
Dobi Sinaga merupakan staf baru Yayasan Palung yang berasal dari Pulau Sumatera, tepatnya kota Medan. Dobi sapaan akrabnya, merupakan seorang sarjana muda Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Sebagai staf baru Yayasan Palung, Dobi menjalani training staf yang dilaksanakan di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung. Hal ini dimaksudkan agar staf siap untuk melakukan pengamatan dan observasi Fenologi yang rutin dilakukan.
Berkaitan dengan beberapa hal penting yang dibutuhkan sebelum melakukan observasi di Hutan yaitu, memahami alat navigasi Global Positioning System (GPS), memahami rute pengamatan, memahami dasar karakter morfologi angiosperm dan sistematik, memahami instrument yang digunakan bersama setiap komponen yang di amati dalam fenologi SRCP-TANAGUPA.
Pengenalan Fenologi dilakukan dengan langsung mengikutsertakan Dobi melaksanakan dalam pengamatan plot fenologi di Rangkong Satellite Camp di bulan pertama (Mei, 2023). Selain itu juga, Dobi melakukan pengamatan dasar dalam pengenalan beberapa jenis pohon di SRCP Gunung Palung. Bersamaan dengan hal tersebut, buah dari pohon Chaetocarpus castanocarpa sedang berbuah di bulan ini, sehingga Dobi dapat mengenal langsung jenis ini. Selain itu, dalam kegiatan training Dobi ikut dalam dokumentasi pohon Elaeocarpus glaber, Durio acutifolius dan Gnetum cuspidatum. Dobi juga mempelajari bagaimana bernavigasi menggunakan GPS di jalur SRCP-Taman Nasional Gunung Palung. Bentuk aplikatif training yaitu dengan memberikan kesempatan Dobi menjadi navigator langsung di lapangan saat observasi pohon pakan.







Foto-foto ketika Dobi menjalani masa training staf. (Foto dok. Gunawan/Yayasan Palung).
Penggunaan alat seperti teropong binocular juga di aplikasikan dalam training. Dobi belajar dalam mengamati pohon Nauclea yang sedang berbunga. Dobi mempelajari bagaimana variasi habitus tumbuhan berbunga di SRCP-TANAGUPA seperti habitus Strangler Fig (Ficus pencekik), Tree Fig (Ficus pohon) dan climber Fig (Ficus pemanjat), Dobi dikenalkan dengan melihat secara langsung beberapa contoh di area SRCP-TANAGUPA. Beberapa contoh buah yang terdapat di laboratorium SRCP-TANAGUPA juga dikenalkan dan Dobi mempelajari bagaimana pentingnya organ lain secara lengkap. Bagian vegetatif seperti ikhtisar akar, batang dan daun terkait morfologinya di lapangan juga diperkenalkan. Menggunakan contoh Leea amabilis dan Shorea parvifolia, Dobi mengenal bagaimana karakter daun tunggal dan majemuk, keberadaan organ aksesoris daun penumpu juga di lihat secara langsung pada Aporosa grandistipulata. Bentuk pemahaman yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dimaksudkan agar staf dapat meningkatkan kapasitas diri untuk mendukung kegiatan di lapangan.
Penulis: Gunawan Wibisono- Ahli Botani dan Koordinator Survei Yayasan Palung

Yayasan Palung bekerjasama dengan Orang Utan Republik Foundation menyediakan kesempatan beasiswa kepada putra-putri daerah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang memenuhi kualifikasi untuk menempuh pendidikan Strata 1 di Universitas Tanjungpura melalui Program Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship) sejak tahun 2012 hingga tahun 2023 dengan jumlah 59 orang mahasiswa penerima beasiswa WBOCS; 23 orang diantaranya telah lulus menjadi sarjana dan 30 orang masih aktif kuliah.
Pada Senin (5/6/2023), pukul 18.00-21.00 WIB, telah dilaksanakan malam penganugerahan di Ruang Aula Gedung Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Ketapang bagi enam penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) tahun 2023. Malam penganugerahan WBOCS tersebut enam penerima beasiswa WBOCS melakukan penandatangan kesepakatan beasiswa WBOCS bersama Yayasan Palung dan Orang Utan Republik Foundation, selain melakukan penandatangan kesepakatan, dilakukan juga presentasi perkembangan terkait beasiswa peduli orangutan yang telah dilakukan sejak tahun 2012 hingga 2023.

Enam Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat 2023 adalah; Tengku Nesya Aulia dari SMKN 01 Ketapang, Arofi dari SMKN 01 Ketapang, Hengki Kurniawan dari SMKN 01 Sandai, Sawitri dari SMKN 01 Ketapang, Rafina Bela Damayanti dari SMAN 02 Ketapang dan Fahmi dari SMAN 01 Ketapang.
Penerima WBOCS Tahun Akademik 2023/2024 akan menjalani Pendidikan jenjang Perguruan Tinggi di Universitas Tanjungpura Pontianak, Rafina Bela Damayanti di Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Sawitri di Program Studi ManaJemen di Fakultas Ekonomi. Sementara itu, Tengku Nesya Aulia, Hengki Kurniawan, Fahmi dan Arofi di Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan.

Dalam kata sambutannya, Direktur Yayasan Palung Edi Rahman, mengucapkan selamat kepada enam penerima Beasiswa WBOCS tahun 2023.
Foto-foto :






Foto Penganugerahan Penerima Beasiswa WBOCS Tahun 2023. (Foto dok. Riko & Yayasan Palung).
Edi Rahman menambahkan, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi yang berfokus kepada konservasi hutan dan orangutan sangat berharap kepada 6 penerima beasiswa WBOCS untuk selalu menyampaikan pesan-pesan kampanye lingkungan di masyarakat dan peduli terhadap lingkungan sekitar, serta yang paling penting adalah menjaga nama baik orangtua, YP, OURF dan almamater.
Lebih lanjut, Edi sapaan akrabnya mengatakan, bagi penerima WBOCS nantinya yang akan melakukan penelitian, sudah bisa melakukan penelitian di Wilayah Hutan Desa binaan Yayasan Palung yang ada di wilayah Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Widiya Octa Selfiany, Manajer Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung mengatakan, program beasiswa WBOCS merupakan program unggulan sebagai bentuk kepedulian Yayasan Palung terhadap Pendidikan putra-putri daerah yang berada di wilayah kerja Yayasan Palung, Maksud dan tujuan Malam penganugerahan WBOCS ini di laksanakan sebagai program Yayasan Palung yang sangat diharapkan dan berkelanjutan oleh bapak ibu orang tua mahasiswa yang anaknya berprestasi terutama masyarakat yang bermukim disekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, penerima Beasiswa WBOCS untuk selalu menjadi perpanjangan tangan Yayasan Palung untuk menyebarkan virus-virus konservasi di Tanah Kayong, selain itu juga semoga penerima WBOCS bisa menjadi agen perubahan di masyarakat.
Tulisan ini juga dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/64802f504addee49f3227052/malam-penganugerahan-penerima-beasiswa-wbocs-tahun-2023
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung (YP) bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang dan Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai TANAGUPA) mengadakan Pelatihan Guru (Training Guru) yang diselenggarakan pada Kamis hingga Jumat (25-26/5/2023) di SMP 07 Nanga Tayap, Dusun Bayangan, Mentubang, Ketapang, Kalimantan Barat.
Kegiatan pelatihan yang mengambil tema “Guru Jembatan Edukasi Konservasi” ini diikuti oleh para guru yang berasal dari SMPN 7 SATAP Nanga Tayap, SDN 20 Nanga Tayap dan SDN 28 Nanga Tayap.
Dalam kegiatan tersebut, Widiya Octa Selfiany, selaku Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan, “Kegiatan Training Guru ini merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh Yayasan Palung.”
Foto-foto kegiatan :






