Musim Buah Berkah bagi Masyarakat Sekaligus Merawat Kearifan Lokal dan Lingkungan

langsat-foto-dok-pribadi Pit.jpg

Langsat dari kebun masyarakat. Foto dok. Pribadi

Ketika musim buah tiba, dimulai sejak pertengahan, akhir bulan oktober tahun 2015 lalu dan diperkirakan puncak musim buah berakhir di bulan Februari. Lalu ada apa dengan musim buah sekaligus merawat kearifan lokal masyarakat? Di Kampung-kampung, hampir merata di beberapa wilayah yang ada di Kalimantan Barat ketika musim buah tiba. Seperti misalnya di Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kayong Utara, dan beberapa daerah lainnya dihadapkan dengan musim buah. Musim buah identik dengan berkah atau rejeki nomplok bagi para pemilik tanaman buah-buahan. Benar saja, berbuahnya buah durian, pekawai, duku, langsat, mentawak, rambutan dan kandaria (satar) menjadi berkah karena sumber pendapatan tambahan masyarakat di tengah-tengah harga karet yang semakin anjlok dan meroketnya mayoritas harga kebutuhan sehari-hari. Beberapa buah-buahan tersebut di atas sedikit banyak harapan untuk menambah pemasukan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya musim buah, tidak jarang di kampung-kampung dibanjiri buah-buahan yang terkadang jarang ditemui seperti buah teratong (sejenis buah durian berwarna merah, tetapi ada juga yang berwarna sama seperti durian). Jika musim buah tiba, terutama durian kerap kali sangat diminati untuk dijadikan tempoyak dan lempok. Tempoyak tidak lain merupakan hasil fermentasi dari durian yang dapat dijadikan sebagai penambah lauk, misalnya kebiasaan orang di Kampung, lebih khusus di Ketapang, Kalbar, sudah akrab dengan masakan ikan asam pedas tempoyak. Ikan asam pedas tempoyak pun menjadi salah satu masakan yang sejak dari dulu sudah ada. Jika disantap, masakan tersebut menggugah selera dan rasanya enak sekali. Tetapi bagi yang terbiasa, dan bagi yang belum terbiasa harus mencoba. Jika musim buah durian banjir (persediaan buah melimpah ruah) biasanya harga durian hanya dihargai 1.000 rupiah perbuah. Sedangkan jika persediaan tidak terlalu banyak, harganya kisaran 5.000-15.000 rupiah perbuah. Akan tetapi, apabila kita langsung menyandau (menunggu durian jatuh) biasanya gratis-tis-tis. Beberapa di antara masyarakat seperti di Kecamatan Simpang Dua, ada kelompok masyarakat yang mengolah buah durian untuk dijadikan lempok. Lempok-lempok yang mereka olah beberapa di antaranya dijual ke kota dan bahkan ada yang dijual ke Malaysia. Untuk buah-buahan lainya seperti  buah rambutan dijual dengan harga 4.500 rupiah per kilogramnya jika musim buah raya dan jika tidak musim buah raya harga kisaran 8.000-10.000 rupiah/kg. Sedangkan harga langsat saat ini kisaran harga 5.000 rupiah/kg. Sebelum buah raya tiba, bahkan harga langsat kisaran harga 15.000-20.000 rupiah/kg. Buah mentawak, per buahnya dihargai 5.000 rupiah. Sedangkan buah-buah lainnya seperti manggis dihargai 20.000 rupiah/kg, atau ada juga yang menjual buah manggis perbuahnya 500 rupiah-1.000 rupiah.

buah-langsat-dan-buah-satar-Dok. Pribadi Pit.jpg

buah langsat dan buah satar . Foto Dok. Pribadi Pit

Di Wilayah Kabupaten Kayong Utara, jika musim buah tiba adalah di Desa Sedahan Jaya. Bahkan di bulan Desember tahun 2015 lalu, di desa tersebut menyelenggarakan festival durian.

Mengingat di wilayah tersebut sebagai salah satu tempat yang masyarakatnya banyak menanam atau berkebun durian. Menariknya, sedikit banyak dari adanya buah hutan erat kaitannya dengan kearifan lokal masyarakat. Kearifan lokal yang dimaksud adalah hampir sebagian besar masyarakat di kampung memiliki kampung tembawang dan buah janah. Kampung tembawang tidak lain adalah kawasan kampung/pemukiman, sedangkan buah janah merupakan kebun buah. Seperti diketahui, kebiasaan masyarakat lokal seperti misalnya masyarakat dayak setelah mereka bercocok tanam (berladang) sudah pasti menyiapkan kampong tembawang dan buah janah dengan cara mereka (masyarakat lokal) menanam kembali dengan tanaman kebun buah dan juga kebun karet. Beberapa di antara juga menanam tanaman ramu tarang (tanaman untuk bahan rumah) seperti sungkai, merbau, ulin, bengkirai dan kayu lainnya yang nantinya jika telah besar digunakan untuk bahan bangunan (rumah) masyarakat.

Sedangkan jika dilihat dari fungsi merawat lingkungan, beberapa tanaman buah tidak semudahnya untuk menebang pohon buah tersebut. Pada tahapan kearifan lokal masyarakat, ada yang disebut fungsi menjaga di tanah adat, tanah desa ataupun tanah sesamanya secara sembarangan. Hukum adat (norma adat) berlaku jika merusak tanaman buah. Masyarakat tidak boleh sembarangan merusak kampung tembawang buah janah, mengingat kampung tembawang buah janah memiliki manfaat sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Misalnya dengan menjaga kampung tembawang, masyarakat sedikit banyak terbantu salah satunya ketersediaan buah yang memiliki nilai ekonomi dan sebagai pelestari budaya tradisi dan lingkungan. Pada masyarakat tertentu, kampung tembawang juga memiliki hubungan erat dengan cara pelestarian terhadap tanaman buah tertentu. Seperti misalnya, masyarakat di Desa Laman Satong, khususnya Dusun Manjau, Ketapang, Kalbar menganggap tanaman durian sebagai tanaman yang tidak boleh ditebang. Jika ditebang, masyarakat menganggap menebang pohon durian sama saja dengan membunuh tetua mereka (petinggi adat) di kampung tersebut. Pohon durian si pemilik boleh ditebang jika si pemilik tanaman (yang menanam meninggal dunia). Kampung tembawang secara kasat mata tidak bisa disangkal sebagai warisan nenek moyang (kearifan lokal) yang masih ada hingga kini. Dengan adanya buah-buahan dari tanaman buah menjadikan masyarakat lokal berbangga terhadap apa yang mereka lakukan yaitu menanam kebun buah mudah-mudahan hingga nanti buah-buahan bisa tetap ada dan terjaga serta lestari.

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/musim-buah-berkah-bagi-masyarakat-sekaligus-merawat-kearifan-lokal-dan-lingkungan_568b4502d57a61d00ed00387

Ucapan Selamat Tahun Baru 2016

Ucapan Selamat Tahun Baru 2015

Kami dari Keluarga besar Yayasan Palung mengucapkan Selamat Tahun Baru 2016 Kepada seluruh Masyarakat di Wilayah Kerja Yayasan Palung di dua Kabupaten (Ketapang dan Kayong Utara), Kepada lembaga mitra,  Relawan dan masyarakat luas.

Semoga di Tahun 2016 ini, kita semua semakin baik dari tahun-tahun sebelumnya dan sukses selalu menyertai setiap langkah, cita-cita, karya dan tujuan serta harapan. Amin…

Berjumpa Keindahan Tumbuhan, Satwa dan  Buah Hutan Saat Fiedltrip di Lubuk Baji

Belajar Taksonomi tumbuhan_2

Belajar Taksonomi tumbuhan secara langsung di hutan. Foto dok. YP

Saat pengamatan satwa

Pengamatan satwa saat fieldtrip bersama Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes di Lubuk Baji. Foto dok. YP

Suguhan menarik tidak bisa kami sembunyikan saat kami berjumpa sekaligus belajar tentang tumbuh-tumbuan, mendengarkan suara kelempiau saat menari-nari di pepohonan saat kami melakukan pengamatan satwa pada malam dan subuh hari dan beberapa kegiatan lainnya ketika melakukan Fieldtrip di Lubuk Baji, bersama Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes pada kamis (10/12/2015) hingga sabtu (12/12/2015), pekan lalu.

peserta fieldtrip

Peserta Fieldtrip dari Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes. Foto dok. YP

Dalam melakukan kegiatan fieldtrip tersebut, selain kami disuguhi dengan hal-hal menarik seperti tumbuhan dan berjumpa dengan satwa juga kami belajar mengamati keduanya (tumbuhan dan satwa) secara langsung.

Pengamatan satwa kami lakukan ketika pagi hari sekitar pukul 05.30 Wib. Perilaku satwa ketika bergelantungan dari pohon satu ke pohon lainnya sempat kami saksikan. Bahkan yang menariknya kami melihat kelempiau (Hylobates muelleri) sedang menari-nari sembari bersuara. Kami melihat kelempiau tersebut sekitar setengah jam dari waktu kami mulai melakan pengamatan atau sekitar pukul 06.00 Wib. Sesekali kepak sayap burung enggang terdengar sekaligus terlihat hinggap di dahan pohon dan terlihat sedang memakan buah kayu ara (Ficus crassiramea).

Tidak hanya itu, belajar bersama tentang taksonomi tumbuhan dan pengamatan air  (untuk mengetahui indikator air apakah bersih atau tidak). Dalam pengamatan tumbuhan tersebut, Sispala Repatones diajak untuk belajar bersama untuk melakukan praktek identifikasi ciri-ciri fisik daun, jenis dan bentuk daun. Sebelum melakukan identifikasi tumbuhan, peserta dari Sispala Repatones yang berjumlah 21 orang tersebut diberikan materi tentang taksonomi tumbuhan oleh Edward Tang dari Yayasan Palung.

Yang sangat menariknya, kami juga banyak menjumpai buah-buahan hutan yang sedang berbuah. Beberapa buah hutan tersebut terlihat ada yang tidak utuh karena telah dimakan oleh satwa-satwa terlebih khusus pakan/makanan orangutan yang mendiami tempat tersebut. Beberapa buah-buahan hutan tersebut diantaranya seperti Dillenia borneensis (Simpur Laki), Connarus sp (Belungai), Baccaurea dulcis (rambai hutan), Artocarpus elasticus (terap), Aporosa nitida (Belian air) dan Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak), merupakan makanan kesukaan burung enggang.

Baccaurea dulcis (rambai hutan)

Baccaurea dulcis (rambai hutan) yang merupakan makan kesukaan orangutan. Foto dok. YP 

Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak)

Dysoxylum cyrtobotryum (Lantupak). Foto dok. YP

Dillenia borneensis (Simpur Laki)

Dillenia borneensis (Simpur Laki). Foto dok. YP

Connarus sp (Belungai)

Connarus sp (Belungai). Foto dok. YP

Artocarpus elasticus (terap)

Artocarpus elasticus (terap). Foto dok. YP

Aporosa nitida (Belian air)

Aporosa nitida (Belian air). Foto dok. YP

 

Sebagian besar buah-buahan hutan tersebut merupakan pakan utama bagi sebagian besar primata dan beberapa burung di wilayah hutan lubuk baji (zona penyangga dari Taman Nasional Gunung Palung).

Saat kami melakukan pengamatan pada malam hari, kami banyak berjumpa dengan jenis serangga, kumbang hutan, semut dan kodok unik yang ukurannya terbilang kecil (kurang lebih sebesar kelingking orang dewasa). Kami juga berjumpa dengan jamur bercahaya di malam hari, jamur tersebut memperlihatkan cahayanya ketika lampu senter dimatikan.

IMG_8232

 

Pengamatan indikator air. Foto dok. YP

Esok harinya, sebelum matahari bersinar, kami bergegas bersama untuk melihat sinarnya memancar di Batu Bulan, Lubuk Baji dan melihat indahnya persawahan masyarakat di Desa Sedahan dan KKU. Setelah kami melihat matahari bersinar, selanjutnya kami kembali ke Camp Lubuk Baji. Setibanya kami kembali di Camp, kegiatan selanjutnya adalah bersih-bersih sampah di sekitar tempat kami berkegiatan berlanjut dan bersiap berkemas-kemas untuk persiapan pulang.

Dalam fieldtrip (kunjungan lapangan) tersebut, 21 orang dari Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes, 2 guru pendamping ( Hendri dan Agnes), dari Yayasan Palung ( Edward Tang, Petrus Kanisius, Hadjral) dan Wawan, relawan Yayasan Palung.

Kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta fieldtrip. (Petrus Kanisius- Yayasan Palung)

Tulisan ini pernah dimuat di http://pontianak.tribunnews.com/2015/12/15/pesona-keindahan-tumbuhan-dan-satwa-di-lubuk-hijau

 

 

 

Temu Kenal dan Berbagi Cerita Dari Pengrajin HHBK KKU Dengan Lembaga Mitra

pertemuan tahunan kelompok penganyam se-kalimantan (jaringan craft kalimantan), foto dok. Yayasan Palung

Pertemuan tahunan kelompok penganyam se-kalimantan (jaringan craft kalimantan), foto dok. Yayasan Palung

Tiga pengrajin hasil hutan bukan kayu (hhbk) dari  Kabupaten Kayong Utara, terlihat sangat bersemangat untuk temu kenal dan berbagi cerita pengrajin (shearing) dengan berbagai lembaga mitra dan pihak pemerintah  bertempat di kantor Yayasan Palung Ketapang, senin (30/11/ 2015), kemarin.

Dalam temu kenal dan berbagi cerita terlontor dari pengrajin hhbk seperti misalnya Ibu Ida, pengrajin menganyam berbagai bentuk kreasi anyaman seperti tikar pandan bermotif pucuk rebung, kreasi tikar pandan yang dipadukan dengan anyaman lekar untuk dijadikan lampu hias.

Tidak hanya itu, kreasi anyaman pandan ada yang dibikin menjadi aksesoris seperti anting, gelang, tas, dompet dan kalung. Bahkan ada sajadah yang dibuat dari tikar pandan dengan beberapa motif lainnya seperti motif pagar. Ada juga kopiah dari pandan.

Ketiga pengrajin yang diwakili oleh Ibu Ida, Ibu Hatimah dan bapak Darwani juga berbagi cerita diantaranyamereka pernah diberi kepercayaan menjadi pelatih anyaman dibeberapa tempat seperti di beberapa tempat di beberapa kabupaten di Kalbar bahkan hingga ke Papua.

Beberapa produk hasil dari hhbk seperti lekar tikar, gelang, anting dan lekar dari lidi nipah. foto dok. Yayasan Palung_ foto 1

Beberapa produk hasil dari hhbk seperti lekar tikar, gelang, anting dan lekar dari lidi nipah. foto dok. Yayasan Palung

Dari pengrajin, ada success story (cerita sukses) dari pengrajin. Salah satunya adalah Ibu Vina (37 tahun), di Dusun Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan. Sebelum menjadi pengrajin ibu Vina pekerjaan sehari-harinya sebagai penambang batu. Namun kini, ibu Vina menjadi pengrajin tikar pandan. Dengan kata lain, cerita sukses ibu Vina ikut berkontribusi untuk perlindungan kawasan dan habitat orangutan di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Hal yang menarik lainnya dari pengrajin hhbk di Kabupaten Kayong Utara (KKU) menjadi tempat belajar bagi generasi muda, khususnya siswa-siswi SMKN 1 Sukadana. Bahkan pihak sekolah berencana menjadikan anyaman hhbk sebagai muatan lokal (mulok) atau prakarya di sekolah mereka. Kini, siswa-siswi SMKN 1 Sukadana sudah aktif belajar langsung ke rumah-rumah pengrajin. Mengingat, anyaman tikar pandan sebagai warisan leluhur tradisional di wilayah KKU.

