Mohon Uluran Kasih untuk Melda Supaya Bisa Sembuh

Sumber Informasi Tim Peduli Melda. Foto desain : Haning/YP.

Imelda Gea Ayu, pelajar SMP berumur 15 tahun sangat perlu uluran tangan masyarakat yang peduli. Pada 18 April 2019, Melda berboncengan motor dengan temannya, ditabrak oleh motor lainnya (pelaku memberikan bantuan untuk pijat), Melda terjatuh dan dilindas motor lainnya (pelaku tidak mau bertanggungjawab). Akibat dari tabrakan beruntun ini, tulang pangkal paha Melda patah, dibuktikan dengan hasil rontgen yang dikeluarkan oleh RS Fatima, Ketapang.

Sudah lebih dari 2 bulan ini, Melda terbaring tak berdaya dengan nyeri yang selalu datang yang membuatnya terus merintih, tanpa pengobatan yang berarti. RS Fatima merujuknya untuk dioperasi di rumah sakit di Pontianak, namun hingga saat ini masih terkendala biaya. Warga desa Sungai Awan Kanan, Ketapang, Kalbar ini tinggal bersama ayahnya dalam kehidupan ekonomi yang sangat sederhana, ibunya sudah meninggal 3 tahun yang lalu, dan mereka perantau yang tidak mempunyai sanak saudara di Ketapang. Ayahnya bertani sayur menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil.

Mohon uluran kasih untuk Melda supaya bisa sembuh dan bisa sekolah lagi, kita selamatkan Melda dari cacat seumur hidup. Salurkan bantuan anda melalui:

Bank BRI Nomor Rekening: 0208-0105-5926-506 atas nama Mariamah Achmad.

Kontak Koordinator Tim Peduli Melda: Helvina  No. WA 0852-4500-8668.

Sumber  Informasi : Tim Peduli Melda

Peringati Hari Hutan Hujan Sedunia Yayasan Palung dan Relawan Rebonk Tanam Mangrove di Pantai Pasir Mayang

Saat Relawan Rebonk melakukan penanaman mangrove. Foto dok : Simon/ YP

Sabtu (22/6/2019) kemarin,  menjelang pukul 07.00 Wib tiba, beberapa relawan terlihat sibuk menyiapkan bibit-bibit mangrove yang akan mereka tanam. Setelah menyiapkan bibit, mereka langsung menuju lokasi penanaman di pantai Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

 Kebetulan, Sabtu (22/6) kemarin, diperingati sebagai hari hutan hujan sedunia. Yayasan Palung dan para relawan Rebonk yang didukung oleh rekan-rekan Sispala yang ada di Kabupaten Kayong Utara saat melakukan penanaman mangrove.

Adapun teman-teman Sispala yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan penaman mangrove antara lain; Sispala Land, Sispala Ganasanda, Sispala Grepala, Sispala Tapal dan Sispala Cagar Sispasi.

Saat melakukan penanaman, beberapa sukarelawan menyiapkan lubang tanam sehingga memudahkan proses penanaman mangrove bisa berjalan dengan mudah. Beberapa diantaranya terlihat membuat lubang tanam sendiri.

Saat melakukan penanaman mangrove para relawan dan teman-teman dari beberapa Sispala yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut terlihat tanpa ragu membaur dan bersemangat, sesekali mereka bercanda satu sama lainnya.

Penanaman mangrove di lokasi pantai Pasir Mayang begitu penting sebagai upaya dalam pencegahan abrasi. Setidaknya ada 286 bibit mangrove yang ditanam.

Foto-foto kegiatan Penanaman mangrove :

View this post on Instagram

Pada 22 Juni, diperingati sebagai Hari Hutan Hujan Sedunia (World Rainforest Day) YAYASAN PALUNG @yayasan_palung @savegporangutans dan RELAWAN REBONK @rebonk_yp Memperingati Hari Hutan Hujan Sedunia Dengan Melakukan Penanaman Mangrove di Pantai Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan, Sukadana, Kalimantan Barat, pada (22/6/2019). ______________________________________________ Saat melakukan penanaman mangrove di lokasi pantai Pasir Mayang, kami (@yayasan_palung @savegporangutans dan @rebonk_yp didukung oleh para Sispala yang ada di Kabupaten Kayong Utara. Adapun teman-teman Sispala yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan penaman mangrove antara lain; Sispala Land, Sispala Ganasanda, Sispala Grepala, Sispala Tapal dan Sispala Cagar Sispasi. Penanaman mangrove di lokasi pantai Pasir Mayang begitu penting sebagai upaya dalam pencegahan abrasi. Setidaknya ada 286 bibit mangrove yang kami tanam. Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta. Semoga saja apa yang kami tanam hari ini bisa bermanfaat bagi semua nafas kehidupan dan berharap juga semoga hutan hujan bisa terus berlanjut hingga nanti untuk keberlanjutan semua nafas kehidupan. Salam budaya, adil dan lestari… Untuk mengetahui lebih lengkap tentang kami jangan lupa menonton di channel kami. Jangan lupa pula like, share dan subscribe 🙂 Klik : https://m.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=UThh7OywRIE ______________________________________________ Narasi : @petruskanisiuspit đź“· : @sifrx90_backpacker Video : @savegporangutans @yayasan_palung ______________________________________________ #WorldRainforestDay #TakeABreath and #ThankARainforest @worldRainforestDay #rainforest #rainforestlife #biodiversity #borneo #gunungpalungnationalpark #gunungpalung #orangutans #saveforestborneo #mongabay #mongabayindonesia

A post shared by Yayasan Palung (YP) (@yayasan_palung) on

Berdasarkan kesepakatan bersama, tanaman yang di tanam pada hari itu tidak ditinggalkan begitu saja melainkan terus menerus dipantau oleh teman-teman relawan Rebonk, ujar Riduwan dari Yayasan Palung yang saat itu menjadi penanggungjawab kegiatan.

Menurut Egi, satu dari Relawan Rebonk mengatakan, jika tanaman-tanaman mangrove yang ditanam itu seandainya mati atau terbawa gelombang maka mereka siap untuk menggantinya dengan tanaman baru. Selain itu, kami juga siap memonitor tanaman secara rutin setiap minggunya.

Semoga saja apa yang kami tanam hari ini bisa bermanfaat bagi semua nafas kehidupan dan bisa mencegah abrasi, selain itu juga berharap, karena hari ini (22/6) adalah hari hutan hujan, semoga hutan hujan bisa terus berlanjut hingga nanti untuk keberlanjutan semua nafas kehidupan, ujar Riduwan.

Semua rangkaian kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari semua peserta. (Petrus Kanisius-Yayasan Palung)

Hari Hutan Hujan Sedunia, Menghijaukan Bumi Kembali dengan Menanam Pohon Mangrove

Memperingati hari Hutan Hujan Sedunia : Menghijaukan Bumi Kembali dengan Menanam Pohon Mangrove. Foto desain : Haning Pertiwi / Yayasan Palung

Yayasan Palung bersama Relawan RebonK akan memperingati hari hutan hujan 2019 dengan rencana akan melakukan penanaman pohon, rencanaya bibit yang ditanam adalah bibit mangrove.

Tahun ini, tema yang diangkat untuk memperingati hari hutan hujan sedunia kali ini adalah :  â€śMenghijaukan Kembali  dengan Penanaman Pohon Mangrove”.

Adapun lokasi penanaman pohon mangrove rencanaya akan diadakan; pada hari Sabtu, 22 Juni 2019 di lokasi Pantai Pasir Mayang, Dusun Pasir Mayang, Desa Pampang Harapan. Waktu kegiatan dimulai pukul 07.00 Wib- selesai.

AYO IKUTI …! dan bergabung bersama untuk peduli pada bumi dan hutan hujan sebagai rumah kita bersama.

Catatan: Bagi yang ingin berpartisipasi, agar membawa botol minuman masing-masing.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Alfred Si Raja Rimba yang Sah di Cabang Panti

Alfred Si Raja Rimba di Cabang Panti. Foto Muhammad Syainullah

Hai, Nama saya Muhammad Syainullah. Saya adalah asisten laboratorium di Stasiun Riset Cabang Panti, yaitu Stasiun Riset dengan Proyek penelitian yang bergerak dibidang penelitian seputar Orangutan di alam liar.

” Suatu hari saya sedang berada dihutan dengan agenda mencari orangutan dan saya bertemu dengan betina remaja, saya sangat senang saat itu. Ketika saya sudah bersiap-siap mengikuti nya saya tidak melihat bahwa dibelakang orangutan betina itu ada jantan dewasa, dialah orangutan Alfred”.

Dan salah satu Orangutan yang kami teliti adalah Alfred, Kali ini saya akan membicarakan tentang Orangutan ini. Pertama kali saya bertemu orangutan ini ketika 3 bulan pertama saya berkerja di Stasiun Riset ini dan saya rasa ini sangat menakjubkan, dan kenapa saya sebut dia adalah raja yang sah di stasiun riset ini? karena pada saat itu dan sampai sekarang Alfred adalah jantan utama yang masih mendominasi pada wilayah penelitian pada daerah tertentu yang biasa ia jelajahi.

Alfred Si Raja Rimba di Cabang Panti. Foto Muhammad Syainullah

Di estimasikan bahwa Alfred lahir pada tahun 1996 sehigga pada saat ini Alfred telah berusia 23 tahun, salah satu yang membuat saya tertarik untuk membuat artikel tentang Alfred adalah karena hingga kini dia masih menjadi satu-satunya jantan utama di sekitaran area penelitian dan masih banyak lagi sebetulnya tapi Orangutan lain nya tidak sebesar dia.

Saya tau dia kurang senang dengan saya karena hampir 1,5 tahun pengalaman saya bersama orangutan sudah cukup membuat saya yakin bahwa tingkah laku nya seperti kurang suka dengan saya.

Pada saat itu saya mencoba untuk tetap tenang tapi Alfred mencoba mengejar saya, seketika itu pula saya berlari menjauh darinya, saya tahu meskipun pada hari itu dia sangat agresif  itu karena dia hanya mencoba melindungi si betina dan biasanya Alfred cukup habituasi dengan para asisten. sebetulnya masih banyak hal yang menarik yang perlu dipelajari tentang Alfred,tentang kerajaan nya, dan tentang orangutan lain. Dan kita hanya perlu menjaga habitat nya untuk mendapatkan hal hal menarik dari mereka untuk kita pelajari.

Penulis : Muhammad Syainullah

Editor : Petrus Kanisius

Yayasan Palung

Dengan Cara Ini Mereka Memiliki Pengasilan Alternatif yang Berkelanjutan dan Bersemangat untuk Menjaga Hutan

Dengan beternak menjadi satu diantara banyak pilihan yang bisa dilakukan untuk menjaga dan memilihara keberlanjutan hutan. Foto dok : Yayasan Palung

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga hutan, dengan cara ini pula mereka bersemangat menjaga hutan mereka.

Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara misalnya, mereka sangat bersemangat untuk menjaga hutan desa mereka dengan cara beternak kambing dan menyiapkan pohon bibit serta menanamnya. Mengapa beternak kambing?, dan mengapa dengan cara menyiapkan bibit tanaman dan selanjutnya mereka menanamnya (tanaman dari berbagai tanaman seperti tanaman buah-buahan, tanaman karet, tanaman pinang dan tanaman lainnya)?. Ini merupakan cara alternatif yang bisa dilakukan oleh masyarakat  sebagai harapan agar hutan terjaga dan masyarakat sejahtera. LPHD di Desa Pulau Kumbang merupakan binaan dari Yayasan Palung.  Lalu, apa hubungan beternak kambing dengan menjaga hutan?.

Beternak kambing, cara yang bisa dilakukan mereka sembari memilihara dan menjaga hutan.  ini merupakan cara alternatif yang berkelajutan. Beternak baru saja mereka lakukan, sedangkan membibit, menanam dan memilihara sejak tahun 2015 silam hingga saat ini.

“Untuk biaya pengadaan bibit tanaman dan beternak kambing, semua biaya berasal dari Bang PeSoNa (Perhutanan Sosial Nusantra). Beberapa desa lainnya yang juga merupakan binaan Yayasan Palung seperti LPHD Padu Banjar, LPHD Penjalaan, LPHD Nipah Kuning dan LPHD Pemangkat mengajukan mendapatkan bantuan serupa pula dari Bang PeSoNa. Semua proses penyusunan dan pengajuan proposal dilakukan melalui kelompok LPHD dan dibantu oleh Yayasan Palung yang selanjutnya direspon baik oleh Bang Pesona hingga dikucurnya dana bantuan kepada kelompok masyarakat yang mengajukan. Dana bantuan yang dikucurkan oleh Bang PeSoNa kepada kelompok LPHD sebesar 50 juta rupiah”, kata Edi Rahman, selaku Manager Program Penyelamatan Satwa (PPS-Hukum) Yayasan Palung.

Direktur Program Yayasan Palung, Victoria Irene Gehrke, mengatakan; “Kambing untuk konservasi? Pelestarian satwa liar bukan hanya tentang satu hewan atau menyelamatkan  beberapa pohon, tetapi juga tentang pengembangan masyarakat (manusia) yang berkelanjutan dan memberikan atau menciptakan solusi serta strategi jangka panjang untuk kepentingan manusia dan satwa liar. Kelompok LPHD di desa Pulau Kumbang yang menjadi binaan YP,  mengelola dana bantuan dari Bang PeSoNa untuk beternak kambing, mereka membeli 20 ekor kambing untuk membantu memberikan opsi ekonomi alternatif yang berkelanjutan yang tujuannya membantu mengurangi deforestasi dan berburu ketika kambing menyediakan daging, susu dan bahkan pupuk untuk mengoptimalkan hasil pertanian dan dengan demikian membatasi kebutuhan untuk ekspansi lebih lanjut dari pertanian yang menjadi habitat utama orangutan”.

Lebih lanjut Edi, sapaan akrabnya mengatakan; “Pada tahun 2019 ada 3 kelompok LPHD yang mendapatkan bantuan dari Bang PeSoNa  antara lain adalah LPHD Desa Padu Banjar; mendapatkan bantuan 4 ekor sapi dan 2000 bibit. LPHD Desa Pulau Kumbang; 20 ekor kambing dan 2000 bibit, dan LPHD Desa Nipah Kuning; 32 bok ayam daging dan 2000 bibit. Sebelumnya, LPHD Desa Penjalaan dan LPHD di Pemangkat pada tahun 2018 telah menerima bantuan. Untuk tahun ini pun, proses pengajuan bantuan sedang dalam proses untuk 3 kelompok Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yaitu; 2 kelompok di Desa Padu Banjar, 1 kelompok di Desa Pemangkat dan 1 LPHD desa Padu Banjar”

Adapun bibit tanaman bantuan kepada masyarakat, selanjutnya akan mereka (kelompok lembaga pengelola hutan desa) akan ditanam di lokasi hutan desa dan di lokasi-lokasi eks kebakaran di sekitar kawasan hutan desa dan pemukiman warga di lima desa, hutan desa dampingan Yayasan Palung, kata Edi.

Berharap masyarakat bisa menjaga dan melestarikan hutan desa mereka dengan semangat kebersamaan serta mampu mengelola ternak mereka menjadi sumber penghasilan alternatif yang berkelanjutan.

Tulisan dan informasi ini sebelumnya telah dimuat di Tribun Pontianak, Klik link untuk membaca : https://pontianak.tribunnews.com/2019/06/18/lphd-mencari-penghasilan-alternatif-yang-berkelanjutan-dari-menjaga-hutan

Tulisan ini juga dimuat di Pontianak Post (versi cetak, Selasa 18/4/2019), dengan judul :  Cara LPHD Pulau Kumbang Menjaga Hutan Desa “Gencarkan Gerakan Beternak dan Bercocok Tanam”

Petrus Kanisius-Yayasan Palung