Siswa-Siswi SMPN 3 Matan Hilir Utara Belajar Mengenal Daun di Hutan Secara Langsung

fieldtrip-smpn-3-matan-hilir-utara_20151124_153921

Fieldtrip SMPN 3 Matan Hilir Utara Saat Belajar Taksonomi Tumbuhan. foto dok. YP

Sejumlah 25 orang siswa-siswi SMPN 3 Matan Hilir Utara terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan Fieldtrip (kunjungan lapangan) di hutan Beringin di Kawasan Reboisasi Taman Nasional Gunung Palung , Jumat (20/15/2015) hingga Minggu (22/11/2015), kemarin.

Untuk mencapai tempat fieldtrip, semua peserta harus melewati jalan setapak dan jalan berlumpur dan titian (jembatan mini dari papan seadanya) namun sangat menantang dan memacu semangat saat semua menaiki kendaraan bermotor untuk sampai di tempat tujuan.

Hujan cukup deras tidak menyurutkan peserta fieldtrip untuk belajar morfologi daun menjadi salah satu hal yang tampak menarik diikuti oleh peserta fieldtrip. Mereka secara seksama mendengarkan materi dan melakukan praktek identifikasi ciri-ciri fisik daun, jenis dan bentuk daun.

Peserta fieldtrip juga dikenalkan sejak dini dengan materi dan praktek pengamatan satwa. Kemudian dilanjutkan materi pengamatan indikator air. Adapun tujuan pemberian materi tersebut sebagai pengenalan awal kepada siswa-siswi untuk mengenali lingkungannya secara langsung.

Selama tiga hari melakukan kegiatan fieldrip, peserta juga diajak untuk bermain game (permainan) untuk kekompakan. Peserta dibagi dalam tiga kelompok (kelompok pertama; Si Beruk, kedua; Kelasi dan Kelompok bekantan) mereka bermain jaring laba-laba, menyanyi bersama, senam kesehatan di pagi hari.

Setiap kelompok fieldtrip mendirikan tenda masing-masing. Mereka juga membuat tungku perapian dan masak perkelompok. Pada malam harinya terakhirnya kegiatan, semua peserta berkumpul untuk menyampaikan persentasi dan dilanjutkan dengan acara bebas. Beberapa murid-murid tampak antusias untuk mengisi malam dengan nyanyian, puisi tentang alam dan lingkungan serta pesan dan kesan selama mengikuti fieldtrip.

Dalam melakukan 3 hari rangkaian fieldtrip tersebut, dari SMPN 3 MHU didampingi oleh bapak ibu guru mereka (Bapak David, Ibu Didit, bapak Woni Ordinator), sedangkan dari Yayasan Palung yang ikut bagian dalam kegiatan tersebut antara lain Mriamah Achmad, Edward Tang, Petrus Kanisius, Hadjral dan Wawan Ones (relawan sekaligus aktivis lingkungan).

Kegiatan fieldtrip tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan keesokan harinya, Minggu (22/11/2015) kami menyudahi semua rangkaian kegiatan fieldrip. (Petrus Kanisius-Yayasan Palung).

Tulisan ini pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/24/25-siswa-smpn-3-matan-hilir-belajar-mengenal-daun-di-hutan

 

 

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang_foto 1 (2)

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang. foto dok. YP

Tidak kurang, 100 bibit  di tanam di lokasi sisa-sisa lahan yang terbakar. Penanaman tersebut dilakukan di lahan yang terbakar di Dusun Plerang, Desa Benawai Agung, KKU, minggu (22/11/2015), kemarin.

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang_foto 2

Berfoto Bersama Sebelum Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang. foto dok. YP

Dari 100 bibit yang ditanam, bibit terdiri dari 15 bibit cempedak, 10 bibit rambai, 10 bibit durian, ubah 30 dan nyatoh 35 bibit pohon.

Adapun luasan yang dilakukan penanaman lahan yang terbakar tersebut  sekitat 5000m² (½ hektare).

Menurut Abdul Samad, dari program Sustainable Livelihood, Yayasan Palung; Program ini merupakan program rutin tiap bulan yang dilakukan oleh tim SL, Yayasan Palung dimana lokasi untuk penanaman maka akan langsung dilakukan baik itu permintaan masyarakat atau dari Sispala Land dan Rebonk.

 

Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang_foto 1

Berfoto Bersama Setelah Penanaman 100 bibit Untuk Reboisasi Lahan Yang Terbakar Di Plerang. foto dok. YP

Lebih lanjut,  Samad sapaan akrabnya menyebutkan, lokasi yang terbakar  memang sudah seharusnya ditanam karena di sekitar wilayah tersebut gersang.

Dalam penanaman untuk reboisasi lahan tersebut dilakukan oleh Yayasan Palung (Asbandi dan Abdul Samad),  Sispala Land, SMK 1 Sukadana (27 orang), SMAN 3 Sukadana (12 orang) dan Relawan RebonK (17 orang). (Petrus Kanisius- Yayasan Palung)

Tulisan ini pernah dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/26/100-bibit-tanaman-ditanam-pada-bekas-lahan-terbakar-di-plerang

 

 

Berikut ini merupakan Kampanye Lingkungan Yayasan Palung melalui Media (Radio)

Siaran di radio RKK_YP dan ASRI
Foto : Siaran Yayasan Palung di RKK bersama Yayasan ASRI

Berikut ini merupakan Kampanye Lingkungan Yayasan Palung melalui Media (Radio)

Di Radio Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (95,2 FM, 1044 AM).

Selamat mendengarkan

Klik di :

https://soundcloud.com/yayasan-palung/siaran-kebakaran-hutan-dan-lahan-desi-dan-cassie-2-nop-2015

https://soundcloud.com/yayasan-palung/perubahan-iklim-desi-5-november-2015

https://soundcloud.com/yayasan-palung/perubahan-iklim-9-nov-2015

https://soundcloud.com/yayasan-palung/perubahan-iklim-19-nov-2015-yayasan-palung-bersama-yayasan-asri

 

Yayasan Palung Bantu Menginisiasi Hutan Desa

penyusunan-rencana-kegiatan HD_20151119_191227

Penyusunan Rencana Kegiatan Hutan Desa. Foto dok. YP

Dengan dikeluarkannnya perauran tentang Hutan Desa dan telah beberapa kali dilakukan revisi dan terakhir dengan keluar Permenhut Nomor P. 89/Menhut-II/ 2014 Tentang Hutan Desa diharapkan memberikan akses dan peluang kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan untuk mengusulkan kawasan hutan desa serta mengelola hutan desa secara lestari dan berkelanjutan. Serta di dalam Permenhut tersebut ada beberapa kawasan yang bisa diusulkan sebagai Hutan Desa yaitu Hutan Lindung (HL) dan Hutan Produksi (HP).

Beranjak dari peraturan tersebut saat ini Yayasan Palung membantu beberapa Desa di Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara mengusulkan hutan desa yaitu Desa Penjalaan yang kawasan hutan diusulkan sebagai Hutan Desa adalah Hutan Produksi (HP) Sungai Purang, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar mengusulkan kawasan Hutan Lindung Gambut (HLG) Sungai Paduan sebagai Hutan Desa.

Sedangkan proses pengusulan hutan desa itu sendiri telah disampaikan kepada Bupati Kabupaten Kayong utara pada tanggal 11 Nopember 2015 yang dilengkapi persyaratan pengusulan yaitu Surat usulan pembentukan Hutan desa, Berita Acara (BA) pembentukan Hutan Desa, Sket Lokasi Usulan Hutan Desa, Berita Acara Kesepakatan bersama pengusulan Hutan Lindung Sungai paduan dijadikan sebagai Hutan Desa serta rencana kegiatan dan bidang usaha hutan desa.

Sebelum penyampaian pengusulan Hutan Desa kepada Bupati Kabupaten Kayong Utara terlebih dahulu diadakan pertemuan sosialisasi Hutan desa di masing-masing desa yang fasilitasi oleh Yayasan Palung pada tanggal 29-30 September 2015, Sosialisasi Hutan Desa di Hotel Mahkota yang di fasilitasi BP. DAS Kapuas yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober 2015 yang menghasilkan kesepakatan bersama antar desa untuk mengusulkan Hutan Lindung gambut (HGL) sebagai Hutan Desa dan yang terakhir adalah kegiatan penyusunan Rencana Kegiatan dan Bidang Usaha Hutan Desa yang dilaksanakan pada tanggal 09 Nopember 2015.

