Hutan dan Orangutan Itu Penting Diselamatkan, tetapi Kesejahteraan Masyarakat yang Utama

Orangutan sebagai satwa (primata) yang dilindungi karena peran dan fungsinya sebagai petani hutan . Foto dok : Yayasan Palung

Tidak hanya hutan dan orangutan penting untuk diselamatkan, tetapi masyarakat di sekitar hutan terlebih dahulu diselamatkan (kesejahteraan masyarakatnya  yang utama), mengapa demikian?

Hutan sebagai sumber dari segalanya, mungkin juga lebih dari itu. Mampukah semua makhluk hidup yang ada di sekitar hutan bisa bertahan, bila semuanya tidak diselamatkan alias tidak dipehatikan.   

Hutan, orangutan dan masyarakat di sekitar hutan sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika ingin menyelamatkan hutan dan orangutan, maka terlebih dahulu orang atau manusianya (masyarakat) di sekitar hutan menjadi hal yang pertama dan utama untuk diperhatikan (diselamatkan).

Hutan dan orangutan diinginkan untuk dijaga dan dilestarikan, namun tak sedikit nasib masyarakat terkadang terabaikan alias tidak diperhatikan (diselamatkan).

Keterangan Foto : Sebelum menyelamatkan hutan dan orangutan, terlebih dahulu selamatkan masyarakat yang ada di sekitar hutan. Foto dok : Yayasan Palung

Tak sedikit warga masyarakat yang secara terpaksa untuk menjaga hutan dan orangutan, itu nyata terjadi. Dan ada pula yang menjaga hutan mereka dengan ketulusan (tanpa keterpaksaan). Tetapi, apakah mereka diperhatikan? Sudah sejahterakah mereka, sudah diperhatikan dan sudah diselamatkan atau belum, mereka sejatinya?.

Hutan, orangutan dan manusia (masyarakat) selain sebagai satu kesatuan juga harus harmoni. Tetapi untuk harmoni mereka sama-sama harus diselamatkan. Acap kali kita bicara konservasi orangutan dan hutan namun abai kepada masyarakat yang ada di sekitarnya (masyarakat lokal) yang ada secara langsung dan berinteraksi langsung dengan hutan dan orangutan.

Masyarakat acap kali diminta untuk menjaga hutan dan orangutan dengan larangan-larangan agar hutan dan orangutan jangan dibabat juga tak cukup banyak membantu, malah yang terjadi bertambah parah (hutan semakin terkikis menjelang habis dan orangutan semakin dalam ancaman nyata/sangat terancam dalam keberlangsungan hidupnya).

Hutan sebagai sumber kehidupan, demikian dikatakan. Orangutan sebagai spesies payung dan petani hutan. Sedangkan manusia (masyarakat di sekitar hutan) sebagai penjaga yang semestinya pula untuk diperhatikan.

Sudah adakah sumber alternatif lain bagi masyarakat yang bisa ditawarkan agar semua bersama-sama diselamatkan?. Dalam arti kata apa yang bisa dan sudah ditawarkan sehingga masyarakat mampu mencari cara-cara (alternatif) baru untuk keberlanjutan nafas hidup mereka tanpa merusak dan mengancam hutan sebagai habitat hidup orangutan. 

Masyarakat diminta untuk menjaga, namun terkadang mereka luput dari perhatian (diselamatkan). Cara-cara alternatif sebagai solusi, sebagai tawaran. Jangan hanya larangan-larangan tetapi masyarakat tidak diberi solusi.

Hal lainnya, yang tidak kalah menariknya adalah masyarakat akar rumput selalu dikambing hitamkan apabila hutan terbakar dan orangutan mati. Apakah sesungguhnya mereka pelakukanya? 

Entahlah, tetapi kemungkinan sudah tahu jawabannya. Tak sedikit luasan hutan terbakar, yang menjadi tertuduh adalah petani dan peladang. Sejak dulu mereka berladang dan bercocok tanam tetapi tak pernah menimbulkan bencana kebakaran.

Masyarakat yang hidup di sekitar hutan tahu betul tata kerama dan aturan tentang satu kesatuan dan keharmonisan dengan alam dengan adat dan tradisi yang mereka jalankan. Mereka (masyarakat) memiliki rasa untuk menghormati dan menghargai, menjaga dan memilihara. Seiring dengan perkembangan waktu, hutan semakin terkikis dan otomatis orangutan dan masyarakat pun sama terdesak.

Desi Kurniawati, selaku koordinator Community Forest & Legal Yayasan Palung, mengatakan; “Mensejahterakan masyarak di sekitar hutan itu adalah kewajiban dan kewajiban masyarakat disekitar hutan untuk menjaga hutan disekitarnya, tidak terkecuali orangutan. Dengan arti kata, kewajiban dari semua pihak untuk menjaganya. Masyarakat sejahtera, hutan terjaga”.

Perubahan paradigma sekarang pun sudah semestinya dilakukan, Masyarakat sejatinya menjadi elemen terpenting. Masyarakat menjadi sama-sama penting selain hutan dan orangutan  untuk diselamatkan. Apabila masyarakat sejahtera maka hutan dan orangutan pun bisa terjaga (terselamatkan).

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5cdd37ce6db84306001fba87/hutan-dan-orangutan-itu-penting-untuk-diselamatkan-tetapi-kesejahteraan-masyarakatnya-yang-utama

Petrus Kanisius – Yayasan Palung

Ini Cerita Sabta dan Rekan-rekan Peneliti dari Cabang Panti saat Berkunjung ke Stasiun Penelitian di Tuanan

Saat mereka mengikuti orangutan di Stasiun Penelitian Tuanan. Foto dok : YP/GPOCP

Bulan ini saya mendapatkan kesempatan (bersama 2 asisten lapangan lainnya) untuk mengunjungi stasiun penelitian orangutan lainnya di Indonesia. Kami benar benar sangat antusias untuk mengunjungi Stasiun Penelitian Tuanan di Kalimantan Tengah. Tujuan kami ke sana untuk melihat bagaimana stasiun penelitian lainnya di Indonesia mengambil data tentang perilaku Orangutan. Untuk kesana kami menggunakan pesawat dari Pontianak, Kalimantan Barat menuju Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Berikut cerita singkat saya (Sabta) ketika ke Stasiun Penelitian Tuanan;

Nama saya Sabta Pelari, saya berkerja sebagai asisten penelitian di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung lebih dari 3 tahun. Tugas saya adalah mencari orangutan ketika menemukan mereka, dan mengambil data perilaku mereka sehingga kita memahami bagaimana mereka hidup.

Ketika kami sampai di Palangkaraya, kami disambut oleh manajer dari tuanan, Ipeh, dimana kami semua sudah mengenalnya karena dia adalah mahasiswa yang membuat penelitian di Cabang Panti sebelumnya. Perjalanan kami belum benar-benar selesai. Keesokan harinya kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan mobil dan ditempuh  2 jam dilanjutkan dengan sampan selama 2 jam  perjalanan hingga kami sampai di desa terdekat dari Tuanan juga membutuhkan 20 menit. Ketika kami sampai di desa, karena kami masih harus jalan kaki sepanjang rintis menuju camp. Itu hari yang sangat panjang dan kami semua kelelahan, walaupun kami mabuk perjalanan tapi kami sangat senang pada akhirnya kami sampai di tempat tujuan.

Hutan rawa gambut menjadi habitat/rumah orangutan. Foto dok : YP/GPOCP

Secepatnya ketika kami sampai di camp Tuanan, kami menyadari betapa berbedanya Tuanan dari Cabang Panti. Perbedaan yang paling utama adalah di Cabang Panti  kami mempunyai 8 tipe habitat hutan yang berbeda di area penelitian kami, sedangkan di Tuanan hanya ada hutan rawa gambut. Perbedaan besar lainnya dari Cabang Panti adalah asisten bisa pulang setiap malam ke desa mereka, karena jarak yang dekat, hanya 20 menit dari camp. Di Cabang Panti, kami membutuhkan jarak tempuh selama 4 jam dengan berjalan kaki dan kami harus tinggal  selama 20 hari di camp sebelum mengambil libur.

 Untuk mempelajari bagaimana orangutan liar diteliti di stasiun penelitian Tuanan, kami bergabung dengan relawan dan asisten di Tuanan untuk ikut orangutan keesokan harinya. Orangutan yang saya ikuti adalah ibu-anak yang bernama Milo (ibu) dan Merkur (Anak). Kami meninggalkan camp pukul 04.30 WITA menuju rawa gambut dimana sarangnya berada. Kami menunggu di sana (di sarang) sampai dia bangun diperkirakan sekitar pukul 05.00 WITA, orangutan yang kami ikuti tersebut terlihat sedang makan di pohon buah terdekat. Di Tuanan saya mendapati perbedaan lainnya tentang bagaimana kami mempelajari orangutan di Cabang Panti, asisten di Tuanan mencatat data prilaku orangutan setiap 2 menit, jika kami di CP kami mencatatnya setiap 5 menit. Dan juga, ketika mereka mencatat jenis buah yang orangutan makan mereka menggunakan nama lokal. Sedangkan kami di Cabang Panti kami menggunakan nama latin untuk mencatat dan mengidentifikasi jenis buah.

Di Tuanan semua habitat orangutan adalah rawa gambut, dan hampir semua tipe pohon yang saya temui juga sangat berbeda dari Cabang Panti. Salah satu buah yang paling dominan dan tidak bermusim di Tuanan adalah “Kamundak” (lokal), dimana bisa dipastikan itu adalah bagian dari famili tumbuhan kacang pohon (Fabaceae). Buah ini menyediakan sumber makanan yang melimpah di sana karena memang jenis pohon itu tidak memiliki musim atau selalu berbuah.

Asisten di Tuanan mengatakan kepada kami, jika orangutan di Tuanan akan mudah dan banyak tidur jika mereka banyak memakan buah Kamundak. Manusia juga bisa akan merasakan sakit setelah memakan buah ini, bagaimana kami tau ini?. Karena dulu ada seorang peneliti asing yang membawa buah ini kembali ke camp, menggoreng, lantas memakannya dan dia berakhir dengan sakit kepala dan sakit perut. Saya memcobanya juga tapi hanya sedikit karena saya tidak ingin seperti itu juga!

Hari berikutnya di Tuanan, kami bergabung dengan asisten Tuanan untuk mengikuti Orangutan jantan belimbing bernama Dado. Dia menghabiskan semua waktunya hanya dengan makan buah yang dominan di area itu, nama lokal dikenal dengan “tutup kabali”.

Selama kami berada di Tuanan, kami juga berkesempatan bertemu dengan warga lokal di desa terdekat dan pada malam harinya kami berjalan kaki kesana bersama asisten untuk bermain bola voli dan bermain dengan anak-anak.

Toto, Syahril, Sabta dan Alys Granados Peneliti dari Cabang Panti Saat berkunjung ke Yayasan BOS. Foto dok : YP/GPOCP

Setelah empat hari berada di Tuanan, akhirnya  kami harus berpisah karena harus pulang ke Kalimantan Barat. Tentu kami semua sedih, waktu begitu cepat berlalu dan semua menerima kami dan mereka juga sangat ramah. Meskipun kami tidak lama di sana, kami sudah menjadi sangat dekat dengan mereka dan itu sangat menyenangkan untuk berbagi cerita dengan mereka tentang berkerja di lapangan. Kami belajar banyak dari mereka dan kami harap suatu hari nanti mereka bisa mengunjungi Cabang Panti. Itulah certa singkat saya.

Sabta Pelari- Asisten Peneliti dari Yayasan Palung/GPOCP

Editor : Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Dari Lapangan ke Ruang Kelas Para Peneliti Turun Gunung untuk Berbagi Ilmu tentang Orangutan

Saat peneliti berbagi informasi kepada siswa-siswi di sekolah. Foto dok. Yayasan Palung

Baru-baru ini, Asisten Peneliti Yayasan Palung di Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) turun gunung (dari lapangan ke ruang kelas) untuk berbagi ilmu pengetahuan/ilmu (informasi) dan mengenalkan kepada siswa-siswi tentang apa saja pekerjaan yang mereka kerjakan/lakukan, terkait penelitian mereka di TNGP ke sekolah-sekolah (ruang kelas).

Adalah Tori Bakely, asisten peneliti Yayasan Palung (GPOCP) bersama Sabta dan Sahril berkesempatan mengunjungi sekolah-sekolah di Sukadana dan berbicara tentang penelitian yang mereka lakukan di Cabang Panti. Adapun sekolah yang beruntung dikunjungi oleh peneliti adalah SMAN 1 Sukadana dan SMAN 2 Sukadana, pada 5 Maret 2019, bulan lalu.

 ”Ini merupakan pengalaman yang luar biasa untuk berbagi pengetahuan saya tentang hutan dan program kami dengan para siswa yang tidak jauh lebih muda dari saya. Saya juga senang mendengar rekan kerja saya berbicara tentang pekerjaan mereka karena mereka berbicara dengan kegembiraan dan hasrat dan mengungkapkan sisi diri mereka yang tidak terlihat di lapangan. Mengizinkan para peneliti untuk berbicara langsung kepada siswa tidak hanya menginspirasi mereka untuk mengejar ilmu pengetahuan, tetapi juga menyoroti bagian penting dari konservasi yang kadang-kadang diabaikan. Saya berharap dapat mengunjungi lebih banyak sekolah di masa depan untuk menunjukkan kepada siswa sekolah menengah tentang pekerjaan yang berlangsung di hutan dan peluang yang ada dalam jangkauan mereka. ”, kata Tori.

Saat berbagi informasi kepada siswa-siswi di sekolah, para peneliti mengenalkan kepada siswa-siswi tentang konsep kerja lapangan seperti  pekerjaan penelitian yang mereka kerjakan, aktivitas, sejarah penelitian di Gunung Palung, pekerjaan para peneliti laboratorium di Stasiun Penelitian Cabang Panti, TNGP. Mereka (peneliti) juga bercerita tentang bagaimana mereka meneliti dan mengikuti orangutan, sekaligus juga memotivasi siswa-siswi siapa tahu diantara siswa-siswi ada yang tertarik menjadi peneliti.

Wahyu Susanto, selaku Direktur Penelitian Yayasan Palung (YP)/ GPOCP mengatakan, “Sosialisasi (berbagi informasi) ke sekolah-sekolah de dilakukan tim peneliti dari proyek orangutan kepada para pelajar sma dirasakan dirasakan cukup tepat. Hal ini secara langsung akan dapat cepat menumbuhkan kesadar tahuan mereka tentang kehidupan orangutan liar, yg sebenarnya dekat dengan kehidupan mereka juga. Mereka, para pelajar sma adalah remaja yang sedang tumbuh berkembang menuju dewasa, sehingga pemikiran merekapun akan bertambah dewasa pula. Dengan demikian, bila mereka sudah mengerti dan memahami tentang pentingnya orangutan bagi kehidupan dan hutan, maka secara dewasa mereka akan lebih bijak dalam menyikapi ancaman-ancaman yang terjadi pada kehidupan orangutan dan habitatnya”.

Pada kesempatan pertama, peneliti berkesempatan berkujung di SMAN 1 Sukadana dan diikuti oleh 59 orang peserta yang hadir dan pada kesempatan kedua di SMAN 2 Sukadana diikuti oleh 80 orang peserta.  

Semua rangkaian kegiatan berbagi informasi ke sekolah-sekolah yang dilakukan oleh para peneliti berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2019/05/07/dari-lapangan-ke-ruang-kelas-para-peneliti-berbagi-ilmu-tentang-orangutan-ke-sekolah-sekolah

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Wendi Tamariska dari Yayasan Palung Raih Penghargaan Lingkungan Hidup Whitley Award 2019 di London


Wendi demikian nama akrabnya sehari-hari, ia  baru-baru ini menerima penghargaan Whitley Award 2019 dari Princess Anne, selaku Patron Whitley Fund for Nature  di Gedung The Royal Geographical Society London, pada 1 Mei 2019, kemarin.

Wendi demikian nama akrabnya sehari-hari, ia  baru-baru ini menerima penghargaan Whitley Award 2019 dari Princess Anne, selaku Patron Whitley Fund for Nature  di Gedung The Royal Geographical Society London, pada 1 Mei 2019, kemarin.

Wendi Tamariska dari Yayasan Palung (YP) / GPOCP meraih penghargaan dari Whitley Awad 2019 atas dedikasinya dibidang konservasi ; “Melindungi orangutan dan hutan hujan melalui program mata pencarian berkelanjutan (Sustainable Livelihood/SL)”, di bentang alam kawasan Taman Nasional Gunung Palung dengan mengajak masyarakat lokal untuk memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan menjadi penghasilan alternatif yang berkelanjutan tanpa merusak hutan.

Penghargaan yang Wendi raih itu bukan tanpa sebab, karena ia (Wendi) melalui Program SL dari Yayasan Palung berhasil merangkul masyarakat seperti para pengrajin tikar pandan melalui  kelompok  binaan yakni  kelompok pengrajin, mereka berhasil dengan mengkreasikan anyaman dari bahan baku pandan menjadi berbagai kreasi seperti tikar, dompet, tas kecil, tas laptop, tempat tisu, tempat untuk nenyimpan pulpen dan pensil, ada pula tempat/wadah untuk menyimpan charger handphone, gantungan kunci dan lain sebagainya. Semuanya dari bahan baku anyaman pandan.  Beberapa pengrajin tikar pandan awalnya adalah penambang batu di sekitar kawasan hutan.  Tetapi setelah menjadi pengrajin tikar, mereka tidak lagi menjadi penambang batu. Tidak berhenti disitu, Wendi juga berhasil membina para petani lokal untuk mengolah lahan yang potensial atau pun lahan yang tidur untuk ditanami dengan berbagai tanaman dengan pola tanam yang ramah lingkungan. Para petani binaan dengan berhasil menggarap lahan mereka dengan menanam aneka tanaman seperti sayur-sayuran, tebu, cabe dan terong. Petani juga menanam bibit durian dan bibit lokal lainnya. Beberapa dari petani sebelum dirangkul dan dibina, mereka adalah perambah hutan. Dengan kata lain, cara yang ditawarkan itu, pengrajin dan petani memiliki cara-cara yang ramah lingkungan dan memiliki alternatif penghasilan  berkelanjutan dan mereka tidak lagi merambah hutan yang menjadi rumah dari orangutan sebagai satwa yang sangat terancam punah. Seperti selogan yang sering dikatan Wendi, Hutan Terjaga masyarakat sejahtera.

Pada Pidatonya, Wendi, kurang lebih mengatakan, Ia sangat berterima kasih kepada Whitley Fund for Nature  atas penghargaan yang ia terima. Wendi berterima kasih kepada keluarga, keluarga besar YP/GPOCP, juga kepada masyarakat lokal, terutama para pengrajin dan petani di Kalimantan, karena bersama mereka, hutan hujan boleh hijau sebagai rumah dari habitat orangutan. Ia sangat bersemangat lagi untuk bersama dan bekerjasama dengan masyarakat lokal. Dengan adanya penghargaan tersebut, program mata pencaharian berkelanjutan yang kita jalankan memiliki misi agar bisa menyelamatkan hutan dari ancaman perkebunan dan pertambangan dan hutan bisa hijau lagi.

Seperti diketahui, Wendi merintis program mata pencarian berkelanjutan (program SL) di Yayasan Palung/GPOCP sejak tahun 2010 silam hingga saat ini dengan berbagai suka duka yang ia lalui.

Pada ajang penghargaan Whitley Award 2019 para pemenangnya adalah :

  1. Caleb Ofori-Boateng – Critical refuge for the Togo slippery frog, Ghana
  2. Nikolai Petkov – Wetlands on the brink: conserving the red-breasted goose, Bulgaria
  3. Vatosoa Rakotondrazafy – MIHARI: a civil society movement to safeguard marine resources, Madagascar
  4. José Sarasola – The Chaco eagle: a flagship for semiarid wildlife conservation, Argentina
  5. Wendi Tamariska – Protecting orangutans and rainforests through sustainable livelihoods, Indonesia (Borneo)
  6. Ilena Zanella – Strengthened sanctuary for the scalloped hammerhead shark, Costa Rica

Sedangkan Pemenang 2019 Whitley Gold Award adalah: Jon Paul Rodríguez – A range-wide plan for the yellow-shouldered parrot.

Victoria Gehrke, selaku Direktur Program Yayasan Palung, mengatakan;  Kami sangat tersanjung dan berterima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada Manajer Program Mata Pencaharian Berkelanjutan (SL) kami Wendi Tamariska yang menerima penghargaan Whitley Fund for Nature internasional yang bergengsi sebagai pengakuan atas karyanya dalam melestarikan orangutan dan habitatnya di bentang alam hutan hujan Taman Nasional Gunung Palung. Penghargaan ini telah memberikan dukungan dan penyemangat baru yang fantastis untuk pengembangan kapasitas, pengakuan dan peluang jaringan (kemitraan). Dukungan dan bimbingan dari The Whitley Foundation akan memungkinkan Wendi dan timnya di Yayasan Palung untuk menerapkan dan mengembangkan cara-cara baru untuk Program Matapencaharian Berkelanjutan di desa-desa baru dan terpencil, sehingga meningkatkan dampak konservasi orangutan dan hutan hujan serta pengembangan masyarakat. Kami sangat bangga dengan Wendi dan timnya, juga kepada semua staf pekerja keras di Yayasan Palung. Kami akan selalu berterima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh donor, penyandang dana dan pendukung kami yang tidak disebutkan satu persatu yang memungkinkan semua  program kami bisa berhasil. Kami berterima kasih kepada The Whitley Award untuk penghargaan ini dan bantuan untuk dapat memperluas program sesuai dengan tujuan dan visi yang kami miliki.

Sumber berita : https://whitleyaward.org/winners/protecting-orangutans-and-rainforests-through-sustainable-livelihoods

Sumber Video :

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Tribun Pontianak

Petrus Kanisius – Yayasan Palung