Mengapa Satwa, Hutan dan Manusia Sama-sama Penting dalam Keharmonisan Kehidupan?

Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang. Foto YP
Anak orangutan yang dipelihara oleh masyarakat di Kec. Manis Mata, Ketapang. Foto dok. YP

Semua makhluk hidup menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya (harmonis), namun saat ini apakah masih demikian adanya?. Beragam jenis satwa yang mendiami hutan seperti orangutan, bekantan, kelasi, burung enggang, kelasi dan kelempiau merupakan jenis satwa endemik yang kerap kali hidup berdampingan satu sama lainnya. Misalnya, orangutan yang mendiami wilayah Kalimantan kecuali Kalimantan Selatan sejak dahulu dikenal sebagai penyebar biji-bijian.

Demikian juga halnya orangutan yang ada di Sumatera. Seperti bekantan, kelasi, burung enggang, kelasi dan kelempiau serta jenis satwa lainnya seperti Gajah dan harimau di Sumatera, Cendrawasih dan Papua serta banyak lagi ragam satwa yang berada di wilayah lainnya di Indonesia begitu penting bagi kehidupan, lebih dari itu keberlanjutan tatanan kehidupan semua nafas segala bernyawa di planet ini. Bayangkan saja, bila tidak ada satwa yang menyebar biji-bijian buah hutan dari sisa mereka makan (kotoran satwa) yang selanjutnya tumbuh menjadi tajuk-tajuk pepohonan. Mampukah kita menanam berjuta-juta hektar hutan?.

Memang manusia bisa menanam, tetapi apakah mampu atau sanggup rutin setiap saat?. Mungkin jawabannya kita tidak mampu rutin setiap saat seperti satwa dalam hal konservasi hutan. Nah, bagaimana jika hutan itu tidak ada (tinggal tersisa sedikit) atau dalam artiaan lain diambang terkikis habis? Tidak sedikit fakta yang membukakan mata. Lihat betapa banjir, banjir bandang bersama tanah longsor kerap kali menghampiri. Bumi menghangat melebihi batas normal, manusia pun gerah sepanjang waktu saat ini. Dari hal yang terjadi tersebut pula, sudah barang tentu, satwa dan manusia menjadi satu kesatuan yang sangat penting (tidak terpisahkan) satu dengan yang lainnya. Bagaimana bila satwa, hutan dan manusia salah satunya rusak atau sakit bahkan hilang?.

Keterancaman dari satwa, manusia dan hutan sudah semakin nyata terjadi. Semakin berkurangnya ruang, jelajah dan habitat tempat mereka berdiam sama hal dengan manusia. Satwa kian terancam dengan ulah pemburu yang tidak segan memburu dan menghabisi nyawa satwa endemik yang mengatasnamakan kepentingan perut.  Gajah tidak berdosa diambil gadingnya, paruh enggang dan sisik trenggiling juga demikian adanya. Nasib harimau juga begitu tragis diburu untuk diambil kulitnya. Orangutan, bekantan, beruang madu, ayam hutan, kelempiau dan kelasi juga sudah semakin terjepit dihabitat hidupnya.

Adanya perdagangan gelap menjadi salah satu sebab akibat dari semua ini. Kini, keberadaan satwa sudah semakin langka, langka karena satwa tidak banyak lagi yang tersisa (diambang kepunahan). Demikian juga lahan nan luas berupa hutan kian tergadai. Mega keanekaragaman tumbuh-tumbuhan semakin hilang tidak berbekas. Petani sudah semakin sulit mencari lahan di pegunungan, tempat mereka bercocok tanam. Musim sudah semakin sulit diprediksi, petani sulit mencapai target walau di sawah. Bila kemarau tiba, kering kerontang mendera. Bila musim hujan, padi dan tanaman sayur mayur terendam.

Ini terjadi dan terus melanda ketika para petani menggantungkan hidup mereka dari hasil panen mereka. Hal yang sama pula terjadi pada para nelayan, cuaca tidak menentu berimbas pada daya tangkap dan hasil mereka.  Seisi lautan berupa ikan endemik seperti hiu semakin sulit bertahan hidup. para pemburu sirip semakin banyak menanti menyayat-nyayat sirip-sirip. Keindahan batu karang dan porak poranda oleh racun ikan oleh oknum nelayan yang tidak bertanggungjawab.

Tata aturan acap kali diabaikan oleh para pelaku. Sudah jelas, undang-undang terkait larangan berupa UU no. 5 tahun 1990 tentang: “Keanekaragaman hayati dan ekosistemnya” yang menyatakan; Dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memilihara, mengangkut, dan memperniagakan atau memperjualbelikan satwa dilindungi atau bagian-bagian lainnya dalam keadaan hidup atau mati, tertuang dalam (Pasal 21 ayat 2). Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran sebagaimana ketentuan dimaksud akan dikenakan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah (pasal 40 ayat 2).

Banyak yang tertangkap dan dihukum karena melanggar undang-undang terkait kejahatan terhadap satwa dilindungi. Tetapi, bak jamur tumbuh di musim penghujan. Pelanggaran dan kasus perdagangan, perburuan dan pemeliharaan semakin menjamur.  Apakah ini menjadi pertanda lemahnya hukum atau kesadaran dari para oknum pelaku masih lemah?. Entahlah, tetapi yang pasti, keterancaman satwa (satwa endemik) menjadi tanda keharmonisan dalam kehidupan sudah semakin pudar. Bagaimana bila satu kesatuan antara satwa, hutan dan manusia ada yang hilang lenyap (punah)? Tentu hal ini tidak semua menghendaki. Mengingat, bila salah satu dari antaranya yang punah maka sudah pasti tatanan kehidupan, lebih khusus rantai makanan dan ekosistem akan terganggu. Saat ini pula rantai makanan sudah mulai rusak. Berharap, semoga rantai makanan dan satu kesatuan ekosistem yang ada masih dapat berjalan dengan baik. Salah satu caranya adalah dari kepedulian diri, kelompok dan yang lebih pasti pula adalah perlunya kepedulian dan perhatian dari semua pula.  Dengan demikian segala makhluk segala bernyawa termasuk manusia bisa aman dan nyaman di tempat hidupnya dimanapun dia berada, dengan demikian pula tatanan kehidupan bisa tetap harmonis dan berlanjut. Semoga saja…

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/mengapa-satwa-hutan-dan-manusia-sama-sama-penting-dalam-keharmonisan-kehidupan_5735a9380223bd780734f356

Published by

yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.