
Hari Peduli Sampah Nasional diperingati untuk mengenang para korban yang telah meninggal akibat dari ledakan gas metana yang berasal dari tumpukan sampah yang terjadi di desa Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada tanggal 21 Februari 2005 silam. Dari peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa kurang lebih 157 orang. Setelah kejadian tersebut, pemerintah lalu menetapkan setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).
Melihat peristiwa tersebut, ternyata sampah yang selama ini kita anggap sepele ternyata bisa membuat petaka bagi kita dan bahkan memakan korban jiwa jika sampah tersebut tidak ditangani dengan baik. Mengutip dari kumparan.com pada tahun 2021 Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik nomor 3 terbesar di dunia, artinya penanganan sampah dinegara kita belum bisa diatasi dengan baik.
Yuk kita atur pola hidup yang lebih ramah lingkungan dari sekarang dengan cara merubah pola pikir dan prilaku kita agar lingkungan kita terlihat lebih nyaman dan indah.
Berikut ini beberapa tips gaya hidup ramah lingkungan yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari :
Bagi kita yang biasanya suka beli jajanan dan minuman diluar mulai sekarang yok bijak dalam menggunakan sampah plastik. Saat sekolah, bermain, dan saat bepergian mulai sekarang biasakan membawa sendiri dari rumah. Selain makanan yang kita masak sendiri higienis dan sehat juga dapat menghemat pengeluaran kita.
2. Membawa tas belanja saat kepasar
Menurut penelitian masyarakat dinegara kita dalam satu hari rata-rata menghasilkan minimal 2 kantong plastik. Nah, dengan kita membawa kantong yang bukan sekali pakai dapat mengurangi terjadinya sampah dan juga menguntungkan bagi si penjual pasar karena menghebat penggunaan kantong plastik.
3. Menggunakan listrik seperlunya
Kita sadar bahwa dinegara kita PLN masih banyak yang menggunakan bahan bakar batu bara. Batu bara sendri berasal dari fosil sehingga jika kita boros dalam menggunakan listrik maka cadangan bahan bakar kita juga akan semakin cepat habis. Cara ini sangat efektif kita lakukan selain kita berpola hidup ramah lingkungan juga dapat menghemat biaya listrik.
4. Menanamkan karakter hidup ramah lingkungan kepada anak-anak sejak dini
Hal ini bisa dilakukan oleh ibu-ibu yang mempunyai anak kecil dirumah, dengan kita menanamkan pendidikan ramah lingkungan kepada anak-anak kita, maka kita sudah membantu dalam melestarikan lingkungan.
5. Memanfaatkan bekas sampah menjadi barang yang berharga
Tidak semuanya sampah itu tidak berharga, sekarang sudah banyak orang-orang yang memiliki ide dalam mengelola sampah. Misalnya, memanfaatkan bekas botol minuman air mineral menjadi tempat media tanam hidroponik, memanfaatkan bekas bungkus minuman sashet menjadi tas dengan metode anyam, dan masih banyak yang lainnya.
Nah, itu tadi mungkin beberapa tips gaya hidup ramah lingkungan yang bisa kita terapkan dikehidupan sehari-hari. Ayo…!!! diet sampah plastik dari sekarang…!!!
Baca juga : https://monga.id/2023/02/hari-peduli-sampah-nasional-hpsn-2023-yuk-peduli-persoalan-sampah-di-sekitar-kita/
Riduwan-Yayasan Palung

Penyadartahuan tentang satwa dilindungi kepada generasi muda menjadi salah satu cara yang harus dilakukan saat ini.
Sampaikan cerita tentang satwa dilindungi melalui (lewat) media boneka (puppet show) dengan maksud agar tumbuh kecintaan dari siswa-siswi terhadap lingkungan dan satwa dilindungi.
Seperti misalnya pada Rabu (15/2/2023), melalui Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung berkesempatan menyampaikan cerita tentang satwa dilindungi di Sekolah Madrasah Ibtida’yah Sunan Ampel Ketapang.

bertutur tentang kehidupan satwa dilindungi di alam liar. Satwa dilindungi memiliki peranan penting bagi makhluk hidup lainnya untuk terus berlanjut hingga nanti. Seperti Orangutan misalnya memiliki peran penting sebagai spesies payung dan juga sebagai petani hutan.
Ada pun tokoh-tokoh yang diceritakan dalam kesempatan tersebut antara lain adalah satwa dilindungi sekaligus yang terancam punah seperti orangutan, kelempiau dan kelasi. Selain itu, ada pula bekantan yang tidak hanya dilindungi dan terancam punah tetapi juga satwa yang dikenal dengan sebutan si hidung mancung tersebut, merupakan satwa khas (endemik) Kalimantan.
Pada kesempatan itu, yang berkesempatan menjadi tokoh Pongo (orangutan) adalah Iis Kurniawati, yang menjadi mama Pongo adalah Marsya, yang menjadi Bekantan adalah Kristina Clara, sedangkan yang berperan menjadi tokoh kelasi adalah Randi.

Teman-teman yang memerankan tokoh satwa saat bertutur menggunakan media boneka ini merupakan adik-adik magang dari SMKN 1 Ketapang dan SMK St. Petrus Ketapang.
Manager Pendidikan Lingkungan dan Media Kampanye Yayasan Palung, Widiya Octa Selfiany, mengatakan, “Memberikan edukasi tentang orangutan dan satwa lainnya beserta habitatnya pada anak-anak merupakan hal yang sangat menyenangkan, banyak harapan kepada mereka sebagai generasi konservasi.”
Lebih lanjut Widiya, menambahkan, “Menanamkan pengetahuan sejak dini merupakan tips terbaik membangun generasi di masa depan. Menjaga orangutan dan habitatnya tugas bersama, melalui program pendidikan lingkungan memberikan edukasi sejak dini pentingnya menjaga satwa-satwa yang dilindungi.”
Dalam kesempatan puppet show tersebut hadir 37 orang siswa-siswi yang mengikuti kegiatan tersebut, mereka terdiri dari 24 orang laki-laki dan 13 orang Perempuan.
Selanjutnya kegiatan Puppet Show juga dilakukan di MIS AL Bayan Ketapang, pada Kamis (16/2). Di MIS AL Bayan Ketapang. Kegiatan diikuti oleh 87 orang siswa-siswi yang mengikuti kegiatan tersebut, mereka terdiri dari 39 orang laki-laki dan 48 orang Perempuan.




Semua rangkaian kegiatan ini berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah dan siswa-siswi yang mengikuti kegiatan tersebut.
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Pada Jumat hingga Sabtu (10-11 Februari 2023) pekan lalu, telah dilakukan verifikasi tenis (Vertek) calon hutan desa baru di Wilayah Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Vertek tersebut dilakukan di dua calon Hutan Desa baru yaitu di Desa Lubuk Batu dan Desa Matan Jaya.
Dalam kegiatan vertek itu, dilakukan juga Focus Group Discussion (FGD) dan survei lapangan secara langsung di dua desa tersebut.
Ikut serta dalam vertek tersebut antara lain adalah masyarakat desa penerima manfaat langsung di dua desa tersebut (pemerintah desa dan masyarakat), calon pengurus Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) dari 2 desa tersebut, Yayasan Palung (YP), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH Wilayah Kayong), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat (DLHK Prov. Kalbar), Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH Wilayah III Pontianak) dan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL Wilayah Kalimantan).
Hendri Gunawan, Koordinator Hutan Desa Yayasan Palung, mengatakan, dari dilakukannya verifikasi di dua desa tersebut, nantinya dua desa ini akan dilakukan peninjauan kembali seperti cek lapangan, cek admistrasi dan kelengkapan lainnya.
Berharap, dua calon hutan desa baru (hutan desa di Wilayah Desa Lubuk Batu dan Desa Matan Jaya) bisa menjadi hutan desa baru, kata Hendri.
Tulisan ini dimuat juga di : https://kumparan.com/petrus-kanisius/lakukan-verifikasi-teknis-calon-hutan-desa-baru-di-wilayah-simpang-hilir-1zq6NWu6hZL
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hutan. Foto dok: (Pit)
Aku meminta izin agar kiranya boleh tersenyum untuk-Mu
Itu aku (hutan) tentang tajuk-tajukku rimbun memberi tanda
Bersatu harmoni itu yang ku mau, bukan (ter/di) cabut
Bukan pula tercerabut merenggut tak kentara
Pelangi selepas hujan mengintip rebah tak berdayaku
Tanda kata, nyata bicara berlawanan kata
nasibku kini yang tak kunjung membaik
Gumamku tentang sakit penyakitku
Rebah tak berdaya bicara dalam dilema nada tak terlihat
Rinai rintik seolah menjadi hamoni semu
karena tak sanggup menahan rebah tak berdayaku
Rebahku sebagai penanda tak lagi mampu
Setiap rintik menjadi biang sang badai datang, inilah yang terlihat di pelopak mata
Semua mengata-ngataiku sebagai bencana dan tak bersahabat dan lain sebagainya
Apa salah dan dosaku hingga aku dikatai sebagai biang bencana dan sebagainya itu
Tanda nyata bicara tentang nasibmu, semua tertuju padamu
Nasibku yang tak lagi sama seperti dulu kian menanti asa bagi semua
Bingkai kata dan nada harap padaku pada-Mu
Entahlah, salah atau benarnya aku pun tak tahu
Umur dan nasibku yang masih tersisa ini akankah nanti kiranya boleh bertahan atau kalian rampas hingga aku pun tinggal dongeng manis saja?
Pit-Yayasan Palung

Saat staf konservasi belajar hal baru tentang Pemasangan dan Pengecekan Alat Pemantau (Kamera jebak, bioacoustic, alat pengukur curah hujan dan alat pengukur suhu). Foto : Istimewa/Robi Kanisius-YP
Staf Konservasi dari Program Hutan Desa Yayasan Palung (YP) berkesempatan untuk belajar hal baru tentang Pemasangan dan Pengecekan Alat Pemantau (Kamera jebak, bioacoustic, alat pengukur curah hujan dan alat pengukur suhu), beberapa waktu lalu, di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA).
Dalam pelatihan tersebut, dari program Hutan Desa Yayasan Palung yang mengikuti pelatihan adalah Hendri Gunawan dan Robi Kasianus.
Natalie Robinson, Ahmad Rizal dan Herman yang merupakan Staf Riset dari Yayasan Palung berkesempatan memberikan materi dan praktek Pelatihan Pemansangan dan Pengecekan Alat Pemantau (Kamera jebak, bioacoustic, alat pengukur curah hujan dan alat pengukur suhu).
Asisten Lapangan Program Hutan Desa Yayasan Palung, Robi Kasianus, mengatakan, adapun beberapa fungsi dari alat yang mereka pelajari ini antara lain;
– Kamera jebak fungsinya untuk memantau satwa dan aktivitas manusia di hutan
– Bioacustik untuk mendapatkan rekaman suara berupa suara satwa maupun manusia yang beraktivitas di hutan
– Pengukur curah hujan, fungsinya untuk menakar ukuran curah hujan berdasarkan intensitas curah hujan
– Pengukur suhu fungsinya untuk merekam perubahan cuaca sehingga akan diperoleh informasi suhu lingkungan.
Saat pelatihan, Hendri dan Robi belajar terkait bagaimana cara pemasangan dan pengecekan alat pemantau tersebut.
Pada saat pelatihan, kamera di pasang di dua rintis, yaitu rintis satwa dan rintis manusia.
Hasil dari pelatihan ini nantinya akan diterapkan di Hutan Desa dampingan Yayasan Palung.
Foto : Robi Kasianus (@prince_borneo)
Lokasi : Stasiun Riset CABANG PANTI, TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG
————————————–
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Universitas Nasional dan Boston University.
@savewildorangutans@yayasan_palung
#konservasi#orangutan#indonesia#hutan#forest#pelatihan#kamerajebak#bioacustic#pengukursuhu
(Pit-YP)

Giant Anteater. (Foto : si.edu).
Beberapa waktu lalu, Jagad media sosial di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah dihebohkan oleh video kemunculan hewan asing di pemukiman masyarakat, yaitu mamalia pemakan semut raksasa.
Karena ada sejumlah masyarakat yang menanyakan kebenaran informasi tersebut lalu menghubungi pihak BKSDA setempat.
Mengutip dari klikkalteng.id, setelah ditelusuri oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sampit, melalui komandan BKSDA Pos Jaga, Muriansyah, menjelaskan pihaknya telah menelusuri dan mengumpulkan informasi dari warga di Seruyan maupun dari sumber lainnya.
Ternyata video postingan di medsos FB tersebut sebelumnya juga sudah pernah di unggah di media sosial Tiktok. Akan tetapi kemunculan video tersebut, lokasinya bukan di Indonesia melainkan di Benua Amerika, tepatnya Amerika Selatan dan Amerika Tengah.
Jadi, jika boleh dikata, video dan informasi tentang keberadaan hewan ini ada di Indonesia adalah tidak benar.
Dari kejadian seperti ini, ada baiknya kita mengenal mamalia pemakan semut raksasa dan penghancur gundukan serangga tersebut.
Ia dikenal sebagai pemakan semut raksasa, hewan ini bernama Giant Anteater. Memiliki nama latin Myrmecophaga tridactyla. Hewan ini dikenal hidup menyendiri dan ibu yang baik bagi anaknya.

Ibu yang baik bagi anaknya. (Foto : abc12.com)
Semut, rayap, larva serangga menjadi makanan kesukaan dari mamalia ini. memiliki cakar yang kuat dan lidah yang Panjang menjadikan hewan ini mencari makan ditumpukan sarang semut atau pun serangga.
Lidah dari pemakan semut raksasa ini bisa mencapai 60 cm, memiliki cakar sepanjang 10 cm yang kuat di kaki depannya. Memiliki panjang tubuh 2 meter dan memiliki berat badan 55 kg.

Giant Anteater memiliki lidah yang panjang. (Foto dok. factzoo.com)

Giant anteater hidup di Amerika Tengah dan Selatan, di habitat yang berupa hutan dan padang rumput. Sedangkan status konservasi dari hewan ini, masuk dalam daftar terancam (vulnerable/VU).
Lihat : Daftar IUCN RedList
Tulisan ini diolah dari berbagai sumber
(Pit-YP)

Hari Burung Rangkong /Enggang (Love Hornbill’s Day) diperingati setiap tanggal 13 Februari.
Burung rangkong atau dikenal juga dengan nama enggang. Burung Rangkong merupakan burung yang setia dengan pasangannya sampai akhir hayatnya.
Burung Rangkong juga mendapat julukan sebagai petani hutan.
Apa jadinya apabila si petani hutan ini tidak ada di wilayah hutan tropis? Tidak hanya sebagai petani, namun ia melakukan pekerjaannya dengan ketulusan, tanpa paksaan dan tanpa pamrih.
Hidup ditakdirkan sebagai petani, mungkin itu kata yang boleh disematkan kepada si petani ini. Berpuluh-puluh kilometer si petani ini menyebar biji-bijian/buah-buah hutan (sebagai petani hutan) dilakukan saban hari.
Tanpa pamrih mungkin itu hakikinya burung rangkong atau enggang, bukan tidak mungkin motivasi mereka menyebar biji-bijian sebagai tanda nyata akan keberlanjutan nafas hidup mereka. Sebab, biji-bijian akan tumbuh, meninggi dan berbuah. Batang pohon sebagai rumah melalui dawak (lubang-lubang di pohon) dan buah sebagai makanan mereka.
Tugas mulia tanpa pamrih yang dilakukan si petani hutan (enggang) ini sesungguhnya sulit dan berbahaya.
Tak terbayangkan, ketika hutan-hutan luput dan tidak disemai oleh si petani ini.
Dari tahun ke tahun habitat dan populasi enggang si petani hutan pun semakin menurun/berkurang drastis keberadaannya seperti di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Sumba.
Di Indonesia ada 13 Jenis burung rangkong : Enggang Jambul, Enggang Papan, Rangkong Gading, Engang Cula, Enggang Klihingan, Kangkareng Hitam, Kangkareng Perut Putih, Julang Jambul Hitam, Kengkareng Sulawesi, Julang Sulawesi, Julang Emas dan Julang Irian.

Bayangkan jika tak ada petani hutan ini, mungkin makhluk lainnya tak sanggup menyemai hingga beribu bahkan berjuta hektar hutan. Berharap si petani hutan bisa lestari dan makhluk pun bisa berlanjut hingga nanti.
Sumber Tulisan : Diolah dari berbagai sumber
Tulisan ini dimuat juga di MONGA.ID dengan judul : https://monga.id/2023/02/sekilas-tentang-burung-rangkong
(Pit-YP)

Orangutan dikenal sebagai pemakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian) dan pemakan buah-buahan hutan (frugivora).
Berdasarkan hasil penelitian di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung, orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan.
60 % terdiri dari buah
20 % bunga
10% daun muda dan kulit kayu
10% serangga (seperti rayap)
Tumbuhan dominan yang dikonsumsi buahnya oleh orangutan adalah dari family Sapindaceae (rambutan, kedondong dan matoa), Lauraceae (alpukat, dan medang), Fagaceae (petai dan kacang kedelai atau termasuk jenis kacang-kacangan), Myrtaceae (jenis jambu-jambuan), Moraceae (ficus/kayu ara) dan lain-lainnya. Kesemua buah-buahan hutan tersebut, setidaknya itulah yang paling digemari oleh orangutan beserta satwa lainnya.
Seperti diketahui, orangutan sebagai primata terbesar yang mendiami pohon. Orangutan sangat suka menjelajah hutan untuk mencari makan berupa buah-buahan hutan, kulit kayu, daun muda dan serangga. Secara umum orangutan mencari makan saban waktu agar ia bisa bertahan hidup. Karena alasan itu pula orangutan selalu berpindah-pindah sarang setiap harinya agar ia mudah dan dekat dengan sumber makanan/pakan.
Saat ini Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah sekaligus juga sebagai primata ikonik (icon) asli Indonesia selain harimau, badak, enggang dan bekantan.
Orangutan perlu hutan, hutan perlu orangutan sebagai penyemai utama di mana orangutan hidup dan tinggal (Kalimantan dan Sumatera).
Hadirnya orangutan sebagi petani hutan di hutan memungkinkan kita untuk meninkmati udara yang segar dan tajuk-tajuk pepohonan yang gagah berdiri kokoh, tentu memiliki berjuta manfaat bagi sebagian besar makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Orangutan juga dikenal sebagai spesies payung (umbrella species). Spesies payung sebagai penanda, jika orangutan punah maka satwa lainnya juga akan mengikuti. Mari lestarikan hutan dan orangutan sebagai napas kehidupan kiranya boleh berlanjut hingga nanti.
Foto dokumen : Sumihadi
Lokasi : STASIUN RISET CABANG PANTI, TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG
Foto Editor : Gunawan Wibisono
Narasi : Pit

Tulisan ini juga dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/63e21695936a2d1a8a6fb622/puisi-gema-rimba
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung (YP) mengadakan diskusi dan pelatihan terkait upaya peningkatan kapasitas staf dalam membangun informasi terkait pakan orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Jumat (27 /1/ 2023) bulan lalu.
Kegiatan tersebut mencangkup upaya identifikasi tumbuhan pakan orangutan di Stasiun Riset Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (SRCP-TNGP). Pada kesempatan tersebut, Natalie Robinson saat melakukan kunjungan ke SRCP-TNGP berkesempatan memberikan pelatihan untuk staf Yayasan Palung agar dapat memberikan kontribusi lebih terkait informasi pakan orangutan yang dikelola secara digital.
Pelatihan staf YP dilakukan agar staf memiliki kapasitas yang mumpuni dalam upaya konservasi dan riset orangutan, khususnya tata cara Kelola sampel digital tumbuhan pakan orangutan. Natalie Robinson dan Laura Brubaker berdiskusi bersama Gunawan Wibisono terkait jenis buah pohon pakan yang ditemukan selama observasi. Beberapa jenis buah ini diketahui sebagai pakan orangutan yang sedang berada pada fase produktif menghasilkan buah diantaranya brangan (Lithocarpus sericobalanos) dan buah gansing, kempilik (Lithocarpus lucidus). Kedua jenis ini termasuk ke dalam famili Fagaceae atau kelompok pohon oak. Selain itu, dalam proses identikasi pakan dimuat catatan karakter penting langsung dari observasi pohon hidup dengan cara mengamati berbagai kejadian penting pada jenis dan disebut sebagai fenologi pohon.
Aspek Botani Yayasan Palung yang didiskusikan dalam pelatihan tersebut antara lain terkait kegiatan yang mencangkup dokumentasi pohon pakan orangutan, identifikasi serta melakukan pengkajian kembali terkait perkembangan taksonomi tumbuhan. Proses pengamatan yang dilakukan juga memperhatikan banyak catatan peristiwa dan faktor lingkungan, misalnya musim fase produktivitas pohon menghasilkan bunga, buah dan biji. Berbagai catatan dimuat ketika organ generatif ditemukan, proses ini dapat memberikan informasi lebih jelas terkait jenis tumbuhan dan statusnya sebagai pakan. Karakter yang dihadirkan oleh organ yang masih segar seperti warna, aroma, bentuk, habitus dan lain sebagainya dapat diperoleh dari observasi langsung tersebut.



Keterangan Gambar : Proses pengamatan tumbuhan serta bagian dari organ yang jatuh di atas lantai hutan (Foto dok : G. Wibisono/Yayasan Palung).
Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) tersusun atas habitat berbeda yaitu rawa gambut (peat swamp), rawa air tawar (freshwater swamp), kerangas, alluvial bench, lowland sandstone, lowland granite, upland granite dan montane.
Komponen biotik dan abiotik penyusun yang dihadirkan juga berbeda-beda, misalnya pada habitat kerangas akan ditemui beragam vegetasi dengan kecendrungan memiliki diameter dan tinggi yang nilainya kecil, sehingga seakan tumbuhan tersebut kerdil. Seringkali hutan kerangas memiliki komposisi rapat dengan tanah di atas permukaan berupa pasir putih.


Keterangan Gambar : Proses identifikasi dan pengecekan sampel oleh G. Wibisono (kiri) dan diskusi pada kegiatan pelatihan staf sebagai upaya peningkatan kapasitas staf Yayasan Palung oleh Natalie Robinson dan Laura Brubaker ketika berkunjung ke SRCP, Taman Nasional Gunung Palung (Foto dok : Gunawan/Yayasan Palung).
Pada habitat peat swamp, freshwater swamp, alluvial dan kerangas memiliki kekeanekaragaman tumbuhan dengan morfologi yang khas pada organ vegetatif akar. Beberapa jenis tumbuhan di 4 habitat tersebut memiliki tipe akar jangkar dengan bagian tengah dan ujung yang memanjang tidak beraturan. Pengamatan tumbuhan tersebut dilakukan dengan cara mengamati aktivitas harian orangutan dan fenologi pohon.
————————————–
Pengelolaan Stasiun Riset Cabang Panti dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dan bekerjasama dengan Yayasan Palung (YP) / Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP). Penelitian ilmiah dilakukan oleh Universitas Nasional dan Boston University.
Penulis : Gunawan Wibisono, Staf Botani Yayasan Palung