Masyarakat di Desa Sepotong Inginkan Hutan Mereka Dijadikan Hutan Desa


Saat Yayasan Palung melakukan diskusi dengan masyarakat di Desa Sepotong beberapa waktu lalu. Foto dok : Yayasan Palung

Keinginan masyarakat di Desa Sepotong, Kecamatan Sungai Laur untuk menjadikan hutan mereka dijadikan hutan desa tercetus Kami dari Yayasan Palung mengadakan ekspedisi pendidikan lingkungan di dua desa (desa Sepotong dan desa Kepari), tanggal 19-23 Maret 2019, kemarin.

Saat diskusi dengan masyarakat, perwakilan dari pemerintah desa di Desa Sepotong sangat tertarik dan berharap apabila hutan di desa mereka dijadikan hutan desa. ­­Keinginan mereka tersebut bermula ketika kami menjelasan beberapa kegiatan dan program yang dilakukan oleh Yayasan Palung sekaligus ketika kami menyampaikan sosialisasi satwa dilindungi. Penjabaran dari beberapa program kegiatan Yayasan Palung diantaranya adalah pendampingan hutan desa di 5 desa yang ada di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara tersebut menjadi ketertarikan tersendiri bagi masyarakat di Desa Sepotong juga untuk menjadikan hutan mereka menjadi hutan desa.

Beberapa hal terkait keinginan mereka menjadikan hutan mereka menjadi hutan desa diantaranya seperti; Ada sebagian besar luasan hutan di sekitar mereka (hutan yang ada di sekitar masyarakat) adalah beberapa diantaranya sudah padang ilalang yang sangat rentan terhadap kebakaran dan pernah terbakar pada beberapa tahun lalu, mereka berharap semoga dengan adanya hutan desa, wilayah tersebut bisa ditanam kembali. Selain itu, di hutan tersebut merupakan wilayah yang menjadi sumber air bersih bagi warga. Hal lainnya yang tak kalah pentingnya di sekitaran hutan milik masyarakat, dalam hal ini hutan milik desa terdapat tanam tumbuh hasil hutan bukan kayu salah satunya tanaman obat dan beberapa diantaranya tanaman asli.

Leri Valentino selaku Sekdes Desa Sepotong mengatakan, harapan masyarakat yang berkeinginan untuk menjadikan hutan mereka menjadi hutan desa tak lain sebagai upaya menyelamatkan hutan yang masih tersisa dan menjadi harapan satu-satunya di desa Sepotong. Beberapa hutan memang masih ada, tetapi sesuatu yang ditakutkan adalah hutan tidak tersisa. Leri menambahkan, jika nanti hutan mereka bisa dijadikan hutan desa maka hutan mereka otomatis terjaga dan masyarakat bisa mengolah hasil hutan bukan kayunya seperti jenis rotan dan tanaman obat.

Pino, Perangkat Desa Sepotong, tanam tumbuh seperti tanaman obat, tanaman bumbu dan tanaman asli cukup banyak di wilayah kami. Keinginan kami ingin menjadikan tanaman tersebut sebagai ikon dan menjadi potensi yang mungkin bisa dijual. Besar harapan kami agar Yayasan Palung mendampingi desa kami.

Tidak hanya hutan di wilayah itu yang menjadi potensi, kearifan lokal berupa adat istiadat juga masih terjaga di sana. Mereka (masyarakat di sana) masih menjalankan adat tradisi nenek moyang misalnya seperti tradisi gotong royong saat panen dan adat tradisi ketika sanak saudara ada yang meninggal dunia. Khusus adat orang meninggal, kebetulan saat kami melakukan ekspedisi di ada salah satu keluarga yang meninggal dunia di desa tersebut. Secara adat tradisi masyarakat di sana apabila ada masyarakat kampung yang meninggal maka di desa tersebut wajib untuk berkabung (berbelasungkawa) dan tidak melakukan aktivitas lain seperti ke ladang atau kegiatan lainnya. Masyarakat di kampung pun diwajibkan menyumbangkan apa saja yang ada. Beras, garam, micin atau pun sumbangan uang seberapa pun itu. Partisipasi masyarakat terlihat ketika ada keluarga yang berkabung dengan berbela rasa (berbelasungkawa) menyempatkan diri mereka ikut ambil bagian misalnya membantu memasak, menghadiri (melayat), membantu persiapan pemakaman tidak terkecuali menyiapkan perlengkapan, menjalankan adat istiadat kematian yang disebut bekipak dan berjaga hingga pemakaman dilakukan. Kami pun ikut berparisipasi saat prosesi adat. Setelah prosesi pemakaman barulah kegiatan yang sifatnya keramaian boleh dilakukan.

Termasuk kami melakukan rangkaian kegiatan diskusi dengan masyarakat dan melakukan pemutaran film lingkungan ke masyarakat. Hari-hari sebelumnya kami menyempatkan diri untuk berbagi informasi tentang lingkungan di sekolah ke SD Usaba Sepotong dan SDN 25 Sungai laur dengan kegiatan Puppet show (panggung boneka) bercerita tentang hutan, hutan dan satwa dilindungi. Kami juga melakukan lecture (ceramah lingkungan) terkait satwa dilindungi di SMPN 5 Sungai Laur.

Ketika kami menyampaikan lecture di SMPN 5 Sungai Laur. Foto dok : Yayasan Palung

Setelah semua rangkaian kegiatan di Desa Sepotong, kami melanjutkan ekspedisi ke desa Kepari pada tanggal 22 Maret 2019. Rangkaian kegiatan di Desa Kepari kami lakukan di SDN 13 dengan melakukan puppet show. Sore harinya kami melakukan diskusi masyarakat dan pada malam harinya kami melakukan pemutaran film lingkungan sebagai media kami untuk menyampaikan pendidikan lingkungan dan penyadartahuan kepada masyarakat.

Pemutaran film kami lakukan sebagai media informasi dan penyadartahuan kepada masyarakat. Foto dok: Yayasan Palung

Semua rangkaian kegiatan yang kami lakukan di dua desa (Sepotong dan Kepari) berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari pihak sekolah dan masyarakat. Keesokan harinya kami menyudahi semua rangkaian kegiatan ekspedisi dan pulang ke Ketapang.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

13 Relawan Tajam Yayasan Palung Resmi Dilantik


Relawan Tajam Yayasan Palung berfoto setelah acara pelantikan. Foto dok : Yayasan Palung

Mereka (relawan Tajam) Yayasan Palung angkatan ke-8 secara resmi dilantik. Kegiatan pelantikan anggota Relawan Tajam dilaksanakan pada 15-17 Maret 2019 di Riam Kinjil, Matan Hilir Selatan yang letaknya di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung.

Ada 13 orang (4 laki-laki dan 9 orang perempuan) anggota baru Relawan Tajam yang dilantik kemarin. Mereka adalah relawan muda yang berasal dari berbagai sekolah yang ada di Kabupaten Ketapang.

Relawan Tajam sebelum dilantik terlebih dahulu memperoleh peningkatan kapasitas dari Yayasan Palung seperti keorganisasian, kerelawanan, cara mengembangkan potensi dan motivasi diri sebagai bekal mereka (relawan) untuk menyebarkan virus konservasi dengan tindakan-tindakan sederhana tetapi nyata (berkegiatan untuk peduli lingkungan; termasuk aksi-aksi sosial dan bakti sisial). Tidak hanya itu, Relawan Tajam juga aktif merencanakan program kerja mereka seperti penanaman, daur ulang kertas dan botol plastik.

Sebelum dikukuhkan menjadi anggota Tajam angkatan ke-8,  panitia yang tak lain adalah anggota Tajam angkatan 1-7 ditunjuk sebagai panitia. Dalam kegiatan pelantikan anggota Tajam yang baru, beberapa kegiatan yang mereka lakukan antara lain seperti diskusi terkait analisa isu konservasi, mereka juga masing-masing menceritakan tentang cerita mereka (personal story). Mereka juga diajak untuk melatih konsentrasi dan menyatu dengan alam (untuk melatih kepekaan) dengan metode sound scape forest (mendengarkan suara alam).

Anggota Relawan Tajam angkatan ke-8 saat melakukan praktek pengamatan satwa. Foto dok : Yayasan Palung

Selain itu, panitia dan peserta (Relawan Tajam angkatan ke-8) diajak untuk melakukan pengamatan satwa air, pengamatan flora dan fauna, bersih-bersih di sekitar kawasan tempat berkegiatan dan dilanjutkan dengan pelantikan anggota relawan Tajam yang baru.

Relawan Tajam berfoto bersama setelah rangkaian kegiatan selesai. Foto dok : Yayasan Palung

Sebelum mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan, mereka (Relawan Tajam)  membuat rencana tindak lanjut (RTL) terkait program kegiatan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya setelah mereka menjadi resmi relawan Tajam.

Dari Yayasan Palung sebagai pendamping dalam rangkaian kegiatan pelantikan Relawan Tajam yang baru (Tajam angkatan ke-8) adalah Haning Pertiwi dan Hendri Gunawan. Kegiatan pelantikan ini dibantu oleh teman-teman Relawan REBONK (relawan Yayasan Palung yang ada di Kabupaten Kayong Utara); Sidiq dan Fauzen. Relawan Tajam angkatan  pertama, Winda dan Sola, Tajam angkatan ke-3. Serta pendamping lainnya 2 orang dari Balai Taman Nasional Gunung Palung.

Setelah pelantikan, semua anggota Tajam yang lama dan baru terlihat tanpa ragu membaur satu dengan yang lainnya.

Semua rangkaian kegiatan pelantikan Relawan Tajam yang baru  berjalan sesuai rencana, hanya terkendala cuaca hujan yang cukup deras. Diakhir kegiatan, peserta menyempatan diri untuk berfoto bersama.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Yayasan Palung Lakukan Singkronisasi Program dengan Para Pihak


Saat menyampaikan singkronisasi program dengan para pihak, termasuk bekerjasama dengan Kementrian Desa (Kemendes PDTT). Foto dok : Yayasan Palung

Kamis (14/3/2019) kemarin, Yayasan Palung melakukan singkronisasi program dengan para pihak, bertempat di Kantor Yayasan Palung Bentangor Pampang Center, di Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.

Sinergitas program di desa dampingan Yayasan Palung untuk perhutanan sosial. Mensinergikan program kerja ke berbagai pihak sangatlah penting agar beberapa desa yang menjadi dampingan bisa bersinergi untuk menghindari hal-hal seperti tumbang tindihnya program dan pentingnya kerjasama para pihak dirasa sangat perlu, kata Desi Kurniawati selaku koordinator program perhutanan sosial Yayasan Palung.

Edi Rahman dari Yayasan Palung saat memberikan penjelasan terkait singkronisasi program dengan para pihak. Foto : Yayasan Palung

Program di beberapa desa ini akan dirancang Yayasan Palung dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Untuk mendapatkan program yang sangat dibutuhkan masyarakat maka dilakukan pertemuan ini untuk mengali gagasan dan ide program yang llangsung dari masyarakat. Dalam pertemuan ini di hadiri beberapa pihak diantaranya bappeda Kabupaten Kayong  utara dan BTNGP. Hasil akhir dari pertemuan ini adalah adanya kerjasama dalam bentuk MoU antara Kemendes Desa PDTT dan Yayasan Palung dalam bentuk program kegiatan di beberapa wilayah desa di kecamatan Simpang Hilir.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut, dihadiri 6 desa yang memiliki kawasan Hutan Desa dengan jumlah 25 orang (Kepala Desa, LPHD dan Tokoh masyarakat). Desa-desa yang dijadikan target tersebut adalah desa yang memiliki status Sangat tertinggal, Tertinggal dan berkembang. Sehingga dengan rencana program kerjasama dengan Kemendes PDT ini diharapkan desa-desa yang wilayah intervensi dapat menjadi desa maju bahkan bisa menjadi desa mandiri. Ke 6 desa tersebut adalah (Desa Penjalaan, Desa Pulau Kumbang, Desa Nipah Kuning,  Desa Pemangkat dan Desa Padu Banjar dan desa Rantau Panjang).

Foto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok : Yayasan Palung

Ada beberapa pembahasan dalam pertemuan singkronisasi program para pihak tersebut antara lain seperti yang diutarakan Edi Rahman, selaku manager program PPS-Hukum Yayasan Palung, “ada rencana yang akan disampaikan sehingga ini bisa menjadi rencana besar, semua desa wajib untuk menyampaikan usulan”.

Beberapa desa pun menceritakan keberhasilan mereka dalam mengelola perhutanan sosial di desa mereka dengan berbagai kegiatan dan berharap ada dukungan dari Kemendes PDTT dan para pihak pun menjadi harapan dari beberapa perwailan desa yang menghadiri pertemuan itu.

Beberapa usulan dan perlunya dukungan semua pihak antara lain seperti pengembangan pariwisata (wisata) seperti mangrove, pelatihan dan pengembangan produk.

Samsidar dari LPHD Padu Banjar mengatakan, “masalah yang ada di desanya seperti jalan dan air bersih. LPHD bergerak di pemberdayaan HHBK dan kelompok pengrajin. Produk unggulan adalah madu. Kekbutuhan untuk alat untuk produksi madu, alat transportasi panen madu ada juga ekowisata sungai melihat bekantan. Masalah penanggulangan kebakaran 2018 ingin menciptakan penanggulangan kebakaran dan ada alat-alat pemadam kebakaran. Kelompok perempuan juga aktif bikin tas dan kerajinan lidi nipah hanya kekurangan dari pemasaran”.

Menanggapi hal tersebut, Faridz Yazi, Kasubbag Perundang-undangan Kementrian Desa (PDT) dalam pertemuan tersebut mengatakan,  “Memiliki peran untuk meningkatkan perekonomian desa. Untuk urusan perangkat desa urusan kemendagri sedang untuk urusan ekonomi urusan Kemendes. Sebagai contoh di Aceh, kita (Kemendes) bantu untuk pemasaran kopi, Jawa Barat ada pengembangan kenari, minyak atsiri, dari nusa tenggara pengembangan buah alpukat mentega. Seperti Maluku, dengan pengembangan rumput laut. Pengembangannya saat ini sudah sampai pemasaran. Dari 77.000 desa baru 5 persen masuk ke kami (Kemendes)”.

Ragam kegiatan pemberdayaan di 5 Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dampingan Yayasan Palung yang sudah ada sejak tahun 2017 dan telah berjalan hingga saat ini. Beberapa program seperti rehabilitasi lahan di area terbakar (dengan melakukan penanaman pohon) yang melibatkan Lembaga Pengelola Hutan Desa sudah dilakukan. Selain itu juga pengembangan produk produk hasil hutan bukan kayu seperti tikar pandan, kelapa untuk dijadikan minyak vco, budidaya lebah madu dengan cara tikung,  kerajinan tempurung kelapa dan pengembangan prodak lainnya seperti kopi dan kripik yang tersebar di masing-masing desa dampingan.

Ada dua rencana hutan desa baru yang akan diusulkan oleh Yayasan Palung untuk dijadikan hutan desa yaitu Desa Rantau Panjang dan Desa Batu Barat yang mungkin bisa menjadi ruang baru untuk pemberdayaan masyarakat dan perlu dukungan dari semua pihak terutama Kemendes, ujar Edi Rahman.

Lebih lanjut Edi Rahman, berharap, “Jika semua  bisa bersatu membantu untuk berbuat di desa-desa yang dimaksud,  seperti Yayasan Palung dapat melakukan apa, Pemda melakukan apa dan Kemendes melakukan apa dan BTNGP melakukan apa dengan program yang ada. Ini sudah tentu akan membantu dan membuat Kayong Utara menjadi kabupaten tidak tertingal”.

Semua rangkaian kegiatan singkronisasi program yang Yayasan Palung lakukan bersama para pihak tersebut berjalan sesuai rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta yang hadir dalam kegiatan itu.

Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Tribun Pontianak ; http://pontianak.tribunnews.com/2019/03/20/yayasan-palung-lakukan-singkronisasi-program-dengan-para-stakeholder

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ini 3 Foto #Trashtag Challenge Kami, Aksi Nyata Sayangi Bumi dari Sampah

Before -After, Membersihkan sampah plastik dan pemasangan plang larangan membuang sampah sembangan. Foto Yayasan Palung

Ini beberapa foto kegiatan yang kami  Yayasan Palung lakukan (aksi nyata sayangi bumi dari sampah) dengan berbagai aksi nyata misalnya peduli sampah dan memanfaatkan sampah plastik.

Setidaknya ini cara-cara sederhana yang bisa kami lakukan (aksi nyata). Yayasan Palung tidak sendiri tetapi juga bersama berbagai pihak, tidak terkecuali mengajak anak-anak.

Tujuannya tidak lain adalah  agar sampah-sampah yang ada disekitar kita tidak terbuang sia-sia alias dapat dimanfaatkan. Selanjutnya, sampah-sampah botol plastik atau pun kertas bisa diolah dengan cara-cara kreatif dan sederhana menjadi sesuatu bermanfaat.

Memanfaatkan botol plastik menjadi barang-barang bermanfaat ada pula daur ulang kertas koran menjadi miniatur-miniatur seperti pohon, pembatas kertas dan bingkai foto.

Tidak hanya itu, botol plastik juga bisa dikreasikan atau dimanfaatkan untuk dijadikan pot bunga, tempat pensil, pulpen dan kunci.

Berikut beberapa foto aksi nyata sayangi bumi dari sampah dengan cara-cara sederhana

Foto pertama; (before/sebelum- after/sesudah) Aksi nyata peduli sampah di hutan Kota Ketapang dan memasang plang larangan membuang sampah sembarangan

Foto 1 : Before -After, Membersihkan sampah plastik dan pemasangan plang larangan membuang sampah sembangan. Foto Yayasan Palung

Aksi ini kami lakukan saat bertepatan dengan hari bumi, tahun lalu. Kami tidak sendiri, kami berhasil mengajak para pihak seperti dinas Perkim LH Kabupaten Ketapang, KPH, Radio Kabupaten Ketapang, Sispala-sispala yang ada di Kabupaten Ketapang, komunitas dan relawan Yayasan Palung untuk ambil bagian aksi peduli sampah yang mudah-mudahan bisa membantu mengurangi.

 Pada kesempatan aksi nyata peduli sampah di hutan Kota Ketapang tersebut, kami berhasil setidaknya ambil bagian untuk mengurangi dan mengumpulkan sampah plastik yang  ada di hutan Kota Ketapang.

Hal ini terbukti setelah sampah-sampah tersebut dipungut dan dikumpulkan, terkumpulnya puluhan kantong sampah plastik.

Sampah-sampah yang tersebar di Hutan Kota Ketapang tersebut tidak lain adalah berasal dari oknum pengunjung yang boleh dikata minim kesadaran sehingga membuang sampah sembarangan.

Pada kesempatan tersebut pula, untuk pengingat, agar tidak lupa kiranya kami memasang larangan untuk tidak membuang sampah sembarangan dengan mengemasnya dengan pesan-pesan yang kreatif dan menyentil.

Foto kedua; (before/sebelum- after/sesudah)  Memanfaatkan (mendaur ulang) kertas koran bekas menjadi miniatur cantik seperti pohon, pembatas kertas dan bingkai foto.

Foto 2 : Before -After, memanfaatkan atau mendaur ulang kertas koran menjadi miniatur yang cantik, pembatas buku dan bingkai foto. Foto dok. Yayasan Palung

Kreativitas itu terkadang muncul tiba-tiba. Berapa relawan kami dan anak sekolah yang magang tempat saya kerja ternyatamampu memanfaatkan kertas koran bekas yang mula-mulanya adalah sampah mereka sulap menjadi berbagai miniatur cantik seperti pohon, pembatas kertas dan bingkai foto. 

Dengan adanya cara seperti ini setidaknya kami bisa mengurangi sampah kertas dan bisa mendaurnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Foto ketiga; (before/sebelum- after/sesudah) Cara sederhana memanfaatkan botol bekas yang tidak terpakai menjadi tempat pensil, pulpen dan kunci. Selain itu juga memanfaatkan botol bekas menjadi pot bunga.

Foto 3 : Before -After, memanfaatkan botol bekas menjadi tempat pensil, pulpen dan kunci. Selain itu juga memanfaatkan botol bekas menjadi pot bunga. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal, sampah botol plastik kemasan sekali pakai dari sisa-sisa minuman yang ada di rumah atau di kantor terkadang ada yang terbuang sia-sia jika tidak dibeli oleh pemulung, atau malah dibuang begitu saja.

Nah ternyata, jika kita mau kreatif botol-botol sisa/bekas tersebut bisa diolah menjadi barang yang bermanfaat menjadi tempat tempat pensil, pulpen dan kunci. Selain itu juga memanfaatkan botol bekas menjadi pot bunga.

Semua kita sejatinya bisa untuk melakukan aksi peduli terhadap sampah demi keberlanjutan bumi. Dengan syarat, kita mau memanfaatkan sampah-sampah bekas menjadi barang-barang yang bermanfaat.

Setidaknya dengan cara-cara seperti ini kita diajak secara bersama-sama pula agar tumbuh rasa kepedulian terhadap lingkungan disekitar kita sehingga dengan demikian kita ikut memilihara, merawat dan menyayangi sekaligus ikut ambil bagian menyelamatkan bumi.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di Kompasiana : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5c8a0d000b531c39823b4632/ini-3-foto-kami-trashtag-challenge-aksi-nyata-sayangi-bumi-dari-sampah?page=all

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Sampah, antara Musuh atau Sahabat


Kita diantara Sampah. Foto : National Geographic Indonesia

Sampah tak bisa disangkal menjadi suatu yang sangat berbahaya sekaligus sahabat. Benarkah demikian adanya?.

Kampanye dimana-mana saat ini terkait upaya bagaimana mengurangi sampah plastik (diet plastik) dengan tujuan agar sampah bisa dikurangi atau pun agar tidak menjadi persoalan yang berdampak kepada masyarakat luas. 

Hal yang sama pula, beberapa diantara masyarakat memanfaatkan sisa-sisa sampah menjadi sahabat sekaligus berperan sebagai penyambung hidup. Dua hal ini (sampah antara musuh dan sahabat) atau mungkin boleh dikata sampah itu musuh atau sahabat?, tidak terlepas dari bagaimana cara melihatnya.

Sampah dikatakan sebagai musuh jika ia tidak diperhatikan atau tidak diperdulikan. Sejatinya beberapa dampak nyata terlihat dari apa yang ditimbulkan oleh sampah itu sendiri. Kemudian ditambah lagi dengan perilaku masyarakat (tindakan/kebiasaan) kita. 

Tatanan kehidupan dan perilaku oknum masyarakat acap kali tak mengindahkan apa-apa saja konsekuensi dari apa yang dilakukan dan yang terjadi terkait sampah yang tanpa sadar atau tidak sadar (di/ter)buang begitu saja.

Mungkin ada benar adanya jika mengatakan (persoalan sampah yang selalu menjadi soal) lebih kepada kekepedulian dan kesadaran dari sekian banyak oknum yang tanpa peduli dan mungkin juga tak tahu tentang pengarus sampah. Apabila dibilang budaya mungkin juga ia, karena banyak pula oknum masyarakat yang  tak peduli dari apa yang mereka buat yang sebenarnya beresiko dan berdampak kepada orang banyak.

Kesadaran yang masih minim bagaimana memperlakukan sampah pun sering kali diabaikan. Sampah-sampah dibuang seenaknya, walau pun terkadang tersedia kotak sampah. Tak jarang pula pengguna jalan raya seperti mereka oknum yang menggunakan mobil dan sepeda motor dengan tenang dan mudahnya membuang sampah di jalan seolah tanpa berdosa tak memikirkan dampak-dampak dari apa yang mereka lakukan.

Bungkus plastik makanan, tisu, puntung rokok, botol plastik kemasan, hingga wadah makanan streofom pun sering dijumpai di jalan-jalan raya. Sepertinya itu bukan salah petugas kebersihan, karena mereka pun (petugas kebersihan) tak mungkin sepanjang waktu membersihkan ruas jalan.  

Hal yang sama pula terjadi di tempat-tempat umum terlebih lapangan-lapangan luas tempat perhelatan konser dan pantai atau pun juga tempat wisata hampir pasti sampah dijamin banyak  terlihat dan menumpuk. Nah ini yang selalu dan terus terjadi.

Dampak-dampak akibat dari sampah pun semakin terlihat dan nyata. Tak sedikit sampah yang (di/ter)buang sia-sia dan menyebabkan banyak hal. Beberapa diantaranya; Selokan mampet (tersumbat), sampah mengapung di air dan di lautan hingga pandangan tak sedap karena tak jarang sampah-sampah plastik berterbangan dan menumpuk di ruas jalan.

Jika sampah menumpuk di sungai, apakah tidak mencemari? Sudah pasti tercemar dan rentan menimbulkan penyakit. Terlebih airnya pasti kotor dan tak dapat di konsumsi lagi. Tetapi, di beberapa tempat kumuh di tempat terpencil dan terkecuali kota-kota besar di pinggiran, hal ini terjadi (sampah berpadu di sungai dan hal yang menyedihkan, air trsebut digunakan sebagai tempat mandi cuci kakus). 

Apa itu sehat? Jawabannya sudah pasti tidak sehat, tetapi karena keadaan maka mau tidak mau (semua dilakukan di sungai). Sejatinya, persoalan membuang sampah ke aratan, lautan atau pun sungai tetap saja akan merusak ekologis.

Fakta selokan mampet, saluran air tak mengalir dan menggenang hingga terjadinya banjir pun jika boleh dikata satu diantaranya disebabkan oleh persoalan sampah. Belum lagi kasus ikan, penyu dan burung yang mati atau terkontaminasi sampah-sampah terbuang sia-sia di lautan.

Memang, ada beberapa petugas kebersihan dan pengais sampah yang selalu siap dan memperdulikan sampah, tetapi itu tidak sebanding dengan sampah yang tercipta setiap harinya. Setiap orang dari kita sudah pasti menciptakan sampah setiap harinya. Apabila tidak dengan kesadaran dan kepedulian kita, iya itu tadi lagi dan lagi mengapa persoalan sampah ini tak kunjung terselesaikan sampai kapan pun.

Tata aturan terkait larangan membuang sampah pun sejatinya sudah ada. Bahkan di tempat-tempat umum lainnya plang larangan sudah tak terhingga dipasang sebagai pengingat. 

Namun terkadang larangan tersebut tak jarang hanya sebatas slogan tanpa diperdulikan dan tanpa disadari bahwa itu sebagai pengingat barang kali lupa. Tetapi tetap saja, sampah-sampah selalu saja tetap ada dan malah semakin menumpuk bahkan menggunung berseliweran kesana dan kemari.

Lalu, siapa yang salah atau disalahkan? Jika untuk mengatakannya semua oknum pebuang sampah sembarangan adalah yang salah. Akan tetapi, sering kali pula semua warga kita (Indonesia) disalahkan oleh warga dunia karena membuang sampah sembarangan (buang sampah di kolong jembatan, di selokan, di sungai, di jalan dan dilautan) dimana-mana sampah. 

Sejatinya malu, tetapi ya mau bagaimana lagi sudah itu faktanya. Hal ini sudah membudaya pada oknum-oknum penyuka pembuang sampah sembarangan yang tidak lain sebagian besar adalah masyarakat kita. 

Padahal banyak cara yang bisa dilakukan untuk peduli dan menjadi sahabat sampah. Satu-satunya adalah memilah, memilih dan memanfaatkan sampah-sampah menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat bahkan menghasilkan, tentunya banyak cara kreatif untuk mengelola sampah.

Saat ini, banyak lembaga, organisasi mengajak semua masyarakat kita untuk diet plastik (mengurangi sampah plastik) dan berperilaku bijaksana dengan lingkungan sekitar. Termasuk edukasi, penyadartahuan, kampanye atau apa pun namanya untuk mengajak, menumbuhkan kembali kesadaran agar bisa mengurangi sampah terutama plastik.

Apakah bisa? Entahlah, semoga saja ada tumbuh kesadaran hingga boleh kiranya peduli dan menjadi sahabat dan peduli sampah. Dengan demikian, kita tidak lagi menganggap sampah adalah musuh. 

Berharap ada tumbuh kesadaran dari kita semua untuk bersama-sama peduli dan bijak terhadap sampah. Mengingat, jika tidak dimulai dari sekarang (harus ada tumbuhkesadaran dan kepedulian terhadap sampah) maka bumi tempat kita berpijak ini semakin dipenuhi sampah dan kita akan sering terkena dampak sampah.

Sebelumnya tulisan ini dimuat di : https://www.kompasiana.com/pit_kanisius/5c82243112ae940bfc6f2a43/sampah-antara-musuh-atau-sahabat?page=all

Petrus Kanisius-Yayasan Palung

Ajarkan Siswa-siswi Membuat Pupuk Kompos 


Saat Siswa-siswi SMPN 8 Ketapang Belajar membuat pupuk kompos (4/3) pekan lalu. Foto dok: Yayasan Palung

Seperti terlihat, siswa-siswi SMPN 8 Ketapang sangat antusias belajar membuat pupuk kompos, Senin (4/3/2019), pekan lalu.

Pada kesempatan tersebut Yayasan Palung bersama pihak sekolah SMPN 8 Ketapang dengan mengajak siswa-siswi membuat pupuk kompos sebagai satu cara bijaksana ramah terhadap lingkungan.

Saat praktek pembuatan pupuk kompos, Asbandi dari program Suistainable Livelihood (SL) Yayasan Palung sebagai pemateri mengajak sekaligus menjelaskan kepada siswa-siswi dan kemudian mempraktikkan pembuatan pupuk kompos secara bersama-sama.

Dalam penyampaian materinya, Asbandi menjelaskan cara-cara pembuatan pupuk dan bahan-bahan apa saja yang harus disiapkan. Ada pun beberapa bahan yang harus disiapkan untuk membuat pupuk kompos antara lain adalah seperti sekam, rumput kering, daun kering, kotoran sapi, sebuk kayu, Mol EE4 dan Dekoprima.

Sebelum dicampurkan dan diaduk secara merata, rumput kering terlebih dahulu harus dicincang/dipotong halus. Apabila semua bahan-bahan tersebut telah dicampurkan dan diaduk secara merata, selanjutnya ditutup dan dibiarkan selama tujuh minggu. Setelah tujuh minggu, pupuk kompos siap untuk digunakan sebagi penyubur tanaman terutama agar tanaman yang berbunga tidak mudah gugur.

“Penggunaan pupuk sangat baik karena ramah lingkungan, selain juga bisa menghemat biaya bila dibandingkan dengan menggunakan pupuk kimia, juga kita bisa memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitar kita seperti rumput, kotoran sapi serbuk kayu dan sekam menjadi sesuatu yang berguna (bermanfaat) satu diantanya adalah membuat pupuk kompos”, saat pak Asbandi menyampaikan penjelasannya kepada siswa-siswi di SMPN 8 Ketapang.

Saat membuat proses membuat pupuk kompos, terlihat satu persatu siswa-siswi bergantian mengaduk pupuk kompos hingga merata. Beberapa diantara mereka juga terlihat bekerjasama memotong rumput kering.

Setelah pupuk kompos jadi, pihak sekolah bersama siswa-siswi akan mencoba pupuk kompos di kebun sekolah mereka. Selanjutnya juga mereka akan terus membuat pupuk kompos di sekolah secara berkelanjutan.

Adapun harapan dari sekolah, dengan adanya pupuk kompos mereka bisa bertani organik di sekolah dan bisa apliksikan ke mata pelajaran. Selain itu juga, mereka (siswa-siswi) diharapkan pula bisa mandiri membuat pupuk kompos untuk kemandirian yang mudah-mudahan juga menumbuhkan kesadaran dan perilaku bijaksana untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.

Seperti yang dikatakan oleh Mariamah Achmad dari Yayasan Palung, materi tentang lingkungan dan ramah lingkungan sangat perlu diberikn kepada siswa- siswi di sekolah termasuk membuat kompos dan yang terpenting lagi died menggunakan kantong plastik.

Ketika mengajak mereka membuat kompos, dihadiri oleh guru-guru dari sekolah dan dari tim pendidikan dan media kampanye Yayasan Palung, Mariamah Achmad, Simon dan Petrus Kanisius.

Seperti diketahui, SMPN 8 Ketapang merupakan sekolah Adiwiyata yang berkerjasama dengan Yayasan Palung.

Tulisan ini juga dimuat di Pontianak Post Cetak dan Online : https://www.pontianakpost.co.id/ajarkan-siswa-membuat-pupuk-kompos

Petrus Kanisius-Yayasan Palung