Puisi: Hutan di Ujung Senja

Di ujung senja aku melihat luka lara itu

Luka lara yang tak lain adalah hutan

Kumelihat samar-samar hingga seperti gelap menjelang malam

Pancaran sinar senja yang tak jarang terhalang hujan yang juga terkadang memberi tanda

Lihat,

Hutan yang kian meranggas

Tanah mulai mengering  

Rimba yang tak lagi rimbun

Sungai yang semakin tak ber-ikan

Merdunya suara nyanyian satwa semakin sunyi

Rinai rintik hujan yang semakin deras semakin sulit dibendung

Akar pencakar dan penopang semakin tercerabut rebah luluh layu

Mengaduh gaduh,

Isi rimba semakin tak bertuan tetapi semakin banyak yang meminati

Manusia sudah semakin pongah dan serakah

Kini bila di ujung senja berarti malam

Langit sangat gelap saat malam

Apakah gelap itu tentang tatapan mata yang semakin kunang-kunang atau remang-remang

Atau karena gelap mata kepada si pembuat onar, yang sejatinya tampak di pelupuk mata

Sumpah serapah hingga hutan, bumi, satwa dan semua tak lagi mampu harmoni

Akankah masih ada asa untuk melihat indahnya hutan diujung senja?

Entahlah

Berharap ada tangan-tangan tak terlihat yang peduli pada nasib hutan ini

Agar kiranya semua nafas boleh berlanjut hingga selamanya.

Pit-YP

#puisi #hutandiujungsenja #hutan #senja #forest #sasra

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Yayasan Palung

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca