Tahun Monyet : Mengenal  Monyet dan Bagaimana Nasib di Habitat Hidupnya?

Monyet Ekor Panjang saat makan & hujan menyapa. Foto dok. Tim Laman & Yayasan Palung.

Monyet Ekor Panjang saat makan & hujan menyapa. Foto dok. Tim Laman & Yayasan Palung

Tahun ini,  pada kalender China bertepatan dengan tahun monyet api. Jika kita membahas tentang monyet pasti tidak lepas dari perilakunya yang nakal dan cerdas dalam setiap gerak dan tingkah lakunya yang acap kali membuat banyak orang geram karena perilaku monyet tak jarang mencuri atau merusak tanaman dan buah-buahan dari pertanian atau kebun masyarakat. Nah, di tahun baru ini (pada kalender China), ada baiknya kita mengenal monyet dan bagaimana nasib mereka di habitat Hidupnya kini?.

Tingkah polah yang lucu, sedikit nakal dan cerdas. Setidaknya itulah perilaku utama yang dimiliki oleh monyet. Monyet merupakan salah satu anggota primata yang memiliki ekor. Ada monyet ekor panjang dan monyet ekor pendek. Monyet juga identik dengan pemakan buah hutan dan terkadang hingga ke pemukiman, pertanian dan perladangan masyarakat.

Ternyata di Asia Tenggara, lebih Khusus Indonesia, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan  beruk (Macaca memestrina) cukup banyak tersebar di beberapa daerah atau wilayah seperti di Pulau Kalimantan,  Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan beberapa tempat lainnya (hampir merata tersebar hampir tersebar di sejumlah pulau di Indonesia).  Sebaran dari monyet ekor panjang juga diperkirakan hampir tersebar di Seluruh Asia.

Populasi dan keberadaan monyet saat ini dapat dikatakan banyak karena perkembangan dan proses perkembangbiakannya cukup cepat. Binatang yang memiliki panjang tubuh kurang lebih 38-76 cm dan panjang ekor 61 cm serta berat badan bisa mencapai 6 kilogram tersebut memiliki masa kehamilan 5 bulan lebih atau (162 hari) dan rata-rata selang kelahiran 390 hari (sumber data; dari berbagai sumber). Makanan yang disukai oleh monyet adalah buah-buahan hutan, daun-daun muda, kepiting .

Monyet ekor panjang dan beruk (monyet ekor pendek), memiliki ekor kurang lebih  180 milimeter (mm), mereka (monyet) kerap kali dianggap sebagai hama karena sering kali merusak dan mengganggu tanaman para petani. Akan tetapi, peran dan fungsi dari monyet ekor panjang dan beruk ternyata cukup mulia. Mereka sebagai salah satu komponen yang cukup penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem karena sebagai penyebar biji-bijian dari kotoran yang mereka buang.

Selain itu ada proboscis monkey atau dalam istilah latinnya Nasalis larvatus  atau isilah lokalnya di sebut Bekantan, karena hidungnya mancung disebut  dengan monyet belanda. Bekantan habitat hidup mereka di tepian sungai. Mereka hidup secara berkelompok, hampir sama dengan monyet ekor panjang dan beruk. Bekantan habitat hidupnya hanya tersebar di wilayah Kalimantan.

Saat ini, berdasarkan peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1999, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan  beruk (Macaca memestrina) termasuk 2 jenis primata yang belum dilindungi. Berdasarkan data The International Union for the Conservation of Nature (IUCN), Red List memasukkan monyet ekor panjang dalam kategori resiko rendah (Least Concern) dan rentan (vulnerable) untuk  beruk. Sedangkan Conservation on International  Trade in Endangered Spesies (CITES) memasukkan keduanya dalam appendix II (belum terancam punah) namun jika perdagangan, perburuan dan kerusakan hutan terus terjadi (hutan terus berkurang) bisa mengancam keberadaan dan keberlanjutan si monyet atau dengan kata lain, jika habitatnya terus hilang mereka pun terancam punah.

Tahun 2000,  IUCN Red List menetapkan bekantan dalam status terancam punah (Endangered) dan dalam status CITES memasukkan bekantan dalam daftarx I (tidak boleh diperdagangkan).Tidak hanya itu, monyet lainnya ada juga Si Lutung Merah (Kelasi) dalam istilah latinnya disebut Presbytis rubicunda. Untuk status kelasi, memasukkan kelasi kedalam daftar lower Risk (LR)/Least Concern (LC)- resiko rendah. Akan tetapi kini, kebakaran hutan, pembukaan lahan skala besar sedikit banyak memberi ancaman baru dan keberadaan mereka diambang kepunahan. Si Lutung merah (kelasi) dapat dijumpai di hutan primer dan sekunder terutama di wilayah Kalimantan.

Keberadaan Primata dalam hal ini monyet, keberadaan populasi mereka masih cukup banyak di habitat mereka di hutan Kalimantan, Sumatera dan beberap tempat lainnya. Namun keberadaan seperti bekantan dan kelasi saat ini populasi mereka semakin sedikit dikarenakan perburuan dan semakin sempitnya habitat mereka. Bukan tidak mungkin kera ekor panjang, beruk, bekantan dan kelasi akan terncam punah jika semua orang tidak ikut memiliki kepedulian untuk melindungi mereka di habitat hidupnya, karena sama halnya dengan kita manusia, mereka (primata/satwa) juga sama perlu makan dan hidup di rumah mereka berupa hutan yang masih tersisa. Semoga saja.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/tahun-monyet-ada-baiknya-kita-mengenal-monyet-dan-bagaimana-nasib-di-habitat-hidupnya_56b97aa5167b614f07e80136

 

 

 

Posted in YP

Published by

yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.