Ini Alasan Orangutan Selalu Berpindah Sarang Setiap Harinya

Orangutan di tipe sarang A, saat beristirahat di hutan hujan Gunung Palung Foto dok. Tim Laman dan Yayasan Palung

Orangutan tidak seperti burung atau pun binatang lain yang bersarang dan selalu menetap di sarang-sarang mereka. Orangutan hampir dipastikan selalu berpindah sarang setiap harinya.

Apa yang menyebabkan orangutan selalu berpindah sarang setiap harinya?. Ada beberapa alasan yang mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Satu di antaranya mungkin karena DNA orangutan mendekati DNA manusia sehingga memiliki tingkat kecerdasan maka orangutan ingin selalu higienis.

Ada rasa jijik (tidak ingin sarangnya kotor) mungkin itu kata yang tepat untuk dikatakakan maka ia (orangutan) selalu berpindah sarang setiap harinya (orangutan ingin selalu bersih).

Selain itu, orangutan dikenal sebagai primata yang selalu berpindah-pindah (tidak berdiam di satu tempat). Orangutan selalu menjelajah hutan/berpindah-pindah dari wilayah satu ke wilayah lainnya.

Selanjutnya, orangutan selalu mencari tempat yang selalu dekat dengan pakan (sumber makanan) mereka, dengan demikian mereka akan mendiami wilayah tersebut hingga beberapa hari karena selain sebagai sumber tetapi juga cadangan makanan.

Dengan kata lain, daya jelajah orangutan 10 hingga 20 kilometer setiap harinya sehingga waktu makan di pagi hari dan siang hari dipastikan di wilayah yang berbeda.

Biasanya orangutan jantan atau pun betina selalu menjelajahi hutan dari pohon satu ke pohon lainnya hanya untuk mencari sumber makanan.

Biasanya juga, apabila orangutan jantan menjelajahi hutan satu dari banyak tujuan utamanya mencari makan juga adalah mencari pasangan (mencari orangutan betina) apabila dimusim kawin apa lagi ketika musim buah raya (musim buah melimpah).

Fakta lainnya, orangutan merupakan satwa yang sangat dilindungi dan memiliki peranan penting untuk keberlanjutan nafas semua makhluk hidup dan orangutan juga dikenal sebagai penyebar biji (petani hutan).

Dikhawatirkan apabila jumlah populasi orangutan semakin berkurang maka akan sangat berdampak pada semakin sulitnya tunas-tunas baru pepohonan untuk tumbuh.

Orangutan selain hidup bersih/higienis, ia juga sangat berperan penting bagi makhluk lainnya. Alasanya adalah karena orangutan disebut sebagai spesies payung.

Disebut spesies payung karena apabila orangutan punah maka akan berdampak pula kepada makhluk lainnya (jika orangutan punah maka makhluk lainnya akan mengikuti/punah pula).

Demikian juga sebaliknya, apabila semua makhluk bisa saling harmoni, maka semua bisa abadi selamanya.

Dengan kata lain semua makhluk hidup sangat membutuhkan/memerlukan hutan sebagai sumber dari segalanya agar berlanjut hingga selamanya.

Hilangnya hutan dan orangutan di habitatnya sedikit banyak berdampak kepada tatanan kehidupan manusia. Hilangnya sebagian luasan tutupan hutan akan berdampak kepada tersedianya pakan orangutan, atau pun hilangnya habitat mereka untuk berkembang biak.

Selain itu juga, hilangnya akan berdampak kepada lingkungan lainnya (bencana alam). Hilangnya luasan tutupan hutan akan bermuara kepada sulitnya mendapatkan sumber air bersih, banjir atau pun tanah longsor.

Orangutan perlu hutan, hutan juga perlu orangutan. Demikian juga makhluk lainnya tidak terkecuali manusia sangat memerlukan hutan dan orangutan agar nafas boleh berlanjut.

Apakah kita masih boleh melihat hutan bisa tumbuh dan orangutan masih boleh menyemai biji-bijian hutan?

Jika ya, mari kita jaga dan lindungi mereka.

Semua nafas semua makhluk hidup di muka bumi ini sesungguhnya tergantung bagaimana tugas dari kita semua apakah bisa hidup selalu berdampingan dan bijaksana ataukah semakin serakah dengan sesama kita berupa hutan dan orangutan.

Sebagai harapan, bolehkah kita selamatkan mereka, sebelum mereka tinggal cerita. Lestarikan mereka (hutan dan orangutan) agar  makhluk boleh berlanjut hingga nanti. Bukankah kita semua yang mendiami bumi ini dititahkan untuk selalu hidup berdampingan dan harmoni hingga lestari selamanya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5d3aa1300d823002c35d23e2/mengapa-orangutan-selalu-berpindah-sarang-setiap-harinya?page=all

Petrus Kanisius-Yayasan Palung 

BTNGP Raih Juara 3 Peserta Terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata di Bali

(BTNGP)/TANAGUPA atas raihan sebagai juara 3 peserta terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA) yang berlangsung di Bali pada 19-21 Juli 2019. Foto dok : BTNGP dan YP

Ucapan selamat kepada Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP)/TANAGUPA atas raihan sebagai juara 3 peserta terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA) yang berlangsung di Bali pada 19-21 Juli 2019, kemarin.

Pada kesempatan tersebut, BTNGP bersama Yayasan ASRI ikut ambil bagian pada pameran yang berlangsung selama 3 hari itu.

Yayasan Palung juga pada kesempatan tersebut menitipkan beberapa produk hasil hutan bukan kayu seperti madu, tas, gelang resam kepada teman-teman dari TNGP untuk dipamerkan di Stand TNGP. Boneka Si Pongo pun ikut ambil bagian pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA).

Boneka Si Pongo dan beberapa tas, produk madu hutan dan gelang resam yang di pajang di Stand BTNGP saat Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam di Bali. Foto dok : BTNGP dan YP

TNGP  mengajak kita semua untuk berkenalan lebih dekat.  Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) merupakan kawasan pelestarian alam yang berada di Kalimantan Barat http://tngunungpalung.org/letak-luas .

Seperti dikatakan oleh bapak Bambang Hari Trimarsito, selaku Kepala SPTN 1 Sukadana, mengatakan; Kenali! Lihat! dan Kalian akan mencintainya.

Sebagai informasi, Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA) merupakan sarana untuk memperkenalkan secara lebih luas lagi dan mempromosikan  kepada masyarakat Indonesia dan dunia mengenai wisata konservasi yang ada di Indonesia. Ditengah homogenitas obyek wisata yang ditawarkan Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam Indonesia justru menyajikan obyek wisata unik, menantang, mengedukasi dan memberikan pengalaman yang berbeda tanpa meninggalkan konsep pemanfaatan taman nasional sebagai pusat wisata konservasi alam. 

Untuk melihat foto lebih banyak :

Sekali lagi, selamat kepada TNGP atas raihan sebagai peserta terbaik pada Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam (FTNTWA). Semoga TNGP semakin baik dan semakin dikenal.

Petrus Kanisius -Yayasan Palung

Banyak Cara yang Bisa Dilakukan untuk Bijak Terhadap Sampah

Mengolah Botol plastik menjadi barang-barang yang bermanfaat (membuat tempat pensil, lampion dan planter dari botol bekas). Foto dok. Mayi/Yayasan Palung

Selama 2 hari (15-16 Juli 2019) kemarin, Tim PPL Yayasan Palung menjalankan kegiatan lecturing (ceramah lingkungan) di SMA Negeri 3 Simpang Hilir. Hari pertama pukul 10.00-12.00 WIB, kegiatan dimulai dengan penyampaian materi terlebih dahulu berjudul Bijak Terhadap Sampah.

Kegiatan dibuka oleh Bapak Rahmad mewakili pihak dari SMAN 3 Simpang HIlir. Selanjutnya Fitri Melyana, penerima BOCS memberikan game (permainan) Sugesti dan dilanjutkan oleh Riduwan dengan memberikan game Cermin. Dua permainan ini dimaksudkan untuk meningkatkan konsentrasi peserta. Peserta amat antusias dalam mengikuti permainan, dan ruangan dipenuhi oleh tawa siswa. Seusai permainan, Mariamah Achmad memberikan materi mulai dari pengenalan apa itu sampah, asal sampah, dampak, dan solusi mengatasi sampah.

Materi tersebut berkenaan dengan isu-isu terkini mengenai lingkungan, yang menjadi trending topic dunia internasional, seperti berita dimana perut paus sperma penuh dengan sampah. Peserta aktif dalam menjawab pertanyaan selingan yang berguna untuk mengukur wawasan mereka mengenai permasalahan di sekitarnya yang berkaitan dengan sampah.

Dari 50 siswa, 7 diantaranya mendapatkan hadiah berupa buku dan botol karena dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan benar. Selesai penyampaian materi, peserta diberikan pengarahan untuk kegiatan praktek reuse botol kemasan sekali pakai esok harinya, yaitu siswa diminta membawa botol bekas berbahan plastik (2 buah berukuran 600 ml, dan 1 buah berukuran 1500 ml), 12 buah tutup botol, resleting, jarum, benang, gunting, cutter, dan pelubang kertas. Bahan dan alat lainnya disediakan oleh Yayasan Palung.

Hari kedua, pada pukul 09.00-12.00 WIB, Peserta amat antusias dalam melakukan Praktek Reuse yang meliputi pembuatan tempat pensil, lampion dan planter dari botol bekas. Sebelum praktek dilakukan, 2 penerima BOCS yaitu Mega Oktavia Gunawan memberikan game Bis dan Reni Riasari memberikan game Tepuk Filipina, melakukan permainan untuk membuat suasana gembira. Peserta bersemangat untuk memulai kegiatan, ruangan dipenuhi oleh tawa setelah permainan selesai.

Kegiatan dimulai oleh Mariamah Achmad dengan melakukan praktek dan  mencontohkan cara membuat tempat pensil. Sambil memberikan prosedur pembuatan tempat pensil, anggota tim lainnya ikut membantu peserta yang merasa kesulitan, serta memberikan tips dan trik untuk pemotongan botol, melubangi botol dengan alat pelubang kertas, dan style menjahit resleting pada botol baik secara horizontal maupun vertikal.

Tempat pensil, lampion dan planter dari botol bekas. Foto dok : Mayi/Yayasan Palung

Selanjutnya, praktek dilakukan untuk membuat planter, mengutamakan kreativitas agar botol bekas tersebut dibuat semenarik mungkin dan fungsional sebagai wadah tanaman. Yang disarankan akan lebih baik jika pada bagian bawah botol dapat menampung air sehingga jika tidak rutin menyiram setiap hari tanaman tidak mengering. Terakhir, pembuatan lampion. Lampion ini dibuat dengan 10 tutup botol sebagai lingkaran, dan 2 tutup botol sebagai pengapit secara vertikal. Semua siswa berhasil membuat wadah pensil dan hampir setengah dari siswa juga berhasil membuat lampion dan planter.

Dari 37 siswa yang mengikuti kegiatan ini, 5 siswa diantaranya mendapatkan hadiah untuk Kategori Terinovatif, produk yang dihasilkan tidak biasa dan lain dari siswa lainnya, dan Kategori Produk Terbanyak diberikan karena ketiga produk yang dihasilkan dapat dikerjakan dengan baik. Evaluasi dari kegiatan ini adalah kesiapan peserta masih kurang untuk menyediakan alat dan bahan praktek dikarenakan kurang menangkap arahan yang disampaikan oleh tim PPL pada hari sebelumnya, dan kurangnya kesiapan beberapa anggota staf untuk membantu peserta karena belum mendapat pelatihan dalam pembuatan produk. Kegiatan ini adalah bagian dari pembinaan sekolah Adiwiyata Kayong Utara sehingga juga dihadiri oleh Bapak Hadi dari Dinas PerKimLH Kayong Utara. Kegiatan ditutup oleh Bapak Mugi selaku Ketua Tim Adiwiyata SMAN 3 Simpang Hilir.

Mariamah Achmad-Yayasan Palung

Dua Ilmuan Luar Negeri Berikan Kuliah Umum dan Pelatihan di UNAS

Cheryl Knott , Ph.D saat memberikan kuliah umum di UNAS bersama dengan Andrew J. Marshall, Ph.D , pekan lalu di Universitas Nasional (UNAS) . Foto dok : Wahyu Susanto/YP/GPOCP

Dua ilmuan luar negeri berkesempatan untuk memberikan kuliah umum dan pelatihan di Universitas Nasional (UNAS) tentang konservasi, beberapa waktu lalu.

Mereka adalah Cheryl Knott , Ph.D dan Andrew J. Marshall, Ph.D. Dua ilmuan ini sudah tidak asing di Taman Nasional Gunung Palung karena aktivitas penelitian mereka.

Selaku Direktur Eksekutif GPOCP Yayasan Palung (Gunung Palung Orangutan Conservation Program)/ Gunung Palung Orangutan Project, Cheryl Knott mengatakan; “Saya merasa terhormat untuk berbicara di UNAS (Universitas Nasional, Indonesia, di Jakarta) 9-11 Juli 2019, minggu lalu”.

Pada kesempatan tersebut, Cheryl Knott, Ph.D yang juga dosen dari Universitas Boston, USA dan Andrew J. Marshall, Ph.D selaku anggota dewan pengawas GPOCP dan sebagai Direktur  One Forest Project dan dosen di Universitas Michigan, USA berkesempatan memberikan materi kuliah umum dan pelatihan kepada Mahasiswa Pascasarjana, Fakultas Biologi, Universitas Nasional.

Sedangkan Andrew J. Marshall membahas tentang ekologi vertebrata di Taman Nasional Gunung Palung ketika memberikan kuliah umum di UNAS pekan lalu. Foto dok : Wahyu Susanto/YP/GPOCP

Pada kesempatan memberikan kuliah umum (9/7/2019) kemarin, Cheryl Knott mengupas (membahas) tentang perkembangan orangutan remaja di Taman Nasional Gunung Palung. Sedangkan Andrew J. Marshall membahas tentang ekologi vertebrata di Taman Nasional Gunung Palung.

“Kami sangat senang melihat begitu banyak rekan-rekan di Indonesia yang selama ini telah banyak mendukung kami”, ujar Cheryl.

Pada hari kedua dan ketiga  (10-11 Juli 2019) dilanjutkan dengan pelatihan yang diberikan oleh Andrew J. Marshall kepada mahasiswa Pascasarjana Biologi UNAS tentang Statistik “R”.

Statistik R merupakan analisis yang sudah umum digunakan atau dipakai oleh peneliti dunia selain metode, analisis penelitiannya. “Statistik R  akan  sangat membantu  mahasiswa dalam menganalisis hasil penelitian mereka”, ujar Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung (GPOCP).

Peserta yang mengikuti Kuliah umum dan Pelatihan. Foto dok. Wahyu Susanto/YP/GPOCP

Lebih lanjut Wahyu Susanto mengatakan, “Terselenggaranya kuliah umum dan Pelatihan di UNAS tersebut juga berkat adanya kerjasama antara Univertas Nasional (UNAS),  Universitas Boston dan Universitas Michigan sebagai kontribusi peneliti asing”.

Pada kesempatan tersebut pula Endro Setiawan dari (BTNGP) mendapatkan beasiswa pada program Pascasarjana di Program Biologi Universitas Nasional.

Endro Setiawan, Cheryl Knott dan Andrew J. Marshall. Foto dok : Wahyu Susanto/ YP/GPOCP

Setidaknya 50 orang peserta mengikuti kuliah umum dan 30 orang mengikuti pelatihan Statistik R.

Semua rangkaian kegiatan tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang mengikuti kuliah dan pelatihan tersebut.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung