tepi jalan Dusun Tanjung Gunung ke arah menuju Camp Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung, kata Asbandi, selaku Asisten Field Officer Program SL YP.

Saat penaman pohon, ada 5 orang anggota Kelompok Mina Sehati dan dari  SL YP 2 orang (Asbandi dan Salmah) yang ikut serta dalam melakukan penanaman pohon tersebut.

Tidak hanya melakukan penanaman di lokasi eks kebakaran, tetapi juga program SL membagikan bibit kepada masyarakat yang ada di dusun Tanjung Gunung, kata Asbandi.

Lebih lanjut, Asbandi, mengatakan, Program SL YP juga membagikan 2500 bibit tanaman jengkol kepada masyarakat di Dusun Tanjung Gunung.

Bibit tanaman jengkol. (Foto : Program SL YP).

Nantinya, bibit tanamaman jengkol yang dibagi-bagikan tersebut akan mereka tanam di lahan mereka masing-masing, kata Asbandi.

Seperti diketahui, bibit-bibit pohon tanaman jengkol ini merupakan bantuan yang diberikan oleh Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Kapuas. Ada 11 ribu bibit tanaman pohon yang diberikan oleh Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Kapuas kepada Yayasan Palung.

11 ribu bibit tersebut akan dibagi-bagi. Enam ribu bibit tersebut untuk 6 hutan desa (Pemangat, Rantau Panjang, Penjalaan, Pulau Kumbang, Padu Banjar dan Nipah Kuning). Masing-masing 6 hutan desa mendapat 1000 bibit. Lima ribu bibit untuk dibagikan kepada Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan). Tanaman yang dibagikan ke program SL YP akan ditanam di lokasi eks longsor pada tahun 2021 dan sisanya ditanam di lokasi eks kebakaran di Dusun Tanjung Gunung.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana

Pit

(Yayasan Palung)

Berjumpa dengan Anak Orangutan di Hutan Desa Nipah Kuning

Tim Smart Patrol sangat beruntung sekali karena bisa berjumpa dengan anak orangutan di Wilayah Hutan Desa Nipah Kuning, Kecamatan Simpang Hilir, Kayong Utara, pada awal bulan Oktober ini.

Perjumpaan dengan anak orangutan tersebut ketika tim smart patrol dari Program Hutan Desa Yayasan Palung (YP) bersama dengan Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) melakukan smart patrol di Wilayah Hutan Desa Nipah Kuning, kata Supianto selaku anggota LDPHD Hutan Bersama Nipah Kuning.

Awalnya, kami melihat dari kejauhan, ibu dan anak orangutan sedang sama-sama memanjat. Tak lama kemudian, anak orangutan tersebut terjatuh dari pohon dan terlihat tercelup (tercebur) ke air gambut, kata Supianto yang saat itu bersama rekan-rekan patroli, salah satunya Sarkawi.

Selanjutnya, mereka berdua (Supianto dan Sarkawi) berinisiatif untuk menyelamatkan anak orangutan itu dan melepas liarkannya kembali.

Hendri Gunawan, Kordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, terkait anak orangutan yang diketahui berjenis kelamin jantan tersebut diperkirakan sedang tahap belajar belimbar (memanjat pohon).

Lokasi perjumpaan dengan orangutan di wilayah Hutan Desa Nipah Kuning. (Foto : Yayasan Palung).

Lebih lanjut kata Hendri sapaan akrabnya mengatakan, Seperti diketahui, Hutan desa Nipah Kuning merupakan habitat orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang memiliki luasan 2.051 ha sejak penetapan SK KemenKLHK tahun 2017 silam. Berbagai upaya perlindungan dan penyelamatan habibat terus dilakukan salah satunya dengan program smart patrol yang dilaksanakan selama 7 hari setiap bulannya.

Ketika mereka melakukan smart patrol mereka juga berjumpa dengan sarang orangutan kelas A di blok D 36. Ada dua sarang orangutan yang mereka jumpai saat mereka melakukan smart patrol tersebut, kata Supianto.

Smart Patrol (patroli pintar) menggunakan alat namanya smart. Pada patroli tersebut mereka lakukan selama 1 minggu.

Pengelolaan Hutan Desa dilakukan oleh Yayasan Palung bekerjasama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH Wil Kayong) dan Lembaga Desa Pengelola Hutan desa (LDPHD). Setiap berkegiatan di wilayah hutan desa YP, KPH Kayong dan LDPHD selalu berkordinasi.  

Tulisan ini dimuat juga di kompasiana

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Kegiatan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan di Tumbang Titi

Kegiatan ekspedisi Pendidikan Lingkungan (PL) Yayasan Palung dilaksanakan oleh Tim PL YP di Tumbang Titi. Kegiatan ini dilakukan selama 5 hari (tanggal 26-30 September 2022).

Beberapa sekolah yang kami kunjungi dalam rangka ekspedisi Pendidikan Lingkungan tersebut antara lain adalah ; SMAN 1 Tumbang Titi, SMPN 1 Tumbang Titi, SDN 1 Tumbang Titi, SDN 3 Tumbang Titi, MI Al-Amin dan SMP Pangudi Luhur Tumbang Titi.

Pada ekspedisi Pendidikan Lingkungan tersebut, Yayasan Palung berkesempatan memberikan sosialisasi tentang satwa yang dilindungi.

Di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) kami memberikan materi lingkungan berupa lecture (ceramah lingkungan).

Sedangkan di tingkat Sekolah Dasar (SD) kami memberikan materi sosialisasi lewat puppet show (pertunjukan boneka) dan melalui cerita Si Pongo dan Kawan-kawan yang didengarkan kepada anak-anak di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah yang kami kunjungi saat kami melakukan Ekspedisi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Camat Tumbang Titi, KORWILCAM Tumbang Titi, Kepala Desa Tumbang Titi dan kepada Sekolah-sekolah yang kami kunjungi selama kami saat melakukan kegiatan ekspedisi PL YP.

Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah.

Narasi : Pit @petruskanisiuspit
Video Editor : Riduwan @mas_duwan20
Yayasan Palung @savewildorangutans

#ekspedisipendidikanlingkungan#lecture#puppetshow#orangutan#sekolah#pendidikan#pendidikanlingkungan#yayasanpalung#tumbangtiti#ketapang#kalbar#indonesia

Ekstrakurikuler Praktik Pembuatan Kompos dan MOL di SMAN 03 Simpang Hilir

Video praktik pembuatan pupuk kompos dan MOL. (Video dok : Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Sispala GREPALA (Gerakan Remaja Pecinta Alam) di SMAN 03 Simpang Hilir, Kayong Utara berkesempatan mendapatkan Ilmu baru berupa kegiatan ekstrakurikuler dengan kegiatan praktik pembuatan kompos dan MOL (Mikro Organisme Lokal)/Pupuk Cair.  Kegiatan tersebut dilaksankan, pada Sabtu (1/10/2022).

Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Asbandi, dari program Sustainable Livelihood (Program mata pencaharian berkelanjutan) Yayasan Palung (YP) bersama dengan Ishak dari Kelompok Petani Meteor Garden binaan YP berkesempatan memberikan materi dan praktek pembuatan pupuk kompos dan juga MOL.

Seperti diketahui, Yayasan Palung melalui Program Pendidikan Lingkungan dan SMAN 03 Simpang Hilir memiliki kerjasama dibidang pendidikan lingkungan.

Pupuk kompos  dan MOL yang mereka buat tersebut nantinya akan mereka gunakan untuk demplot pertanian Sekolah.

Video Dok : Simon Tampubolon

Narasi : Pit

(Yayasan Palung)

Anak-anak Sudah Bebas Menggunakan Gawai hingga Membuat Cemas

Keterangan gambar: Terkadang kita ataupun anak-anak enggan lepas dari gawai (telepon pintar). Foto : Istimewa/iprice.co.id

Informasi dan komunikasi dengan menggunakan media gawai itu penting. Tetapi, jangan sampai gadget yang menguasai kita hingga kita lupa bahwa yang punya hak untuk mengatur gawai (gadget) adalah kita. Tidak hanya itu, anak-anak pun sudah semakin bebas hingga membuat cemas.

Tulisan ini hadir sebagai keprihatinan saya terhadap anak-anak yang menggunakan gawai hingga membuat cemas.

 Apa benar ya, jaman sekarang ada yang bilang jika tidak memiliki gedget yang canggih nggak gaul, deh…  Gawai canggih dan terbaru menjadi godaan yang selalu ditawarkan disetiap arus informasi ataupun iklan yang ada. Bahkan, tidak sedikit  pula saat ini yang mengatakan, orang kebanyakan enggan  melepaskan gawai dalam genggaman. Ada juga yang bilang, dengan gadget selain bisa gaul juga keren. Anggapan lain juga muncul, gawai acap kali mempengaruhi sekaligus mengatur kita. Pada hal kitalah yang berhak untuk mengatur gawai.

Dari pagi setelah bangun tidur, hampir dipasikan setiap orang yang memiliki gadget disibukan untuk membuka gadgetnya untuk membalas atau mengirim pesan dan lain-lain. Menyampaikan selamat pagi kepada orang-orang terdekat hingga urusan pekerjaan dan lain sebagainya. Bagi anak muda (putra-putri, menjelang dewasa)  juga menggunakan gadget sebagai selfi bangun tidur, pamer muka cantik ataupun ganteng. Celakanya selfi-selfi itu ada diantaranya yang tidak selayaknya dipamerkan dan menampilkan foto-foto yang tidak sewajarnya untuk ditampilkan kepada khalayak di media sosial.

Semakin menjamur dan murahnya harga gawai membuat setiap orang hampir dipastikan sudah memiliki gawai. Fenomena ini telah terjadi di sini (sebab-akibat adanya gadget). Tren baru yang saat ini telah, sedang dan terus terjadi menyangkut gadget menjadi isyarat baru. Apakah kita sebagai pengguna gadget bisa bijaksana menggunakannya. Atau malah gawai menjadi pengikat (mengikat) sekaligus menjerumuskan?.

Sejatinya, hadirnya teknologi dan arus informasi menjadi sebuah harapan baru sebagai jendela untuk mendapakan pengetahuan yang tidak terbatas hingga gadget dijadikan sebagai media pendukung dalam tumbuh dan berkembang dalam hal bisnis, pekerjaan ataupun juga relasi. Bagi anak muda atau ABG (putra-puri menjelang dewasa/anak baru gede), jika gadget digunakan secara positif banyak manfaat yang didapatkan. Misalnya saja untuk mempermudah komunikasi, menambah informasi dan perkembangan teknologi. Selanjutnya juga mendapatkan informasi untuk hiburan yang bisa bagi mereka dalam tumbuh dan berkembang (berkreasi).

Namun, hadirnya informasi yang mudah diperoleh melalui gadget tidak sedikit pula menjadi kekhawatiran bersama. Kekhawatiran yang dimaksud ketika gawai digunakan tidak sesuai dengan kegunaannya. Mengingat, tidak sedikit anak-anak TK, SD, SMP hingga SMA yang menggunakan gawai sebagai fungsi yang salah arah (terlampau bebas hingga bablas) hingga selalu membuat cemas. Akses informasi, konten kekerasan, pornografi, video game dan video pornografi masih saja bisa dengan bebas berseliweran didapatkan dengan mudah. Hal lainnya, fungsi pengawasan di rumah oleh orangtua sudah semestinya dilakukan.

Perilaku buruk (dampak negatif) dari penggunaan gadget yang berlebihan bisa berdampak pada proses belajar dan prestasi siswa-siswi. Misalnya saja, dengan adanya gadget kecenderungan lupa belajar hingga prestasi menurun. Lupa waktu, itu penyebab utamanya. Belajar yang seharusnya prioritas menjadi (di/ter) kesampingkan.

Tidak hanya itu, hadirnya gadget bila tidak digunakan secara bijaksana dan diawasi oleh orangtua akan mengganggu hubungan keakraban, kebersamaan dan sosialisasi di ruang lingkup keluarga menjadi berkurang.

Beberapa hal yang menyangkut penggunaan gadget, kiranya bila boleh dikata dua mata pisau yang siap menghadang jika kita sebagai pengguna gadget tidak bijak. Tentu, hal ini menjadi kekhawatiran bersama pula. Arus informasi, sosialisasi dan kecanggihan teknologi dari gadget begitu leluasa berkembang dan silih berganti mudah diperoleh  serta berkembang setiap saat. Arus informasinya inilah yang terkadang menjadi bias ataupun pangaruh jika tidak serta merta disaring. Kecenderungan yang ada malah tidak sedikit yang terbuai dan semakin terjerumus/menjerumuskan pengguna gadget itu sendiri.

Sudah saatnya bagi kita semua, lebih khusus anak muda (Putra-puri, anak baru gede) untuk dapat memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari setiap informasi.  Peran orangtua sangat diperlukan untuk pengawasan bagi anak-anak mereka yang menggunakan gadget. Sesungguhnya penggunaan gadget yang bijaksana kita yang berhak mengatur, menyaring (memfilter) setiap informasi yang hilir mudik melalui gadget. Semua tergantung kepada seberapa bijaksananya kita dengan menggunakan gadget yang kita miliki untuk mengatur dan menyaring setiap arus informasi yang ada?. Jangan sampai gadget yang mengatur kita. Kiranya, gunakanlah gadget untuk hal-hal yang bermanfaat dan positif. Bolehlah kiranya kita bijaksana dan membatasi penggunaan gawai.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kumparan dan MONGA.ID

Petrus Kanisius

( Yayasan Palung)

Mengapa Kita Harus Peduli dengan Satwa?

Orangutan yang merupakan satwa yang dilindungi dan sangat terancam punah. (Foto : Erik Sulidra/Yayasan Palung).

Saat ini, nasib hidup dari satwa, terlebih yang dilindungi dan sangat terancam punah memerlukan kepedulian bersama dari kita semua.

Tidak bisa disangkal beragam jenis satwa dilindungi dan sangat terancam punah memiliki satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lainnya.

Seperti misalnya, di Kalimanan ada fauna karismatik yaitu orangutan, kelempiau dan rangkong (burung enggang) memiliki peranan yang sangat besar bagi lingkungan sekitarnya, satu diantaranya karena mereka adalah petani hutan.

Tidak hanya orangutan sebetulnya sebagai satwa yang dilindungi, tetapi ada pula satwa-sawa lainnya seperti gajah, harimau, dan badak yang memiliki peranan besar bagi lingkungan hidup dan makhluk lainnya pula.

Hutan, tanah dan air sejatinya memberi arti harmoni dan nafas hidup yang harus seirama tentang kehidupan. Hutan perlu ragam satwa yang dilindungi dan terancam punah agar bisa terus berdiri kokoh.

Tanda nyata ini terjadi ketika satwa nasibnya kini semakin sulit untuk bertahan hidup. Orang bilang, hutan tak lagi ramah. Sesungghnya manusialah yang tidak ramah dengan alam. Satwa semakin terusir dari rimba raya tak bertuan yang kini nasibnya pun semakin terampas. Demikian juga bencana yang tak jarang mendera berupa banjir dan lain sebagainya.

Satwa dilindungi memiliki hak yang sama sebagai makhluk ciptaan Ilahi untuk dihargai haknya sebagai makhluk hidup yang memiliki fungsi tak sedikit bagi lingkungan dan makhluk lainnya sebagai rantai makanan yang jangan sampai salah satunya putus atau hilang.

Bila satu diantaranya hilang maka akan ada yang akan dikorbankan. Singkatnya, satwa yang terancam punah dan satwa dilindungi begitu penting sebagai penyeimbang ekosistem yang ada.

Foto : Erik Sulidra

Penulis : Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)