Workshop Training Kerajinan, SMKN 1 Sukadana. foto dok. Yayasan Palung

Workshop Training Kerajinan, SMKN 1 Sukadana. foto dok. Yayasan Palung

Monitoring HHBK di Desa Batu Barat, foto dok. Yayasan Palung (1)

Ibu-ibu Sedang Menganyam Tikar  HHBK di Desa Batu Barat, foto dok. Yayasan Palung 

Menurut Frederik Wendy Tamariska, Manager Sustainable Livelihoods Yayasan Palung mengatakan; Ini merupakan pertemuan testimonial yang diadakan di Ketapang. Testimonial para pengrajin yang sudah berjalan selama 4 tahun. Selain itu juga, pertemuaan ini selain menceritakaan pengalaman penjualan produk tetapi juga, pengrajin memaparkan mengenai partisipasinya sebagai kom lokal dalm perlindungan Orangutan dan kawasan TNGP melalui aktivitas kerajinan hhbk. Harapannya semua pihak bisa mendukung inisiatif lokal dalam membangun kesempatan bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam setiap aspek pembangunan. Pengajin pernah menjadi pengrajin di Menyumbung, Kecamatan Sandai, Ketapang. Selanjutnya juga, pengrajin hhbk dari KKU yang merupakan binaan Yayasan Palung  terlibat aktif dalam  Craft Kalimantan; Barat, Tengah dan Timur.

Dalam rangka promosi, sementara ini pengrajin Yayasan Palung aktif terlibat dalam pameran tingkat lokal dan nasional. Untuk kedepan, Anyaman dari pengrajin berpartisipasi dalam pameran internasional di Santa Fe, New Mexico atau IFAM (nama pamerannya-red) yang diadakan setiap bulan juli.

Pada temu kenal dan berbagi cerita senin kemarin (13/11),  beberapa lembaga mitra melakui perwakilannya ikut hadir seperti BTNGP, JICA-REDD+, pihak sekolah (SMA Yohanes Ketapang), Disperindagkop Kabupaten Ketapang,  Dishut Ketapang, Relawan Konservasi Tajam ikut hadir.

Acara yang dimulai sekitar pukul 13.00 wib tersebut, mendapat sambutan baik dari peserta undangan. Danel Maryono, selaku Kasi bimbingan industri dan pencegah dan pencemaran bidang industri dinas koperasi, ukm, perindustrian dan perdagangan Kabupaten Ketapang mengatakan; menyambut baik, mendukung kegiatan seperti yang dilakukan oleh pengrajin. Lebih lanjut menurutnya, pengrajin anyaman pandan, lekar tradisional sebagai pewaris budaya lokal yang harus dilestarikan dan berkelanjutan (ada generasi penerus).

Produk tradisional seperti anyaman-anyaman tradisional hhbk dengan aneka kreasi anyaman yang cukup menjanjikan sebagai penambah pendapatan sehari-hari. Tidak hanya itu, kualitas dari anyaman dari pengrajin hhbk binaan YP juga mendapat dukukungan dari berbagai pihak seperti dekranasda KKU, BTNGP dan beberapa lembaga seperti JICA-REDD+ dan pihak lainnya.

Foto SaatTemu Kenal dan Berbagi Cerita Dari Pengrajin HHBK KKU Dengan Lembaga Mitra dan Pemerintah Di Ketapang, bertempat di Yayasan Palung

Saat temu kenal dan berbagi cerita dari pengrajin HHBK KKU dengan Lembaga Mitra dan Pemerintah di Ketapang, bertempat di Yayasan Palung

 

Dari temu kenal dan berbagi cerita tersebut sebagai permintaan dari pengrajin untuk berbagi informasi kepada lembaga mitra. Kegiatan tersebut berakhir sekitar pukul 15.20 wib sesuai dengan rencana. (Petrus Kanisius- Yayasan Palung)

Tulisan ini juga pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/12/01/cerita-sukses-pengrajin-asal-kayong-utara

 

 

 

 

Media Informasi Pencinta Satwa

Majalah MIaS Yayasan Palung 2015
Majalah MIaS Yayasan Palung 2015

Pembaca setia, berikut ini merupakan Media Informasi Pencinta Satwa (MIaS) Yayasan Palung. MIaS kali ini merupakan edisi khusus tahun 2015.

silakan klik untuk membaca  :MIas 20 Halaman

Selamat membaca, Terima Kasih

 

 

Siswa-Siswi SMPN 3 Matan Hilir Utara Belajar Mengenal Daun di Hutan Secara Langsung

fieldtrip-smpn-3-matan-hilir-utara_20151124_153921

Fieldtrip SMPN 3 Matan Hilir Utara Saat Belajar Taksonomi Tumbuhan. foto dok. YP

Sejumlah 25 orang siswa-siswi SMPN 3 Matan Hilir Utara terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan Fieldtrip (kunjungan lapangan) di hutan Beringin di Kawasan Reboisasi Taman Nasional Gunung Palung , Jumat (20/15/2015) hingga Minggu (22/11/2015), kemarin.

Untuk mencapai tempat fieldtrip, semua peserta harus melewati jalan setapak dan jalan berlumpur dan titian (jembatan mini dari papan seadanya) namun sangat menantang dan memacu semangat saat semua menaiki kendaraan bermotor untuk sampai di tempat tujuan.

Hujan cukup deras tidak menyurutkan peserta fieldtrip untuk belajar morfologi daun menjadi salah satu hal yang tampak menarik diikuti oleh peserta fieldtrip. Mereka secara seksama mendengarkan materi dan melakukan praktek identifikasi ciri-ciri fisik daun, jenis dan bentuk daun.

Peserta fieldtrip juga dikenalkan sejak dini dengan materi dan praktek pengamatan satwa. Kemudian dilanjutkan materi pengamatan indikator air. Adapun tujuan pemberian materi tersebut sebagai pengenalan awal kepada siswa-siswi untuk mengenali lingkungannya secara langsung.

Selama tiga hari melakukan kegiatan fieldrip, peserta juga diajak untuk bermain game (permainan) untuk kekompakan. Peserta dibagi dalam tiga kelompok (kelompok pertama; Si Beruk, kedua; Kelasi dan Kelompok bekantan) mereka bermain jaring laba-laba, menyanyi bersama, senam kesehatan di pagi hari.

Setiap kelompok fieldtrip mendirikan tenda masing-masing. Mereka juga membuat tungku perapian dan masak perkelompok. Pada malam harinya terakhirnya kegiatan, semua peserta berkumpul untuk menyampaikan persentasi dan dilanjutkan dengan acara bebas. Beberapa murid-murid tampak antusias untuk mengisi malam dengan nyanyian, puisi tentang alam dan lingkungan serta pesan dan kesan selama mengikuti fieldtrip.

Dalam melakukan 3 hari rangkaian fieldtrip tersebut, dari SMPN 3 MHU didampingi oleh bapak ibu guru mereka (Bapak David, Ibu Didit, bapak Woni Ordinator), sedangkan dari Yayasan Palung yang ikut bagian dalam kegiatan tersebut antara lain Mriamah Achmad, Edward Tang, Petrus Kanisius, Hadjral dan Wawan Ones (relawan sekaligus aktivis lingkungan).

Kegiatan fieldtrip tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan keesokan harinya, Minggu (22/11/2015) kami menyudahi semua rangkaian kegiatan fieldrip. (Petrus Kanisius-Yayasan Palung).

