CERITA PENDEK : SIAPA TAU JADI PENULIS

Menulis merangkai kata untuk kehidupan. Foto dok : IDN Times

Judul tulisan yang kutulis ini adalah “SIAPA TAU JADI PENULIS”. Mewakili perasaaanku menjadi seorang penulis menjadikan sebuah buku sebagai media curhat. Entah pagi ini kenapa aku bercita cita menjadi seorang penulis. Aku tidak jago dalam merangkai atau meracik kata menjadi komplit, penempatan subjek atau objek, bahasa baku bahkan bahasa anak muda yang menjadi tren.

Saat ini aku tidak memiliki kuota internet untuk membaca artikel atau googling atau apalah media pendukung dalam merangkai kata. Semua tulisan ini ku tulis dengan kata kata sendiri tanpa memikir alur akan menjadi sebuah tulisan yang menarik. Terlintas ada kata “OPTIMIS”, ya mungkin kata yang tepat mewakili curhatan ku diawal kalimat sampai terakhir kata ini, optimis akan dipublikasikan dan bahkan optimis menjadi sebuah buku. Kata di unek-unek ku sudah mengantri untuk ditulis sebagai bahan tulisan. Sejenak berfikir apakah ini lebay? Lanjut menulis.

Puluhan kata mungkin sudah ku hapus karena rasanya tidak sesuai untuk dijadikan tulisan. Bahkan seorang penulis sekali pun akan melakukan hal yang sama. Saya bingung memulai dari mana intisari dari tulisan saya ini agar kamu tidak kebingungan. Berangkat dari media sosial PENDIDIKAN. Pendidikan dijadikan senjata untuk menyerang millenial yang seolah tidak punya akal serta moral, instastory yang ku lihat dari katanya disebut mahasiswa berpendidikan membuatku semakin yakin bahwa tidak semua yang berpendidikan akan mendidik yang bawahan. Terangkai kata yang ku baca dari instastory “KITA ORANG BERPENDIDIKAN, ANAK KULIAHAN, EMANGNYA LO YANG NGGAK KULIAH NGGAK BERPENDIDIKAN”. Pesan moral untuk siapapun membaca tulisan ini tolong jangan jadikan pendidikan sebagai senjata untuk menyerang yang tidak berpendidikan kaum muda khususnya, karna kita tahu tidak selayaknya lontaran kata tersebut keluar dari mulut seorang yang berpendidikan.

Manusia itu diciptakan sama, sama sama mahkluk sosial yang membutuhkan satu sama lain, Cuma jalannya aja yang beda. Kampung halaman ku yang dulu bisa saling menghargai kini saling asing untuk saling menghargai karna adanya seorang mahkluk yang bernama MAHASISWA. Aku mewakili rekan mahasiswa minta maaf kepada siapapun yang merasa tersinggung oleh mahkluk kasat mata yag bernama MAHASISWA atas sikap serta tutur kata yang tidak berkenan di hati saudara. Sekali lagi kita sama cuma jalannya aja yang beda, diasumsikan begini “kalau misalnya isi bumi Indonesia ini presiden semua siapa yang jadi rakyat? So jangan tersinggung sahabat. Kata ini juga ku rangkai berdasarkan kisah nyata curhatan seorang teman bukan cerita fiktif atau mengada ada. Satu diantara kalian mungkin beranggapan bahwa saya bisanya ngomong dibelakang, ya mungkin melalui tulisan ini saya bisa menceritakan apa yang kamu tidak kamu ketahui di sekeliling mu.

Beberapa diantara kita juga memiliki karakter yang berbeda, ada yang sama ada yang beda, ada yang bisa bergurau ada yang mudah tersinggung. Tidak semuanya yang kamu lihat bisa kamu nilai benar atau salah. Meluruskan curhatan dari seorang yang hebat yang ku ketahui saat ini, merasa tersinggung karena diasingkan masalah tidak pendidikan. 8 tahun terakhir isu pendidikan di domisili tempatku berada memang sudah nampak bahwa pendidikan adalah suatu masalah yang nantinya akan menjadi alat untuk menyudutkan polemik lemah yang seolah tak terarah kemana akan melangkah.

Bukan kamu yang hanya menyandang status menjadi seorang mahasiswa yang berfoya foya menghabiskan uang orangtua bangga dengan bisa minum mabuk, pesta pora, ganja, narkotika serta narkoba yang menjadi kebanggan desa melainkan dia mahasiswa yang lulus tepat pada waktunya dan seorang tidak berpendidik yang bisa membanggakan kedua orangtua tanpa menyakiti hatinya. Terima kasih untuk kamu yang sudah lulus dan bisa membuat orangtua bangga.

Terima kasih untuk kamu yang bisa menghargai dan tidak membedakan teman yang tidak berpendidikan. Terima kasih untuk satu desa yang menjadi cerminan dari ceritaku ini. Salah satu desa yang membuat saya iri yang bertolak belakang dengan domisiliku. Desa yang bisa menghargai dengan kutipan “di tempat ku orang yang nggak kuliah sama yang kuliah merangkul menjadi satu, didalam forum kami tidak pernah membahas akademik”, sejenak berfikir kok berbanding terbalik ya dari temaptku? Sekali lagi terima kasih desa yang ku maksud. Diakhir kata tema pendidikan ini mungkin ada sebuah kutipan yang menurutku itu benar sebagai ingatan untuk millenial mahluk kasat mata yang disebut mahasiswa “manusia diciptakan dari tanah dan kembali ketanah yang bertuliskan nisan tanpa pangkat sarjana”.

Setelah membahasa pendidikan mungkin lanjut ke tema selanjutnya, mumpung masih ingat, karna penulis hebat sepertiku susah mencari kata kata.

Kali ini temanya CINTA. Semua orang aku rasa membutuhkan yang namanya cinta. Mengangkat topik ini karena saya sedang merasakan apinya asmara, membahas soal cinta memang aku bukan pakarnya. Kata anak muda zaman sekarang bucin namanya, berangat dari pengalaman dong.

Penyemangat saat kuliah itu perlu pacar katanya? Kalo aku nebak seorang psikologis beranggapan bahwa ada beberapa manusia memang butuh penyemangat untuk kelancaran studinya. Tuh kan aku melebihi psikolog. Walaupun tidak semua orang sih ngalamin hal tersebut. Kalo pacaran saling support dong biar semangat satu sama lain. Sebenarnya topik bahasannya tidak kesini ya karna kata kata yang sudah dirancang tetiba hilang. Menurutku cinta itu seperti buku, dimulai dari nol sampai menjadi sebuah buku yang didalamnya terangkai kata kata indah namun biasaya ada konflik, entah itu salah tulis atau bahkan baik baik saja.

Parah sih hilang semua yang mau dibahas, mau dihapus udah setengah mau dilanjutin ragu. Tapi yakin dong menjadi sebuah buku. Mahasiswa itu katanya kreatif katanya sih, tapi ada tipe mahasiswa yang baik dalam akademik tetapi tidak pada organisasi dan sebaliknya. Kembali ke cinta, kalo putus nyawanya jangan ikutan ya, masa iya mahasiswa pikirannya dangkal. Beranjak dari pengalaman ku lagi, kalo misalnya pasangan kamu terutma cowok nih, ceweknya bilang ”jalani aja dulu”, udah nggak usah dilanjutin pasti bakalan sakit hati. “jangan pernah mengubah perpustakaan hati seseorang yang pacaran tahunan lamanya dalam waktu dekat” karna berkas kenangan masih terselip dilembaran pada halaman metodologi. Katanya cewek itu kayak teori atom, sulit untuk dimengerti. Menurut ku wajar sih cewek itu matre, ya kalo nggak ngeliatin isi dompet cewek mana yang mau diajak hidup susah.

Buat para cowok nih, sadar diri dong, maunya cewek cantik tapi pengangguram, gimana tuh? Tapi cewek jangan mandang fisik juga dong, selain isi dompet hatinya juga dilihat, kalo udah dapat yang mapan berusaha iklas. Bangun tuh sama sama keluarga. Untuk cewek dan cowok yang masih berjuang saat ini semangat ya karirnya, semoga selalu dipermudah dalam segala urusan. “PACARAN SEHAT UNTUK MENDUKUNG BOLEH, PACAR SAKIT JANGAN NGGAK ENAK TUH”. Curhatan seorang cewek yang nggak aku kenal via DM Instagram, berkeluarga itu ngga nyelesaiin masalah keuangan, biasanya masih minta sama orangtua. Makanya jangan buru-buru, kerja dulu baru berkeluarga.

BIKIN ORANGTUAKU MENANGIS, itu cita citaku, nangis melihat anaknya mendapatkan predikat cumlaude dibangku kuliah. Mahasiswa semester akhir itu yang aku rasain serba gengsi terhadap orangtua, gengsi minta uang misalnya. Diriku pribadi apabila ditanyain orangtua keadaan keuangan via telpon jawabnya selalu masih ada walaupun tidak ada sepeser pun, ada nggak nih yang sejalan dengan pembohong seperti diriku.

Nggak tau ya pikiran anak semester akhir itu sama atau tidak,yang pastinya yang aku rasain sekarang mikir nya dapat kerjaan setelah kuliah, bantu orangtua terus bangun keluarga, mulia nggak tuh? Aku saranin ya sama teman-teman yang ekonomi keluarganya sejalan denganku, ekonomi bawah tepatnya, aku minta tolong ya jangan bikin beban orangtua di kampung untuk kamu yang merantau khususnya, bikin orangtua dikampung bahagia, kalo sakit nggak parah jangan ceritain, perihal cari uang nggak gampang, taruh nyawa biasanya.

Untuk kamu yang nggak makan ayam satu minggu jangan khwatir aku yang makannya nggak beraturan juga masih hidup. Sekali lagi tolong ya untuk mahasiswa rantau semangat belajarnya, kamu itu jago. Berusaha,dan berdoa nggak cukup tanpa restu dari orangtua.

BERSAMBUNG……………………………………..

Penulis : Victor Samudra (WBOCS)

“Balek Kampong Project WBOCS di Simpang Hilir” Suarakan & ajakan Pentingnya Menjaga Lingkungan Kepada Generasi Muda di Sekolah-sekolah

Rafikah Indah dan Albab (WBOCS) ketika menyampaikan lecture di Sekolah-sekolah tentang lingkungan, beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung

Pada tanggal 21-29 Januari 2020 kemarin, program Balek Kampong Project melaksanakan kegiatan ke sekolah-sekolah oleh penerima WBOCS untuk menyuarakan sekaligus mengajak generasi muda untuk peduli lingkungan. Penerima WBOCS yang melaksanakan kegitan tersebut adalah Rafikah dan Ahmad Albab yang berdomisili di Kabupaten Kayong Utara.

