[Cerpen] Hutan: Kuingin Terus Tersenyum Untukmu?

Hutan hujan. (Foto : Andre Ronaldo).

Kuingin terus tersenyum, bagiku, aku (hutan) untukmu (semua nafas hidup) sesuatu yang mulia, mungkin itu yang kuharapkan sampai kapan pun.

Senyum pun setidaknya sedikit memberi tanda nyata saat ini yang mungkin dari dulu semua sudah merasakannya oleh karena adanya aku (hutan).

Aku (hutan) selalu ingat tugasku untuk penghuni bumi. Hadirnya aku memberi tanda kiranya semua boleh berlanjut.

Meneduhkan, menyejukkan karena hadirku yang masih boleh menopang lantai dan serasah yang ada di sekitarku.  Inginku bila aku berada di ruang lingkup yang luas aku pun bisa menaungi semua, itu harapku.

Aku menyadari, aku ada, kala aku masih bisa berdiri dan masih tersisa. Aku ada maka semua bisa terjaga. Sebaliknya, bila aku tak tersisa itu yang tak kuharapkan.

Dari waktu ke waktu, aku semakin sulit berdiri kokoh. Itu yang nyata di pelupuk mata. Rebah tak berdaya itu rupa dan realita yang kurasa saat ini entah sampai kapan.

Ranting-ranting kering bekas tubuhku tercerabut, sering kali terlihat berjejer rapi dan tak jarang terpercik api kala kemarau tiba. Ketika kemarau tiba pun semua semakin sulit, kering kerontang kadang mendera meronta.

Kala musim penghujan tiba, banjir sering kali menyapa dengan tiba-tiba sesuka hati kapan saja ia mau. Acap kali pula kita tak sanggup menghalau bila ia (banjir) datang tiba-tiba dan terkadang tanpa permisi. Inginku, hadirnya aku bisa menghadang/menghalangmu (banjir).

Benih semai tajuk-tajuk pepohonan yang berdiri kokoh berubah dengan semakin lapang lindang/ ladang gersang sebagian besar belantara yang tak lain adalah aku, mungkin seluas mata memandang.

Aku sadar, tak sedikit yang kunaungi di tempat dimana aku berada. Tubuhku yang semakin sulit berdiri kokoh ini saban waktu dari hari ke hari selalu menjadi tanya.

Inginku terus tersenyum kepada siapa saja dengan harmoni dan sampai kapan pun. Itu inginku. Aku tahu, tak sedikit mengingatku karena manfaat dan hadirku membuat nafas tak sedikit makhluk di sekitarku. Namun banyak pula yang lupa atau sengaja lupa akan manfaatku.

Harmoniku yang selalu kurasa hidup bersama dengan ragam satwa. Beberapa dari satwa ada yang selalu setia menyemai, menjaga dan merawatku selain juga beberapa orang yang kini mulai tumbuh kepedulian kepadaku karena derai air mataku yang semakin sering kualami.

Luka menganga tubuhku berbalut derai air mata yang semestinya menanti diobati dengan kasih tanpa pamrih oleh siapa saja kini hingga nanti.

Aku (hutan) hanya ingin selalu ingin mencoba sekuat tenaga untuk menaungi sebagian besar penghuni bumi ini. Aku hanya berpesan jika boleh kiranya, masih adakah asa bagi semua agar aku boleh berlanjut.

Menanam, menjaga dan memilihara sejatinya itu tugas mulia sang pemilihara yang tak lain adalah kita semua yang mendiami bumi ini.

Aku hanya ingin terus tersenyum hingga nanti bahkan selamanya untuk semua nafas kehidupan, karena aku tahu, sebagian besar makhluk hidup di muka bumi ini sangat berharap agar aku juga boleh kiranya bertahan dan bisa lestari, berlanjut hingga nanti.

Penulis : Pit

(Yayasan Palung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: