MENJAGA RAWA GAMBUT, MENGAPA PENTING?

Foto Rawa Gambut; Blackwater river di rawa gambut. Foto : Gunawan Wibisono/Yayasan Palung

Pernahkah anda menjelajahi atau singgah di Rawa gambut? Berbagai kegiatan yang melibatkan ekosistem rawa gambut di sekitar atau justru lingkungan tempat tinggal?

Definisi tentang rawa gambut sangat bervariasi, mengutip dari EPA rawa didefinisikan sebagai berbagai tipe lahan basah yang didominasi oleh tumbuhan berkayu. Sebagai bagian dari tipe lahan basah gambut berperan dalam mengendalikan banjir dan siklus regenarasi air tanah (Hugron et al. 2013). Terdapat karakteristik khusus yang ditemukan di rawa gambut yaitu keberadaan air hitam (blackwater), degradasi warna ini disebabkan akumulasi tanin yang berasal dari daun dan gambut. Mengutip dari Wetlands international Berbagai jenis tumbuhan , avifauna (burung), pisces (ikan), primata dan organisme hidup lainnya hidup di Rawa Gambut. Blackwater  miskin nutrisi dibandingkan dengan whitewater .Terdapat kondisi dimana konsentrasi ionik lebih tinggi dibandingkan air hujan (Sioli, 1975).

Cara observasi rawa gambut dapat melalui jalur darat atau air. Seringkali penggunaan sampan, perahu atau kendaraan air lain dipilih berdasarkan lebar sungai dan debit air permukaan daratan yang di jelajahi. Mengutip dari “Wetlands international“, Hutan rawa gambut tropis merupakan rumah bagi ribuan hewan dan tumbuhan, termasuk banyak spesies langka dan terancam punah, satu diantaranya adalah orangutan yang habitatnya terancam oleh deforestasi lahan gambut. Rawa gambut juga merupakan rumah bagi Primata lainnya seperti “bekantan’ (Nasalis larvatus Wrumb. 1787), “beruk’ (Macaca nemestrina Linnaeus, 1766), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis Raffles, 1821), “lutung merah’ (Presbytis rubicunda Muller, 1838). Umumnya ketika pagi hari tiba pada hutan rawa gambut akan terdengar suara owa/ ungko/ kelawat/ klempiau (Hylobates albibarbis Lyon, 1911). Berbagai jenis hewan lainnya  seperti “trenggiling sunda’ (Manis javanica Desmarest, 1822) termasuk dalam katagori kritis.

Jenis hewan yang terdapat di sungai blackwater seperti “buaya muara/buaya kodok/katak” (Crocodylus porosus Schneider, 1801) yang dikenal sebagai hewan buas ternyata memiliki peran yang sangat penting. Mengutip dari World Animal Protection, buaya berperan dalam regulasi populasi hewan lain dan mencegah kepadatan berlebih yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Beberapa kasus yang dimuat oleh seperti pencemaran sungai oleh plastik menjadi pemicu naiknya buaya hingga ke pemukiman (UN Environtment programme), hal yang serupa dapat terjadi di sungai blackwater habitat rawa gambut.

Gangguan yang memungkinkan untuk terjadinya kebakaran merupakan penyebab utama emisi CO2 dari hutan rawa gambut regional dan dapat berdampak pada ekosistem di seluruh dunia terkait kontribusinya terhadap perubahan iklim. CO2 di atsmorfer akan menyerap radiasi balik dari permukaan bumi dalam bentuk gelombang infra merah, sehingga menyebabkan kenaikan suhu permukaan bumi. Melangsir dari NLM (2019), terdapat efek negatif ketika alih fungsi lahan untuk kultivasi tumbuhan non native dalam skala besar dan berlebih terhadap microclimate.

Area gambut tropis yang berdampingan dengan rawa di dalam bioma hutan, dimana tumbuhan di dalamnya memiliki daun lebar dalam keadaan lembab di daerah tropis dan subtropis menyimpan dan mengakumulasi sejumlah besar karbon sebagai bahan organik tanah. jumlah bahan organik tersebut lebih banyak dibandingkan yang terkandung oleh hutan alam. Stabilitas hutan rawa gambut sangat berpengaruh pada perubahan Iklim karena merupakan satu contoh cadangan karbon terbesar di permukaan bumi diantara contoh lainnya. Kita dapat sedikit memahami bagaimana kerusakan dan pencemaran lingkungan sekitar dapat berdampak terhadap makhluk hidup termasuk manusia di Bumi. Apakah kita yakin rawa gambut disekitar kita masih dalam keadaan yang baik-baik saja? Bagaimana dengan peristiwa seperti banjir, terutama di area delta? Bagaimana dengan ikan di tambak sungai yang mati oleh intrusi air laut yang melebihi ambang batas?

Silahkan baca juga: Perubahan iklim, Pencemaran sungai

Referensi:

Hugron, S., Bussières, J. and Rochefort, L. 2013. Tree plantations within the context of ecological restoration of peatlands: a practical guide, Peatland Ecology Research Group, Université Laval, Québec. 88 pages.

Rieley, JO. Ahmad-Shah, AA. & Brady, MA (1996). The Extent and Nature of Tropical Peat Swamp. In: Maltby, E., Immirzi, CP. and Safford, RJ. (eds). Tropical Lowland Peatlands of Southeast Asia, Proceedings of a Workshop on Integrated Planning and Management of Tropical Lowland Peatlands Held at Cisarua, Indonesi, 3-8 July 1992. IUCN, Gland, Switzerland.

Penulis : Gunawan Wibisono /PPS,Yayasan Palung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: