CERITA DARI HUTAN: TRAINING STAF BARU FENOLOGI

Dobi saat menjalani training staf di di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung. (Foto dok. Gunawan/Yayasan Palung).

Dobi Sinaga merupakan staf baru Yayasan Palung yang berasal dari Pulau Sumatera, tepatnya kota Medan. Dobi sapaan akrabnya, merupakan seorang sarjana muda Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Sebagai staf baru Yayasan Palung, Dobi menjalani training staf yang dilaksanakan di Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP), Taman Nasional Gunung Palung. Hal ini dimaksudkan agar staf siap untuk melakukan pengamatan dan observasi Fenologi yang rutin dilakukan.

Berkaitan dengan beberapa hal penting yang dibutuhkan sebelum melakukan observasi di Hutan yaitu, memahami alat navigasi Global Positioning System (GPS), memahami rute pengamatan, memahami dasar karakter morfologi angiosperm dan sistematik, memahami instrument yang digunakan bersama setiap komponen yang di amati dalam fenologi SRCP-TANAGUPA.

Pengenalan Fenologi dilakukan dengan langsung mengikutsertakan Dobi melaksanakan dalam pengamatan plot fenologi di Rangkong Satellite Camp di bulan pertama (Mei, 2023). Selain itu juga, Dobi melakukan pengamatan dasar dalam pengenalan beberapa jenis pohon di SRCP Gunung Palung. Bersamaan dengan hal tersebut, buah dari pohon Chaetocarpus castanocarpa sedang berbuah di bulan ini, sehingga Dobi dapat mengenal langsung jenis ini. Selain itu, dalam kegiatan training Dobi ikut dalam dokumentasi pohon Elaeocarpus glaber, Durio acutifolius dan Gnetum cuspidatum. Dobi juga mempelajari bagaimana bernavigasi menggunakan GPS di jalur SRCP-Taman Nasional Gunung Palung. Bentuk aplikatif training yaitu dengan memberikan kesempatan Dobi menjadi navigator langsung di lapangan saat observasi pohon pakan.

Foto-foto ketika Dobi menjalani masa training staf. (Foto dok. Gunawan/Yayasan Palung).

Penggunaan alat seperti teropong binocular juga di aplikasikan dalam training. Dobi belajar dalam mengamati pohon Nauclea yang sedang berbunga.  Dobi mempelajari bagaimana variasi habitus tumbuhan berbunga di SRCP-TANAGUPA seperti habitus Strangler Fig (Ficus pencekik), Tree Fig (Ficus pohon) dan climber Fig (Ficus pemanjat), Dobi dikenalkan dengan melihat secara langsung beberapa contoh di area SRCP-TANAGUPA. Beberapa contoh buah yang terdapat di laboratorium SRCP-TANAGUPA juga dikenalkan dan Dobi mempelajari bagaimana pentingnya organ lain secara lengkap. Bagian vegetatif seperti ikhtisar akar, batang dan daun terkait morfologinya di lapangan juga diperkenalkan. Menggunakan contoh Leea amabilis dan Shorea parvifolia, Dobi mengenal bagaimana karakter daun tunggal dan majemuk, keberadaan organ aksesoris daun penumpu juga di lihat secara langsung pada Aporosa grandistipulata. Bentuk pemahaman yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dimaksudkan agar staf dapat meningkatkan kapasitas diri untuk mendukung kegiatan di lapangan.

Penulis: Gunawan Wibisono- Ahli Botani dan Koordinator Survei Yayasan Palung

Malam Penganugerahan Penerima Beasiswa WBOCS Tahun 2023

Enam orang penerima Beasiswa WBOCS tahun 2023. (Foto dok. Riko &Yayasan Palung).

Yayasan Palung bekerjasama dengan Orang Utan Republik Foundation menyediakan kesempatan beasiswa kepada putra-putri daerah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang memenuhi kualifikasi untuk menempuh pendidikan Strata 1 di Universitas Tanjungpura melalui Program Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat (West Bornean Orangutan Caring Scholarship) sejak tahun 2012 hingga tahun 2023 dengan jumlah 59 orang mahasiswa penerima beasiswa WBOCS; 23 orang diantaranya telah lulus menjadi sarjana dan 30 orang masih aktif kuliah.

Pada Senin (5/6/2023), pukul 18.00-21.00 WIB, telah dilaksanakan malam penganugerahan di Ruang Aula Gedung Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Ketapang bagi enam penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat atau West Bornean Orangutan Caring Scholarship (WBOCS) tahun 2023. Malam penganugerahan WBOCS tersebut enam penerima beasiswa WBOCS melakukan penandatangan kesepakatan beasiswa WBOCS bersama Yayasan Palung dan Orang Utan Republik Foundation, selain melakukan penandatangan kesepakatan, dilakukan juga presentasi perkembangan terkait beasiswa peduli orangutan yang telah dilakukan sejak tahun 2012 hingga 2023.

Enam penerima beasiswa WBOCS 2023, dari kiri ke kanan; Sawitri, Tengku Nesya Aulia, Rafina Bela Damayanti, Hengki Kurniawan, Arofi dan Fahmi. (Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Enam Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan Barat 2023 adalah; Tengku Nesya Aulia dari SMKN 01 Ketapang, Arofi dari SMKN 01 Ketapang, Hengki Kurniawan dari SMKN 01 Sandai, Sawitri dari SMKN 01 Ketapang, Rafina Bela Damayanti dari SMAN 02 Ketapang dan Fahmi dari SMAN 01 Ketapang.

Penerima WBOCS Tahun Akademik 2023/2024 akan menjalani Pendidikan jenjang Perguruan Tinggi di Universitas Tanjungpura Pontianak, Rafina Bela Damayanti di Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Sawitri di Program Studi ManaJemen di Fakultas Ekonomi. Sementara itu, Tengku Nesya Aulia, Hengki Kurniawan, Fahmi dan Arofi di Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan.

Foto bersama. (Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Dalam kata sambutannya, Direktur Yayasan Palung Edi Rahman, mengucapkan selamat kepada enam penerima Beasiswa WBOCS tahun 2023.

Foto-foto :

Foto Penganugerahan Penerima Beasiswa WBOCS Tahun 2023. (Foto dok. Riko & Yayasan Palung).

Edi Rahman menambahkan, Yayasan Palung sebagai lembaga konservasi yang berfokus kepada konservasi hutan dan orangutan sangat berharap kepada 6 penerima beasiswa WBOCS untuk selalu menyampaikan pesan-pesan kampanye lingkungan di masyarakat dan peduli terhadap lingkungan sekitar, serta yang paling penting adalah menjaga nama baik orangtua, YP, OURF dan almamater.

Lebih lanjut, Edi sapaan akrabnya mengatakan, bagi penerima WBOCS nantinya yang akan melakukan penelitian, sudah bisa melakukan penelitian di Wilayah Hutan Desa binaan Yayasan Palung yang ada di wilayah Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Widiya Octa Selfiany, Manajer Program Pendidikan Lingkungan dan Kampanye Kesadaran Konservasi Yayasan Palung mengatakan, program beasiswa WBOCS merupakan program unggulan sebagai bentuk kepedulian Yayasan Palung terhadap Pendidikan putra-putri daerah yang berada di wilayah kerja Yayasan Palung, Maksud dan tujuan Malam penganugerahan WBOCS ini di laksanakan sebagai program Yayasan Palung yang sangat diharapkan dan berkelanjutan oleh bapak ibu orang tua mahasiswa yang anaknya berprestasi terutama masyarakat yang bermukim disekitar Kawasan Taman Nasional Gunung Palung di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, penerima Beasiswa WBOCS untuk selalu menjadi perpanjangan tangan Yayasan Palung untuk menyebarkan virus-virus konservasi di Tanah Kayong, selain itu juga semoga penerima WBOCS bisa menjadi agen perubahan di masyarakat.

Tulisan ini juga dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/64802f504addee49f3227052/malam-penganugerahan-penerima-beasiswa-wbocs-tahun-2023

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Adakan Pelatihan Guru, Ajak Guru Menjadi Jembatan Edukasi Konservasi

Widiya Octa Selfiany menyampaikan materi training Guru. (Foto : Yayasan Palung).

Yayasan Palung (YP) bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang dan Balai Taman Nasional Gunung Palung (Balai TANAGUPA) mengadakan Pelatihan Guru (Training Guru) yang diselenggarakan pada Kamis hingga Jumat (25-26/5/2023) di SMP 07 Nanga Tayap, Dusun Bayangan, Mentubang, Ketapang, Kalimantan Barat.

Kegiatan pelatihan yang mengambil tema “Guru Jembatan Edukasi Konservasi” ini diikuti oleh para guru yang berasal dari SMPN 7 SATAP Nanga Tayap, SDN 20 Nanga Tayap dan SDN 28 Nanga Tayap.

Dalam kegiatan tersebut, Widiya Octa Selfiany, selaku Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan, “Kegiatan Training Guru ini merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh Yayasan Palung.”

Foto-foto kegiatan :

Lebih lanjut, Widiya, sapaan akrabnya, menambahkan, pada training guru kali ini dilaksanakan untuk tiga sekolah yakni, SMPN 7 SATAP Nanga Tayap, SDN 20 Nanga Tayap dan SDN 28 Nanga Tayap dengan harapan menjadikan sekolah tersebut sebagai sekolah hijau dan menerapkan kurikulum berbasis lingkungan di sekolah. Selain itu juga Widiya berharap guru-guru bisa menjadi jembatan edukasi konservasi kepada siswa-siswi di sekolah.

Pada kesempatan tersebut, disampaikan beberapa materi diantaranya; Pengorganisasian Ekstrakurikuler, Penerapan Pembelajaran Konservasi di Sekolah, dan Pendidikan Karakter. Ketiga materi tersebut disampaikan oleh Widiya.

Disampaikan pula materi tentang Mengenal Yayasan Palung yang disampikan oleh Petrus Kanisius. Selanjutnya disampaikan juga materi tentang Sosialisasi Perlindungan Satwa Liar yang disampaikan oleh Simon Tampubolon.

Dalam kesempatan tersebut juga, Yayasan Palung mengundang Kepala Seksi Wilayah II Teluk Melano, Ahmad Sirojudin, S.Hut yang berkesempatan menyampaikan materi tentang Pengenalan Taman Nasional Gunung Palung.

Setelah penyampaian materi training guru selesai disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan penandatatanganan kerja sama Perjanjian kerja sama (MoU) antara YP dengan SMPN 7 SATAP Nanga Tayap, SDN 20 Nanga Tayap dan SDN 28 Nanga Tayap.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah yang mengikuti kegiatan tersebut.

Tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/647463b44addee253e26bf62/adakan-pelatihan-guru-yp-ajak-guru-menjadi-jembatan-edukasi-konservasi

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

(Puisi) Tertawa Melihat Bumi Menangis

Bumi menangis. (foto net).

Sorak sorai kita terus menggema

Tertawa tak terasa itu ada

Menyana tanya tentang apa yang dirasa

Mengapa biarkan bumi menangis itu nyatanya

Tawa rasa tiada kata menertawa

Kata ibarat sampah tak berguna

Risau, gundah gulana, bertanya

Mengapa biarkan bumi menangis, kata siapa?

Berkaca pada tanda nyata yang orang bilang itu bencana

Bukankah itu artinya biarkan bumi menangis merana?

Bumi porak poranda ketika tingkah polah bicara

Bukan lagi mengada-ada karena itu ada

Pepatah lama, pepatah baru tentang dokma rasa

Kata bicara dalam nyata karena mungkin kita lupa?

Bencana mendera lekang membentang asa masa membara

Membara mendera kepada kita

Tengoklah bumi semakin renta

Kita pun semakin tua

Tau arti menjaga?

