(Puisi) Sang malang, Petani hutan

Orangutan. (Foto dok : Erik Sulidra)

Kemana lagi nafasnya bernaung?

Hutan nya tandus tak berpenghuni

Daun menyala api sewarna senja yang berani

Meneror habis makhluk yang menghuni

Asap menggumpal menyerang di segala sisi

Menebar siksa yang tak berperi

Tanahnya berlumpur di hantam besi yang tajam

Tak henti henti sengkuni menghujam

Suara resah menggema di sepanjang malam

Merintih dan melolong dalam diam

Tersisih dari mata gergaji yang tajam

Kepada siapa lagi mereka berlindung?

Sang petani hutan yang tersandung

Melolong Dalam harapan hampa, di nista, di paksa asing demi sebuah tahta, manusia tak habis habis berkuasa

Punah, binasa, ada di depan mata

Pekat, nyawanya tersekat

Terjebak di antara kuasa yang  mengikat

Parunya membiru mengoyak ngoyaknya dalam taat

Terkapar si petani hutan sekarat

Terdiam ,Terlempar dalam kuasa yang terlibat

Tergeletak sang petani hutan menjadi mayat.

Banjir longsor segera datang melayat

Kepada siapa lagi mereka berlindung?

hijau yang menjadi arang

daun menyala api bagai tajamnya pedang

Menjadi racun begitu garang

Menguliti nafas orang-orang

Bencana datang karena hutan yang melayang

Mahendra-Yayasan Palung

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Yayasan Palung

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca