Sekali Lagi, Masih Layakkah Aku Disebut Hutan?

pesan-utk-alam-setelah-pohon-terakhir-kita-tebang-barulah-kita-tahu-bahwa-duit-tidak-bisa-kita-makan-5695dbd88f7a61cc06dde183

“Pesan utk alam, Setelah pohon terakhir kita tebang barulah kita tahu bahwa Duit tidak bisa kita makan.”. Foto dok. YP

Hutan di sebut sebagai salah satu sumber untuk penopang hidup.  Apapun bentuknya hutan tersebut tetaplah hutan. Tetapi,  Kini aku (hutan) masih layak kah di sebut hutan kini?. Dari waktu ke waktu hingga kini tidak bisa disangkal-sangkal,  Aku hutan selalu menjadi incaran banyak kalangan yang juga dimanfaatkan untuk berbagai bisnis dan keuntung saja tanpa melihat nafas hidupku secara berlanjut.

Aku tidak meminta imbalan dalam aku tumbuh berkembang hingga menjadi tajuk-tajuk yang rimbun, tentu Yang Kuasa mengirimku untuk hidup dan melindungi semua.

Kita diciptakan tidak untuk saling menyakiti, tatapi untuk menyayangi dan mencintai hingga jaman berganti jaman, abad berganti abad dan tahun berganti tahun kita seutuhnya sama saling menjaga.

Entah sadar, tersadar atau tidak sadar. Aku hutan sebagai paru-paru dari nafas hidup segala bernyawa. Setahu aku itu kegunaanku berdasarkan titah Sang Kuasa kepadaku.

Sejatinya aku hutan,  tetapi masih layak kah aku disebut hutan.Mungkinkah aku mengadu tentang jati diriku sebagai hutan?.

Jika aku hutan, aku sudah pasti dipupuk, ditanam, dijaga(dirawat), dilindungi dan dipelihara.

Mengapa kini aku terus bernasib seperti ini?. Digusur diusir, diperdebatkan, dimusnakan dari tempat aku berasal dan berada. Adapula yang membakar tubuhku, mencabik-cabik kulitku, memotong rambutku hingga mahkotaku hilang.

Banyak yang bilang, tubuhku begitu banyak orang yang berlomba untuk membeliku jika aku berkualitas kelas satu, bertubuh tambun dan kokoh berdiri. Tetapi jika aku tidak dibutuhkan aku dibuang hanya diperlukan ditungku perapian dan semak belukar.

Tetapi kini, lihatlah, rambutku kian rontok dan botak karena selain sering dicukur, rambutku enggan untuk tumbuh kembali. Dihabitatku pula aku merasa sudah semakin terhimpit, terhimpit sebangsa baru tetapi bukan aku yang tumbuh bersisir rapi. Akupun kekurangan asupan makanan, sering kali aku tidak kebagian karena rebutan. Demikian pula dengan tumbuh dan kembangku yang tidak sampai dewasa, algojo-algojo selalu memancungku. Terkadang aku tumbuh seadanya, jika dikatakan hidup segan mati sudah pasti.

Banyak pula yang mengatakan bahwa jika suatu saat nanti aku tidak bisa berdiri kokoh, rebah tak berdaya maka banyak yang tidak terlindungi. Ada pula yang mengatakan jika tidak bisa berdiri kokoh berjejer dan berbaris, bumi akan menghangat dan panas terik bersama kering kerontang.

Jika aku hutan, maka aku tidak untuk di sakiti, tidak dipotong-potong dan dicincang, tidak untuk dibotaki atau disisir rapi. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri. Aku tahu, aku sebagai hutan sangat diperlukan dan dibutuhkan. Namun sekiranya, jangan musnahkan kami. Jika aku rusak, disakiti, dimusnakan atau dipotong-potong sekiranya aku tanam, disiram kembali jika kalian anggap perlu. Sisakan sedikit kami untuk hidup dan keberlanjutan kalian dan kita semua kini dan nanti. Akankah semua orang lupa kepadaku?. Sekali lagi, Masih layakkah aku di sebut hutan jika seperti ini?.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Baca Selengkapnya di : http://fiksiana.kompasiana.com/pit_kanisius/sekali-lagi-masih-layakkah-aku-disebut-hutan_5695dc8f2e7a61f109b0fdf2

Banyak Yang Menyebut Orangutan Dengan Sebutan Ekor, Padahal Bukan Itu Penyebutannya

orangutan-dan-bayinya-di-tngp-foto-dok-yayasan-palung-dan-tim-laman-5698bdcf149373dc04b4bd31.jpg

Keterangan foto: induk orangutan dan anaknya di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok: Yayasan Palung dan Tim Laman.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/banyak-yang-menyebut-satuan-orangutan-dengan-sebutan-ekor-benarkah_5698bee445afbd86077e39cc

Sering kali saya mendengarkan kebanyakan orang menyebutkan sebutan orangutan dengan sebutan ekor. Seperti misalnya ada yang menyebutkan satu ekor orangutan terperangkap di kawasan pemukiman masyarakat. Sejatinya penyebutan (sebutan) ekor kuranglah tepat untuk di sebutkankan. Lalu apa sebutan tepat untuk oranguan?.

Sebelum kita  membahas apa yang cocok untuk penyebutan orangutan, ada baiknya kita mengenal satwa atau primata ini. Satwa langka yang hanya terdapat dan dapat hidup dihabitatnya di  pulau Kalimantan dan Sumatera tersebut  memang memiliki ragam hal yang menarik, keunikan dan keistimewaan. Keistimewaan orangutan adalah karena orangutan sebagai spesies dasar bagi konservasi disebut umbrella species karena hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan. Untuk lebih lengkap mengenal orangutan lihat di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-saja-yang-menarik-dari-orangutan_55e021c55697736714b8caa3

Orangutan adalah penyebar biji, memegang peranan sangat penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan. Hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia, dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, menyelamatkan orangutan turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagai macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia.

Nah, Kita kembali pada pembahasan utama kita tentang penyebutan apa yang cocok bagi orangutan. Tidak banyak yang lupa atau belum tahu atau belum mendengarkan istilah yang cocok (tepat) untuk penyebutan orangutan adalah individu. Di Dunia konservasi, menyepakati bahwa untuk penyebutan orangutan dengan sebutan individu. Penyebutan individu tidak lebih dikarenakan orangutan hidupnya tidak berkelompok (menyendiri).

Mengapa orangutan disebut individu dan bukan ekor?. Orangutan, baik itu jantan atau betina tidak memiliki ekor. Orangutan termasuk kera besar yang ada di dunia selain Gorila, Simpanse dan Bonobo. Dan jenis kera kecil adalah kelempiau. Sedangkan yang memiliki ekor adalah jenis monyet seperti monyet, kelasi dan beruk.

Penyebutan yang cocok (tepat) untuk orangutan adalah individu. Misalnya, satu individu orangutan ditemukan di pemukiman warga saat di selamatkan (rescue).

Tidak untuk menyalahkan, namun untuk kesepakatan dan fakta bahwa orangutan tidak memiliki ekor. Semoga bermanfaat.

By: Petrus Kanisius ‘Pit’-Yayasan Palung   

Baca Selengkapnya di : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/banyak-yang-menyebut-satuan-orangutan-dengan-sebutan-ekor-benarkah_5698bee445afbd86077e39cc

 

Apa Dosa Satwa Sehingga Kini Kian Terancam?

kelempiau-yang-dipilihara-oleh-masyarakat-di-pasar-sandai-kec-sandai-ketapang-kalbar-foto-tahun-2015-dok-yayasan-palung-56b453bb60afbd3a0839bb38

Kelempiau yang dipilihara oleh masyarakat di Pasar Sandai, Kec. Sandai, Ketapang, Kalbar. Foto tahun 2015, dok. Yayasan Palung.

Ancaman dan kejahahatan terhadap satwa terus saja terjadi. Entah apa yang menjadi sesungguhnya tentang hal ini?. Apa dosa mereka (satwa) ?.

Bisa dikata, dari dulu hingga kini ancaman terhadap satwa terus saja terjadi dan tidak henti-hentinya (semakin marak). Ancaman satwa tersebut terus terjadi di negeri ini, terlebih di wilayah Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Papua. Apa penyebab utama dari persoalan tersebut?. Bila dilihat secara kasat mata begitu nyata terlihat, namun yang terselubung pun begitu juga terjadi (tidak kalah hebatnya) berlomba-lomba mengurangi jumlah luasan ataupun isi bumi pertiwi.

Nasib satwa yang hidup dan tumbuh berkembang di habitus/habitat hidupnya pun kian dalam ancaman nyata. Benar saja, hutan sebagai tempat hidup jumlahnya semakin terbatas jumlahnya (berkurang/menjelang terkikis habis).Tangan-tangan tidak terlihat begitu masif menjamah hutan dan tanah air serta bumi pertiwi entah kapan berhenti mengusik.

Tercatat, dari tahun kasus perburuan, perdagangan dan pemiliharaan satwa masih saja terjadi. Paruh enggang, sisik trenggiling, pemiliharaan primata seperti orangutan, kelempiau masih berlangsung. Perburuan terhadap rusa, perburuan kelasi untuk diambil geliganya menjadi informasi dan kasus baru di Kalimantan Barat. Demikian juga halnya dengan bekantan yang jumlahnya semakin berkurang. Menurut informasi yang di peroleh oleh Yayasan Palung dari masyarakat ada terjadi di beberapa tempat seperti di Wilayah Riam Bunut, Kecamatan Sungai Laur pada tahun 2014-2015 lalu ada para pembeli yang sengaja mencari geliga kelasi, geliga dan enggang dan sisik trenggiling. Para pembeli tersebut berasal dari Luar (luar negeri/Malaysia).  Nasib tragis juga terjadi pada beruang madu dan beruang rambai, sering kali diburu untuk diambil empedu dan dikonsumsi.

Hal lain yang tidak kalah menyedihkan adalah proses penegakan hukum yang bisa dikata masih lemah. Terutama menyangkut pengawasan dan penegakan hukum. Mengapa demikian?. Berbicara tentang pengawasan, acap kali para pemburu sekaligus pembeli/pengoleksi bagian-bagian tubuh satwa tidak pernah berhenti menyeludupkan barang-barang tersebut ke luar negeri. Kulit harimau, gading gajah di Sumatera, paruh enggang di Kalimantan Barat, Burung-burung endemik dari Papua seperti  burung surga (Cendrawasih), perburuan terhadap kangguru juga ada terjadi. Demikian juga dengan beragam jenis burung langka yang masih marak diperjualbelikan di pasar gelap melalui dunia maya. Pemiliharaan terhadap burung hantu dan ayam hutan. Kukang Jawa, kukang Sumatera dan Kalimantan pun begitu sering diperdagangkan di pasar bebas gelap. Yang kerap kali disebut, Tiongkok menjadi penadah dari pasar gelap perdagangan satwa.

Nasib Pongo (Orangutan) juga begitu banyak yang tragis nasibnya. Lahan gambut yang terus berkurang akibat kebakaran tahun lalu sangat berpengaruh membuat orangutan menghampiri pemukiman dan perkebunan warga. Sumber pakan dan makanan sudah semakin sulit mereka (orangutan dan satwa lainnya)  dapatkan. Derita banyak satwa terus berulang dan tak berujung, mengingat dari dulu banyak satwa terlebih orangutan sebagai spesies payung kian terhimpit di habitat hidupnya hingga kini. Data ProFauna, tahun 2015 menyebutkan; setidaknya ada terdapat 50 kasus perburuan, termasuk yang diunggah di media sosial. Sekitar 95 persen primata yang dijual di pasar bebas merupakan hasil perburuan. Kebanyakan, orang berburu itu untuk dijual kembali.

Efek jera terhadap para pelanggar dan pelaku kejahatan terhadap satwa dan kehutanan masih dianggap tidak maksimal. Hukuman ringan terhadap pelanggar tidak membuat jera para pelaku kejahatan. Tata aturan terhadap UU no. 5 tahun 1990, tentang Sumber Daya hayati dan Ekosistem sering kali terabaikan dalam pelaksanaannya.

Kampanye, penyadartahuan dan beberapa edukasi tentang perlindungan terhadap satwa terus dilakukan dari hari ke hari oleh banyak lembaga, institusi dan yayasan, namun pelanggaran terhadap satwa terus terjadi. Ancaman terhadap satwa seolah semakin sulit untuk dihentikan. Kesadaran dari pelaku untuk melindungi masih terbilang minim, alasan yang selalu di utarakan karena  tuntutan perut.

Persoalan tentang ancaman terhadap satwa sejatinya bisa dibendung jika adanya kesadaran, kerjasama yang baik dari seluruh pemegang kebijakan, pengusaha, penegak hukum dan para pemerhati lingkungan. Tata kelola, penegakan hukum dan regulasi yang jelas dan tidak memihak salah satu kepentingan menjadi pilihan yang harus dilakukan.  Menjadi hal yang harus diproritaskan. Apabila tidak, satwa semakin terancam dan akan punah. Mengingat, saat ini dari 44 jenis spesies satwa yang ada, setidaknya 21 diantaranya endemik dan terancam punah (baca; status 25 primata terancam punah 2014-2016 dalam Primates in Peril: The world’s 25 most endangered primates). Sejatinya, satwa dilindungi tidak memiliki dosa namun mereka menanggung derita, termasuk manusia yang bertanggungjawab karena sama-sama mendiami bumi ini. Coba kita selidiki, apa dosa satwa-satwa yang terancam?.

Mungkin jika satwa memiliki akal dan pikiran yang sama dengan manusia bisa saja satwa berdemontrasi kepada manusia. Dampak dan ancaman dengan semakin sedikitnya satwa, jenis burung, tumbuhan dan hutan dapat kita rasakan. Cuaca tidak menentu, banjir siap menghadang jika penghujan datang, demikian pula bila kemarau tiba, ancaman kekeringan dan kurangnya air bersih menjadi persoalan utama saat ini. Rantai makanan mulai ada yang terputus, ada beberap jenis satwa yang kesulitan makanan/pakannya. Kini, tinggal bertanya sebaliknya. Siapa sesungguhnya berdosa dengan semakin terancamnya satwa dan hutan saat ini?.

By : Petrus Kanisius- Yayasan Palung

Baca Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-dosa-satwa-sehingga-kini-kian-terancam_56b455c2c4afbd22094193fa