Lebih lanjut, Widiya, sapaan akrabnya, menambahkan, pada training guru kali ini dilaksanakan untuk tiga sekolah yakni, SMPN 7 SATAP Nanga Tayap, SDN 20 Nanga Tayap dan SDN 28 Nanga Tayap dengan harapan menjadikan sekolah tersebut sebagai sekolah hijau dan menerapkan kurikulum berbasis lingkungan di sekolah. Selain itu juga Widiya berharap guru-guru bisa menjadi jembatan edukasi konservasi kepada siswa-siswi di sekolah.
Pada kesempatan tersebut, disampaikan beberapa materi diantaranya; Pengorganisasian Ekstrakurikuler, Penerapan Pembelajaran Konservasi di Sekolah, dan Pendidikan Karakter. Ketiga materi tersebut disampaikan oleh Widiya.
Disampaikan pula materi tentang Mengenal Yayasan Palung yang disampikan oleh Petrus Kanisius. Selanjutnya disampaikan juga materi tentang Sosialisasi Perlindungan Satwa Liar yang disampaikan oleh Simon Tampubolon.
Dalam kesempatan tersebut juga, Yayasan Palung mengundang Kepala Seksi Wilayah II Teluk Melano, Ahmad Sirojudin, S.Hut yang berkesempatan menyampaikan materi tentang Pengenalan Taman Nasional Gunung Palung.
Setelah penyampaian materi training guru selesai disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan penandatatanganan kerja sama Perjanjian kerja sama (MoU) antara YP dengan SMPN 7 SATAP Nanga Tayap, SDN 20 Nanga Tayap dan SDN 28 Nanga Tayap.
Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah yang mengikuti kegiatan tersebut.
Tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/647463b44addee253e26bf62/adakan-pelatihan-guru-yp-ajak-guru-menjadi-jembatan-edukasi-konservasi
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sorak sorai kita terus menggema
Tertawa tak terasa itu ada
Menyana tanya tentang apa yang dirasa
Mengapa biarkan bumi menangis itu nyatanya
Tawa rasa tiada kata menertawa
Kata ibarat sampah tak berguna
Risau, gundah gulana, bertanya
Mengapa biarkan bumi menangis, kata siapa?
Berkaca pada tanda nyata yang orang bilang itu bencana
Bukankah itu artinya biarkan bumi menangis merana?
Bumi porak poranda ketika tingkah polah bicara
Bukan lagi mengada-ada karena itu ada
Pepatah lama, pepatah baru tentang dokma rasa
Kata bicara dalam nyata karena mungkin kita lupa?
Bencana mendera lekang membentang asa masa membara
Membara mendera kepada kita
Tengoklah bumi semakin renta
Kita pun semakin tua
Tau arti menjaga?
Atau hanya khayalan belaka
Panas mentari yang semakin terik membakar begitu pula rimba raya
Para satwa semakin pelit bersuara
Lauk pauk semakin jalang di sungai-sungai belantara
Arus haus semakin meraja sebab serakah mengalahkan kokohnya Ciptaan Sang Pencipta
Hembusan angin sepoi-sepoi kini berganti karena membeku disetiap sudut ruang kota
Nyanyian rindu akan bumi yang lestari mencari tuannya
Tangan-tangan tak terlihat tak henti berlomba seolah bumi kepunyaan sendiri saja
Getar nada akan tanda rasa peringatan tak jarang menjadi penanda kemana kita
Kemana kita karena bumi semakin senja
Semakin senja apakah ia (bumi) masih mampu sebagai pembina
Sebagai penopang, penyeimbang penguat dan penyejuk jiwa
Bila ingin ia (bumi) terus ada bingkailah rasa untuk merenda asa agar bumi tak tinggal cerita.
Tulisan ini dimuat juga di : https://monga.id/2023/05/puisi-tertawa-melihat-bumi-menangis/
Pit
(Yayasan Palung)

Aku adalah aku, yang tidak lain adalah alam semesta, tempat berdiam ragam napas. Kosmos yang kini dalam ruang dan waktu yang tak menentu
tetapi, apakah aku mampu tanpa dia atau mereka universum
Aku bukan siapa-siapa, aku dicipta di hari pertama dalam kisah penciptaan
Aku tak lain tak bukan sebagai tempatku hidup yang menjadi alfa dan omega
Aku tercipta bukan hanya untuk aku semata melainkan untukmu, untuk kita, semua kita bersama pula
Aku terlahir untuk napas segala bernyawa hingga waktu entah kapan berakhir
tanyaku dalam diam,
Sakit, jika terus (ter/di)sakiti mungkin kah masih ada rasa?
Adakah saling peduli?
Aku tercipta untuk pemenuhan, pemenuhan akan keberlanjutan
Cakrawala terkadang meredup ketika bias tingkah polah napas yang tak kenal ampun ketika bumi
Ragam yang dikata sebagai bencana kerap menghampiri seolah enggan berlalu
Embun pagi tak lagi menyejukan jiwa karena menjelma menjadi butiran debu panas menyengat keringat
Dia, mereka, kita semua akankah ingat akan aku?
tentang aku terlahir apa tujuan sesungguhnya
Menyana, tertera, terlukis, tergambar hingga tersiar, tentang aku semakin rebah terkulai layu
Apakah engkau bahagia, menegokku dengan situasi begini;
Prihatin?
Peduli? Atau diam membisu?
Entahlah hanya Dia, mereka yang tahu
Harapku, senenap napas segala bernyawa masih boleh bernyanyi jua bersukacita.
Baca juga: https://monga.id/2023/05/puisi-aku-alam-semesta/
Pit
(Yayasan Palung)

Kasih sayang seorang ibu begitu besar bagi anaknya, tidak terkecuali ibu (induk) orangutan yang juga memberikan kasih sayang kepada anaknya.
Berikut keistimewaan induk (ibu) orangutan bagi anak-anaknya:
Apabila induk orangutan hilang maka bisa jadi generasi (populasi) atau keturunan orangutan bisa terputus alias semakin langka dan sangat terancam punah atau bahkan punah di muka bumi ini.
Perlu perhatian dari semua pihak untuk saling menyayangi, melindungi dan melestarikan orangutan.
Foto : Tim Laman
Tulisan : Pit
@savewildorangutans
(Yayasan Palung)



Repost @parara.id WORKSHOP ~ #WFTD2023
Workshop Upcycling Fashion Wastra Nusantara X Denim by Rasa Wastra Indonesia
Bersama: Monique Hardjoko, Founder Rasa Wastra
Hari/tanggal: Minggu/14 Mei 2023
Jam: 14.00 – 16.00 WIB
Lokasi: Komunal 88
Jalan Ampera Raya No. 6, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Peserta membawa:
Jeans/denim yang akan di UpCycling
Perlengkapan gunting
Perca wastra akan disediakan panitia.
Info pendaftaran:
0852 1605 7927
Reimagining the Economy: Regenerative Businesses for The Future
#FairTradeMovement #RegenerativeBusinesses
#WFTOmember #WorldFairTradeDay #LetsDoItFair #BusinessRevolution
Sumber informasi : PARARA@parara.id
(Yayasan Palung)

Panas terik tak teduh seperti dulu
Panas terik membakar kulit itu tak terkira mendera
Gerah, gelisah tanpa arah, panas terik saban waktu
Menyapa angin penyejuk, penyejuk jiwa
Suhu panas terik terjadi akibat gerak semu matahari kata para ahli
Panas bumi, perubahan iklim dan pemanasan global itu pasti
Panas, gerah mendera menanti asa disapa kini
Panas terik tentang ibu bumi yang tak hanya ibu tetapi rumah setiap insani
Panas terik tiada tara, kering kerontang bersama peluh keringat para petani mengolah sawah
Rinai hujan tak sanggup menyalur air karena tanah merekah
Bumi hijau tak lagi hijau, rebah tak berdaya dari setiap kisah
Tajuk-tajuk pepohonan luluh layu bersama anomali cuaca yang entah kapan berhenti merambah
Panas terik membakar kulit, menanti disapa siapa saja
Tentang bumi, bumi hari ini tak ubah seperti neraka mendera jiwa
Usia bumi sudah semakin tua renta sebagai ibu semua kita
Menyana siapa saja agar bumi boleh kiranya disapa oleh siapa saja, semoga saja…
Tulisan ini juga dimuat di :
https://monga.id/2023/05/panas-terik-membakar-kulit-menanti-asa-penyejuk-jiwa/
Petrus Kanisius
(Yayasan Palung)

Setiap tanggal 2 Mei tiap tahunnya dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ditetapkannya tanggal 2 Mei tersebut bertepatan dengan hari lahirnya bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara.
Hari Pendidikan Nasional ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Keppres RI Nomor 316 Tahun 1959. Hari ini dibuat sebagai kepedulian pemerintah akan pentingnya pendidikan di Indonesia. Dengan adanya Hardiknas diharapkan bisa menumbuhkan semangat belajar dan tumbuh untuk seluruh insan pendidikan.
Ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 67 Tahun 1961 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Pemerintah menetapkan peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei, meski bukan hari libur.
Pria yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Suryaningrat itu menjadi sosok penting bagi kemajuan pendidikan Indonesia.
Baca juga :
Ki Hajar Dewantara kemudian membentuk tiga semboyan yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia sebagai berikut.
“Pendidikan memang tidak menjamin kesuksesan seseorang. tapi tanpa Pendidikan, maka kehidupan akan menjadi sulit”
Ayo….!!! Terapkan Pendidikan karakter dari sekarang
Tulisan diolah dari berbagai sumber
(Yayasan Palung)

Orangutan sebagai primata yang endemik di pulau Borneo dan Sumatera. Keberadaanya saat ini pun sangat dilindungi dan terancam punah. Sudah semestinya menjadi perhatian dari kita semua karena peran pentingnya.
Berikut Ini 10 Fakta tentang Orangutan yang patut untuk kita ketahui sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan;
Baca juga:
Sumber dari berbagai sumber
Petrus Kanisius-Yayasan Palung