Menurut Desi Kuniawati (koordinator Hutan desa Yayasan Palung) bahwa dengan adanya pengusulan hutan desa diharapkan masayarakat bisa menjaga dan mengelola kawasan hutan desa secara bijaksana, lestari dan berkelanjutan, dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Selain itu juga diharapkan kepada Pemerintah daerah Kabupaten Kayong dapat mendukung usulan Hutan desa yang disampaikan beberapa desa di Kecamatan Simpang hilir ini. (Edi Rahman- Yayasan Palung)

Tulisan ini juga dimuat di : http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/19/bantu-menginisiasi-hutan-desa

Menciptakan Budidaya Pertanian yang Efisien, Menguntungkan, Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan

 

Pelatihan pertanian Organik (14 Nop 2015) (23) Foto 1: Saat Pelatihan Pertanian Organik bagi LPHD di  Simpang Hilir, KKU, Kalbar beberapa waktu lalu.

Disadari atau tidak, sekarang ini masyarakat Indonesia selalu mengantungkan pertanian non organik yang secara langsung menyebabkan dampak yang secara perlahan menyerang bagi kesuburan tanah, berdampak terhadap lingkungan serta berdampak langsung terhadap kesehahatn masayarakat yang mengkosumsi hasil pertanian yang dihasilkan dari pertanian non organik.

Pelatihan pertanian Organik (14 Nop 2015) (27)

 Foto 2: Saat Pelatihan Pertanian Organik bagi LPHD di  Simpang Hilir, KKU, Kalbar beberapa waktu lalu.

Beranjak dari keprihatinan tersebut maka pada tanggal 14-15 Nopember 2015, Yayasan Palung menginisiasi dan memfasilitasi pelatihan pertanian Organik terhadap anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa di Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara. Pelatihan tersebut di ikuti sebanyak 30 orang perserta yang berasal dari 5 desa yaitu Desa Penjalaan, Desa Nipah Kuning, Desa Pemangkat, Desa Pulau Kumbang dan Desa Padu Banjar. Dalam pelatihan tersebut menghadirkan 3 fasilitator dari Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kayong Utara (Bapak As’Adi, Bapak Budiman dan Bapak Eryudi).

Banyak manfaat yang dihasilkan dalam pelatihan tersebut dikarenakan selain materi disampaikan secara langsung juga fasilitator mengajak peserta mempraktekan berbagai metode pembuatan pupuk organik. Adapun materi-materi pembuatan pupuk organik yang disampaikan dalam pelatihan ini diantaranya Pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL) dari Sabut Kelapa, MOL dari Rebung Bambui, MOL dari Daun Bongkol Pisang, MOL dari daun Gamal, Furmulasi Pupuk dari Batang Pisang, pembuatan Zat Pengatur Tumbuhan (Auksin, Sitokinin dan Giberelin).

Menurut Bapak Asbandi yang merupakan salah salah satu staff Yayasan Palung bahwa selama ini kita tidak menyadari bahwa bahan-bahan pembuatan pupuk organik untuk tanaman banyak berada di sekitar kita  serta tidak memerlukan biaya yang cukup besar seperti pupuk non organik. Karena bahan-bahan mudah di dapat seperti Batang Pisang, Air Beras, Gula Merah, Rebung Bambu, Terasi. Asbandi menambahkan dengan adanya pelatihan ini diharapkan peserta dampat mempraktekannya di desa masing-masing serta mengurangi ketergantungan terhadap pupuk non organik. Selain itu jika menerapkan pertanian organik ini untuk menjaga keseimbangan ekologi, mencegah polusi dan menghasilkan produk yang sehat bagi masyarakat (Edi Rahman- Yayasan Palung).

Tulisan ini juga dimuat di: http://pontianak.tribunnews.com/2015/11/19/pupuk-organik-mudah-didapat-tak-butuh-biaya-mahal