Universitas Tanjungpura Sukses Selenggarakan Konferensi KOBI yang Kedua

Yayasan Palung menyertakan dua peneliti dari Boston University, yaitu Natalie Robinson dan Tori Bakley untuk menjadi invited speaker pada Konferensi KOBI yang ke-2 di Untan, beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung

Fakultas MIPA Biologi Universitas Tanjungpura Pontianak menyelenggarakan Konferensi KOBI(Konferensi Konsorsium Biologi Indonesia) yang  kedua, Sabtu 6-8 September 2019, kemarin.

Ada pun beberapa rangkaian kegiatan dalam kegiatan KOBI diantaranya seperti mempresentasikan temun terbaru tentang biologi dan pendidikan biologis.

Sedangkan tujuan dari konferensi KOBI diantaranya mempromosikan, kolaborasi antara ilmuan akademik nasional dan internasional, peneliti-peneliti bidang biologi dan  yang berhubungan dengan biologi.

Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung (GPOCP), mengatakan, “Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak merupakan tuan rumah acara konferensi KOBI yang kedua. Yayasan Palung sebagai mitra kerja dengan senang hati memberikan dukungannya agar kegiatan konferensi ini dapat berjalan. YP juga telah menyertakan dua peneliti dari Boston University, yaitu Natalie Robinson dan Tori Bakley untuk menjadi invited speaker. Mereka memberikan presentasi tentang parasit di Orangutan dan Perilaku makan ibu-anak pada orangutan.

Lebih lanjut, Wahyu mengatakan, selain dari peneliti dari berbagai wilayah di Indonesia, acara ini juga dihadiri oleh para peneliti asing, seperti Australia, Amerika, Singapore dan Malayasia.

Stand pameran Yayasan Palung dalam acara Konferensi KOBI. Foto dok : Yayasan Palung

Dalam Konferensi KOBI menyediakan tempat untuk berpartisipasi membuka stand pameran. Pada kesempatan tersebut, Yayasan Palung memamerkan beberapa produk dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti tas, gelang, cincin, tikar, media informasi (media kampanye Yayasan Palung) seperti stiker dan majalah MiaS. Dalam pameran tersebut, ikut berparisipasi teman-teman penerima beasiswa Orangutan Kalimantan (BOCS).

Konferensi KOBI tahun ini di Untan merupakan yang kedua, setelah dua tahun lalu dilaksanakan untuk pertama kalinya di Universitas Sumatera Utara (USU).

Wahyu, Natalie, Mayi dan Tori saat mengikuti Konferensi KOBI yang ke-2 di Untan. Foto dok : Yayasan Palung
Para peserta yang sangat antusias mengikuti Konferensi KOBI yang ke-2 di Untan. Foto dok : Yayasan Palung

Semua rangkaian kegiatan dalam acara tersebut sukses dilaksanakan dan mendapat sambutan baik dari semua peserta yang hadir.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Merindu Langit Biru

Aktivitas sehari-hari terganggu dengan munculnya asap. Foto dok : ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.

Awan, kemana engkau

Hujan dimana dirimu

Mengapa asap engkau yang ada

Ku tak tahu, ku merindu langit biru

Kenapa asap engkau di langit

Ku sungguh merindu awan hujan

Langit biru ku mencarimu

Pongah lengah kalah dengan si jago merah

Merenda asa sesak mulai mendera sesak di dada

Bernafas dalam asap, minum dalam air asin

Ku tak tahu harus merindu kepada benalu

Benalu rindu awan biru

Bukan awan kelabu atau asap di langit

Sungguh ku tak tahu merindu

karena beningnya pengelihatan terselubung kabut

mencari cara agar mereda

mereda agar merenda asa

secerca harap agar langit tetap selalu biru

Ratusan titik bara api hingga mencapai ribuan menghampiri sunyinya malam hutan belantara

Pagi menjelang siang engkau pun semakin garang

Tak hanya menghampiri tetapi melahap segenap yang engkau lalui

Merindu tuan yang bijak nan ramah agar tak menyulut percik demi percik api lagi

Mereda hingga reda itu perjuangan para penjinak para pantang pulang sebelum padam

Harapku hujan pun segera turun menyapu dan kiranya asap cepat berlalu.

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5d71e674097f362ab933dfd2/merindu-langit-biru

Ketapang, Kalbar, 6/8/2019
Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Hutan dan Kita Satu Kesatuan yang Tak Terpisahkan

Tipe Hutan alluvial di Gunung Palung. Salah satu ciri khas hutan alluvial banyak ditumbuhi tanaman yang rendah (Stacyprinium sp.). Foto dok : Wahyu Susanto, Yayasan Palung (GPOCP)

Hutan dan kita menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Hutan menjadi nafas semua makhluk hidup. Hutan sebagai sumber dari segalanya. Manusia perlu hutan, hutan perlu berlanjut jika semua makhluk ingin berlanjut dan lestari, maka hutan harus tetap ada karena mereka (hutan dan kita) satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Hutan dan kita ibarat selain menjadi satu kesatuan juga sebagai sebagai nafas, demikian singkatnya. Dengan demikian, hutan dan kita memerlukan kebebasan untuk saling harmoni agar bisa terus berlanjut.

Hutan memerlukan kita (manusia) untuk menyemai, memupuk dan melestarikannya. Kita (manusia) bisa berlanjut karena hadirnya hutan.  Bila hutan tetap terjaga maka kita pun masih bisa berlanjut hingga nanti.

Hutan dan manusia yang sejatinya harus harmoni. Keharmonisan kita kepada hutan memberi harapan. Tak sedikit harapan tertuju, hutan memberi berarti kita harus menjaga.

Bukannya membiarkan hutan terus tergadai, tetapi bagaimana cara agar kita bisa menjaga hutan agar tetap ada. Kita (manusia) perlu hutan. Sejatinya hutan tak perlu manusia, tetapi bagaimana hutan yang memberikan berjuta manfaat  kepada makhluk lainnya.

Ada dua pilihan, bagaimana hutan dan kita bisa berlanjut atau sebaliknya. Hutan terjaga kita sejahtera. Adanya hutan, masyarakat pun bisa memanfaatkan hasil dari tersedianya ragam tumbuh-tumbuhan  dan hewan. Tumbuhan yang menyediakan manfaat sebagai obat tradisional dan kebutuhan lainnya. Selain itu, hewan seperti orangutan dan burung enggang berperan sebagai petani hutan.

Beragam manfaat hutan yang boleh kita terima hingga saat ini perlu kita syukuri. Nafas  gratis yang boleh kita terima hari ini dan sebelumnya menjadi dasar bagaimana kita menerima manfaat. Hutan sebagai sumber kehidupan, berarti ia memberi tanpa pamrih. Apakah kita bisa seperti hutan yang memberi tanpa harus menerima.

Tak bisa disangkal, hutan sebagai  satu kesatuan yang harus harmoni hingga selamanya. Semua nafas keberlanjutan makhluk hidup sejatinya harus berlanjut.  Berlanjut berarti harapan pasti semua nafas bisa lestari. Apabila nafas terhenti, maka semua akan tinggal cerita.

Memberi berarti harus mampu memberi harapan. Harapan, agar bagaimana cara kita untuk peduli pada nasib hutan.  Dengan tersedianya hutan berarti pula masih ada harapan agar bumi/ hutan dan tanah air bisa berlanjut hingga nanti. Semoga saja…

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : http://monga.id/2019/09/hutan-dan-kita

Petrus Kanisius-Yayasan Palung