Atau hanya khayalan belaka

Panas mentari yang semakin terik membakar begitu pula rimba raya

Para satwa semakin pelit bersuara

Lauk pauk semakin jalang di sungai-sungai belantara

Arus haus semakin meraja sebab serakah mengalahkan kokohnya Ciptaan Sang Pencipta

Hembusan angin sepoi-sepoi kini berganti karena membeku disetiap sudut ruang kota

Nyanyian rindu akan bumi yang lestari mencari tuannya

Tangan-tangan tak terlihat tak henti berlomba seolah bumi kepunyaan sendiri saja

Getar nada akan tanda rasa peringatan tak jarang menjadi penanda kemana kita

Kemana kita karena bumi semakin senja

Semakin senja apakah ia (bumi) masih mampu sebagai pembina

Sebagai penopang, penyeimbang penguat dan penyejuk jiwa

Bila ingin ia (bumi) terus ada bingkailah rasa untuk merenda asa agar bumi tak tinggal cerita.

Tulisan ini dimuat juga di : https://monga.id/2023/05/puisi-tertawa-melihat-bumi-menangis/

Pit

(Yayasan Palung)

(Puisi) Aku Alam Semesta

Ilustrasi foto perubahan iklim. (Foto dok. Climate Change).

Aku adalah aku, yang tidak lain adalah alam semesta, tempat berdiam ragam napas. Kosmos yang kini dalam ruang dan waktu yang tak menentu

tetapi, apakah aku mampu tanpa dia atau mereka universum

 Aku bukan siapa-siapa, aku dicipta di hari pertama dalam kisah penciptaan

Aku tak lain tak bukan sebagai tempatku hidup yang menjadi alfa dan omega

Aku tercipta bukan hanya untuk aku semata melainkan untukmu, untuk kita, semua kita bersama pula

Aku terlahir untuk napas segala bernyawa hingga waktu entah kapan berakhir

tanyaku dalam diam,  

Sakit, jika terus (ter/di)sakiti mungkin kah masih ada rasa?

Adakah saling peduli?

Aku tercipta untuk pemenuhan, pemenuhan akan keberlanjutan

Cakrawala terkadang meredup ketika bias tingkah polah napas yang tak kenal ampun ketika bumi

Ragam yang dikata sebagai bencana kerap menghampiri seolah enggan berlalu

Embun pagi tak lagi menyejukan jiwa karena menjelma menjadi butiran debu panas menyengat keringat

Dia, mereka, kita semua akankah ingat akan aku?

tentang aku terlahir apa tujuan sesungguhnya

Menyana, tertera, terlukis, tergambar hingga tersiar, tentang aku semakin rebah terkulai layu

Apakah engkau bahagia, menegokku dengan situasi begini;

 Prihatin?

 Peduli? Atau diam membisu?

Entahlah hanya Dia, mereka yang tahu

Harapku, senenap napas segala bernyawa masih boleh bernyanyi jua bersukacita.

Baca juga: https://monga.id/2023/05/puisi-aku-alam-semesta/

Pit

(Yayasan Palung)

Induk Orangutan Pengasuh yang Baik bagi Anaknya

Kasih sayang seorang ibu begitu besar bagi anaknya, tidak terkecuali ibu (induk) orangutan yang juga memberikan kasih sayang kepada anaknya.

Berikut keistimewaan induk (ibu) orangutan bagi anak-anaknya:

  1. Induk orangutan mengandung anaknya, hampir sama dengan manusia. orangutan mengandung anaknya 8 hingga 8,5 bulan.
  2. Induk orangutan mengalami masa menstruasi sama halnya seperti manusia. Induk orangutan selalu bersama anaknya hingga anaknya dewasa.
  3. Ibu orangutan selalu mengajari anaknya bagaimana mencari makan dan membuat sarang.
  4. Induk orangutan selalu bersama anaknya dari bayi hingga usianya 8-9 tahun.
  5. Bayi orangutan sulit mandiri apabila Ia hidup tanpa ibunya.
  6. Sedangkan jarak waktu melahirkan bayi paling lama di antara semua mamalia.
  7. Rata-rata induk orangutan hanya memiliki tiga keturunan sepanjang hidupnya dan hanya melahirkan satu anak setiap tujuh sampai delapan tahun sekali.
  8. Induk orangutan dan anaknya selalu menghabiskan waktu untuk bermain dan menjelajahi hutan.
  9. Induk orangutan dan anaknya hidup dalam satu sarang, kecuali ketika anaknya sudah dewasa. Bila menjelang dewasa, maka ia akan hidup mandiri.

Apabila induk orangutan hilang maka bisa jadi generasi (populasi) atau keturunan orangutan bisa terputus alias semakin langka dan sangat terancam punah atau bahkan punah di muka bumi ini.

Perlu perhatian dari semua pihak untuk saling menyayangi, melindungi dan melestarikan orangutan.

Foto : Tim Laman

Tulisan : Pit

@savewildorangutans

(Yayasan Palung)

Yuk Ikuti workshop Kreatif di World Fair Trade Day 2023, gratis!

Repost @parara.id WORKSHOP ~ #WFTD2023

Workshop Upcycling Fashion Wastra Nusantara X Denim by Rasa Wastra Indonesia

Bersama: Monique Hardjoko, Founder Rasa Wastra

Hari/tanggal: Minggu/14 Mei 2023

Jam: 14.00 – 16.00 WIB

Lokasi: Komunal 88

Jalan Ampera Raya No. 6, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Peserta membawa:

Jeans/denim yang akan di UpCycling

Perlengkapan gunting

Perca wastra akan disediakan panitia.

Info pendaftaran:

0852 1605 7927

http://bit.ly/UPCYCLING-JEANS

Reimagining the Economy: Regenerative Businesses for The Future

#FairTradeMovement #RegenerativeBusinesses

#WFTOmember #WorldFairTradeDay #LetsDoItFair #BusinessRevolution

Sumber informasi : PARARA@parara.id

(Yayasan Palung)

(Puisi) Panas Terik Membakar Kulit Menanti Asa Penyejuk Jiwa

Ilustrasi panas terik. (Foto dok. Getty Images).

Panas terik tak teduh seperti dulu

Panas terik membakar kulit itu tak terkira mendera

Gerah, gelisah tanpa arah, panas terik saban waktu

Menyapa angin penyejuk, penyejuk jiwa

Suhu panas terik terjadi akibat gerak semu matahari kata para ahli

Panas bumi, perubahan iklim dan pemanasan global itu pasti

Panas, gerah mendera menanti asa disapa kini

Panas terik tentang ibu bumi yang tak hanya ibu tetapi rumah setiap insani

Panas terik tiada tara, kering kerontang bersama peluh keringat para petani mengolah sawah

Rinai hujan tak sanggup menyalur air karena tanah merekah

Bumi hijau tak lagi hijau, rebah tak berdaya dari setiap kisah

Tajuk-tajuk pepohonan luluh layu bersama anomali cuaca yang entah kapan berhenti merambah

Panas terik membakar kulit, menanti disapa siapa saja

Tentang bumi, bumi hari ini tak ubah seperti neraka mendera jiwa

Usia bumi sudah semakin tua renta sebagai ibu semua kita

Menyana siapa saja agar bumi boleh kiranya disapa oleh siapa saja, semoga saja…

Tulisan ini juga dimuat di :

 https://monga.id/2023/05/panas-terik-membakar-kulit-menanti-asa-penyejuk-jiwa/

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/645219b44addee14f844d0d2/panas-terik-membakar-kulit-menanti-asa-penyejuk-jiwa

Petrus Kanisius

(Yayasan Palung)

Selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2023

Selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2023. (Foto ilustrasi dok : Riduwan/YP).

Setiap tanggal 2 Mei tiap tahunnya dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ditetapkannya tanggal 2 Mei tersebut bertepatan dengan hari lahirnya bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara.

Hari Pendidikan Nasional ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Keppres RI Nomor 316 Tahun 1959.  Hari ini dibuat sebagai kepedulian pemerintah akan pentingnya pendidikan di Indonesia. Dengan adanya Hardiknas diharapkan bisa menumbuhkan semangat belajar dan tumbuh untuk seluruh insan pendidikan.

Ketentuan ini tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 67 Tahun 1961 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Pemerintah menetapkan peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei, meski bukan hari libur.

Pria yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Suryaningrat itu menjadi sosok penting bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

Baca juga :

Ki Hajar Dewantara kemudian membentuk tiga semboyan yang diterapkan dalam sistem pendidikan Indonesia sebagai berikut.

  1. Ing Ngarso Sung Tulodo yang berarti ‘Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik’
  2. Ing Madyo Mangun Karso yang berarti ‘Di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide’
  3. Tut Wuri Handayani yang berarti ‘Di belakang, guru harus bisa memberikan dorongan atau arahan’

 “Pendidikan memang tidak menjamin kesuksesan seseorang. tapi tanpa Pendidikan, maka kehidupan akan menjadi sulit”

Ayo….!!! Terapkan Pendidikan karakter dari sekarang

Tulisan diolah dari berbagai sumber

(Yayasan Palung)

10 Fakta tentang Orangutan

Orangutan. (Foto dok. Simon Tampubolon/Yayasan Palung).

Orangutan sebagai primata yang endemik di pulau Borneo dan Sumatera. Keberadaanya saat ini pun sangat dilindungi dan terancam punah. Sudah semestinya menjadi perhatian dari kita semua karena peran pentingnya.

Berikut Ini 10 Fakta tentang Orangutan yang patut untuk kita ketahui sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan;

  1. Orangutan merupakan mamalia/primata/hewan/satwa yang sangat terancam punah di alam liar
  2. Orangutan merupakan primata /hewan/satwa terbesar yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon (arboreal).
  3. Orangutan adalah satwa endemik pulau Borneo dan Sumatera, yang terdiri dari 3 spesies, yaitu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), Sumatera (Pongo abelii) dan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).
  4. Orangutan disebut sebagai petani hutan karena mereka menyebarkan biji dari buah-buahan sisa makanan yang mereka makan, biji-bijian/buah tersebutlah nantinya akan tumbuh menjadi tunas-tunas (pohon) baru.
  5. Orangutan selain dikenal sebagai satwa yang sangat dilindungi, ternyata ia vegetarian dan frugivora lho.  Orangutan sangat suka memakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian) dan memakan buah-buahan (frugivora).
  6. Orangutan mengkonsumsi lebih dari 300 jenis tumbuhan yang terdiri dari: 60% terdiri dari buah, 20% bunga, 10% daun muda dan kulit kayu serta 10% serangga (seperti rayap).
  7. Orangutan betina merupakan pengasuh yang baik bagi anaknya. orangutan betina jika ia memiliki anak maka ia akan mengajarkan anaknya untuk mencari makan dan membuat sarang hingga usia anaknya dewasa (umur 6-7) tahun.
  8. Orangutan adalah kera besar yang memiliki hampir 97% DNA yang sama dengan manusia, menjadikan mereka salah satu kerabat terdekat kita.
  9. Setiap hari orangutan selalu membuat sarang. Sama halnya dengan manusia, orangutan juga memiliki rumah. Namun, rumah dari orangutan disebut sarang.
  10. Orangutan disebut spesies kunci (key stone species) atau ada pula yang menyebutnya sebagai spesies payung (umbrella species). Apabila orangutan hilang/punah maka tumbuhan/hewan lainnya akan mengikuti pada ekosistem hutan hujan.

Baca juga:

https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/644b37efa7e0fa1430439092/berikut-ini-10-fakta-tentang-orangutan

Sumber dari berbagai sumber

Petrus Kanisius-Yayasan Palung