Ada Makanan Karena Ada Petani

Para petani lokal masyarakat Dayak Simpang Dua sedang melakukan tradisi menanam padi. Mereka selalu menanam padi setiap bulan Agustus-September, tetapi mereka bukanlah penjahat. Mereka tahu adat dan tradisi membakar yang baik. Foto dok : Michael Yundaliza

Petani, siapa tak kenal dengan petani. Saya pun petani karena ayah-ibu, kakek dan nenek adalah petani. Ada yang mengatakan petani adalah segalanya dan memiliki tempat istimewa. Ada pula yang bilang, tak ada nasi jika tak ada petani.

Semua negara, hampir pasti memiliki petani. Petani padi, petani kopi, petani jagung, petani sayur, petani buah-buahan, petani cabe dan petani-petani lainnya yang memiliki peranan penting bagi penyambung nafas (pemenuhan/penyedia kebutuhan) kehidupan di bumi nusantara Indonesia ini.

Petani Indonesia pun tergolong sangat ulet dan berperan besar sebagai penyedia bagi semua kebutuhan hidup hingga saat ini sejak berpuluh-puluh tahun lalu.

Ada petani, maka semua terpenuhi. Kira-kira demikian adanya. Kita tak mengenal nasi mungkin jika tak ada petani sawah/ladang. Tak ada kopi, jika tak ada petani kopi dan seterusnya.

Para petanilah yang saban waktu selalu menyediakan waktu tanpa mengenal lelah mereka untuk bertani (bercocok tanam) bekerja dari pagi hingga senja menyapa.

Ada petani buah, ada petani sayur, ada petani beras dan ada petani kopi dan semua petani. Mereka bisa dikata sebagai penyedia sumber hidup kita dari generasi ke generasi.

Wajar kiranya, Indonesia disebut sebagai negara agraris karena satu diantaranya karena hadirnya petani. Penyedia sumber tanaman pangan boleh dikata adalah petani Indonesia rajanya.

Sumber sayur, sumber buah-buahan dan makanan pun jadi sangat mudah didapat di Indonesia karena adanya petani kita Indonesia.

Ada petani kita bisa menikmati makanan dan sayuran segar, demikian pula dengan buah-buahan dari hasil para petani. Semua wilayah di Indonesia, memiliki kekhasan masing-masing dari hasil pertanian seperti buah-buah, padi dan sayur-sayuran.

Bagaimana para petani di Kalimantan misalnya, mereka melaksanakan tradisi menanam padi, sayuran dan buah-buahan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sistem berladang/bertani yang menggunakan syarat-syarat penghargaan terhadap alam begitu menjadi perhatian mereka. 

Tata aturan berladang pun menjadi syarat mutlak agar saat membakar agar tidak meluas, dengan cara/sistem perladangan sekat bakar. Tetapi terkadang, petani acap kali menjadi tertuduh karena dianggap sebagai penjahat dan biang dari sumber kebakaran. Pada intinya masyarakat di pedalaman menggunakan tata aturan yang boleh dikata sangat menghargai hak-hak semua nafas kehidupan.

Para petani di pedalaman atau di kampung  menggunakan adat dan tradisi (tidak sembarangan membakar/membuka lahan). Mereka (para petani) terlebih dahulu menggunakan ritual tertentu terebih dahulu baru membuka ladang sebagai ijin permisi kepada Duata/Duwata (Sang Pencipta).

Hampir 80% masyarakat adat (Indigenous Peoples) Dayak di Kalimantan mata pencahariannya berladang. Berladang bukan sekedar untuk hidup tapi ladang turut membentuk peradaban orang Dayak. Karena dari membuka lahan hingga akhir panen ada aturan yang hatus ditaati, adatnya inilah yang membentuk kebudayaan Dayak. Tidak benar aktivitas ladang berpindah sama dengan kegiatan merusak hutan. Istitut Dayakologi menyebutkan bahwa sistem ladang berpindah itu sebagai sistem pertanian asli terpadu (integrated indigenous farming system). Bukan ladang berpindah tetapi ladang bergilir. Selengkapnya baca disini

Bagi masyarakat petani, bertani sudah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan sejak dulu hingga saat ini yang harus lestari. Dengan bertani maka pemenuhan akan kebutuhan hidup terpenuhi. Hidup dari alam dan makan dari alam. Hargai alam karena ia memberi sumber hidup. 

Hormati hutan dan tanah air agar ia bisa juga menghormati kita agar kita semua bisa lestari. Ada petani maka kita hingga hari ini bisa menikmati sumber makanan berupa sayur-sayuran dan buah-buahan. Selamat hari petani dan teruslah maju para petani di negeriku.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Oh Hujan Turunlah, Kalahkan Api dan Asap yang Menyerang Kami

Api dan Asap yang mendera semoga segera berakhir dan berharap turunnya engkau hujan. Foto dok : YP/Rzl

Tak terasa, kemarau yang mendera sudah berlangsung lama

Kering, kerontang, itu sudah pasti karena engkau enggan turun

Air semakin surut mendangkal

Lahan-lahan hutan terbuka lebar dan terbakar karena diserang

Aku mengadu tak tahu harus seperti apa

Pun aku merasa mengaduh gaduh karena ini tak kunjung berhenti

Karena negara api menyerang tak kunjung berhenti

Kepulan asap mendera tiada tara tanpa ampun kepada siapapun

Tak bisa kami kata harus seperti apa lagi

Negara api sungguh menyerang tanpa henti kini

Lahan, hutan bahkan pemukiman ia serang tanpa peduli

Bau asap kini menjadi biasa kami hirup

Kami lebih sering batuk ketimbang hari-hari biasanya

Aktivitas di luar ruang pun semakin terbatas karena jarak pandang terhalang

Pengelihatan kami perih, tak disadari lelatu (jerebu) menghampiri

Kami menyadari, paru-paru kami bukan besi atau pun baja

Entahlah hingga kapan akan segera berakhir mendera

Segala upaya terus dilakukan tanpa henti oleh para pahlawan api yang mempertaruhkan nyawa demi berperang melawan negara api

Tak henti, saban waktu terus berjuang satu tujuan mereka bisa mengaalahkan api

Segala upaya pun kini terus dilakukan, berharap turunlah engkau hujan, engkaulah yang menjadi kekuatan terakhir kami

Seluruh nafas merindukan kesejukan dari tetesan demi tetesanmu hujan

Ingin riang gembira bersama karena telah terlalu lama kering menguning

Hadirnya engkau kini sangat kami nanti-nanti

Agar tak lagi menjadi ketakutan kami

Negara api sungguh perkasa mendera

Turunnya engkau hujan berarti pahlawan bagi kami

Turunmu pun kami harap bisa deras

Hadirmu pula sebagai tanda kita harus merdeka dari kabut asap yang mendera karena kami tahu engkaulah pahlawan sejati yang bisa mengalahkan serangan dari negara api

Hanya itu harap kami, secepatnya engkau turun untuk membasahi bumi ini karena kami pun rindu engkau hujan.

Ketapang, Kalbar, 23 September 2019

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Debu atau Bara

Debu, lelatu (jerebu), asap dan bara api. Foto dok : Sidiq Rebonk/YP

Rapuh tubuh ku tak sekuat kata-katamu yang penuh makna dan dogma

Rapuh itu tak lebih seperti debu yang akan rapuh hilang lenyap ditiup angin

Lagi dan lagi aku bingung, debu atau kah bara aku ini

Bila disapu maka aku akan musnah atau menjadi bara baru

Tak sekuat dogmamu meramu perantara yang mendera jiwa

Debu lelatu dari api yang terbakar, yang menyala siap menyergap bahkan mendera

Rapuh jiwaku tak kuat menahan panas bara api

Aku tak tahu debu atau bara kah aku ?

Bila ku debu aku akan hilang lenyap

Tetapi jika aku bara maka aku akan menjadi dan mendera tak kunjung usai melanda

Jika ku jadi debu bahkan menjadi lelatu pun aku tak tahu akan seperti apa aku

Bukan mengadu tapi tahu

Debu, Lelatu, bara api menjadi satu yaitu aku?

Sungguh tak tahu aku

Debu dan bara

Menanti hujan penjejuk jiwa

Kering kerontang rindu penawar dahaga

Menanti disapa apakah debu atau bara

Debu dan bara, apakah aku akan memilih keduanya

atau aku akan pergi tanpa memilih sama sekali

Ketapang, Kalbar 20 September 2019

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Karhutla dan Kabut Asap Masih Terjadi, Berharap Cepat Berlalu

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Desa Penjalaan, KKU, Rabu (18/9/2019) kemarin. Foto dok : Sidiq/YP

Kebakaran hutan dan lahan hingga saat ini masih terjadi. Beberapa dampak dari karhutla dan kabut asap pun sangat dirasakan seperti berbagai aktivitas masyarakat dan anak-anak sekolah.

Sekolah-sekolah seperti di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang hingga saat ini masih diliburkan akibat terjadinya karhutla yang menimbulkan kabut asap pekat.

Mengutip pemberitaan dari laman Kompas.com, menyebutkan; “Dari tanggal 13-16 September 2019, tercatat 529 kasus penderita ISPA,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Ketapang Basaria, Senin (16/9/2019).

Beberapa penyebab terjadinya kebakaran sebagian besar terjadi di lahan konsesi. Beberapa waktu lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyegel 26 perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat yang konsesinya terbakar.

Lahan yang terbakar di Area konsesi di Laman Satong. Foto Dok : YP via TNI

Mengutip dari laman mongabay.co.id, pada Selasa (17/9/2019), berikut nama-nama perusahaan yang lahannya terbakar :

  1. PT. DAS di Kabupaten Sanggau [luas lahan terbakar 40 hektar]
  2. PT. GKM di Kabupaten Sanggau [luas lahan terbakar 20 hektar di 17 lokasi]
  3. PT. UKIJ di Kabupaten Sintang [luas lahan terbakar 5 hektar]
  4. PT. PLD di Kabupaten Kubu Raya [luas lahan terbakar 30 hektar]
  5. PT. SUM di Kabupaten Kubu Raya [luas lahan terbakar 70 hektar]
  6. PT. MSL di Kabupaten Mempawah [luas lahan terbakar 30 hektar]
  7. PT. TANS di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 60 hektar]
  8. PT. SPAS di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 121 hektar]
  9. PT. MAS di Kabupaten Mempawah [luas lahan terbakar 60 hektar]
  10. PT. SP di Kabupaten Mempawah [luas lahan terbakar 370 hektar]
  11. PT. ABP di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 99 hektar]
  12. PT. AER di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 998 hektar]
  13. PT. SKM di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 1.468 hektar]
  14. PT. KAL di Kabupaten Ketapang [lahan terbakar di dalam izin HGU perusahaan]
  15. PT. LS di Kabupaten Ketapang ([ahan terbakar di dalam IUP perusahaan]
  16. PT. BMH di Kabupaten Sambas [luas lahan terbakar 930 hektar]
  17. PT. IGP di Kabupaten Landak [luas lahan terbakar 40 hektar]
  18. PT. NI di Kabupaten Landak [luas lahan terbakar 14 hektar]
  19. PT. BPG di Kabupaten Kubu Raya [luas lahan terbakar 58 hektar]
  20. PT. RKA di Kabupaten Melawi [luas lahan terbakar 600 hektar]
  21. PT. FI di Kabupaten Sanggau [luas lahan terbakar 6 hektar]
  22. PT.KGP di Kabupaten Sanggau [luas lahan terbakar 4 hektar]
  23. PT. KBP di Kabupaten Sekadau [luas lahan terbakar 4 hektar]
  24. PT. MAS di Kabupaten Sanggau [luas lahan terbakar 4 hektar]
  25. PT. SIA di Kabupaten Sanggau [luas lahan terbakar 3 hektar]
  26. PT. SKS di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 35 hektar]

Tiga lahan korporasi perkebunan kelapa sawit yang disidik antara lain seperti :

  1. PT. ABP di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 99 hektar]
  2. PT. AER di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 998 hektar]
  3. PT. SKM di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 1.468 hektar]

KLHK juga menyegel 2 lahan korporasi hutan tanam industri [HTI]:

  1. PT. BPS di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 50 hektar]
  2. PT. HKI di Kabupaten Ketapang [luas lahan terbakar 138 hektar]

Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Didi Haryono mengatakan, hingga saat ini pihaknya tengah memproses 66 tersangka, dari 66 kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di seluruh wilayah Kalimantan Barat. “Dari 66 kasus Karhutla itu, sebanyak 15 kasus diantaranya dilakukan oleh korporasi atau pihak perusahaan,” kata Didi seperti dilansir dari Antara, Selasa (17/9/2019) kemarin.

Didi mengungkapkan, dari 15 kasus korporasi, dua kasus saat ini dalam proses penyidikan dan 13 kasus dalam proses penyelidikan.

Akibat kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di Desa Penjalaan, area yang terbakar api adalah jalan akses perbatasan desa dan jalan alternatif keluar desa di desa Penjalaan, pada Rabu (18/9/2019) kemarin.

Segala upaya sudah dan terus dilakukan oleh tim Gabungan TNI, Polri dan Manggala Agni seperti di Ketapang dan di KKU untuk mengatasi persoalan ini (Karhutla). Mereka melakukan patroli dan pemadaman dari pagi hingga malam hari (tidak mengenal waktu lagi, mereka terus memadamkan api hingga saat ini).

Jika Karhutla dan kabut asap tak kunjung usai akan semakin berdampak tidak baik bagi semua aktivitas masyarakat.

Berharap, Karhutla dan kabut asap cepat berlalu dan aktivitas masyarakat bisa berjalan normal seperti biasanya.

Sumber Tulisan dan data:  (Ditulis dan diolah dari berbagai Sumber)

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Simposium dan Kongres Primata Indonesia 2019 di Universitas Gadjah Mada

Ella Brown, Manager Penelitian OH Yayasan Palung /GPOCP sebagai peserta yang menyampaikan presentasi pada Simposium dan Kongres Primata Indonesia 2019. Foto dok : Wahyu Susanto dan Rinta Islami

Simposium dan Kongres Primata Indonesia 2019 dilaksanakan di Yogjakarta dari tanggal 18-20 September 2019 bertempat di Kampus UGM.

Pada kesempatan tersebut, Ella Brown, Manager Penelitian OH Yayasan Palung /GPOCP ikut serta sebagai peserta presentasi pada kesempatan tersebut. Ikut serta pula Direktur Penelitian Yayasan Palung, Wahyu Susanto, dan Rinta Islami selaku Asisten Peneliti OH dari Yayasan Palung atau GPOCP.

Pada kesempatan tersebut, Ella Brown  mempresentasikan tentang; Orangutan Development, Reproduction and Life History (Pengembangan Orangutan, Reproduksi dan Sejarah Hidup Orangutan).

Adapun tujuan kegiatan ini untuk mengingatkan semua pihak terutama pengambil keputusan untuk melindungi habitat dan keberadaan primata di Indonesia.  

Beberapa peserta yang mengikuti kegiatan tersebut adalah lembaga lokal dan dari lembaga luar negeri.

Peserta yang mengikuti Simposium dan Kongres Primata Indonesia 2019 di UGM. Foto dok : Wahyu Susanto

Menurut Chairul Saleh selaku ketua PERHAPPI, mengatakan, konservasi primata ada ditangan kita dan kita berhak melindunginya. Kegiatan masih berlangsung hingga besok, tanggal 20 September.

Berita terkait Simposium dan Kongres Primata Indonesia 2019 :

https://jogja.tribunnews.com/2019/09/18/ugm-simpan-ribuan-fosil-orangutan-jawa?page=all

Petrus Kanisius dan Rinta Islami-Yayasan Palung

Jika Kabut Asap Terus Berlanjut Dikhawatirkan Akan Berdampak Semakin Buruk

Helikopter dan langit sore yang berkabut. Foto dok : Pit/YP

Kabut asap terhitung mulai muncul semejak akhir bulan lalu, hingga saat ini kabut asap semakin pekat saja seperti enggan berlalu. Jika terus berlanjut seperti ini, tentu memiliki dampak buruk pula.

Karena asap pekat masih mendera tiada tara, aktivitas dan pernafasan pun cukup terganggu. Apabila keluar ruangan dipastikan harus menggunakan masker karena bau dari asap cukup berdampak kepada pernafasan akibat kualitas udara yang sudah diambang tidak sehat hingga berbahaya bagi kesehatan.

Mengutip pemberitaan dari laman Kompas.com, menyebutkan; “Dari tanggal 13-16 September 2019, tercatat 529 kasus penderita ISPA,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Ketapang Basaria, Senin (16/9/2019).

Akibat munculnya asap yang semakin pekat, tidak sedikit berdampak kepada berbagi aktivitas sehari-hari masyarakat. Banyak sekolah dari tingkat TK hingga SMA harus diliburkan karena asap.  Jarak pandang pun semakin terbatas, membuat transportasi udara di beberapa tempat di Kalimantan harus menunda atau bahkan membatalkan jadwal penerbangan mereka. 

Terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga berimbas kepada sendi-sendi kehidupan yang lain, tidak terkecuali makhluk hidup dan tumbuhan ikut menjadi korban dari karhutla. Tak sedikit makhluk hidup seperti ular, trenggiling dan kura-kura ikut terbakar hidup-hidup hingga meregang nyawa.

Bahkan seperti di Kabupaten Kayong Utara (KKU), dampak dari rembetan karhutla berimbas terbakarnya sebuah gedung sekolah (SDN 07 Fillial Semanai, Desa Simpang tiga, Sukadana, KKU), Sabtu (14/9/2019), kemarin.

Hingga saat ini, berdasarkan pemantauan kualitas udara, saat ini udara tidak sehat dan sangat berbahaya akibat asap. Seperti terlihat, langit masih tertutup akibat kabut asap.

Sampai saat ini, tim pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Manggala Agni, TNI dan Kepolisian, BNPB dan beberapa pihak seperti masyarakat peduli api) masih melakukan pemadaman dari pagi hingga sore hari. 

Tidak untuk saling menyalahkan, namun yang sering kali menjadi tertuduh adalah masyarakat peladang. Pada dasarnya etika dan tata cara masyarakat justru menjunjung tinggi kearifan lokal. Masyarakat adat atau pun masyarat lokal sangat menghormati tata cara (adat istiadat) yang ada. Banyak informasi yang menyebutkan bahwa penyumbang kabut berasal dari pemilik lahan konsesi.

Dari tahun ke tahun, kebakaran terus terjadi berulang dan menjadi sesuatu (berbahaya dan berdampak) bagi tatanan kehidupan. Di lahan terbakar pun sebagian besar di kawasan gambut. Sejatinya jika berada di lahan konsesi yang terbakar menjadi kewajiban mereka pula untuk memadamkan sumber terjadinya kebakaran.

Manager Program Pendidikan Lingkungan Yayasan Palung, Mariamah Achmad, mengatakan, “Bencana asap sudah menjadi bencana rutin di Kalbar. Dari terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) penanganan sudah dilakukan akan tetapi kebakaran dan asap masih saja terjadi, dengan demikian harus dilakukan, terencana dan terintegrasi, mengurusi dari akar permasalahan bukan turunan masalah dan melibatkan  semua pihak, pemerintah, swasta dan masyarakat. Pencegahan  dan penanganan kebakaran hutan dan lahan juga berdasar pada hak masyarakat untuk memperoleh kualitas layanan lingkungan hidup yang baik seperti udara dan air bersih”.

Selain itu, menurut Mayi, sapaan akrabnya menegaskan; perlindungan kehidupan liar juga sangat perlu untuk diperhatikan sebagai kekayaan negara.  

Kabut pekat jika semakin berlanjut maka akan berdampak buruk bagi sendi-sendi kehidupan, terutama bagi aktivitas kehidupan sehari-hari.   

Tentu, jika kabut asap tak kunjung usai maka akan semakin berdampak buruk bagi banyak sendi kehidupan masyarakat. Kabut asap yang pekat dan selalu berulang setiap tahunnya ini, entah sampai kapan asap bisa berlalu. Banyak orang yang menyatakan asap akan berlalu jika kebakaran bisa dihentikan dengan syarat jika hujan lebat turun. Hanya berharap hujan turun secepatnya bila asap ingin cepat berlalu.

Sumber informasi (bahan bacaan/rujukan tulisan) : https://regional.kompas.com/read/2019/09/17/06150021/4-hari-dikepung-asap-529-warga-ketapang-kalimantan-barat-kena-ispa

https://pontianak.tribunnews.com/2019/08/23/seekor-trenggiling-ditemukan-mati-di-lokasi-karhutla-desa-sungai-pelang-ketapang,

https://regional.kompas.com/read/2019/09/15/07272111/rembetan-api-karhutla-hanguskan-bangunan-sekolah-di-kayong-utara,

https://pontianak.tribunnews.com/2019/09/16/dandim-1203ktp-pimpin-langsung-usaha-pemadam-api-di-pelang,

https://regional.kompas.com/read/2019/09/16/15221311/gubernur-kalbar-penyumbang-kabut-asap-terbesar-dari-lahan-konsesi-perusahaan.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung