YP Mengadakan Pelatihan Agroforestri Berbasis Lahan Gambut Serta Penerapan Di Dalam Bidang Pertanian

Foto bersama dengan para peserta yang mengikuti kegiatan. (Foto: Edi Rahman/Yayasan Palung).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Hutan Desa mengadakan Pelatihan Agroforestri Berbasis Lahan Gambut Serta Penerapan Di Dalam Bidang Pertanian, pada Selasa (19/11/2024) di Gedung Serba Guna, Desa Nipah Kuning, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.30 WIB tersebut, dibuka langsung oleh Edi Rahman, Field Direktur Yayasan Palung.

Yayasan Palung bekerja di beberapa wilayah kecamatan Simpang Hilir melalui inisiasi hutan desa serta pemberdayaan masyarakat melalui sustanainble livelihood dengan mengembangkan mata pencaharian secara berkelanjut. Namun di ketahui sebagian besar wilayah yang menjadi fokus kerja Yayasan Palung adalah lahan gambut yang diketahui memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat terutama masyarakat di sekitarnya.

Edi Rahman, selaku Field Direktur Yayasan Palung, mengatakan, Secara prinsip, lahan gambut yang secara alami merupakan lahan basah, harus dipertahankan agar tetap basah. Oleh karena itu, apabila akan memanfaatkan lahan gambut untuk budi daya, maka metode tanpa melakukan pengeringan menjadi salah satu syarat wajib dalam pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Selain itu, kegiatan pemanfaatan lahan gambut untuk budi daya harus dilakukan pada wilayah yang memang diperuntukkan sebagai lahan budi daya dan bukan pada lahan gambut dalam. Lahan gambut yang dikenal sebagai lahan marginal, idealnya memang tidak ditujukan untuk kegiatan bercocok tanam. Akan tetapi, karena terbatasnya lahan produktif dan tingginya kebutuhan hidup masyarakat di wilayah gambut dan sekitarnya, sebagian kawasan gambut dimanfaatkan sebagai lahan budi daya. Hanya saja, permasalahan muncul ketika kegiatan budi daya dilakukan tidak sesuai dengan kaidah pengelolaan gambut berkelanjutan, yang kemudian berkontribusi terhadap rusaknya lahan gambut.

Lebih lanjut, Edi Rahman, mengatakan, Agroforestri adalah salah satu sistem pengelolaan lahan yang mungkin dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah yang timbul akibat adanya alih-guna lahan tersebut di atas dan sekaligus juga untuk mengatasi masalah pangan.

Seperti diketahui, Agroforestri sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian dan kehutanan, berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan system agroforestri yang telah dipraktekkan petani sejak dulu kala. Secara sederhana, agroforestri berarti menanam pepohonan di lahan pertanian, dan harus diingat bahwa petani atau masyarakat adalah elemen pokoknya (subyek). Dengan demikian kajian agroforestri tidak hanya terfokus pada masalah teknik dan biofisik saja tetapi juga masalah sosial, ekonomi dan budaya yang selalu berubah dari waktu ke waktu, sehingga agroforestri merupakan cabang ilmu yang dinamis.

Selanjutnya juga, agroforestri dengan penerapan metode Paludikultur merupakan metode budi daya tanaman dengan memilih jenis-jenis tanaman yang dapat tumbuh baik pada lahan basah yang dapat direkomendasikan untuk dipraktikkan di lahan gambut. Praktik paludikultur dapat dikombinasikan dengan sistem agroforestri atau pengembangan multi jenis tanaman yang terdiri dari pohon kehutanan dan tanaman semusim untuk mengoptimalkan fungsi produksi pada saat melakukan budi daya, dan sekaligus mendukung upaya perlindungan lahan gambut.

Pengembangan multi jenis tanaman dalam satu hamparan akan dapat meminimalkan potensi kegagalan dibandingkan dengan penanaman satu jenis (monokultur). Terlebih lagi, kombinasi antara tanaman semusim dan pohon dinilai dapat memberikan sumber penghasilan untuk jangka pendek maupun sebagai investasi untuk dapat memberikan penghasilan dalam jangka panjang. Beranjak dari hal tersebut diatas, maka Yayasan Palung merencanakan mengadakan kegiatan workshop kepada petani di beberapa desa di wilayah kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara.

Adapun tujuan dari kegiatan ini antara lain; Pertama, Peserta dapat mengenalan Sistem Agroforestri dan Penerapannya dalam sehingga para peserta terutama petani dapat mengenal dan mempelajari konsep agroforestri serta manfaatnya dalam pertanian.

Kedua, Melalui kegiatan worshop ini, diharapkan para petani dapat memanfaatkan potensi lahan pertanian mereka dengan lebih efisien, meningkatkan produktivitas, dan menerapkan praktik pertanian yang ramah lingkungan.

Selanjutnya, Masyarakat sekitar wilayah hutan desa dapat memperoleh penghasilan tambahan melalui penerapan agroforestri dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti sayuran, kopi, kakao, dan tanaman obat-obatan yang bisa tanam untuk menambah penghasilan masyarakat.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 24 orang yang berasal dari perwakilan dari beberapa desa seperti dari; Desa Rantau Panjang, Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning dan Desa Padu Banjar.

Adapun sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut adalah; Rafael Siki, dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kayong Utara. Pada kesempatan tersebut, Rafael menyampaikan materi; Penerapan Teknologi Budidaya Hortikultura Spesifik Lahan Gambut untuk Meningkatkan Pendapatan dan Kesejahteraan Masyarakat di wilayah Kecamatan Simpang Hilir.