Tulisan ini pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/24/25-siswa-smpn-3-matan-hilir-belajar-mengenal-daun-di-hutan

 

 

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang_foto 1 (2)

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang. foto dok. YP

Tidak kurang, 100 bibit  di tanam di lokasi sisa-sisa lahan yang terbakar. Penanaman tersebut dilakukan di lahan yang terbakar di Dusun Plerang, Desa Benawai Agung, KKU, minggu (22/11/2015), kemarin.

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang_foto 2

Berfoto Bersama Sebelum Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang. foto dok. YP

Dari 100 bibit yang ditanam, bibit terdiri dari 15 bibit cempedak, 10 bibit rambai, 10 bibit durian, ubah 30 dan nyatoh 35 bibit pohon.

Adapun luasan yang dilakukan penanaman lahan yang terbakar tersebut  sekitat 5000m² (½ hektare).

Menurut Abdul Samad, dari program Sustainable Livelihood, Yayasan Palung; Program ini merupakan program rutin tiap bulan yang dilakukan oleh tim SL, Yayasan Palung dimana lokasi untuk penanaman maka akan langsung dilakukan baik itu permintaan masyarakat atau dari Sispala Land dan Rebonk.

 

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang_foto 1

Berfoto Bersama Setelah Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang. foto dok. YP

Lebih lanjut,  Samad sapaan akrabnya menyebutkan, lokasi yang terbakar  memang sudah seharusnya ditanam karena di sekitar wilayah tersebut gersang.

Dalam penanaman untuk reboisasi lahan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung (Asbandi dan Abdul Samad),  Sispala Land, SMK 1 Sukadana (27 orang), SMAN 3 Sukadana (12 orang) dan Relawan RebonK (17 orang). (Petrus Kanisius- Yayasan Palung)

Tulisan ini pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/26/100-bibit-tanaman-ditanam-pada-bekas-lahan-terbakar-di-plerang

 

 

Yayasan Palung Bantu Menginisiasi Hutan Desa

penyusunan-rencana-kegiatan HD_20151119_191227

Penyusunan Rencana Kegiatan Hutan Desa. Foto dok. YP

Dengan dikeluarkannnya perauran tentang Hutan Desa dan telah beberapa kali dilakukan revisi dan terakhir dengan keluar Permenhut Nomor P. 89/Menhut-II/ 2014 Tentang Hutan Desa diharapkan memberikan akses dan peluang kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan untuk mengusulkan kawasan hutan desa serta mengelola hutan desa secara lestari dan berkelanjutan. Serta di dalam Permenhut tersebut ada beberapa kawasan yang bisa diusulkan sebagai Hutan Desa yaitu Hutan Lindung (HL) dan Hutan Produksi (HP).

Beranjak dari peraturan tersebut saat ini Yayasan Palung membantu beberapa Desa di Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara mengusulkan hutan desa yaitu Desa Penjalaan yang kawasan hutan diusulkan sebagai Hutan Desa adalah Hutan Produksi (HP) Sungai Purang, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar mengusulkan kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Sungai Paduan sebagai Hutan Desa.

Sedangkan proses pengusulan hutan desa itu sendiri telah disampaikan kepada Bupati Kabupaten Kayong utara pada tanggal 11 Nopember 2015 yang dilengkapi persyaratan pengusulan yaitu Surat usulan pembentukan Hutan desa, Berita Acara (BA) pembentukan Hutan Desa, Sket Lokasi Usulan Hutan Desa, Berita Acara Kesepakatan bersama pengusulan Hutan Lindung Sungai paduan dijadikan sebagai Hutan Desa serta rencana kegiatan dan bidang usaha hutan desa.

Sebelum penyampaian pengusulan Hutan Desa kepada Bupati Kabupaten Kayong Utara terlebih dahulu diadakan pertemuan sosialisasi Hutan desa di masing-masing desa yang fasilitasi oleh Yayasan Palung pada tanggal 29-30 September 2015, Sosialisasi Hutan Desa di Hotel Mahkota yang di fasilitasi BP. DAS Kapuas yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober 2015 yang menghasilkan kesepakatan bersama antar desa untuk mengusulkan Hutan Lindung gambut (HGL) sebagai Hutan Desa dan yang terakhir adalah kegiatan penyusunan Rencana Kegiatan dan Bidang Usaha Hutan Desa yang dilaksanakan pada tanggal 09 Nopember 2015.

Menurut Desi Kuniawati (koordinator Hutan desa Yayasan Palung) bahwa dengan adanya pengusulan hutan desa diharapkan masayarakat bisa menjaga dan mengelola kawasan hutan desa secara bijaksana, lestari dan berkelanjutan, dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Selain itu juga diharapkan kepada Pemerintah daerah Kabupaten Kayong dapat mendukung usulan Hutan desa yang disampaikan beberapa desa di Kecamatan Simpang hilir ini. (Edi Rahman- Yayasan Palung)

Tulisan ini juga dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/19/bantu-menginisiasi-hutan-desa

Menciptakan Budidaya Pertanian yang Efisien, Menguntungkan, Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan

 

Pelatihan pertanian Organik (14 Nop 2015) (23) Foto 1: Saat Pelatihan Pertanian Organik bagi LPHD di  Simpang Hilir, KKU, Kalbar beberapa waktu lalu.

Disadari atau tidak, sekarang ini masyarakat Indonesia selalu mengantungkan pertanian non organik yang secara langsung menyebabkan dampak yang secara perlahan menyerang bagi kesuburan tanah, berdampak terhadap lingkungan serta berdampak langsung terhadap kesehahatn masayarakat yang mengkosumsi hasil pertanian yang dihasilkan dari pertanian non organik.

Pelatihan pertanian Organik (14 Nop 2015) (27)

 Foto 2: Saat Pelatihan Pertanian Organik bagi LPHD di  Simpang Hilir, KKU, Kalbar beberapa waktu lalu.

Beranjak dari keprihatinan tersebut maka pada tanggal 14-15 Nopember 2015, Yayasan Palung menginisiasi dan memfasilitasi pelatihan pertanian Organik terhadap anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara. Pelatihan tersebut di ikuti sebanyak 30 orang perserta yang berasal dari 5 desa yaitu Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar. Dalam pelatihan tersebut menghadirkan 3 fasilitator dari Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kayong Utara (Bapak As’Adi, Bapak Budiman dan Bapak Eryudi).

Banyak manfaat yang dihasilkan dalam pelatihan tersebut dikarenakan selain materi disampaikan secara langsung juga fasilitator mengajak peserta mempraktekan berbagai metode pembuatan pupuk organik. Adapun materi-materi pembuatan pupuk organik yang disampaikan dalam pelatihan ini diantaranya Pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL) dari Sabut Kelapa, MOL dari Rebung Bambui, MOL dari Daun Bongkol Pisang, MOL dari daun Gamal, Furmulasi Pupuk dari Batang Pisang, pembuatan Zat Pengatur Tumbuhan (Auksin, Sitokinin dan Giberelin).

Menurut Bapak Asbandi yang merupakan salah salah satu staff Yayasan Palung bahwa selama ini kita tidak menyadari bahwa bahan-bahan pembuatan pupuk organik untuk tanaman banyak berada di sekitar kita  serta tidak memerlukan biaya yang cukup besar seperti pupuk non organik. Karena bahan-bahan mudah di dapat seperti Batang Pisang, Air Beras, Gula Merah, Rebung Bambu, Terasi. Asbandi menambahkan dengan adanya pelatihan ini diharapkan peserta dampat mempraktekannya di desa masing-masing serta mengurangi ketergantungan terhadap pupuk non organik. Selain itu jika menerapkan pertanian organik ini untuk menjaga keseimbangan ekologi, mencegah polusi dan menghasilkan produk yang sehat bagi masyarakat (Edi Rahman- Yayasan Palung).

Tulisan ini juga dimuat di: http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/19/pupuk-organik-mudah-didapat-tak-butuh-biaya-mahal