Balek Kampong Project adalah salah satu program dari WBOCS yang baru diluncurkan pada tahun 2020. Meskipun Project ini baru dikenal, namun sudah banyak mendapati kesan positif dari setiap Sekolah khususnya Sekolah yang berada di Kabupaten Kayong Utara. Mereka keliling dari Sekolah ke Sekolah lainnya untuk menyampaikan sosialisasi tentang Informasi WBOCS (West Borneo Orangutan Caring Scholarship) dan Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan).

Mereka (siswa-siswi yang mengikuti kegiatan) mengatakan, sangat senang sekali melaksanakan project ini dan ingin project ini terus berlanjut agar Sekolah yang berada di Kab. Kayong Utara mendapatkan informasi yang detail terkait WBOCS dan tidak awam lagi tentang Karhutla dan tahu bagaimana cara mencegahnya. Sekolah yang pertama yang mereka kunjungi adalah SMK Al-Aqwam berjumlah 28 siswa, SMA Negeri 1 Teluk Batang  berjumlah 84 siswa, SMA Negeri 2 Teluk Batang berjumlah 49 siswa. MA Nurul Hasani berjumlah 24 siswa dan MA Babussa’dah berjumlah 17 siswa.

Berikut beberapa foto kegiatan WBOCS Balek Kampong Project di Simpang Hilir :

Adapun rangkaian kegiatan sosialisasinya adalah Pembukaan, Game Konsentrasi, Materi WBOCS dan Karhutla, sesi tanya jawab, sesi foto bersama serta penyerahan cinderemata sebagai kenang-kenangan untuk pihak sekolah.  Sosialisasi ini berjalan sangat lancar meskipun saat yang bersamaan mengalami beberapa kendala ketika pemadaman listrik terjadi, sehingga tidak bisa menggunakan sounds system dan power point.

Walaupun demikian tidak mematahkan semangat fasilitator karena mereka memang menyediakan media kreatif seperti spidol warna warni, krayon, kertas origami, kertas plano dan double tipe sebagai  penyampaian materi.

Mereka juga mengatakan bahwa media ini sangat baik agar peserta didik lebih aktif dan tidak bosan mendengarkan materi. Pada sesi materi kami memberikan kesempatan siswa untuk bertanya, ada satu pertanyaan yang menarik perhatian yakni; “Kak kenapa WBOCS menyediakan hanya FMIPA, Fahutan, FKIP dan FISIP saja?”, Kami menjawab: karena Fakultas yang disediakan tentu saja tidak sembarangan dipilih, melainkan karena alasan yang lebih mendasar yakni Fakultas tersebut sangat berkontrobusi langsung dengan Konservasi. Contoh Kehutanan tentunya mempelajari tentang hutan dan tahu bagaimana menjaga hutan. Begitu juga dengan Fakultas lainnya mempunyai peran masing-masing dalam menjaga kelestarian hutan dan orangutan.

Kami sebagai fasilitator bukanlah orang yang hebat namun, tujuan kami adalah membuat siswa  menjadi aktivis lingkungan yang terhebat bisa menjadi panutan bagi kampungnya.

Meskipun Balek Kampong Projcet ini menyita waktu liburan semester, kami tidak merasa terganggu sedikit pun dikarenakan kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan public speaking dan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penerus aktivis lingkungan (Generasi Muda Konservasi).

Tidak pernah lupa juga kami menyampaikan tentang Kampanye Stop Sampah Plastik yakni dengan membawa botol minuman yang bukan  sekali pakai, tempat makanan dan sedotan stainless. Kampanye seperti ini memang bukan hal yang asing ditelinga namun, tanpa dipungkiri tindakan untuk melakukan kampanye ini sangat berdampak besar bagi keselamatan hutan dan bumi. Salam Konservasi!.

“Tunas Kayong” Ajakan Bagi Generasi Muda untuk Peduli Lingkungan di Sekolah

Masih di Tanah Betuah Kayong, namun berbeda Sekolah, beberapa penerima WBOCS seperti Rafikah, Ratiah, Fitri Melyana dan Gilang Ihsan Pratama melaksanakan lecture di SD Negeri 20 Simpang Hilir pada tanggal 23-27 Januari 2020. Mereka memberi nama project ini “Tunas Kayong” dengan harapan menanamkan jiwa konservasi pada generasi muda.

Adapun rangkaian kegiatan ini antara lain seperti Pembukaan, Game, Materi tentang; Jenis Sampah dan Gaya Hidup Peduli Lingkungan, pembagian doorprize, membuat pohon harapan yang berisikan perjanjian tindakan yang akan mereka lakukan besoknya setelah mendapatkan materi, membuat poster kampanye stop sampah plastik, sesi foto bersama dan penyerahan cinderamata.

 Kegiatan ini berjalan sangat baik dan mendapatkan pujian dari pihak Sekolah. “Ibu Kepala Sekolah mengatakan memang benar Jiwa peduli lingkungan harus ditanamkan sejak usia anak-anak agar kelak mereka dewasa bisa menjadi generasi konservasi”.

Tunas Kayong ini dilaksanakan untuk kelas V yang berjumlahkan 22 siswa, mengingat keterbatasan waktu dan tenaga. Namun, antusias belajar satu Sekolah ini saja sudah luar biasa dan mereka sangat aktif dalam bertanya dan mempunyai responsif yang baik.

Salah satu perkataan yang membekas dihati kami dari seorang anak yang masih belum paham betul apa sih konservasi yakni “Kak, saya nih suka beli jajanan yang berbahan plastik. Namun, setelah mendapatkan materi dari kakak, saya janji akan mengurangi jajan berbahan plastik, membawa tempat makanan sendiri, botol kesayangan sendiri dan minuman tanpa sedotan karena sekarang saya sudah tahu bahwa tindakan kecil ini bermanfaat untuk bumi  yang tersayang ini.” Didalam lubuk hati kami menaruh harapan besar pada tunas-tunas Kayong ini agar kelak menggantikan posisi kami dalam memberikan ilmu konservasi. Jika tak mampu menjaga keselamatan bumi maka kontribusi sekecil-kecilnya adalah mencegah penumpukan sampah plastik dimulai dari kesadaran diri sendiri. Salam Tunas Kayong!..

Penulis : Tim Simpang Hilir;  Rafikah dan Ratiah (WBOCS 2017), Fitri Melyana (WBOCS 2018) dan Gilang Ihsan Pratama (WBOCS 2019)

Editor : Pit-YP

PPO 2018, Ajakan Kepada Semua Pihak untuk Peduli Lingkungan dan Perlindungan Orangutan

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.40.44
Yayasan Palung Memperingati Pekan Peduli Orangutan 2018 Sekaligus melakukan Ekspedisi Pendidikan Lingkungan ke Sekolah-sekolah di Jelai Hulu. Foto Dok : Yayasan Palung

Serangkaian kegiatan Pekan Peduli Orangutan (PPO) 2018 telah dilakukan oleh Yayasan Palung dengan para pihak (Para Relawan; Relawan Tajam dan REBONK, penerima beasiswa orangutan kalimantan dan dengan lembaga atau pun juga pihak sekolah) selama sepekan di bebapa tempat sejak tanggal 12-17 November 2017, pekan lalu.

Tidak hanya seru, tetapi juga serangkaian kegiatan PPO tahun ini diperingati oleh Yayasan Palung dibeberapa tempat. Kegiatan utama (kegiatan puncak) yang dilakukan oleh Yayasan Palung seperti di Kecamatan Jelai Hulu, pada tanggal 12-17 November 2018 dengan berbagai kegiatan antara lain; wokshop singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan dan membuat bottle planter (membuat pot bunga dari botol plastik bekas) yang dilakukan SMA 1 Jelai Hulu.

WhatsApp Image 2018-11-22 at 11.56.36
Pekan Peduli Orangutan 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Workshop  singkat dengan membuat pesan kampanye tentang lingkungan sebagai salah satu cara untuk menggugah kepedulian terhadap nasib lingkungan dan perlindungan orangutan. Sama halnya dengan kegiatan bottle planter sebagai salah satu ajakan untuk peduli lingkungan, lebih khusus botol plastik bekas yang sejatinya bisa dimanfaatkan menjadi barang yang berguna jika dikreasikan menjadi sesuatu seperti dijadikan pot bunga yang bisa menjadi hiasan dan dipajang di sekolah.

Untuk melihat lebih banyak foto PPO 2018 

Sedangkan Relawan REBONK Yayasan Palung di Sukadana, pada tanggal 18 November 2018, memperingati Pekan Peduli Orangutan dengan melakukan penanaman pohon bersama dengan Sispala TAPAL (SMKN 1 Simpang Hilir), setidaknya 20 orang yang ikut ambil bagian melakukan penanaman pohon tersebut. Penanam pohon buah dan bakti sosial (mengambil sampah) yang berlokasi halaman SMAN 2 Sukadana.

Setelah selesai penanaman dan baksos, saat menjelang siang  mereka kembali ke bentangor untuk melanjutkan kegiatan diskusi pengelolaan sampah non organik yang lebih tepatnya sampah plastik.  Selanjutnya sampah plastik tersebut dijadikan sebagai bata ringan (eco-brick) yang di sampaikan oleh Egi Iskandar dan Aggi Saputra (Relawan REBONK), dia menyampaikan bagaimana menggelola sampah plastik yang baik, seuatu yang sederhana namun punya manfaat positif. Beberapa plastik bekas dibersihkan dan kemudian di gunting kecil-kecil, selanjutnya dimasukan kedalam botol platik yang sudah bersih, kemudian plastik yang sudah dimasukan harus di pres menggunak tongkat kayu yang berfungsi untuk memadatkan dan tidak adanya ruang udara di dalam botol platik tersebut. Kita semua tau bahwa jika di bakar akan menimbulkan dampak negatif pada polusi udada, namun jika di biarkan begitu saja juga akan sulit terurai sehingga menjadi tumpukan yang sangat tidak enak di pandang oleh mata manusia. Dibuatnya eco-brick dengan maksud bisa dimanfaatkan sebagai bata ringan yang bisa dijadikan kursi, meja dan hiasan.

Pada kesempatan Pekan Peduli Orangutan 2018, di Pontianak, para pihak ikut bersama memperingati PPO, misalnya dengan melakukan aksi pesan kampanye, aksi teatrikal dan musik akustik yang dilakukan oleh Para Penerima Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan BOCS di Taman Digulis Universitas Tanjungpura bersama dengan  Pongo Ranger Community (Relawan dari Yayasan IAR Indonesia) dan Yayasan Titian, Sabtu (17/11/2018), pekan lalu. Selain itu juga mereka melakukan pemutaran film dan diskusi tentang film Asimetris di Aboretum Sylva PC UNTAN.

Kegiatan lainnya dilakukan oleh Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK-TAJAM) dan Yayasan Palung, mereka membuat film pendek tentang lingkungan dan orangutan. Selain itu juga, pada 21 November 2018, mereka membuat kreasi barang bekas untuk tong sampah dari kreasi bekas-bekas Kaleng cat plastik selanjutnya mereka kreasikan dan mereka cat bersama guru dan  siswa-siswi SDN 12 Delta Pawan. Selanjutnya tong-tong sampah tersebut dipasang di SDN 12 Delta Pawan. Kaleng cat plastik tersebut merupakan sumbangsih dari Putra Ranadiwangsa.

Mariamah Achmad, Manager Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, mengatakan,  “Bagi pelajar yang ingin berbuat nyata untuk perlindungan orangutan, menanami pohon pakan orangutan di hutan mungkin belum sanggup, melarang orang dewasa berburu satwa liar di hutan mungkin tidak didengar, membuat kebijakan perlindungan orangutan dan habitat belum punya wewenang. Nah yang bisa dilakukan oleh para pelajar untuk memaknai nilai penting orangutan untuk menghindari kepunahan sesuai dengan tema PPO 2018 adalah melakukan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan yang bisa dilakukan dalam kapasitas mereka,  misal kreasi barang bekas”.

Selanjutnya juga Mayi, demikian ia biasa disapa mengatakan, Yayasan Palung memfasilitasi hal tersebut dalam PPO 2018 ini dengan melakukan dua workshop, yakni membuat pot bunga dari bekas botol air mineral dan membuat pesan kampanye perlindungan orangutan untuk disebarkan melalui media sosial. Aksi ini dapat dimaknai sebagai sumbangsih para pelajar bagi upaya perlindungan lingkungan dan alam yang lebih besar.

Sedangkan Direktur Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan, “Setiap tahun Yayasan Palung merayakan Pekan Peduli Orangutan. Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan kesadaran di seluruh dunia tentang penderitaan orangutan. Tema tahun ini adalah ‘Memaknai Nilai Penting Orangutan untuk Menghindari Kepunahan’, Karena penghancuran hutan hujan Indonesia, populasi orangutan menurun drastis. Kami telah kehilangan lebih dari 50% populasi mereka dalam beberapa dekade. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh ekspansi cepat perkebunan kelapa sawit dan pertambangan di seluruh bentang alam”.

Lebih lanjut menurut Terri, beberapa langkah perlu dilakukan, kita perlu membuat pilihan yang berkelanjutan tentang bagaimana kita mengubah lanskap (bentang alam). Kerusakan ini memungkinkan orang kaya untuk menjadi lebih kaya, tetapi masyarakat lokal sering dibiarkan dengan dampak lingkungan yang merusak termasuk kualitas air yang buruk, banjir ekstrim, dan kebakaran. Kami membutuhkan komunitas-komunitas ini untuk mengadvokasi pengelolaan lanskap berkelanjutan yang akan bermanfaat bagi perusahaan, masyarakat dan orangutan yang menyebut Indonesia sebagai rumah.

Selain kegiatan PPO 2018, Yayasan Palung berkesempatan untuk berkunjung ke sekolah-sekolah di Kecamatan Jelai Hulu, seperti di SDN 1 dan SDN 17 di Kecamatan Jelai hulu, SDN 3 dan SDN 5 di Desa Tanggerang, Kec. Jelai Hulu. Beberapa kegiatan kami lakukan adalah puppet show (panggung boneka) terkait satwa dilindungi terutama orangutan. Selain itu juga kami melakukan diskusi dengan masyarakat terkait informasi kekinian yang ada di desa mereka sekaligus sosialisasi tentang perlindungan dan satwa-sawa dilindungi dan pemutaran film lingkungan.

Serangkaian kegian Pekan Peduli Orangutan 2018 berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari masyarakat dan pihak sekolah. Berharap, dengan diadakan kegiatan PPO 2018 dengan ragam kegiatan tersebut bisa menggugah masyarakat, pihak sekolah untuk semakin peduli lagi terhadap nasib lingkungan hidup dan orangutan.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak :
http://pontianak.tribunnews.com/2018/11/23/ppo-2018-ajakan-kepada-semua-pihak-untuk-peduli-lingkungan-dan-perlindungan-orangutan.

 

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Tidak Hanya Belajar di Kelas tetapi Turun Secara Langsung di Alam

IMG-20180824-WA0006
Saat belajar secara langsung dengan anak-anak di alam tentang tumbuhan (morfologi daun). Foto dok : Yayasan Palung

Tidak terasa perkulihan  pada semester dua di Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (UNTAN) telah saya lalui, ketika liburan semester genap berlangsung sebagai salah seorang penerima BOCS (Bornean Orangutan Caring Scholarship) atau Beasiswa Peduli Orangutan Kalimantan saya berkewajiban untuk magang. Seperti penerima-penerima BOCS sebelumnya, waktu dan tempat magang bagi penerima BOCS baru telah ditentukah dari pihak Yayasan Palung.

Hanya ada dua tempat lokasi magang, yaitu Kantor Yayasan Palung Ketapang dan Kantor Yayasan Palung (Bentangor). Untuk magang kali ini saya ditempatkan di Kantor Yayasan Palung (Bentangor) Kabupaten Kayong Utara.

Selama lebih dari tiga minggu magang (di bulan Agustus 2018), banyak pengalaman dan keseruan yang saya dapatkan. Saya telah melakukan berbagai kegiatan baik mengikuti program Sustainable Livelihoods (SL) atau program pemberdayaan dan pendampingan terhadap masyarakat, dan program Pendidikan Lingkungan (PL).

Pada minggu pertama, kegiatan saya awali dengan mengikuti acara Kayong Expo 2018 atau pameran di Pantai Pulau Datok. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari. Yayasan Palung bekerja sama dengan Lembaga Pengolahan Hutan Desa (LPHD) membuka lapak produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dari pengrajin dan petani binaan Yayasan Palung. Sebagai tenaga magang, saya bertugas menjaga lapak dan menjelaskan kepada pengunjung yang saya ketahui tentang produk-produk hasil olahan HHBK. Aktifitas ini menjadi sangat menarik karena antusias warga lokal atau luar yang sangat berminat untuk membeli produk-produk yang dipamerkan, seperti: tikar, lekar, tas, madu, minyak kelapa, dan lain-lain.

Sedangkan di minggu kedua, saya terfokus pada Program SL. Kegiatan yang kami lakukan adalah Pemetaan Damplot di  kebun durian petani Meteor Garden di Dusun Pampang, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, selama tiga hari. Seperti yang kita ketahui kebun para petani Meteor Garden berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP).

Sebagai daerah yang rawan konflik pemangku kepentingan, jadi perlu adanya pengambilan data sebagai penanda kebun durian milik para petani Meteor Garden. Sebagai asisten tim survey, saya bertugas mengambil data titik koordinat tanaman durian. Adapula kegiatan membibitan cabai di rumah pembibitan kelompok petani Meteor Garden. Disini saya membantu petani selama proses pembibitan. Mulai dari menggemburkan tanah dan mencampurnya dengan kompos organic, mengisi polibag, hingga pembibitan.

IMG-20180824-WA0005
Saat memberikan materi tentang satwa dilindungi kepada anak-anak dengan media boneka. Foto dok : Yayasan Palung

Kemudian pada minggu ketiga, saya mengikuti kegiatan Pendidikan Lingkungan (PL) di SD 19 Sukadana. Dalam kegiatan ini Yayasan Palung mengajak siswa-siswi belajar lingkungan melalui Puppet Show dan Fieldtrip. Bersama satu orang Relawan Konservasi REBONK dan kedua teman saya dari BOCS, kami mempertunjukan Puppet Show (atau pertujukan boneka satwa) dihadapan 60 orang siswa-siswi dari kelas satu hingga kelas empat. Materi yang kami sampaikan berupa pengenalan satwa dan status keterancaman satwa yang dilindungi, reperti orangutan, bekantan, enggang, dan teringgiling. Pendidikan lingkungan melalui Puppet Show dengan menggunakan boneka satwa disampaikan agar materi dapat terserap dengan mudah dan menarik. Selanjutnya kami melanjutkan kegiatan belajar di alam di jalur fieldtrip Yayasan Palung Bentangor. Saya juga berkesempatan untuk menyampaikan materi tentang morfologi daun, Hasil Hutan Buakn Kayu (HHBK), dan pupuk kompos.

Penulis : Ilham Pratama, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Penerima Beasiswa BOCS

Rayakan Hari Orangutan Internasional 2018, Yayasan Palung Lakukan Ragam Kegiatan untuk Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya

Cerita tentang satwa dilindungi saat IOD 2018 (2).JPG
Relawan Tajam  Yayasan Palung Bercerita tentang satwa dilindungi saat acara IOD 2018 di Citimall Ketapang pada (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Minggu (19/8/2018) kemarin, Dunia Internasional  memperingati Hari Orangutan Internasional atau International Orangutan Day (IOD)/ atau biasanya disebut juga World Orangutan Day (WOD)/Hari Orangutan Sedunia 2018. Tahun ini, Yayasan Palung bersama para relawan untuk bersama mengajak  untuk peduli terhadap si petani hutan (orangutan), salah satunya melalui budaya.

Dalam gelaran untuk merayakan hari orangutan internasional 2018 kemarin, Yayasan Palung bersama para relawan Tajam, RebonK dan Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS) menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Citimall Ketapang, diantaranya seperti panggung boneka (puppet show) yang disuguhkan oleh relawan Tajam, penampilan teater dari relawan Bentangor, dan lomba Syair gulung di tingkat Sekolah Dasar.

teater saat IOD.JPG
Aksi teatrikal (teater) yang ditampilkan oleh Relawan RebonK Yayasan Palung saat acara Hari Orangutan Internasional (19/8), kemarin. Foto dok : Yayasan Palung

Ada pun tema yang diketengahkan oleh Yayasan Palung pada Hari Orangutan Internasional tahun 2018 adalah; “Menjaga Si Petani Hutan Melalui Budaya”, Si Petani hutan yang dimaksud pun tidak lain adalah orangutan.  Menjaga si petani hutan melalui budaya menjadi satu ajakan kepada semua pihak untuk peduli terkait nasib dari orangutan saat ini karena berbagai ancaman yang ada pada satwa endemik tersebut.

Kegiatan dimulai pada pukul 13.00 Wib, dibuka secara resmi oleh Direktur Yayasan Palung. Ragam rangkaian kegiatan seperti perlombaan Syair Gulung, diselang seling dengan adanya suguhan penampilan panggung boneka (puppet show) yang bercerita tentang kehidupan satwa liar di hutan seperti orangutan, burung enggang dan bekantan. Orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah, dan burung enggang sebagai satwa penyebar biji (si petani hutan). Sedangkan bekantan merupakan satwa endemik yang hanya hidup di pulau Kalimantan saja.

Sedangkan atraksi aksi teatikal (teater) bercerita tentang menjaga  kehidupan di hutan. Dalam teater tersebut, relawan RebonK mengajak menjaga hutan  peninggalan nenek moyang. Sebagai tokoh dalam cerita, Pak Amat yang di Perankan oleh Egi, RebonK sebagai sosok penjaga hutan yang bijaksana serta tidak tergoda dengan bujuk rayu dan berhasil menangkal segala ancaman yang datang seperti penebangan liar atau pun ilegal loging dan perburuan liar live music  dari Egi’s & Friend yang menampilkan lagu-lagu tentang lingkungan.

Egi's and Friend band saat mengisi acara IOD.JPG
Egi’s and Friend band saat mengisi acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Pada perlombaan Syair Gulung, peserta lomba melantunkan syarir gulung yang merupakan bagian dari budaya. Peserta lomba syair sebagian besar menyampaikan pesan kepada khalayak (masyarakat luas) dan ajakan terkait pesan-pesan moral lingkungan, dan kecintaan mereka tanpa harus memiliki atau memilihara satwa dilindungi. Sebagai Pemenang pertama dalam lomba Syair Gulung adalah Uti Al Faldan, dari MIN Ketapang. Sedangkan pemenang kedua adalah Girink Clara Belo dari SDN 05 Delta Pawan, pemenang ketiga Syarif Levi Nasira Sahab dari SDN 04 Benua Kayong dan pemenang keempat adalah Safitri  Kirani dari SDN 20 Delta Pawan. Untuk hadiah, para pemenang mendapatkan hadiah berupa paket hadiah, plakat dan sertifikat.

peserta lomba berfoto bersama.JPG
Peserta lomba berfoto bersama setelah pengumuman lomba Syair Gulung dalam acara IOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebagai juri dalam perlombaan Syair Gulung di tingkat Sekolah Dasar dalam rangka IOD 2018 tersebut adalah Raden Abdillah dan Wijaya.

Dalam kata sambutannya, Direktur Program Yayasan Palung, Terri Lee Breeden mengatakan; “Acara kami yang diadakan di Citi Mall untuk International Orangutan Day 2018 adalah sukses besar”.

Selain itu lebih lanjut menurut Terri, Ia merasa terkesan pada kapasitas para kelompok relawan, yang mana para relawan muda kami bekerja untuk mengatur dan melakukan pertunjukan yang hebat. Kami menjangkau khalayak luas dan dapat menyampaikan pesan tentang ancaman yang dihadapi orangutan saat ini dan apa yang dapat kita semua lakukan untuk membantu melindungi mereka dan habitat hutan mereka. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas kerja keras mereka dan menantikan acara seperti ini di tahun-tahun mendatang’’, ujar Terri lagi.

Winda Lestari, Relawan Tajam angkatan pertama sekaligus sebagai ketua panitia kegiatan IOD 2018 mengatakan;  Kegiatan seperti ini (IOD/WOD 2018) sangat bagus sekali dilakukan karena rangkaian kegiatan sudah menjadi aksi kampanye untuk satwa yang dilindungi seperti perlombaan syair gulung pun tersaji dan tersirat pesan moral konservasi. Selain itu juga syair gulung menjadi aksi yang nyata melalui budaya.

Sementara itu, Junardi dari Mahasiswa penerima Beasiswa BOCS mengatakan, kegiatan hari orangutan internasional yang diselenggarakan sudah berjalan dengan sukses, berharap di tahun-tahun mendatang kegiatan seperti ini bisa lagi diselenggarakan dengan peserta yang lebih banyak dan di tempat-tempat yang strategis agar bisa menjangkau masyarakat.

Pada kegiatan tersebut, terlihat antusias dari para tamu undangan dan para peserta lomba yang ikut ambil bagian dalam acara IOD tersebut. Pada malam harinya, Yayasan Palung bersama para relawan dan Mahasiswa BOCS melakukan pemutaran film lingkungan di Citimall. Ada pun film lingkungan yang diputar sebagai media penyadartahuan/kampanye  dan hiburan kepada pengunjung. Ada pun film  yang di putar antara lain adalah film Asimetris, film Indonesia Diambang Kepunahan dan film Sampah Man.

Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan  (1).jpg
Saat pemutaran film lingkungan dalam rangka IOD 2018 di Citimall Ketapang sebagai upaya kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas. Foto dok : Yayasan Palung

Lewat IOD/WOD 2018 ajakan kepada semua untuk peduli pada satwa lebih khusus orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Selain juga merupakan satu cara penyampaian kampanye penyadartahuan kepada masyarakat luas untuk ikut berperan serta ambil bagian berperan dan berharap ada semangat yang semakin tumbuh dari semua pihak untuk semakin peduli pada nasib hutan dan satwa sebelum terlambat. Berharap Si Petani Hutan bisa lestari hingga nanti. Semua rangkaian kegiatan Hari orangutan Internasional 2018 berjalan sesuai rencana dan sukses.

berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018.JPG
Berfoto bersama setelah selesai kegiatan IOD atau WOD 2018. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelumnya berita terkait kegiatan Hari Orangutan Internasional (International Orangutan Day/IOD) 2018 yang digelar/dilakukan Yayasan Palung, dimuat di Tribun Pontianak online :

http://pontianak.tribunnews.com/2018/08/23/rayakan-peringatan-iod-2018-yp-gelar-beragam-kegaiatan-di-citimall-ketapang

Rekaman Radio di Radio GS tentang feature hari orangutan internasional 2018 di link :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/feature-radio-gs-tentang-kegiatan-hari-orang-utan-sedunia-2018-dirayakan-oleh-ypmp3

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

 

 

Keanekaragaman Tumbuhan Liana di  Cabang Panti (TNGP)

Jantak3
Buah Jantak jenis liana Willughbeia sp. Foto dok : Riduwan/YP

Perkenalkan nama saya Riduwan. Saat ini, saya sedang melakukan penelitian mengenai potensi tumbuhan liana di Stasiun Penelitian Cabang Panti, (Kawasan yang berada di Taman Nasional Gunung Palung). Ada pun tujuan penelitian saya adalah untuk tugas akhir/ skripsi. Penelitian dilakukan selama kurang lebih satu setengah bulan. Saat ini penelitian sudah berjalan selama kurang lebih 13 hari. Penelitian yang saya lakukan adalah pada 5 tipe habitat yang berbeda, diantaranya rawa gambut, batu berpasir, alluvial, granit dataran rendah, dan granit dataran tinggi.

Ada pun metode yang saya gunakan dalalam penelitian saya adalah setiap satu tipe habitat saya ambil 5 plot dengan cara diacak atau random sampling dengan panjang jalur utama 50 meter dan sub plot sebelah kanan dan kiri masing-masing 10 meter.

Pelaksaan di lapangan sudah saya selesaikan kurang lebih hampir 50%, ada beberapa liana yang telah saya temukan diantaranya dari genus : Combretum sp, Uncaria sp, Willughbeia sp, Strychnos sp, Bauhinia sp dan Gnetum sp. Keberadaan liana ini ternyata secara tidak langsung memiliki peran terhadap kehidupan binatang di sana, terutama binatang pemakan buah (Frugivora) seperti Orangutan, kelasi monyet ekor panjang dan kelempiau.

Bunga Gnetum (2).jpg
Bunga Gnetum, Foto dok : Riduwan/YP

Ada beberapa tumbuhan liana yang dapat menghasilkan buah seperti liana dari genus Willughbeia sp atau  dikenal dengan nama buah jantak, Strychnos sp, dan Combretum sp. Tumbuhan ini ternyata bisa tumbuh diketinggian 40 -700 mdpl ini berdasarkan penelitian yang saya lakukan di SPCP, dan keberadaan tumbuhan liana ini dapat menambah kekayaan vegetasi yang ada di Taman Nasional Gunung Palung.

Stasiun Penelitian Cabang Panti atau biasa di singkat SPCP merupakan suatu kawasan yang letaknya berada di zona ini taman nasional gunung palung dengan luas sekitar 2.100 ha. Saat ini kawasan SPCP memiliki 8 tipe habitat yang berbeda, diantaranya yaitu : rawa gambut, rawa air tawar, kerangas, batu berpasir, alluvial (tanah sedikit berpasir/kaya akan unsur hara), granit dataran rendah, granit dataran tinggi, dan pegunungan.

Stasiun Penelitian Cabang Panti kaya akan flora maupun faunanya, baik yang statusnya masih melimpah maupun yang sudah di lindungi. Salah satu kekayaan flora yang berada disana adalah tumbuhan liana. Tumbuhan liana adalah tumbuhan yang hidupnya membutuhkan penopang tumbuhan lain seperti pohon guna untuk menjulang keatas dengan tujuan untuk memperoleh cahaya matahari, namun akar dari tumbuhan ini masih menempel pada tanah. Berbeda dengan tumbuhan ficus yang 100% hidupnya menempel pada pohon.

Menurut saya, liana menurut saya sangat bermanfaat bagi manusia salah satunya adalah akar kuning bermanfaat untuk obat dalam. Akar kuning direbus lalu airnya diminum. Buah dari jenis liana ini dimanfaatkan oleh binatang seperti orangutan, kelasi, kelempiau, dan monyet ekor panjang. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, buah jantak (Willugbeia sp), tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum sp, dll. Saya menemukan liana disana kurang lebih 10 jenis liana.

Bauhinia
Tapal (tapak kaki kuda)/Bauhinia. Foto dok : Riduwan/YP

Diketahui pula, Keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

Kelimpahan liana di SPCP sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Liana yang ada ini harus tetap terjaga kelestariannya. Seperti diketahui, bahwa tumbuhan liana ini sangat banyak manfaatnya terutama untuk satwa primata selain untuk sumber pakan bagi primata ternyata batang liana dimanfaatkan oleh orangutan untuk bermain, seperti untuk pindah dari tempat satu ke tempat lainnya.

Tak salah kiranya bila tumbuhan ini patut untuk dilestarikan keberadaannya karena memiliki banyak manfaat dan fungsi bagi kehidupan.

Penulis : Riduwan, (Mahasiswa Untan Fakultas Kehutanan, Penerima Beasiswa Orangutan Kalimantan/BOCS)