Bapak Rafael saat menyampaikan materi presentasi dalam kegiatan Agroforestri Berbasis Lahan Gambut Serta Penerapan Di Dalam Bidang Pertanian, pada Selasa (19/11/2024). (Foto dok. Edi Rahman/YP).
Widiya saat menyampaikan presentasi dalam kegiatan Agroforestri Berbasis Lahan Gambut Serta Penerapan Di Dalam Bidang Pertanian, pada Selasa (19/11/2024). (Foto dok. Widiya/YP).

Materi selanjutnya disampaikan oleh Widiya Octa Selfiany (Manejer Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung), yang pada sempatan tersebut menyampaikan materi; Potensi Pengembangan tanaman Multy Purpuse Tree Species di Lahan Gambut untuk Meningkatkan Pendapatan dan Kesejahteraan Masyarakat di wilayah Kecamatan Simpang Hilir.

Rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta yang hadir.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

YP Adakan Pelatihan Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan di Simpang Hilir

Peserta yang mengikuti Pelatihan Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan di Simpang Hilir. (Foto dok. Edi Rahman/Yayasan Palung).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Hutan Desa mengadakan Pelatihan Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan, pada Senin hingga Selasa 18 November 2024 hingga Selasa 19 November 2024 di Gedung Pertemuan Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Pada kesempatan tersebut, kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri langsung oleh Field Direktur Yayasan Palung, Edi Rahman, sekaligus memberikan kata sambutan.

Dilanjutkan kata sambutan yang disampaikan oleh ibu Euis Herawati, S.Hut., M.Hut., selaku Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong dan Sekaligus Membuka Kegiatan Pelatihan.

Seperti diketahui, Kecamatan Simpang Hilir setiap tahun terutama pada musim kemarau tidak terlepas dari kebakaran hutan dan lahan terutama di beberapa desa yang menjadi dampingan Yayasan Palung yang secara alami berekosistem gambut baik di sekitar Landskap Hutan Lindung Gambut (HLG) Sungai Paduan dan landkap Hutan Produksi Sungai Purang. Kebakaran hutan dan lahan ini tidak terlepas dari prilaku beberapa oknum masyarakat yang melakukan pembakaran lahan untuk pertanian maupun perkebunan, akibatnya api tidak bisa terkendali sehingga kebakaran meluas ke perkebunan masyarakat yang telah memiliki tanaman bahkan mengancam Kawasan Hutan di Hutan Lindung Gambut (HLG) Sungai Paduan dan landkap Hutan Produksi Sungai Purang yang saat ini telah ditetapkan sebagai hutan desa.

Pada setiap pembakaran terutama lahan gambut akan menyebabkan musnahnya tanah gambut setebal 20 – 30 cm sehingga akan menyebabkan hilangnya gambut. Belum lagi dampak sosial, budaya, ekonomi (Hilangnya mata pencaharian masyarakat di sekitar hutan, terganggunya aktivitas manusia, munculnya hama baru, Infeksi saluran pernafasan (ISPA) dan lain-lain), Dampak ekologi dan lingkungan (Hilangnya sejumlah spesies, perubahan fungsi pemanfaatan dan peruntukan lahan, Perubahan kualitas dan kuantitas air), dampak hubungan internasional (Akibat pembakaran hutan dan lahan menimbulkan asap yang dapat membuat protes negara sahabat) serta berbagai dampak lainnya.

Video Pelatihan Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan di Simpang Hilir. (Foto dok. Edi Rahman/Yayasan Palung).

Yayasan Palung mengadakan pelatihan pelatihan pemadaman kebakaran hutan dan lahan bagi kelompok-kelompok di tingkat tapak terutama di beberapa desa yang menjadi wilayah dampingan Yayasan Palung.

Adapun Maksud dan Tujuan dari kegiatan ini antara lain; Pertama, Memberikan pemahaman dan pengetahuan terkait dengan asal kebakaran, memperkenalkan instrumen-instrumen pemadam kebakaran untuk api kecil dan api besar dan bagaimana penggunaannya, dan mampu membentuk tim tanggap darurat pemadam kebakaran.  Kedua, Dengan pelatihan ini juga diharapkan terbentukan tim brigade di tingkat desa yang diharapkan menjadi ujung tombak dalam melakukan kampanye secara massif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan terutama di desa masing-masing, mempermudah rentang koordinasi Ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan. Selanjutnya, dengan diadakan pelatihan ini diharapkan adanya keluaran Standar Operasional Prosedure (SOP) dalam pecegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

Setidaknya, ada 22 orang peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan tersebut terdiri dari; 2 orang anggota Polisi Sektor (Polsek) Kecamatan Simpang Hilir, 2 orang anggota Komandan Rayon Militer (Koramil) Kecamatan Simpang Hilir, 2 orang anggota Brigade Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kayong (Brigade Desa Nipah Kuning dan Brigade Desa Pemangkat), 4 orang Tim patroli Hutan desa Nipah Kuning, 4 orang tim patroli Hutan Desa Pemangkat, 4 orang Masayarakat Peduli Api (MPA) Desa Nipah Kuning dan 4 orang Masayarakat Peduli Api (MPA) Desa Nipah Kuning.

Edi Rahman, Field Direktur Yayasan Palung, mengatakan, Kegiatan ini sebagai penguatan kerjasama dan sinergisitas, YP, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), MPA, Brigade KPH Kayong, TNI dan POLRI dalam rangka pencegahan, Pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Selama dua hari berkegiatan, peserta yang mengikuti pelatihan dibekali dengan beberapa materi terkait pelatihan dan juga melakukan praktek.

Foto bersama. (Foto dok. Mahendra/YP).

Adapun Fasilitator dalam kegiatan ini adalah dari Manggala Agni Kabupaten Ketapang dan dari Yayasan Palung.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan perlengkapan kebakaran hutan dan lahan kepada LPHD Pemangkat oleh Kepala KPH Kayong.

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Peduli Pada Nasib Bumi, Tanam Pohon dan Baksos serta Membuat Kerajinan dari Sampah Plastik

Melakukan penanaman pohon dan baksos serta Membuat Kerajinan dari Sampah Plastik. (Foto dok. Widiya/YP).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi melakukan beberapa kegiatan sekaligus pada, Minggu (17/11/2024). Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Pekan Peduli Orangutan dan menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, pada kesempatan tersebut, YP mengajak Kelompok Edukasi “Kembang Desa” Rantau Panjang, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Adapun kegiatan pertama yang dilakukan antara lain adalah; Penanaman Pohon dan Aksi Bersih-Bersih Kelompok Edukasi “Kembang Desa” Rantau Panjang.

Widiya Octa Selfiany, Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung, mengatakan, “Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta mendukung pelestarian habitat orangutan yang semakin terancam. Dengan semangat kebersamaan, anggota kelompok bersama masyarakat desa menanam 50 bibit pohon di area yang strategis untuk penghijauan.”

Lebih lanjut, Widiya, sapaan akrabnya mengatakan, Dengan langkah kecil namun penuh makna, Kelompok Edukasi “Kembang Desa” terus berkomitmen untuk menjaga lingkungan dan menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menciptakan harmoni antara manusia dan alam.

Setelah kegiatan penaman pohon selesai dilakukan, selanjutnya, Program Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung melanjutkan kegiatan Peningkatan Kapasitas bagi Kelompok Edukasi “Kembang Desa” Rantau Panjang. Pada kesempatan itu, Ibu-ibu dari Kelompok Edukasi “Kembang Desa” dengan membuat Kerajinan dari Sampah Plastik.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan anggota dalam mengolah sampah plastik menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi dampak buruk limbah plastik terhadap lingkungan. Dengan semangat peduli terhadap orangutan dan habitatnya, para peserta diajak untuk menjadikan kreativitas sebagai salah satu cara menjaga keseimbangan ekosistem sekitar.

Dalam pelatihan ini, para anggota kelompok belajar secara langsung dengan Ibu Saparida sebagai trainer dalam membuat berbagai produk, seperti soevenir dan tempat permen, menggunakan teknik daur ulang. Selain melatih keterampilan teknis, kegiatan ini juga memberikan edukasi terkait pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

Pada kesempatan tersebut, ibu Havizah Rahmianti, mengatakan, “Kegiatan ini tidak hanya sebagai bentuk peringatan Hari Pekan Peduli Orangutan, tetapi juga sebagai wujud nyata kepedulian kami terhadap lingkungan. Kami ingin menjadi bagian dari solusi dalam mengatasi masalah sampah plastik.”

Kegiatan yang dilakukan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar, yang berharap langkah-langkah seperti ini dapat terus dikembangkan untuk menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui produk kreatif berbasis daur ulang.

Dengan semangat yang terus menyala, Kelompok Edukasi “Kembang Desa” berkomitmen untuk terus berinovasi dan menginspirasi masyarakat dalam menjaga kelestarian alam demi masa depan yang lebih baik.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di: https://pontianak.tribunnews.com/2024/11/18/peduli-pada-nasib-bumi-yp-lakukan-tanam-pohon-baksos-serta-membuat-kerajinan-dari-sampah-plastik

Foto kegiatan dok. Widiya dan Riduwan-Yayasan Palung

Penulis: Petrus Kanisius dan Widiya Selfiany -Yayasan Palung

Ini semua Rangkaian Kegiatan yang YP Lakukan dalam Rangka Pekan Peduli Orangutan 2024

PPO 2024. (Foto dokumen: Simon Tampubolon/YP).

Pekan Peduli Orangutan (PPO) merupakan salah satu kegiatan spesial event setiap tahunnya dilakukan oleh Yayasan Palung (YP).

Kegiatan Pekan Peduli Orangutan juga sebagai salah satu bentuk kepedulian kepada nasib satwa (primata) yang sangat dilindungi dan terancam punah yaitu orangutan.

Setiap tahunnya kegiatan PPO dilaksanakan pada awal atau medio November selama sepekan.

Tema PPO tahun ini adalah Orangutans leading the way atau “Orangutan Memimpin Jalan: Satu Planet, Satu Masa Depan”.

Kegiatan PPO 2024 pun telah dilakukan oleh Yayasan Palung dengan serangkaian seperti;

Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung (YP) misalanya, melakukan serangkaian kegiatan Ekspedisi mini dalam rangka PPO 2024 dengan beberapa kegiatan di beberapa sekolah yang ada di Desa Matan Jaya, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada tanggal November 11 hingga 14 November 2024.

Baca selengkapnya di: https://pontianak.tribunnews.com/2024/11/08/pekan-peduli-orangutan-2024-ini-rangkaian-kegiatan-yang-yayasan-palung-lakukan

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/672c43d034777c14d50b46a2/pekan-peduli-orangutan-2024-ini-rangkaian-kegiatan-yang-yayasan-palung-lakukan

Di SDN 31 Seringgit, dalam rangka PPO 2024, YP mengadakan lomba menggambar, mewarnai dan test pengetahuan umum tentang lingkungan. Rencananya, kegiatan akan dilaksanakan pada Rabu 13 November 2024.

Selanjutnya melakukan kegiatan yang serupa, yang dilakukan di SDN 17 Matan, pada Kamis 14 November 2024.

Kegiatan lomba menggambar akan diikuti oleh kelas 3 dan 4, lomba mewarnai diikuti oleh kelas 1 dan 2, Test pengetahuan umum tentang lingkungan diikuti oleh kelas 5 dan 6.

Keterangan foto: Kegiatan PPO di sekolah-sekolah di Desa Matan Jaya. (Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

(Video dokumen : Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Dalam serangkaian ekspedisi mini dalam rangka PPO 2024 diadakan pemutaran film lingkungan, beberapa film dokumenter tentang lingkungan dan film-film singkat tentang orangutan.

Keterangan foto: Pemutaran film dalam rangka PPO 2024. Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Sedangkan Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa (PPS) Yayasan Palung mengadakan serangkaian kegiatan Roadshow, yang diadakan di Gedung Serba Guna, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara. Kegiatan tersebut  dilakukan pada 12 November 2024.

Baca selengkapnya di: https://pontianak.tribunnews.com/2024/11/16/yasan-palung-adakan-roadshow-memperkuat-jejaring-penyelamatan-orangutan-di-sekitar-kawasan-tanagupa

Kemudian juga, REBONK membuat pesan kampanye lewat video pendek dalam rangka Memperingati PPO 2024

Dalam rangka Memperingati Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2024, Relawan Bentangor untuk Konservasi (REBONK) Membuat video pendek dengan maksud mengajak, berkampanye melalui media sosial akan pentingnya menjaga dan melestarikan orangutan sebagai satwa yang sangat dilindungi.

Dalam video singkat ini juga, REBONK mengajak kepada kita semua untuk peduli dengan lingkungan sekitar dengan tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu dalam video tersebut juga para relawan

Lihat video di:

membuat pesan-pesan kampanye sebagai pengingat bagi kita bersama, terutama kepada nasib hidup orangutan dan hutan. Di video tersebut pula para relawan berkesempatan menanam pohon.

Selanjutnya, Yayasan Palung (YP) melalui Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi melakukan beberapa kegiatan sekaligus, seperti kegiatan Peduli Pada Nasib Bumi, YP Lakukan Tanam Pohon & Baksos serta Membuat Kerajinan dari Sampah Plastik, pada Minggu 17 November 2024.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memperingati Pekan Peduli Orangutan dan menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, pada kesempatan tersebut, YP mengajak Kelompok Edukasi “Kembang Desa” Rantau Panjang, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Baca selengkapnya di: https://pontianak.tribunnews.com/2024/11/18/peduli-pada-nasib-bumi-yp-lakukan-tanam-pohon-baksos-serta-membuat-kerajinan-dari-sampah-plastik

Selain itu, di Kayong Utara, tim PL YP di Kayong melakukan Talkshow tentang orangutan di Radio Kayong Utara.

Selanjutnya juga, dalam rangka Pekan Peduli Orangutan 2024, Program Hutan Desa Yayasan Palung bersama dengan LPHD Padu Banjar dan LPHD Pemangkat, KPH Kayong, TNI dan POLRI melakukan penanaman pohon untuk merehabilitasi Hutan Desa Padu Banjar, kegiatan tersebut dilaksanakan pada 22 November 2024.

Keterangan foto: Saat melakukan penanaman pohon untuk rehabilitasi di Kawasan Hutan Desa Padu Banjar dalam rangka PPO 2024.

Dalam Rangka PPO, teman-teman WBOCS (West Bornean Orangutan Caring Scholarship) membuat pesan kampanye tentang orangutan.

Berikut ini beberapa pesan kampanye dari teman-teman WBOCS dalam rangka PPO 2024 :

https://www.instagram.com/p/DCx6d37v0nsc8-XkAWQOfIxFhRqpbmj9I0Tfr00

Semua rangkaian kegiatan PPO 2024 berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari para peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

YP Adakan Roadshow Memperkuat Jejaring Penyelamatan Orangutan di Sekitar Kawasan TANAGUPA

Erik Sulidra saat menyampaikan presentasi dalam kegiatan Roadshow Memperkuat Jejaring Penyelamatan Orangutan di Sekitar Kawasan TANAGUPA, pada Selasa (12/11/2024). Foto dok. PPS/Yayasan Palung).

Yayasan Palung (YP) melalui Program Penyelamatan Satwa bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai TANAGUPA) mengadakan kegiatan Roadshow Memperkuat Jejaring Penyelamatan Orangutan di Sekitar Kawasan TANAGUPA, pada Selasa (12/11/2024). Kegiatan tersebut dilaksanakan di desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

YP, dalam kegiatannya membantu Balai TANAGUPA, salah satunya dengan memperkuat jejaring penyelamatan orangutan di sekitar wilayah TANAGUPA. Karena potensi interaksi manusia – orangutan yang besar dari wilayah yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), maka perlu diadakan kegiatan Roadshow ke beberapa daerah yang berbatasan dengan TANAGUPA. Kegiatan ini berupa diskusi masyarakat terkait giat konservasi, yang diadakan pada bulan November. Hal itu bertepatan pula dengan kegiatan khusus (spesial event) Pekan Peduli Orangutan (yang dilaksanakan pada bulan November).

Seperti diketahui, Orangutan merupakan spesies payung yang keberadaannya sudah kritis (CR) menurut IUCN Red List. Spesies ini hidup di hutan-hutan Kalimantan dan Sumatera. Untuk di Kalimantan sendiri, khususnya di Ketapang dan Kayong Utara terdapat beberapa kantong populasi orangutan, diantaranya hutan lindung, kawasan hutan desa, dan TANAGUPA (Taman Nasional Gunung Palung).

Manager Animal and Habitat Protection Yayasan Palung, Erik Sulidra, mengatakan, karena data interaksi manusia-orangutan banyak terjadi di sekitar kawasan TANAGUPA, maka kami rasa perlu untuk menggali informasi dari masyarakat, terkait pengelolaan giat konservasi yang terjadi. Hal ini dilakukan agar ke depannya, semua pihak yang berkepentingan memahami permasalahan di lapangan dan tahu bagaimana menyikapinya.

Kegiatan dibuka langsung sekaligus kata sambutan yang disampaikan oleh Tarmiji, S.E., selaku Kepala Desa Simpang Tiga. Selanjutnya sambutan dari Bastarin, selaku Kepala Desa Riam Berasap Jaya.

Dalam kesempatan tersebut, YP berjejaring dengan mengundang para pihak, seperti beberapa perwakilan seperti masyarakat, perwakilan dari pihak Desa Simpang Tiga dan pihak Desa Riam Berasap Jaya. Pada kesempatan, para pihak berkesempatan memaparkan materi presentasi diantaranya:

  1. Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai TANAGUPA) dengan penyampaian materi presentasi tentang; Taman Nasional Gunung Palung Sebagai Habitat Orangutan,
  2. BKSDA SKW I menyampaikan materi presentasi tentang; Regulasi Orangutan dan Satwa Liar,
  3. YP menyampaikan materi presentasi tentang; Orangutan Liar (perilaku dan habitatnya),
  4. YIARI menyampaikan materi presentasi tentang; Interaksi Manusia dan Orangutan,
  5. F & F menyampaikan materi presentasi tentang; Kegiatan / Usaha Pendukung Konservasi Orangutan.

Setelah penyampaian materi presentasi, kegiata dilanjutkan dengan diskusi peserta bersama dengan para pihak.

Adapun pertemuan ini bertujuan untuk mengetahui pendapat masyarakat terhadap kehadiran satwa liar, mengidentifikasi ide-ide dari masyarakat terkait pengelolaan interaksi manusia – orangutan.

Dari kegiatan Roadshow tersebut, ada beberapa poin kesimpulan yang didapatkan diantaranya adalah;

Pertama, Komitmen Kolaborasi: Seluruh pihak yang hadir sepakat untuk berkolaborasi dalam menjaga keberlangsungan populasi orangutan di sekitar Taman Nasional Gunung Palung.

Kedua, Peningkatan Komunikasi: Jalur komunikasi antara masyarakat dan BKSDA akan diperbaiki untuk memudahkan pelaporan konflik.

Ketiga, Fasilitas Informasi: Baliho dan papan informasi tentang satwa dilindungi dan sanksi akan segera dipasang di desa-desa sekitar.

Keempat, Alternatif Ekonomi: Ide pengembangan wisata desa ramah satwa mendapat dukungan dari berbagai pihak sebagai salah satu solusi potensial untuk meningkatkan perekonomian desa sambil melindungi lingkungan.

Kelima, Pendekatan Edukatif dan Preventif: Pihak BKSDA dan TANAGUPA akan melakukan pendekatan preventif kepada masyarakat terkait pengelolaan lahan yang berbatasan dengan kawasan orangutan.

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di: https://pontianak.tribunnews.com/2024/11/16/yasan-palung-adakan-roadshow-memperkuat-jejaring-penyelamatan-orangutan-di-sekitar-kawasan-tanagupa

Baca juga di: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/67394b8a34777c1c216c60c4/yp-adakan-roadshow-memperkuat-jejaring-penyelamatan-orangutan-di-sekitar-kawasan-tanagupa?source_from=notification_activity

Serangkaian kegiatan Roadshow tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta. (Petrus Kanisius-Yayasan Palung).

Aksi Nyata RK-TAJAM Bersih-bersih Sampah pada Hari Pahlawan

Pada Minggu (10/11/2024) lalu, RK-TAJAM (Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam) melakukan kegiatan Baksos bersih-bersih sampah sekaligus merayakan hari Pahlawan di Pantai Pecal, Benua Kayong, Ketapang, Kalimantan Barat.

Seperti terlihat, rekan-rekan RK-TAJAM tampak bersemangat melakukan aksi (memungut sampah) di sekitar pantai. Beberapa sampah yang berhasil mereka kumpulkan adalah sampah plastik dan sampah botol minuman.

Aksi Bersih-bersih sampah yang dilakukan oleh RK-TAJAM ini merupakan salah satu kegiatan positif yang berdampak pada pencegahan lingkungan dan sebagai bentuk kontribusi yang boleh dikata untuk melanjutkan perjuangan pahlawan di era sekarang dengan menanamkan pendidikan karakter cinta lingkungan sebagai upaya menjaga bumi tercinta.

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Berharap, aksi bersih-bersih sampah seperti ini bisa terus dilakukan. Selanjutnya juga berharap, semoga para pengunjung sampah bisa sadar dan peduli dengan persoalan sampah, dengan cara membuang sampah di tempat sampah bukan di sembarang tempat.  Jaga Bumi, karena bumi bukan tempat sampah.

TAJAM…. YOM KITE PEDULI !!!…

Video Dokumen: RK-TAJAM

YP Adakan Pelatihan, Ajak Peran Perempuan Menjaga Hutan

Keterangan foto: Foto bersama pada hari pertama kegiatan. (Foto dok. Noni WBOCS/Yayasan Palung).

Pada Rabu (6/11/2024) hingga Kamis (7/11/2024) kemarin, Yayasan Palung (YP) melalui Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan) Bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung melakukan kolaborasi dengan mengadakan Pelatihan Peran Perempuan Menjaga Hutan dan Pengembangan Produk Anyaman. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung Bentangor Education Center di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara.

Dalam kegiatan tersebut, YP dan para pihak mengajak komunitas dampingan terutama untuk kaum Perempuan agar menjaga hutan dengan cara-cara yang berkelanjutan, seperti memanfaatkan Hasil Bukan Kayu (HHBK) tanpa harus merusak hutan.

Kegiatan yang dilakukan selama dua hari tersebut dibuka langsung oleh Edi Rahman, selaku Field Direktur Yayasan Palung.

Hari pertama kegiatan, Rabu (6/11/2024), peserta dilatih dan diberikan materi tentang pemberdayaan perempuan dengan menghadirkan beberapa narasumber.

Pada kesempatan dikegiatan tersebut, Dinas Sosial dari Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (SP3AMD) Kabupaten Kayong Utara memberikan pembekalan pengetahuan tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Peran Perempuan dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam.

Keterangan foto: Peserta melakukan praktek menganyam dengan bahan baku bambu dan pandan. (Foto: Noni WBOCS/YP).

Hari kedua kegiatan, Kamis (7/11/2024), Peserta diajak untuk melakukan praktek menganyam dengan bahan baku bambu dan pandan dengan membuat motif anyaman yang menarik. Sebagai mentor dalam kegiatan tersebut adalah Ibu Saparidah, ia adalah seorang pengrajin (perajin) sekaligus ketua kelompok di IDA CRAFT.

Seperti terlihat, tampak antusias dari peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, dalam pelatihan tersebut diikuti oleh 20 orang peserta.

Ranti Naruri, Manager Program Sustainable Livelihood (Program Mata Pencaharian Berkelanjutan), mengatakan, Mengapa Perempuan? Karena Perempuan merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak kerusakan lingkungan dan hutan jika pengelolaannya tidak memperhatikan pola-pola keberlanjutan dan nilai-nilai kearifan lokal. Berharap dengan diadakannya pelatihan ini bisa memberikan pemahaman kepada Perempuan bahwa peran mereka dalam menyuarakan perlindungan hutan sangat penting untuk keberlangsungan hidup dimasa yang akan datang. (Pit-YP).

Pekan Peduli Orangutan 2024, Ini Rangkaian Kegiatan yang Yayasan Palung Lakukan

Keterangan Foto: Orangutan. (Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Pekan Peduli Orangutan (PPO) merupakan salah satu kegiatan spesial event setiap tahunnya dilakukan oleh Yayasan Palung (YP). Kegiatan Pekan Peduli Orangutan juga sebagai salah satu bentuk kepedulian kepada nasib satwa (primata) yang sangat dilindungi dan terancam punah yaitu orangutan. Setiap tahunnya kegiatan PPO dilaksanakan pada awal atau medio November selama sepekan.

Selain itu, Kegiatan Orangutan Caring Week atau Pekan Peduli Orangutan merupakan waktu yang didedikasikan untuk mengajak semua orang agar peduli terhadap keberlangsungan hidup orangutan. Populasi satwa endemik sekaligus Si Petani Hutan ini terus menurun seiring waktu sehingga membuatnya menyandang status Sangat Terancam Punah (Critically Endangered) dari IUCN.

Tema PPO tahun ini adalah; Orangutans leading the way atau “Orangutan Memimpin Jalan: Satu Planet, Satu Masa Depan”

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah: Sebagai media edukasi penyadartahuan tentang pentingnya menjaga satwa dilindungi, khususnya orangutan dan habitatnya. Kemudian juga sebagai penyadartahuan kepada generasi konservasi dan guru tentang mengapa orangutan sangat istimewa dan aktivitas sederhana yang dapat mereka lakukan untuk membantu menyelamatkan orangutan.

Tahun ini, Yayasan Palung (YP) rencananya akan melakukan serangkaian kegiatan PPO 2024, diantaranya adalah;

Seperti Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung (YP) misalanya, berencana melakukan serangkaian kegiatan Ekspedisi mini dalam rangka PPO 2024 dengan beberapa kegiatan di beberapa sekolah yang ada di Desa Matan Jaya, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada tanggal November 11 hingga 14 November 2024.

Di SDN 31 Seringgit, dalam rangka PPO 2024, YP rencananya akan mengadakan lomba menggambar, mewarnai dan test pengetahuan umum tentang lingkungan. Rencananya, kegiatan akan dilaksanakan pada Rabu (13/11/2024).

Selanjutnya melakukan kegiatan yang serupa, yang rencananya dilakukan di SDN 17 Matan, pada Kamis (14/11/2024).

Rencananya kegiatan lomba menggambar akan diikuti oleh kelas 3 dan 4, lomba mewarnai diikuti oleh kelas 1 dan 2, Test pengetahuan umum tentang lingkungan diikuti oleh kelas 5 dan 6.

Rencananya juga dalam serangkaian ekspedisi mini dalam rangka PPO 2024 akan diadakan pemutaran film lingkungan, beberapa film dokumenter tentang lingkungan dan film-film singkat tentang orangutan.

Sedangkan Program Perlindungan dan Penyelamatan Satwa (PPS) Yayasan Palung rencananya akan mengadakan serangkaian kegiatan Roadshow, yang rencananya akan diadakan di Gedung Serba Guna, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara. Kegiatan tersebut rencananya dilakukan pada 12 November 2024.

Berharap, serangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan 2024 bisa berjalan sesuai dengan rencana. (Pit-YP).

Cerpen: Satwa, kita dan Masa Depan Bersama

Ilustrasi Foto : Orangutan. Foto dok. Erik Sulidra

Ada hutan, tanah dan air berarti ada kehidupan. Mengingat, seperti terlihat, tajuk-tajuk dan ranting-ranting itu seperti terlihat tidak lagi kuat menopang karena semakin tercabut tercerabut hingga rebah tak berdaya. Demikian pula ragam satwa yang sudah semakin bingung mencari pakan dan berkembang biak saban waktu karena semakin terasing di rumah sendiri (hutan). Tidak kalah hebatnya kita pun sudah semakin akrab dengan dera derita yang mendera karena sejatinya ulah oknum kita yang berdampak kepada semua. Tentu ini dirasa perlu menanya, bagaimana dengan masa depan bersama?

Masa depan yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah agar kirannya tajuk-tajuk yang menjulang tinggi masih boleh berdiri kokoh dan nyanyian merdu bersama suara satwa masih menggema keagungan nafas yang boleh sebagai Pelepas dahaga, penyejuk jiwa bagi semua segala bernyawa, tidak terkecuali kita.

Sepertinya semua mau tidah mau harus menata dan menatap masa depan bersama. Masa depan tentang satwa yang masih boleh berkicau riang gembira bernyanyi tanpa harus terkurung terkungkung dalam rimba yang semakin tak banyak yang rebah tak berdaya menjadi tanda tanya dan tanggung jawab bersama tanpa terkecuali siapapun itu.

Satwa, kita dan masa depan tentunya semua harus seirama, seiramanya bisa tenang menata masa depan. Masa depan keberlanjutan hidup dan tempat hidup yang aman dan nyaman.

Semua kita mendambakan agar kiranya bisa selalu seirama dan harmoni. Bukan lagi saling menyingkirkan, memusnahkan hingga rebah tak berdaya.

Saban waktu kini, menanti kita untuk saling menyapa. Karena sepertinya semua sudah mulai acuh dan tidak peduli satu dengan lainnya. Derai tangis satwa sama pula dengan tawa kelakar tangan-tangan tak terlihat yang tanpa henti merampas dan membuat hutan tanah air ini seakan tidak sanggup menjadi rumah atau pun setidaknya menjadi payung pelindung. Demikian pula kita, tak jarang menuai yang sering disebut bencana.

Bencana yang yang sudah semakin akrab dengan kita pun kian membuka mata hati, sejatinya. Adakah para pemangku kebijakan, agar alam ini agar ia masih bisa berdiri kokoh, nyanyian satwa masih boleh terus bergema harmoni sepanjang waktu. Bukan deru mesin, bukan pula abai terhadap hutan tanah air ini. Hutan ala mini tak ubah seperti ibu bagi kita. Selagi ia ada maka ia akan terus bisa merawat kita tanpa pamrih. Demikian juga dengan tanah, tanah adalah nyawa (napas) hidup semua segala bernyawa. Ada hutan, tanah dan air berarti ada kehidupan.

Kehidupan yang ada memberi tanda nyata tentang kisah bahwa keutuhan ciptaan yang masih ada dan yang tersisa ini jangan lagi kita kuras, jangan lagi kita korbankan demi segelintir ego tetapi berakibat fatal bagi semua.

Semua satwa pun sudah semakin sering terbelenggu oleh ulah, polah tingkah kita. Tegohlah tak sedikit terkungkung dan terkepung oleh oknum-oknum tangan tak terlihat. Tak jarang masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil hutan alam secara perlahan tersisih karena tak mampu lagi bertahan akibat hutan alam yang semakin terkikis menjelang habis di bumi pertiwi.

Panas terik membakar kulit, tanah kering kerontang atau banjir/banjir bandang setidaknya itu contoh  yang sudah selalu/semakin akrab dengan kita saat ini, yang sejatinya jangaan sampai terjadi. Tetapi itu semua benar-benar nyata adanya.

Adakah diantara para wakil yang bisa diandalkan pelopor peduli lingkungan, mau dan mampu merangkul masyarakat akar rumput yang semakin menanti tindakan bernas menyelamatkan bukan memusnahkan alam ini. Sebagai pengingat kita bersama

Karena benar adanya, BUMI, HUTAN, TANAH, dan lingkungan hidup ini merupakan TITIPAN dan bukan WARISAN.

Biarlah kiranya, satwa seperti orangutan, kelempiau dan burung enggang yang disebut sebagai petani hutan itu dibiarkan bebas dialamnya liar tanpa harus merusak atau mengusirnya di rumah. Biarlah si petani hutan menyemai saban waktu, sama  halnya bagi kita, jangan sampai kita kehilangan petani, karena semua perlu hidup, makan dan berlanjut merajut masa depan bersama.

Berharap, semua kita bisa meraih asa bersama dengan tindakan nyata dengan demikian kita bisa peduli dan harmoni pada nasib satwa, kini dan nanti karena semua untuk keberlanjutan bagi anak cucu kita pula. Semoga saja…

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana: https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/6721e649ed64150352242d02/cerpen-satwa-kita-dan-masa-depan-bersama

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ajak Masyarakat dan LDPHD Pulau Kumbang Buka Lahan Tanpa Bakar

Ajak Masyarakat dan LDPHD Pulau Kumbang Buka Lahan Tanpa Bakar. (Video dok. Edi Rahman/YP).

Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) menjadi salah satu pilihan yang boleh dikata ramah lingkungan saat ini.

Mengingat, Kecamatan Simpang Hilir tidak terlepas dari kebakaran hutan dan lahan terutama di beberapa desa yang menjadi dampingan Yayasan Palung (YP) yang secara alami berekosistem gambut baik di sekitar Landskap Hutan Lindung Gambut (HLG) Sungai Paduan. Kebakaran hutan dan lahan ini tidak  terlepas dari prilaku beberapa oknum masyarakat yang melakukan pembakaran lahan untuk pertanian maupun perkebunan, akibatnya api tidak bisa terkendali sehingga kebakaran meluas ke perkebunan masyarakat yang telah memiliki tanaman bahkan mengancam Kawasan Hutan di HLG tersebut yang saat ini telah ditetapkan sebagai hutan desa.

Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Palung (YP) beberapa waktu kepada masyarakat di Desa Pulau Kumbang, lebih khusus kepada Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) yang sebagian besar sebagai petani, pada Rabu hingga Kamis (23-24/10/2024) di Gedung Serba Guna Desa Pulau Kumbang Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Hamid Asman, selaku Kepala Desa Pulau Kumbang. Dalam kegiatan tersebut pula Edi Rahman, selaku Field Direktur Yayasan Palung berkesempatan memberikan kata sambutan.

Dalam kesempatan tersebut, Edi Rahman menyampaikan maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut adalah;

Pertama, Kegiatan pelatihan ini di makasudkan sebagai upaya dalam rangka memberikan alternative penyiapan/pengolahan lahan bagi masyarakat, di tengah kebijakan Pemerintah terkait larangan melakukan pembakaran lahan, sekaligus sebagai bentuk edukasi bagi masyarakat dalam mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Kedua, Pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) serta pembuatan pupuk Organik ini diharapkan dapat menjadi salah satusmart practice pada tingkat tapak dalam usaha  menggarap lahan untuk dijadikan lahan pertanian dan perkebunan dan menjadi salah satu solusi mencegahkebakaran hutan dan lahan di wilayah berawasan gambut.

Ketiga, Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat di Kecamatan Simpang Hilir  khususnya desa Pulau Kumbang agar mampu menerapkan teknik membuka lahan pertanian tanpa bakar, pembuatan pupuk organik, pengelolaan air, dan budidaya pertanian di lahan gambut, serta mekinisme panen dan pasca panen yang baik.

Keempat. Pelatihan ini untuk mewujudkan pembangunan pertanian berwawasan lingkungan yang menguntungkan serta transformasi teknologi dan informasi untuk mengaktifkan kelompok usaha tani memotivasi kelompok agar dapat berkelanjutan.

Kelima, Diharapkan peserta yang mengikuti pelatihan ini bisa menularkan, mampu mengedukasisetiap  unsur masyarakat dan membuka pola pikir dan komitmen semua pihak agar menerapkan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

Dan yang keenam, Peserta yang mengikuti pelatihan ini bisa meracik pupuk organik sendiri di rumah serta mampu menularkan kepada setiap unsur masyarakat di Desa.

Sebagai pemateri dalam kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari tersebut adalah empat orang dari Udara Bersih Indonesia (UBI) yang disampaikan oleh Syahrial.

Selanjutnya dari Yayasan Palung menyampaikan materi dan praktek Pembuatan Pupuk Organik Cair dan Padat, yang disampaikan oleh Asbandi.

Peserta yang di undang adalah tiga orang perwakilan dari Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD), 10 orang petani, dua orang peserta dari KPH Kayong, dan Penyuluh lapangan dari Dinas Pertanian KKU. 

Dalam kesempatan tersebut juga peserta diberikan materi dan praktek pembuatan Mulsa Tanpa Olah Tanah, Pembuatan pupuk organik dari cangkang telur.

Sekaligus penyerahan perlengkapan pemadam kebakaran hutan dan lahan kepada LDPHD Pulau Kumbang. Penyerahan perlengkapan tersebut terdiri dari helm, kaca mata, masker, sepatu, baju dan celana, dan lainnya.

PLTB sendiri diartikan dalam tiga makna dalam proses kegiatan pengolahan lahan pertanian yaitu; pembukaan lahan tanpa bakar, penyiapan lahan tanpa bakar, dan pengolahan lahan tanpa bakar.

Proses PLTB tidak terlepas dari proses pembakaran namun diusahakan agar seminimal mungkin dan dimaksudkan sebagai bahan dasar materi pupuk alami.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung