Induk dan anak Orangutan Terekam Kamera Trap di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning

Tidak mudah untuk mendapatkan rekaman yang memperlihatkan momen orangutan turun ke bumi (turun ke tanah). Sungguh luar biasanya lagi, kamera Trap Tim Smart Patrol Yayasan Palung (YP) beberapa bulan lalu, di Kawasan Hutan Desa (LPHD) Nipah Kuning, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara berhasil merekam induk dan anak orangutan.

Sebagai informasi, Hutan Desa Nipah Kuning, jumlah luasannya adalah 2.051 hektare. Ragam tumbuhan dan satwa masih banyak terdapat di wilayah itu.

Ada hal yang menarik dari ibu dan anak orangutan. Jika boleh dikata, ibu orangutan merupakan  pengasuh yang baik bagi anaknya.

Kasih sayang seorang ibu begitu besar bagi anaknya. Tidak terkecuali ibu orangutan yang juga memberikan kasih sayang kepada anaknya.

Berikut 7 keistimewaan induk (ibu) orangutan bagi anaknya:

  1. Induk orangutan mengandung anaknya, hampir sama dengan manusia. orangutan mengandung anaknya 8 hingga 8,5 bulan.
  2. Induk orangutan mengalami masa menstruasi sama halnya seperti manusia.
  3. Induk orangutan selalu bersama anaknya hingga anaknya dewasa. Ibu orangutan selalu mengajari anaknya bagaimana mencari makan dan membuat sarang. Induk orangutan selalu bersama anaknya dari bayi hingga usianya 8-9 tahun. Bayi orangutan sulit mandiri apabila Ia hidup tanpa ibunya.
  4. Sedangkan jarak waktu melahirkan bayi paling lama di antara semua mamalia.
  5. Rata-rata induk orangutan hanya memiliki dua atau tiga keturunan sepanjang hidupnya dan hanya melahirkan satu anak setiap tujuh sampai delapan tahun sekali.
  6. Induk orangutan dan anaknya hidup dalam satu sarang, kecuali ketika anaknya sudah dewasa. Bila menjelang dewasa, maka ia akan hidup mandiri.
  7. Induk orangutan dan anaknya hidup dalam satu sarang, kecuali ketika anaknya sudah dewasa. Bila menjelang dewasa, maka ia akan hidup mandiri.

Video 🎥: Kamera trap Tim Hutan Desa Yayasan Palung

Tulisan diolah dari berbagai sumber

Yayasan Palung

Lihat juga :

#orangutan #orangutans #orangutandihutan #hutan #forest #hutandesa #hutandesanipahkuning #orangutanterekamkamera #alamliar #orangutankalimantan #borneanorangutan #pemangkat

Mengapa Pohon Penting Bagi Kehidupan?

Pohon. (Foto dok : Erik Sulidra/YP).

Menurut batasan yang umum, pohon adalah tumbuhan yang batangnya berkayu dan bercabang. Batang pohon utama berdiri dan berukuran lebih besar dibanding cabang-cabangnya. Banyak tumbuhan yang berdaun, namun tidak termasuk ke dalam kategori pohon.

Tentu, pohon memberi, tidak sedikit memberi manfaat bagi kehidupan sebagian besar makhluk hidup yang ada dibumi ini.  

Akan tetapi, tidak sedikit pula fakta yang bercerita tentang nasib pohon-pohon yang rebah tak berdaya saban waktu, dari waktu ke waktu.

Pohon yang katanya sumber hidup bagi kehidupan, tetapi tak jarang pula dikorbankan demi keuntungan semata oleh segelintir tangan-tagan tak terlihat.

Karena peran pentingnya, maka setiap 21 November diperingati sebagai Hari Pohon Sedunia atau World Tree Day. Hari Pohon Sedunia menjadi hari yang penting untuk kembali meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pohon.

Dikatakan, peringatan Hari Pohon Sedunia ditujukan untuk merefleksikan peran pentingnya pohon dalam kehidupan. Pohon memiliki berbagai peran penting dalam kehidupan seperti menyeimbangkan ekosistem, membantu mitigasi perubahan iklim, memurnikan udara sekitar, dan menyediakan perlindungan bagi berbagai jenis satwa.

Kita semua dianjurkan untuk menanam pohon. Menanam pohon adalah menyelamatkan kehidupan. Satu pohon mampu menghasilkan 1,2 kilogram (kg) oksigen per hari. Sementara setiap orang perlu 0,5 kg oksigen per hari. Disebutkan satu pohon mampu menunjang kehidupan dua orang. Sebaliknya, menebang satu pohon berarti menghilangkan persediaan oksigen untuk dua orang.

Lalu apa jadinya apabila di bumi tidak ada pohon sama sekali

Merangkum laman Science School via detik.com/edu menyebutkan; ada sekitar 3,04 triliun pohon di planet Bumi yang mencakup 31 persen dari permukaan tanah dunia. Akan tetapi sayangnya, sekitar 15 miliar pohon ditebang setiap tahun dan akan berdampak pada kelangsungan hidup di Bumi.

Beberapa hal akan terjadi apabila pohon/hutan tidak tersedia di bumi, beberapa diantaranya adalah :

Pertama, tidak sedikit makhluk hidup akan kehilangan habitat dan sumber makanan. Kedua, makhluk hidup lebih khusus manusia akan sangat rentan diterpa bencana alam karena apabila pohon/hutan hilang akan berdampak kepada mudahnya terjadi banjir, erosi dan longsornya tanah, karena tanah tidak ada yang menahan. Ketiga, apabila pohon di hutan hujan hilang maka akan berdampak kepada kekurangan sumber air (kekeringan), udara kotor semakin sulit disaring dan kekurangan oksigen. Selain itu, hilangnya hutan hujan (pohon) akan memperparah terjadinya pemanasan global.

Hal lainnya adalah, apabila hutan hujan (pohon) hilang maka besar kemungkinan akan berdampak luas kepada nasib makhluk hidup yang mendiami bumi ini, jika boleh dikata, apabila pohon/hutan hilang maka besar kemungkinan pula kepada ancaman kepunahan kepada sebagian besar makhluk hidup.

Sebagai pengingat kita semua, “Ketika pohon terakhir ditebang, Ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir ditangkap, Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.”

Sumber tulisan : dari berbagai sumber

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Rangkaian Kegiatan PPO 2023 Sukses Digelar oleh Yayasan Palung

Hamid Asman, M.Pd (Kepala Desa Pulau Kumbang) bersama Edi Rahman (Field Director Yayasan Palung) saat melakukan penanaman pohon untuk rehabilitasi lahan di Pulau Kumbang, pada Minggu (12/11). Foto : Egi/Yayasan Palung.

Serangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2023 sukses digelar oleh Yayasan Palung (YP)

Rangkaian kegiatan yang dilakukan selama sepekan (12-18 November) tersebut, dilakukan dengan beragam kegiatan yang dipusatkan di Desa Pulau Kumbang dan beberapa desa lainnya seperti di Pemangkat dan Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Adapun rangkaian kegiatan yang sukses dilakukan oleh YP dalam rangka Pekan Peduli Orangutan 2023 diantaranya;

Melakukan kegiatan Rehabilitasi Lahan di Desa Pulau Kumbang dalam rangka Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2023. Kegiatan Rehabilitasi dilakukan pada Minggu (12/11/2023), dengan melakukan penanaman 200 pohon (rehabilitasi lahan) di lokasi 1 hamparan lahan di desa Pulau Kumbang, KKU.

Dalam kegiatan rehabilitasi ini YP melibatkan beberapa pihak seperti KPH Wilayah Kayong, Karang Taruna, LPHD, Pemerintah Desa dan Kelompok Tani. Kegiatan juga sekaligus pembukaan kegiatan PPO 2023.

Kegiatan rehabilitasi lahan tersebut dibuka langsung oleh Edi Rahman, selaku Field Direktur Yayasan Palung.

Dalam kesempatan tersebut juga Kepala UPT KPH Wilayah Kayong, Euis Herawati, S.Hut, M.Hut berkesempatan memberikan sambutan. Ibu Euis berharap semoga tanaman produktif (tanaman kehidupan) ini bisa bermanfaat bagi masyarakat di Desa Pulau Kumbang.

Dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Hamid Asman, M.Pd., selaku Kepala Desa Pulau Kumbang, yang dalam kata sambutannya sangat mendukung sekali serangkaian kegiatan penanaman pohon dan kegiatan PPO 2023 yang dilakukan di desanya. Ia pun berharap semoga kegiatan-kegiatan yang YP lakukan di desanya bisa terus berkelanjutan dan berkolaborasi.

Sedangkan di Padu Banjar (12/11/2023), Program Hutan Desa juga melakukan penanaman 470 bibit di lahan bekas kebakaran desa Padu Banjar, KKU. Kegiatan rehabilitasi di Padu Banjar melibatkan para pihak seperti KPH Wilayah Kayong, PemDes Padu Banjar, babinkamtibmas, LPHD Padu Banjar, dan Babinsa.

Beberapa bibit pohon yang ditanam adalah tanaman produktif (tanaman kehidupan) seperti mangga, petai, jambu, jengkol dan tanaman lainnya seperti durian yang ditanam di Padu Banjar. Bibit-bibit yang ditanam tersebut merupakan bantuan dari KPH Wilayah Kayong.

Rangkaian kegiatan lainnya seperti Menerbangkan Drone Thermal di Kawasan Hutan Desa Padu Banjar, pada Senin (13/11/2023) Subuh. Program Hutan Desa dan Riset Yayasan Palung (YP) berkesempatan menerbangkan drone thermal di Kawasan Hutan Desa Padu Banjar, Simpang Hilir, Kayong Utara.

Pada kesempatan menerbangkan drone thermal tersebut, teman-teman berhasil merekam keberadaan beberapa satwa yang diduga, seekor rusa, merekam keberadaan orangutan dan sekelompok babi hutan.

Adapun tujuan dari menerbangkan drone thermal ini untuk mengetahui jumlah populasi satwa dengan melihat suhu tubuh sebagai bahan indikatornya.

Kenapa menerbangkan drone thermal harus dilakukan pada malam atau subuh, karena sangat mudah untuk mengidentifikasi suhu tubuh satwa/binatang.

Kegiatan selanjutnya dalam rangka #OrangutanCaringWeek (Pekan Peduli Orangutan 2023) melakukan kegiatan deteksi satwa melalui drone thermal di Desa Pemangkat, pada Senin (13/11).

Pada kesempatan menerbangkan drone thermal di Pemangkat, tim drone thermal berhasil merekam keberadaan beberapa satwa yang diduga beberapa monyet ekor panjang bangun di pagi hari.

Senin (13/11/2023), Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung mengadakan kegiatan Puppet show (pertunjukan boneka) di SDN 15 Pulau Kumbang, Simpang Hilir

Adapun dalam kegiatan Puppet show (pertunjukan boneka) tersebut Yayasan Palung menyampaikan informasi satwa dilindungi yang ada di Indonesia, lebih khusus Orangutan dan satwa lainnya seperti kelasi dan bekantan.

Pada kempatan  pertunjukan boneka, kami bertutur tentang kehidupan satwa dilindungi dialam liar. Mengingat, satwa dilindungi memiliki peranan penting mereka bagi makhluk hidup lainnya untuk terus berlanjut hingga nanti.

Pada hari kedua, Selasa (14/11) siang, Program Penyelamatan Satwa dan Program Hutan Desa mengadakan Pelatihan Identifikasi Sarang dan Pakan Orangutan serta Identifikasi Satwa Liar Lainnya. Adapun peserta yang ikut serta dalam kegiatan tersebut adalah perwakilan dari tim patroli Hutan Desa. Dan sebagai pemateri adalah; Erik Sulidra, Gunawan dan Sabta dari Yayasan Palung (YP).

Kegiatan lainnya dalam rangkaian PPO 2023, kegiatan dilanjutkan dengan mengadakan Sosialisasi Desa Ramah Satwa pada Selasa (14/11) siang. Kegiatan ini diadakan di Kantor KPH Kayong, Resort Pemangkat.

Sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut adalah dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA SKW 1) Ketapang.

Kegiatan dilanjutkan dengan berjalan menuju kediaman yang diduga pemburu dengan melakukan sosialisasi langsung kerumah dan memberikan pesan kampanye.

Pada Senin (13/11/2023), Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) YP mengadakan Pelatihan Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

Kegiatan ini melibatkan partisipan Petani di Pulau Kumbang. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Serbaguna Pulau Kumbang.

Kegiatan lainnya adalah dengan mengadakan Lomba Kerajinan Anyaman yang dilakukan oleh Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) YP, pada Selasa (14/11).

Kegiatan lomba tersebut diikuti oleh ibu-ibu. Kegiatan ini diadakan di Di Gedung serbaguna Pulau Kumbang, Simpang Hilir, Kayong Utara.

Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung mengadakan beberapa kegiatan pada Selasa (14/11/2023), di SDN 14 Pulau Kumbang dan TK YA-BUNAYYA.

Rangkaian kegiatan tersebut diantaranya adalah Lomba Menggambar (Kelas 3,4), Mewarnai (TK dan Kelas 1,2), dan Tes Pengetahuan Umum (Kelas 5 dan 6) di SDN 14 Pulau Kumbang dan TK YA-BUNAYYA.

Yayasan Palung mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah memberikan ruang dan waktu kepada YP saat berkegiatan di SDN 14 Pulau Kumbang.

Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi (PL) berkesempatan melakukan Lecture (Ceramah Lingkungan) di SMP PGRI Pulau Kumbang, Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Rabu (15/11/2023).

Tema PPO tahun ini adalah; “Leveraging AI to Protect Orangutans and Global Diversity” (Memanfaatkan AI (Artificial Intelligence) untuk melindungi Orangutan dan Keanekaragaman Hayati Global).

Pada kesempatan lecture tersebut, disampaikan materi tentang; Orangutan. Presentasi disampaikan oleh Simon Tampubolon dari Yayasan Palung (YP).

Setelah materi selesai disampaikan, selanjutnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada kesempatan itu, siswa-siswi ditanyakan seputar materi yang disampaikan.

Tampak antusias dari para peserta yang mengikuti kegiatan lecture tersebut. Kami pun berpesan kepada siswa-siswi untuk Bersama-sama menjaga, melindungi orangutan dan habitatnya karena peran pentingnya bagi kehidupan.

Semua rangkaian kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Pekan Peduli Orangutan #OrangutanCaringWeek 2023.

Mengapa Kita Penting Merayakan Pekan Peduli Orangutan (PPO)? Setiap tahun di bulan November, penduduk dunia selalu merayakan Pekan Peduli Orangutan (Orangutan Caring Week). Lalu, apa pentingnya kita merayakan Pekan Peduli Orangutan?

Pekan Peduli Orangutan (PPO) merupakan salah satu kegiatan rutin yang disebut juga dengan spesial event (kegiatan khusus) setiap tahunnya. Kegiatan Pekan Peduli Orangutan sebagai salah satu bentuk kepedulian kepada nasib satwa (primata) yang sangat dilindungi dan terancam punah yaitu orangutan. Setiap tahunnya kegiatan PPO dilaksanakan pada awal atau medio November selama sepekan.

Sebagai lembaga konservasi yang memiliki kepedulian kepada nasib orangutan dan habitatnya, Yayasan Palung (YP) secara rutin menggelar (merayakan) kegiatan PPO setiap tahunnya.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Mengenal Katak terbang Wallace (Rhacophorus nigropalmatus) yang Dijumpai di Gunung Palung

Katak-terbang wallace. (Foto : Wahyu Susanto/Yayasan Palung).

Katak-terbang wallace dalam Bahasa lnggris disebut Abah River Flying Frog / Wallace’s flying frog dan dalam Bahasa latin disebut Rhacophorus nigropalmatus.

Katak ini berwarna hijau dan emas cerah yang dapat melompat dari dahan ke dahan dengan menggunakan selaput ekstralebar di sela-sela jari kaki dan “sayap” dari kulit di bagian sisi. Ketika katak itu melompat, kaki dan telapaknya meregang keluar dari tubuh sehingga memberi kesan seperti parasut. Mereka kadang dapat melayang sejauh hampir 50 kaki (15 meter) dalam satu kali lompatan.

Katak ini sering kali dijumpai oleh para peneliti di Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA). Bahkan mereka berhasil mengabadikan beberapa foto yang menarik dan menakjubkan.

Katak terbang wallace adalah spesies katak yang berasal dari hutan hujan Asia. Umumnya dapat ditemukan di Semenanjung Malaya dan Indonesia bagian barat, yaitu di Kalimantan dan Sumatera. Katak terbang wallace rata-rata memiliki panjang sekitar 6 hingga 10 cm. Uniknya ukuran katak betina lebih besar dibandingkan katak jantan. Katak betina memiliki panjang 9 hingga 10 cm, sedangkan katak jantan memiliki panjang sekitar 6 hingga 7 cm.

Katak terbang wallace memiliki karakter yang cenderung pasif dan pendiam. Namun, ketika adanya ancaman, katak ini akan mengeluarkan air seninya dan juga melayang dengan cepat ke dahan atau daun lain di sekitarnya guna mempertahankan diri. Makanan utama dari katak ini adalah serangga. Tentunya serangga yang berukuran lebih kecil dibandingkan badan katak tersebut, seperti jangkrik, ulat hongkong, dan ulat kendang.

Daftar IUCN Red List menyebutkan, Katak-terbang Wallace masuk dalam daftar risiko rendah (Least Concern/LC) di alam liar.

Sumber : dari berbagai sumber

Lokasi : Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA)

Foto : Wahyu Susanto-Yayasan Palung

————————————-

Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Universitas Nasional dan Boston University.

Goes to school di SMA 3 Simpang Hilir, Membuat Pupuk cair dan Panen Perdana Tanaman mentimun

Saat siswa-siswi melakukan panen mentimun. Setidaknya ada 8 kilogram buah timun yang berhasil mereka panen. (S. Abdul Samad/Yayasan Palung).

Program Sustainable Livelihood (SL) / Mata Pencaharian Berkelanjutan Yayasan Palung melakukan kegiatan Goes to school di SMA 3 Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Selasa (7/11/2023).

Dalam kegiatan Goes to school di SMA 3 Simpang Hilir kali ini, siswa-siswi diajak membuat pupuk cair.

Selanjutnya mereka melakukan panen tanaman mentimun.

Kegiatan Goes to school di SMA 3 Simpang Hilir merupakan kegiatan yang rutin dillakukan, setiap seminggu dua kali pertemuan untuk siswa/i kelas X A, X B, X C, X D. Setiap di hari selasa kelas X A dan X D. Sedangkan hari rabu kelas X C dan X D. Mulai pendampingan rutin di sekolah SMA 3 Simpang Hilir sejak bulan Agustus 2023.

Jadi hari ini, Selasa (7/11), kegiatannya di sekolah adalah membuat pupuk cair dan panen perdana di kebun kelas X D, adapun tanaman yang dipanen pada kesempatan tersebut adalah mentimun, setidaknya ada 8 kilogram buah timun yang berhasil mereka panen.

Siswa-siswi bersama kepala sekolah Ibu Tutus dan guru mulok Pak Haidir melakukan panen mentimun di lokasi kebun kelas X D.

Tulisan & Foto : Syarif Abdul Samad ( @sam62038 ) -Yayasan Palung

(Puisi) Satwa dan Rimba Raya Masih Bolehkah Tersenyum Untukku?

Hutan. (Foto : Pit-YP).

Satwa dan rimba raya, bolehkah aku bertanya

Ya, betanya tentang ruang dan waktu, tentang senyum, masih bolehkah tersenyum untukku?

Karena kutahu, kita sama-sama lirih di hadapan para penjelmaan yang tak bertuan

Padang ilalang yang gersang berpadu dengan gontai para satwa ragu di habitat, di mana ia hidup

Senyumku, senyummu

Tetapi, siapa kita yang sering tersenyum?

Bukankah demikian adanya, manusia penjelma sering tertawa lebar tanpa melihat rupa rimba dan satwa yang merana

Kidung nyanyian para pendosa melolong situasi tak bertepi terkadang tanpa arti

Rupa satwa dan rimba raya merindu tangan-tangan penolong 

Meneropong, teropong, menilik ruah bencana yang terkadang sulit dinyana  

Bencana menerka rupa kepada realita kita apa adanya

Tentang satwa (orangutan, burung dan primata lainnya) juga rimba raya (hutan) yang boleh kiranya tersenyum semringah demi anak cucu nanti bukan sesaat.

Ketapang, 7 November 2023

Pit-Yayasan Palung

Sempidan Merah Berhasil Direkam Perangkap Kamera di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning

Video 🎥: Kamera trap Tim Hutan Desa Yayasan Palung

Sunggguh luar biasa, kata itu yang cocok untuk dikatakan. Ya, luar biasanya karena kamera trap (kamera perangkap) diluar dugaan bisa merekam (mengabadikan) video satwa liar yang berlalu Lalang di jalur satwa.

Beberapa waktu lalu, kamera Trap Tim Smart Patrol Yayasan Palung (YP) Di Kawasan Hutan Desa (LPHD) Nipah Kuning, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara berhasil merekam satwa liar.

Satwa yang berhasil direkam tersebut adalah Sempidan Merah dalam Bahasa Inggris disebut Bornean Crestless Fireback. Memiliki Bahasa latin Lophura erythophthalma pyronota).

Daftar IUCN Red List menyebutkan, Sempidan Merah masuk dalam daftar terancam punah (Endangered/EN) di alam liar.

Berharap Sempidan merah bisa berkembang biak dan hidup aman, nyaman dan lestari di alam liar, lebih khusus di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning.

Video 🎥: Kamera trap Tim Hutan Desa Yayasan Palung

Tulisan diolah dari berbagai sumber

#sempidan #sempidanmerah #aves #satwaliar #satwaliardilindungi #satwaliarindonesia #hutan #forest #konservasi #ekosistem #biodiversity #simpanghilir #nipahkuning #kayongutara #indonesia #kehidupan

Pelanduk Napu Tertangkap Kamera Trap di Kawasan Hutan Desa Pemangkat

Pelanduk Napu. Video 🎥: Kamera trap Tim Hutan Desa Yayasan Palung

Beberapa waktu lalu, kamera Trap Tim Smart Patrol Yayasan Palung (YP) berhasil merekam satwa liar. Seperti terlihat di rekaman video, kamera trap berhasil menangkap (merekam) pelanduk napu. Kamera trap tersebut mereka pasang di Kawasan Hutan Desa Hutan Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Pelanduk napu, atau lebih populer dengan sebutan napu atau napuh (Tragulus napu) adalah sejenis mamalia kecil yang tergolong ungulata berteracak genap. Termasuk ke dalam famili Tragulidae, hewan ini berkerabat dekat dengan pelanduk jawa dan pelanduk kancil. Napuh atau napo adalah nama umumnya di Sumatra, sedangkan di Kalimantan disebut dengan nama pelanduk napuh, pelanduk nampuh, pelanduk bangkat, dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Greater mouse-deer.

Adapun wilayah persebaran Pelanduk napu adalah di Kalimantan, Pulau Laut, Bangka, Sumatera, Serasan dan Semenanjung Malaya.
Ukuran tubuh pelanduk Napu di Kalimantan sedikit lebih kecil, ukuran tubuhnya; kepala dan tubuh 520-572 mm, ekor 60-100 mm, dan berat 3,5-4,5 kg.
Napuh hidup di hutan-hutan tinggi dan hutan sekunder, kadang-kadang juga memasuki kebun. Hewan ini lebih sering didapati di dataran tinggi daripada di dataran rendah, di mana ia lebih jarang didapati. Di Bangka selatan, napuh lebih kerap dijumpai di hutan-hutan rawa daripada di tanah kering.

Daftar IUCN Red List menyebutkan, pelanduk napu masuk dalam daftar Resiko Rendah (Least Concern /LC).

Video 🎥: Kamera trap Tim Hutan Desa Yayasan Palung
Tulisan: Diolah dari berbagai sumber
Pit/Yayasan Palung

#pelanduk#pelanduknapu#kawasanhutandesa#pemangkat#simpanghilir#kayongutara#lphd

Koleksi Buah Pakan Orangutan Bulan Oktober 2023

Bulan ini dijumpai lebih dari 5 jenis Lithocarpus. Koleksi buah pakan di bulan ini antara lain; Artabotrys, Durio graveolens, Baccaurea, Lithocarpus spp., Gluta, Diospyros,Willuhgbeia, Magnolia dan Ctenolophon.
Repost : Sumihadi ( @sumihadi_ )
Lokasi koleksi : #tamannasionalgunungpalung
#stasiunrisetcabangpanti
#universitasnasional
#bostonuniversity

————————————-
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Universitas Nasional dan Boston University.

Berjumpa dengan Kucing Marmer (Marbled Cat) di Kawasan Hutan Desa Pemangkat

Video 🎥: Kamera trap Tim Hutan Desa Yayasan Palung

Tidak mudah untuk menjumpai atau merekam kucing hutan di alam liar. Tim smart patrol Yayasan Palung (YP) sangat beruntung sekali.

Ya, karena beberapa lalu, kamera trap yang dipasang oleh tim smart patrol YP di Kawasan Hutan Desa Pemangkat berhasil merekam Kucing marmer (marbled cat). Kucing marmer dalam Bahasa latin disebut Pardofelis marmorata.

Kucing Marmer adalah kucing liar dari Asia selatan dan Asia tenggara. Wilayah persebaran kucing hutan ini mulai dari Asia selatan di Nepal dan India, terus ke Asia Tenggara hingga pulau Sumatera dan kalimantan.

Spesies ini pernah dianggap memiliki keturunan pantherine atau “kucing besar” karena warnanya yang mirip macan tutul dan suka memanjat pohon. Analisa genetik telah menunjukkan bahwa kucing marmer berkaitan erat dengan kucing emas asia (asia golden cat) dan kucing teluk (bay cat), yang menyimpang sekitar 9,4 juta tahun yang lalu.

Kucing marmer hampir menyamai ukuran kucing peliharaan, merupakan salah satu yang terkecil dari kucing besar. Ekor sepanjang 45cm digunakan sebagai alat untuk menjaga keseimbangan ketika berburu. Mangsa hewan predator ini terdiri dari tupai, reptil dan burung.

Daftar IUCN Red List menyebutkan, Kucing Marmer masuk dalam daftar terancam punah (Near Threatened/ NT).

Tulisan diolah dari berbagai sumber

Pit-Yayasan Palung