Sampah, antara Musuh atau Sahabat


Kita diantara Sampah. Foto : National Geographic Indonesia

Sampah tak bisa disangkal menjadi suatu yang sangat berbahaya sekaligus sahabat. Benarkah demikian adanya?.

Kampanye dimana-mana saat ini terkait upaya bagaimana mengurangi sampah plastik (diet plastik) dengan tujuan agar sampah bisa dikurangi atau pun agar tidak menjadi persoalan yang berdampak kepada masyarakat luas. 

Hal yang sama pula, beberapa diantara masyarakat memanfaatkan sisa-sisa sampah menjadi sahabat sekaligus berperan sebagai penyambung hidup. Dua hal ini (sampah antara musuh dan sahabat) atau mungkin boleh dikata sampah itu musuh atau sahabat?, tidak terlepas dari bagaimana cara melihatnya.

Sampah dikatakan sebagai musuh jika ia tidak diperhatikan atau tidak diperdulikan. Sejatinya beberapa dampak nyata terlihat dari apa yang ditimbulkan oleh sampah itu sendiri. Kemudian ditambah lagi dengan perilaku masyarakat (tindakan/kebiasaan) kita. 

Tatanan kehidupan dan perilaku oknum masyarakat acap kali tak mengindahkan apa-apa saja konsekuensi dari apa yang dilakukan dan yang terjadi terkait sampah yang tanpa sadar atau tidak sadar (di/ter)buang begitu saja.

Mungkin ada benar adanya jika mengatakan (persoalan sampah yang selalu menjadi soal) lebih kepada kekepedulian dan kesadaran dari sekian banyak oknum yang tanpa peduli dan mungkin juga tak tahu tentang pengarus sampah. Apabila dibilang budaya mungkin juga ia, karena banyak pula oknum masyarakat yang  tak peduli dari apa yang mereka buat yang sebenarnya beresiko dan berdampak kepada orang banyak.

Kesadaran yang masih minim bagaimana memperlakukan sampah pun sering kali diabaikan. Sampah-sampah dibuang seenaknya, walau pun terkadang tersedia kotak sampah. Tak jarang pula pengguna jalan raya seperti mereka oknum yang menggunakan mobil dan sepeda motor dengan tenang dan mudahnya membuang sampah di jalan seolah tanpa berdosa tak memikirkan dampak-dampak dari apa yang mereka lakukan.

Bungkus plastik makanan, tisu, puntung rokok, botol plastik kemasan, hingga wadah makanan streofom pun sering dijumpai di jalan-jalan raya. Sepertinya itu bukan salah petugas kebersihan, karena mereka pun (petugas kebersihan) tak mungkin sepanjang waktu membersihkan ruas jalan.  

Hal yang sama pula terjadi di tempat-tempat umum terlebih lapangan-lapangan luas tempat perhelatan konser dan pantai atau pun juga tempat wisata hampir pasti sampah dijamin banyak  terlihat dan menumpuk. Nah ini yang selalu dan terus terjadi.

Dampak-dampak akibat dari sampah pun semakin terlihat dan nyata. Tak sedikit sampah yang (di/ter)buang sia-sia dan menyebabkan banyak hal. Beberapa diantaranya; Selokan mampet (tersumbat), sampah mengapung di air dan di lautan hingga pandangan tak sedap karena tak jarang sampah-sampah plastik berterbangan dan menumpuk di ruas jalan.

Jika sampah menumpuk di sungai, apakah tidak mencemari? Sudah pasti tercemar dan rentan menimbulkan penyakit. Terlebih airnya pasti kotor dan tak dapat di konsumsi lagi. Tetapi, di beberapa tempat kumuh di tempat terpencil dan terkecuali kota-kota besar di pinggiran, hal ini terjadi (sampah berpadu di sungai dan hal yang menyedihkan, air trsebut digunakan sebagai tempat mandi cuci kakus). 

Apa itu sehat? Jawabannya sudah pasti tidak sehat, tetapi karena keadaan maka mau tidak mau (semua dilakukan di sungai). Sejatinya, persoalan membuang sampah ke aratan, lautan atau pun sungai tetap saja akan merusak ekologis.

Fakta selokan mampet, saluran air tak mengalir dan menggenang hingga terjadinya banjir pun jika boleh dikata satu diantaranya disebabkan oleh persoalan sampah. Belum lagi kasus ikan, penyu dan burung yang mati atau terkontaminasi sampah-sampah terbuang sia-sia di lautan.

Memang, ada beberapa petugas kebersihan dan pengais sampah yang selalu siap dan memperdulikan sampah, tetapi itu tidak sebanding dengan sampah yang tercipta setiap harinya. Setiap orang dari kita sudah pasti menciptakan sampah setiap harinya. Apabila tidak dengan kesadaran dan kepedulian kita, iya itu tadi lagi dan lagi mengapa persoalan sampah ini tak kunjung terselesaikan sampai kapan pun.

Tata aturan terkait larangan membuang sampah pun sejatinya sudah ada. Bahkan di tempat-tempat umum lainnya plang larangan sudah tak terhingga dipasang sebagai pengingat. 

Namun terkadang larangan tersebut tak jarang hanya sebatas slogan tanpa diperdulikan dan tanpa disadari bahwa itu sebagai pengingat barang kali lupa. Tetapi tetap saja, sampah-sampah selalu saja tetap ada dan malah semakin menumpuk bahkan menggunung berseliweran kesana dan kemari.

Lalu, siapa yang salah atau disalahkan? Jika untuk mengatakannya semua oknum pebuang sampah sembarangan adalah yang salah. Akan tetapi, sering kali pula semua warga kita (Indonesia) disalahkan oleh warga dunia karena membuang sampah sembarangan (buang sampah di kolong jembatan, di selokan, di sungai, di jalan dan dilautan) dimana-mana sampah. 

Sejatinya malu, tetapi ya mau bagaimana lagi sudah itu faktanya. Hal ini sudah membudaya pada oknum-oknum penyuka pembuang sampah sembarangan yang tidak lain sebagian besar adalah masyarakat kita. 

Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk peduli dan menjadi sahabat sampah. Satu-satunya adalah memilah, memilih dan memanfaatkan sampah-sampah menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat bahkan menghasilkan, tentunya banyak cara kreatif untuk mengelola sampah.

Saat ini, banyak lembaga, organisasi mengajak semua masyarakat kita untuk diet plastik (mengurangi sampah plastik) dan berperilaku bijaksana dengan lingkungan sekitar. Termasuk edukasi, penyadartahuan, kampanye atau apa pun namanya untuk mengajak, menumbuhkan kembali kesadaran agar bisa mengurangi sampah terutama plastik.

Apakah bisa? Entahlah, semoga saja ada tumbuh kesadaran hingga boleh kiranya peduli dan menjadi sahabat dan peduli sampah. Dengan demikian, kita tidak lagi menganggap sampah adalah musuh. 

Berharap ada tumbuh kesadaran dari kita semua untuk bersama-sama peduli dan bijak terhadap sampah. Mengingat, jika tidak dimulai dari sekarang (harus ada tumbuhkesadaran dan kepedulian terhadap sampah) maka bumi tempat kita berpijak ini semakin dipenuhi sampah dan kita akan sering terkena dampak sampah.

Sebelumnya tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5c82243112ae940bfc6f2a43/sampah-antara-musuh-atau-sahabat?page=all

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Posted in YP

Published by

yayasanpalung

Yayasan Palung, berdiri sejak tahun 2002. Yayasan Palung (YP) merupakan lembaga non profit yang bekerja untuk konservasi orangutan dan habitat serta pengembangan masyarakat. Yayasan Palung bekerja dengan semua pihak yang mempunyai tujuan sama untuk perlindungan terhadap orangutan dan habitat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.