
Orangutan jantan dominan yang diperkirakan berusia 18 tahun itu berhasil diselamatkan dan langsung di translokasi ke Kawasan Taman Nasional Gunung Palung, pada Jumat (26/6/2024) pekan lalu.
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) tersebut diselamatkan dan langsung ditranslokasi oleh BKSDA KALBAR SKW I Ketapang dan didukung oleh para pihak berkat kerjasama (kolaborasi beberapa mitra penggiat konservasi) seperti Yayasan IAR Indonesia (YIARI), Yayasan Palung (YP), Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), dan F&F Saving Nature Together (FFI) serta peran serta masyarakat.
Orangutan yang berhasil diselamatkan tersebut berada di sekitar Desa Riam Berasap Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Selanjutnya, setelah diselamatkan, orangutan tersebut langsung ditranslokasi ke Daun Sandar, Desa Sempurna, Kecamatan Sungai Laur, Ketapang (di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung).
Lokasi tersebut dipilih karena telah dilakukan kajian habitat dan dinyatakan layak secara ekologis dan sosial serta berbatasan dengan sungai besar sebagai batas alam yang jauh dari pemukiman.

Seperti diketahui, orangutan yang diselamatkan tersebut merupakan orangutan yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu karena mengejar salah seorang warga Desa Riam Berasap hingga ke tepi jalan poros Ketapang – Siduk ketika akan melakukan penghalauan kembali ke habitatnya.
Mengutip dari Rilis Instagram Balai KSDA KALBAR, Kepala BKSDA Kalbar, RM. Wiwied Widodo, S.Hut., M.Sc., menyebutkan, “Orangutan merupakan salah satu aset yang dimiliki negara dan secara penuh dilindungi oleh undang-undang. Sudah sepatutnya kita sebagai warga negara ikut serta dalam upaya mendukung perlindungan dan memastikan kelangsungan hidup yang sejahtera di habitat asli maupun habitat alaminya.”

Selanjutnya juga, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Himawan Sasongko, S.Hut., M.Sc., dalam pernyataannya, mengatakan, “Melindungi populasi satwa liar tidak hanya berupa tindakan penyelamatan saja namun juga menyediakan tempat yang layak bagi satwa agar bisa terus melanjutkan kehidupannya dan memberikan manfaat untuk kelangsungan fungsi-fungsi ekologis Kawasan.”

Manager Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa Yayasan Palung, Erik Sulidra, mengatakan, Berharap, orangutan yang diselamatkan dan ditranslokasi tersebut bisa hidup dengan aman dan nyaman di alam liar dan kerjasama antar semua pihak yang berkepentingan terhadap orangutan dapat semakin solid baik itu NGO dan pemerintah, lebih baik lagi dapat melibatkan privat sektor.
Sebelumnya, tulisan ini dimuat di : kompasiana.com, https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/66827f15ed64153054019fc2/satu-individu-orangutan-jantan-berhasil-diselamatkan-dan-ditranslokasi-ke-kawasan-taman-nasional-gunung-palung
Baca juga informasinya di : https://pontianakpost.jawapos.com/metropolis/1464816213/sempat-nyasar-di-jalan-raya-sukadana-satu-individu-orangutan-berhasil-dievakuasi
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Dalam rangka memperingati Hari Hutan Hujan Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni, Yayasan Palung (YP) Bersama Kelompok Muda TABONK (RK-TAJAM dan REBONK) mengadakan Field Trip (kunjungan lapangan) ke Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Lubuk Baji, Taman Nasional Gunung Palung, Kamis – Sabtu (20-22/6/2024).
Mengapa kita memperingati Hari Hutan Hujan Sedunia? Hutan Hujan menjadi begitu penting bagi tatanan kehidupan makhluk yang mendiami bumi ini, karena hutan hujan boleh dikata sebagai penopang (penyokong hidup masyarakat yang hidup di sekitar hutan) atau pun juga bagi semua makhluk hidup.
Sebagai ciri khasnya, hutan hujan memiliki pepohonan yang menjulang tinggi dan tingkat curah hujan tinggi. Tidak bisa disangkal, hutan hujan tropis yang sebarannya banyak di Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan hingga Australia ini sebagai ekosistem global karena perannya sebagai rumah ribuan bahkan jutaan ragam tumbuhan dan hewan.
Seperti Indonesia dengan hutan hujan yang dimilikinya, sedikit banyak memberikan banyak manfaat bagi semua nafas kehidupan. Sebagai penyedia dan pemenuhan sumber air yang melimpah, hutan hujan juga sebagai penyedia pakan bagi semua primata, burung dan tentunya juga kita manusia.
Tidak hanya itu, hutan hujan juga memiliki peran utama sebagai penyeimbang iklim dunia. Hutan hujan juga sebagai mega biodiversity karena memberi sumber ilmu pengetahuan bagi para peneliti yang selalu setia mempelajarinya.
Adanya hutan hujan memberi berjuta manfaat bagi semua ragam kehidupan. Sebaliknya, apabila hutan hujan hilang maka akan berdampak buruk bagi sebagian besar makhluk hidup.
Adapun serangkaian kegiatan field trip tersebut diisi dengan beberapa materi konservasi diantaranya adalah praktek pengenalan ciri khas hutan hujan tropis, pengamatan tumbuhan dan hewan, simulasi survey satwa liar dan pengenalan Taman Nasional Gunung Palung.
Sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Simon Tampubolon dari Yayasan Palung, Wahyudin dari Taman Nasional Gunung Palung dan Wawan Anggriyandi dari anggota senior REBONK.
Simon Tampubolon selaku Koordinator Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung di Kayong Utara, mengatakan, beberapa peserta berhalangan mengikuti kegiatan ini karena ada kendala. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat kami. Dengan kegiatan ini kami berharap dapat membuka wawasan kelompok muda ini untuk lebih memahami bagaimana hutan hujan berpengaruh penting bagi keberlangsungan makhluk hidup. Kelak di masa depan mereka menjadi orang-orang yang peduli dengan lingkungan.
YP mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak TANAGUPA karena telah memberikan izin untuk melakukan kegiatan field trip di Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Lubuk Baji, Taman Nasional Gunung Palung,
Kegiatan field trip tersebut diikuti oleh 7 orang peserta, 6 orang pendamping dari Yayasan Palung dan dua orang pendamping dari pihak TANAGUPA.
Sebagai informasi, TABONK adalah gabungan Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK).

Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta yang mengikuti kegiatan fieldtrip tersebut.
Tulisan ini dimuat juga di : https://pontianak.tribunnews.com/2024/06/28/memperingati-hari-hutan-hujan-sedunia-yayasan-palung-bersama-tabonk-field-trip-ke-odtwa-lubuk-baji?utm_source=headline
Tulisan ini juga dimuat di : https://kalbar.antaranews.com/berita/584169/kaum-muda-di-kalbar-mendapat-edukasi-pentingnya-hutan-hujan
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sebagai langkah awal untuk antisipasi kebakaran hutan dan Lahan, Yayasan Palung (YP) menyerahkan alat pemadam kebakaran dan perlengkapan kepada Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Kantor Desa Lubuk Batu, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Selanjutnya dilakukan Pemasangan Plang Nama Hutan Desa di Desa tersebut, pada Rabu (5/6/2024).
Adapun Mesin dan perlengkapan tersebut langsung diserahkan kepada bapak Ibnu, ketua LPHD Lubuk Batu Betuah.
Penyerahan alat pemadam kebakaran disaksikan langsung oleh staf desa, anggota LPHD dan Brigade perwakilan dari UPT KPH Wilayah Kayong.
Ibnu, selaku ketua LPHD mengucapkan terima kasih kepada YP yang telah sudi memberikan bantuan tersebut. Perlengkapan pemadam kebakaran yang diserahkan oleh YP akan dijaga dan dirawat sebagaimana mestinya. Selain itu, alat pemadam kebakaran akan digunakan dan dimanfaatkan sesuai dengan arahan yang telah diberikan.
Desi Kurniawati, Manager HRD & Comdev Yayasan Palung pada kesempatan tersebut menyampaikan kepada ketua LPHD beserta Staf Desa bahwa mesin ini merupakan tanggung jawab LPHD namun tetap dalam pengawasan pemerintah Desa.
Hendri Gunawan, Koordinator Program Hutan Desa Yayasan Palung, menambahkan, mesin ini digunakan secara khusus untuk memadamkan api ketika terjadi kebakaran, dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi seperti menyiram tanaman di kebun. Hendri melanjutkan bahwa mesin bisa digunakan untuk kepentingan umum, misalnya dalam kasus orang meninggal dunia.
Pemasangan Plang Nama Hutan Desa
Setelah kegiatan penyerahan alat pemadam kebakaran dan perlengkapannya selesai dilakukan, pada pukul 11.00 WIB kegiatan dilanjutkan dengan melakukan pemasangan plang nama Hutan Desa.

Pemasangan plang nama hutan desa dilakukan oleh Perwakilan UPT KPH Wilayah Kayong, beberapa Staf Desa dan LPHD Lubuk Batu, serta Yayasan Palung.
Pemasangan plang nama dilakukan pada Lokasi yang sudah tentukan. Ada dua titik Lokasi pemasangan plang yang dipasang tepat diperbatasan antara Kawasan Hutan Desa dan PT. Jalin Vaneo.
Tantangan yang dihadapi oleh tim ketika memasang plang nama Hutan Desa adalah sulitnya menemukan akses yang bisa dilewati oleh mobil. Namun berkat Kerjasama tim, kegiatan berjalan dengan lancar.
Penulis : Hendri dan Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung (YP) adakan kegiatan Pembekalan dan Seremonial Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau dikenal dengan WBOCS (West Bornean Orangutan Caring Scholarship) di gedung pertemuan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Pada sesi pertama pada tanggal 19 juni 2024 kegiatan diawali dengan kegiatan pembekalan WBOCS dari angkatan 2021 hingga 2024 dan selanjutnya kegiatan Seremonial Penerima Beasiswa WBOCS Tahun 2024. Kegiatan dilaksanakan, pada Rabu hingga Kamis (19-20/6/2024).
Kegiatan Pembekalan WBOCS
Pada hari pertama kegiatan, Rabu (19/6/2024), kegiatan yang dilakukan adalah Kegiatan Pembekalan WBOCS.
Dalam kesempatan tersebut, beberapa materi pembekalan disampaikan, diantaranya adalah; materi tentang pengenalan Yayasan Palung yang disampaikan oleh Widiya Octa Selfiany, selaku manager Pendidikan Lingkungan. Widiya menjelaskan tentang Yayasan Palung yang merupakan lembaga non profit yang bergerak dibidang konservasi terutama konservasi terhadap Orangutan beserta habitatnya. Selain itu, ia juga menjelaskan program-program apa saja yang ada di Yayasan Palung baik di Riset maupun dikonservasi. Setelah ia selesai menyampaikan materi tentang pengenalan Yayasan Palung, materi dilanjutkan dengan Pengenalan Program Beasiswa WBOCS.
Adapun materi Pembekalan tersebut antara lain menjelaskan tentang sejarah awal adanya beasiswa WBOCS, mahasiswa yang sudah tergabung di WBOCS dan menampilkan data lulusan WBOCS dari tahun 2012-2024.
Pada kesempatan tersebut, Widiya menjelaskan proses rekrutmen beasiswa ini berjalan dari proses seleksi berkas hingga proses wawancara. Selain mendapatkan dua materi tersebut, para peserta kegiatan juga mendapatkan materi tentang bagaimana membuat pelaporan perkembangan mahasiswa yang di sampaikan oleh Riduwan Field Officer Pendidikan Lingkungan. ia menjelaskan bahwa ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para penerima WBOCS seperti perkembangan IPK, peningkatan kapasitas diri, dan beberapa hak dan kewajiban lainnya.
Selanjutnya, peserta juga mendapatkan materi tentang mengenal Orangutan dan Mengenal Stasiun Riset Cabang Panti. Hal ini bertujuan agar para penerima beasiswa sedikit banyak mengetahui satwa Orangutan dan Stasiun Riset Cabang Panti dan diharapkan kedepan materi tersebut bisa dijadikan gambaran dalam memilih judul penulisan skripsi. Tidak lupa diakhir pertemuan para peserta membuat rencana tindak lanjut kegiatan WBOCS dari bulan Juli sampai Desember 2024.
Kegiatan Serimonial WBOCS
Pada sesi kedua, tepatnya pada hari Kamis (20/6/2024), kegiatan dilanjutkan dengan seremonial penerima beasiswa WBOCS tahun 2024.
Adapun enam (6) orang penerima beasiswa tersebut diantaranya adalah; Dery Zakaria dari SMAN 01 Seponti, Khairi Muhajir dari SMAN 01 Sukadana, Aditya Saputra dari SMAN 01 Sukadana, Yurdania Oktavia dari SMAN 01 Ketapang, M. Farel Yassyid Maulana dari MAN 01 Ketapang, dan Triana Vidya Ningrum dari SMA Muhammadiyah Ketapang.
Enam penerima beasiswa tersebut berstatus sebagai mahasiswa jurusan Kehutanan Universitas Tanjungpura melalui jalur prestasi atau Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) tahun 2024.
Dalam acara seremonial WBOCS tersebut dihadiri oleh Bapak Dr. Gary Shapiro, selaku Presiden OURF, Dekan Fakultas Kehutanan Ibu Dr. Farah Diba, S.Hut, M.Si, IPU, dan Bapak Edi Rahman, S. Sos., selaku Field Director Yayasan Palung.
Orangtua penerima WBOCS dan beberapa tamu undangan lainnya ikut hadir dalam acara tersebut. Pada sesi seremonial itu, ada beberapa kata sambutan yang disampaikan, dari Dekan Fakultas Kehutanan misalnya, Ibu Dr. Ir. Farah Diba, S.Hut, M.Si, IPU, menjelaskan bahwa beliau sangat berterima kasih kepada OURF dan Yayasan Palung yang telah memberikan beasiswa ini kepada mahasiswanya, beliau berharap program beasiswa ini tetap berlanjut dan dapat memberikan manfaat kepada generasi muda dimasa yang akan datang. Dr. Gary Shapiro juga memberikan materi tentang program beasiswa tersebut.
Dr. Gary Shapiro, menjelaskan dari mana asal sumber dana beasiswa, awal mulanya beasiswa ini dirintis, menampilkan data jumlah penerima beasiswa baik yang di Sumatra maupun Kalimantan serta menampilkan data alumni penerima beasiswa. Beliau juga berpesan kepada para penerima WBOCS tahun 2024 agar belajar yang rajin dan menyelesaikan masa studi tepat waktu. Selain itu para penerima beasiswa WBOCS 2024 juga menandatangani surat kesepakatan bersama yang didalamnya juga terlibat presiden OURF, Direktur Yayasan Palung dan juga Dekan Fakultas Kehutanan. Terakhir kegiatan diisi dengan sesi foto bersama semua tamu undangan.
Foto-foto kegiatan :
Program beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) pada tahun 2024 telah memasuki tahun ke -12.
Sejak 2012 Yayasan Palung (YP) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama menyediakan beasiswa program S1 melalui Program Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship).
Selanjutnya, pada tahun 2022, Yayasan Palung (YP), Universitas Tanjungpura (UNTAN) dan Orangutan Republik Foundation (OURF) bekerjasama terkait program WBOCS ini.
Penulis : Riduwan-Yayasan Palung

Senin (17/6/2024) kemarin, Yayasan Palung (YP) menerima dan menyambut tamu istimewa dari The Climate and Land Use Alliance (CLUA) atau Aliansi Perubahan Iklim dan Tata Guna Lahan.
Dalam kunjungannya di Kantor YP di Bentangor Education Center, Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, tujuh orang dari CLUA berkesempatan untuk berdiskusi dan melihat program (Kegiatan) yang Dilakukan oleh Yayasan Palung.
Setelah berdiskusi, teman-teman dari CLUA juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Galeri Bentangor untuk melihat produk-produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari kelompok perajin binaan Yayasan Palung.
Beberapa dari mereka pun telihat senang melihat produk-produk yang dipajang di etalase Galeri Bentangor. Tidak hanya melihat, tetapi mereka juga membeli produk dari hasil hutan bukan kayu tersebut seperti; kipas tangan dari bahan pandan, alas cangkir dari pandan, alas makan dari pandan. Beberapa diantara mereka juga membeli sandal dari bahan pandan, dan gantungan kunci dari pandan. Selain itu, mereka juga membeli karung cabang (gantungan ayunan bayi) dan dompet dari pandan. Di Galeri Ida Craft, mereka membeli tas leptop yang terbuat dari pandan.
Selanjutnya, teman-teman dari CLUA berkunjung ke salah satu Galeri milik perajin, yaitu Galeri Ida Craft. Mereka pun membeli beberapa kipas tangan yang dianyam/terbuat dari pandan.
Produk-produk hhbk ini merupakan hasil dari kreasi tangan-tangan terampil para perajin dari kelompok binaan Yayasan Palung yang ada di Kabupaten Kayong Utara.
Foto-foto :
Beberapa produk kerajinan hhbk tersebut adalah seperti tikar pandan, lekar, bakul, tanjak, kipas dan beberapa anyaman yang dapat digunakan sebagai aksesoris. Produk-produk hhbk ini bisa didapatkan dengan harga yang terjangkau di galeri ini.
Selain itu, di galeri ini juga tersedia berbagai macam panganan lokal seperti keripik singkong, keripik keladi, masekat yang bahan bakunya dari kelapa, kripik pisang. Yuk bagi berminat kunjungi Galeri HHBK Yayasan Palung. (Pit-YP).

Walaupun Hari Lingkungan Hidup Sedunia telah lewat beberapa hari lalu, tetapi tidak menyurutkan semangat dan niat dari teman-teman untuk merayakannya.
Seperti misalnya yang dilakukan oleh Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan di Kayong Utara, Selasa (11/6/2024) di SD Negeri 19 Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara.
Dalam kesempatan tersebut, YP mengajak adik-adik dari Kelompok Belajar Anak Bentangor Kids di SD Negeri 19 Pampang Harapan untuk memanfaatkan sampah kertas menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Kegiatan tersebut menjadi momen berharga sekaligus mengedukasi dan meningkatkan kreativitas adik-adik untuk memanfaatkan sampul buku tulis bekas menjadi bingkai foto.
Seperti terlihat, adik-adik sangat antusias untuk membuat, merangkai dan menempelkan satu persatu sampul buku yang telah mereka gulung kecil-kecil selanjutnya dirangkai menjadi bingkai foto yang cantik dan menarik.
Pada kesempatan tersebut, adik-adik dari Kelompok Belajar Anak Bentangor Kids berhasil membuat empat bingkai yang sangat menarik.
Sebelumnya, mereka juga diberikan materi tentang pengenalan lingkungan hidup, permasalahan lingkungan saat ini dan cara-cara kecil apa saja yang bisa dilakukan untuk menjaga lingkungan hidup.
Simon Tampubolon, selaku Koordinator Pendidikan Lingkungan di Kayong Utara, mengatakan, kegiatan pengolahan barang bekas ini mungkin terlihat biasa saja dan produk yang dihasilkan juga tidak begitu bernilai tinggi. Tapi edukasi seperti ini sangat penting bagi anak-anak untuk menciptakan kreativitas serta kepedulian mereka untuk lebih mencintai dan menjaga lingkungan sekitar mereka.
Adapun adik-adik peserta dalam kegiatan tersebut berjumlah 19 anak yang juga merupakan siswa di SD Negeri 19 Pampang Harapan.
Galeri foto kegiatan :
Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung
Kelompok muda Yayasan Palung (YP) yaitu REBONK ikut ambil bagian mendampingi dalam serangkaian kegiatan tersebut diantaranya adalah Wawan Roney, Rabania dan Mira Tirtayani.
Berharap, adik-adik dari Kelompok Belajar Anak Bentangor Kids di SDN 19 Pampang Harapan semakin tumbuh semangat untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.
Tulisan ini sebelumnya juga telah dimuat di Tribun Pontianak : https://pontianak.tribunnews.com/2024/06/13/peringati-hari-lingkungan-hidup-sedunia-yayasan-palung-ajak-siswa-sd-manfaatkan-sampah-kertas?utm_source=headline
Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Yuk simak cerita hutan 🌲 dan orangutan🦧 berikut ini
Semoga bermanfaat
Salam konservasi
Ide & Ilustrasi cerita : Pit-YP

Ada hutan maka ada orangutan. Rimbunnya tajuk-tajuk pepohonan (hutan) tidak bisa disangkal karena tidak sedikit memberi manfaat bagi semua napas makhluk hidup di bumi ini, lebih khusus orangutan yang hidup dan mendiami hutan hujan Kalimantan dan Sumatra.
Rimbunnya hutan bersama nyanyian paduan suara para satwa pun menjadi tanda nyata; bahwa hutan dan orangutan memiliki korelasi yang sejatinya harus harmoni sampai selamanya.
Orangutan pun jika boleh dikata merupakan primata harapan. Ya, primata harapan karena orangutan memiliki tidak sedikit peran di habitatnya yang tidak lain adalah sebagai petani hutan yang tanpa lelah dan tidak pamrih menanam di hutan hujan sampai kapan pun selagi ia masih ada.
Selain itu, orangutan yang merupakan Primata atau satwa yang sangat dilindungi itu memiliki peranan penting di hutan karena ia sebagai penyeimbang ekosistem atau dengan kata lain sebagai spesies kunci.
Hutan dan orangutan menjadi satu kesatuan yang sulit (ter/di)pisahkan (ada hutan maka ada orangutan). Peran penting hutan bagi sebagian besar makhluk hidup sudah dikaruniai oleh Sang Pencipta karena titipan bukan warisan yang begitu berharga untuk kita rawat dan jaga.
Hilangnya hutan maka mencerminkan akan berimbas kepada nasib sebagian besar makhluk hidup, tidak tercuali orangutan sebagai petani hutan.
Sebaliknya, apabila primata yang terancam punah itu masih boleh hidup bebas di alam liar, maka ia masih bisa menyemai biji-bijian dari sisa-sisa yang ia makan dan nantinya biji-bijian tersebut akan perlahan-lahan tumbuh menjadi tunas-tunas baru (pohon-pohon baru) yang menjulang tinggi.
Tersedianya tajuk-tajuk pepoponan sudah barang tentu menjadi rumah yang nyaman bagi orangutan dan satwa lainnya, tidak terkecuali kita manusia.
Hutan menyediakan pakan hingga hewan/satwa/primata beroleh makanan yang melimpah tanpa susah. Demikian juga, tersedianya hutan hujan sebagai penyedia penampung air bersih yang bersih alami, juga sebagai pencegah dari berbagai bencana karena ulah tangan-tangan manusia.
Riang gembira suara satwa kini jarang terdengar dan menjelma menjadi sunyi senyap karena tajuk-tajuk yang berdiri kokoh sudah semakin terjerembab rebah tak berdaya karena ulah tangan-tangan tak terlihat.
Bayangkan apa jadinya apabila hutan tidak ada di muka bumi ini? Tidak bisa disangkal, sebagian besar makhluk hidup mendiami bumi ini sangat sulit untuk bertahan hidup atau bahkan bisa punah. Tidak hanya itu, ketika di bumi tidak ada hutan (tajuk-tajuk pepohonan) maka sudah pasti bumi terasa sangat panas sekali dan gersang hingga manusia sudah pasti gerah.
Realita nyata kini pun sudah sangat terasa, tajuk-tajuk sudah semakin sedikit yang mampu berdiri kokoh dan menopang napas kehidupan makhluk hidup yang mendiami hutan belantara.
Bumi semakin panas, cuaca sudah semakin sulit diprediksi oleh kita manusia, para nelayan semakin sulit mencari ikan dan petani pun semakin merugi karena anomali cuaca.
Tidak hanya itu, apabila musim kemarau tiba, tidak jarang sumber air semakin sulit dijumpai. Mata air seolah sama seperti air mata yang menangis ratapan karena sulitnya menemukan mata air sebab hutan hujan sudah semakin sulit ditemukan.
Demikian juga apabila musim hujan tiba, air meluas bebas hingga kita sulit beraktivitas leluasa seperti sediakala.
Satu harapan, kiranya hutan hujan yang tersisa ini masih boleh berdiri kokoh hingga selamanya. Mengingat, napas-nafas sebagian besar makhluk hidup tidak terkecuali orangutan dan manusia bergantung satu sama lainnya. Biarkan ia (hutan dan orangutan) tetap harmoni sampai selama-selamanya.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung
Orangutan ibu dan anak terekam kamera perangkap di Hutan Desa Nipah Kuning. Video 🎥 Tim Hutan Desa Yayasan Palung
Beberapa waktu lalu, Tim Smart Patrol Hutan Desa Yayasan Palung (YP) melakukan pengecekan alat berupa kamera trap yang dipasang di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning.
Menarik dan beruntungnya, kamera trap (kamera perangkap) yang dipasang di Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning tersebut berhasil merekam dua Individu orangutan ibu dan anak yang sedang melintas.
Video 🎥 Tim Hutan Desa Yayasan Palung
————————————-
Pengelolaan Kawasan Hutan Desa Nipah Kuning dibina oleh KPH Wilayah Kayong, dan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP) sebagai Lembaga pendamping.
Tim Survei dari Yayasan Palung (YP) melakukan survei biodiversitas, pada 22-27 April 2024 di Kawasan Hutan Desa Padu Banjar, Kabupten Kayong Utara.
Saat melakukan survei, tim survei biodiversitas harus melewati berbagai rintangan seperti hujan dan melewati gambut dalam, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka.
Menariknya, tim survei biodiversitas ketika melakukan survei berhasil berjumpa dengan puluhan sarang orangutan.
Video : Erik Sulidra
#survei #surveibiodiversitas #biodiversitas #orangutan #sarangorangutan #hutandesa #padubanjar #kayongutara #yayasanpalung #fyp #fypviral